Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.
Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.
Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.
Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23.
Di tempat lain, orang yang menyebabkan masalah itu sedang menghadapi masalah yang tidak kalah gawat bagi dirinya sendiri.
Setelah beberapa hari tidak mengurus bisnis, Alexander akhirnya mencoba kembali bekerja.
Namun kali ini dia memilih bekerja dari apartemennya.
Selain karena belum mendapatkan izin dari ayahnya untuk kembali, perhatiannya juga terus terbagi karena sejak tadi berusaha menghubungi Soraya.
Nomor perempuan itu tidak dapat tersambung.
Namun ketika hari semakin siang, untuk pertama kalinya panggilan dari Soraya akhirnya masuk.
Alexander bahkan tidak menghitung sampai tiga sebelum langsung menyambar ponselnya dan menggeser layar.
“Soraya, kenapa baru bisa dihubungi? Apa sesuatu terjadi?”
Dia bertanya tanpa basa-basi.
Di ujung sana, Soraya yang sedang menerima perawatan dari salon ke rumah hanya menjelaskan dengan malas.
Mendengar ini, Alexander mengusap wajahnya. Lelah.
Setelah mendudukkan diri di sofa tunggal berbahan kulit cokelat, tubuhnya akhirnya sedikit lebih rileks.
Sungguh, dari semua hal yang terjadi dalam hidupnya, dia tidak pernah menyangka Soraya bisa memengaruhinya sampai sejauh ini.
“Aku menghubungi teman-temanmu juga, tapi tidak ada yang membalas. Kalau terlambat sedikit, aku pasti sudah berangkat kembali ke sana.”
Soraya yang sedang dibersihkan kuku kakinya hanya mengangkat sebelah alis.
Ponsel yang berada di telinganya bahkan sedikit dijauhkan.
Entah kenapa, rasanya Alexander tidak sedang main-main. Seolah-olah pria itu benar-benar akan terbang kembali hanya untuk memastikan keadaannya.
“Bagaimana kabar Ibu Kakak?” tanya Soraya sekadar berbasa-basi.
Alexander menjawab bahwa ibunya sudah lebih baik.
Namun setelah itu, dia langsung menjelaskan bahwa dirinya telah menceritakan apa yang terjadi kepada kedua orang tua mereka, termasuk tunangannya.
Soraya yang semula bersandar santai di kursi langsung menegakkan tubuh.
Lidahnya kelu karena kegusaran. Sebelah alisnya terangkat tinggi, penuh ketegangan.
Pertama, dia merasa bersalah.
Kedua, dia merasa semua ini begitu konyol.
Untuk apa mengorbankan hubungan yang jauh lebih pasti demi sesuatu yang bahkan belum tentu akan bertahan?
Namun Soraya tidak ingin membahas itu sekarang, apalagi dengan orang lain mendengar. Dia memilih mengalihkan pembicaraan kepada kandungannya.
Yang tidak disangkanya, Alexander justru menyambut pembicaraan tersebut.
“Apa kamu tidak muntah-muntah, mual, atau pusing? Aku membaca beberapa artikel tentang kehamilan tadi.”
Soraya menjawab tanpa antusias. “Tidak tuh. Aku hampir tidak merasakan apa-apa.”
Mendengar itu, Alexander tanpa sadar merengut kecil.
Menurut beberapa artikel yang dibacanya, mual dan muntah memang termasuk gejala umum pada awal kehamilan.
Namun entah kenapa, dia menganggap tidak adanya gejala tersebut sebagai tanda bahwa Soraya tidak terlalu antusias dengan kehamilannya.
Sementara dirinya justru merasa sebaliknya.
Dia bahkan mulai memikirkan segala sesuatu yang berkaitan dengan calon anaknya.
Namun apa pun itu, Alexander tidak ingin terlalu memikirkannya sekarang.
Untuk saat ini, dia merasa jauh lebih penting untuk tetap terhubung dengan Soraya yang berada jauh darinya.
•
•
Kembali pada Hana.
Perempuan itu masih sedang dalam sambungan telepon dengan Patricia.
Sahabat dari mantan kekasihnya itu kini harus menjadi korban emosional dari permainan yang dilakukan ayahnya.
—“Han, aku minta maaf, ya. Aku benar-benar minta maaf sama kamu.”—
Mendengar permintaan maaf yang terus diulang itu, Hana sebenarnya tidak sampai hati.
Namun Conrad berdiri tidak jauh darinya, memastikan dia mengatakan semua yang pria itu inginkan.
Benar saja.
Selain meminta maaf berkali-kali, Patris dibuat geram bukan main setelah mendengar apa yang terjadi.
Di satu sisi, dia adalah seorang adik.
Namun di sisi lain, dia juga sahabat Hana.
Dan dalam situasi ini, dia memilih berdiri di pihak Hana sebagai korban dari kesalahan kakaknya.
—“Hana, aku akan menghubungimu nanti, ya. Kamu jangan khawatir. Aku janji tidak akan membiarkan siapa pun merebut tempatmu.”—
Pernyataan itu justru membuat Hana canggung.
Dia sudah tidak menginginkan posisi sebagai Nyonya Kim lagi. TET
“KURANG AJAR!”
Patris berteriak begitu panggilan terputus.
Dari semua hal di dunia, dia tidak pernah menyangka kakaknya yang selama ini menjadi standarnya dalam memilih pria ternyata bisa melakukan sesuatu yang begitu memalukan.
Ya. Patris malu bukan main. Dia malu kepada Hana.
Malu kepada keluarga Hana. Malu kepada lingkaran sosial mereka yang mengetahui hubungan Alexander dan Hana.
Belum lagi media, jika semua ini sampai terungkap ke publik.
Patris bangkit dari kasur queen size miliknya.
Di apartemen bernuansa coastal style itu, dia berjalan mondar-mandir sambil membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika masalah kakaknya terbongkar.
Dia takut.
Takut sampai ke tulang.
Jika skandal ini mencuat, kariernya di dunia hiburan bisa ikut terseret.
“Aku harus menemui bajingan itu!”
Patris mengepalkan tangannya.
“Ya. Aku harus.”
Menyambar jaket kuningnya, Patris langsung melangkah keluar tanpa make-up.
Saking terburu-buru, dia bahkan tidak sempat memikirkan penampilannya.
Namun sebelum pergi lebih jauh, dia menyempatkan diri mengecek keberadaan Alexander.
Dan kebetulan, pria itu sedang berada di apartemennya.
Apartemen yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat Patris berada.
•
•
Alexander sendiri baru saja melepaskan sedikit ketegangan setelah berbicara dengan Soraya.
Dia tidak menyangka masalah berikutnya akan datang begitu cepat.
Masalah itu bahkan langsung memasuki apartemennya tanpa basa-basi, sekadar mengetuk bel pintu.
KLEK.
Alexander yang menoleh ke arah pintu langsung tahu siapa yang datang.
Patricia.
Adiknya.
Dari cara perempuan itu membuka pintu dengan kasar, dia sudah bisa memastikan bahwa adiknya sedang marah besar.
Karena itu, Alexander hendak mengakhiri panggilannya dengan Soraya terlebih dahulu.
Namun terlambat.
Belum sempat berbicara, pintu sudah terbuka lebar.
Dan Patris langsung berteriak.
“DASAR BAJINGAN!”
Soraya yang masih terhubung dalam panggilan terkejut mendengar suara itu.
“PATRIS! APA-APAAN KAMU INI?!”
Suara Alexander tidak kalah keras.
Dia tidak bisa menerima kekurangajaran adiknya.
Alexander tahu Patris akan marah. Dia bahkan sudah siap menanggung semua kemarahannya.
Tetapi bukan dengan cara seperti ini.
Patris tidak peduli.
Dia menatap kakaknya dengan jijik dan kecewa, dari ujung kaki hingga ujung rambut.
“Memalukan!” Suaranya bergetar karena emosi.
“Kamu benar-benar memalukan. Aku malu menjadi adikmu!”
DEG.
Bohong jika hati Alexander tidak sakit.
Dadanya seperti dihantam sesuatu.
Sampai dia lupa bahwa ponsel yang masih berada di tangannya tetap terhubung dengan Soraya.
Perempuan itu mendengar semuanya dari ujung lain.
Patris masih sangat emosional.
“Bagaimana bisa kamu melakukan hal ini kepada Hana, Kak? Dia itu Hana! Kurang baik apa dia, coba?! Kalian sudah akan menikah. Menikah, loh!”
Napasnya memburu. “Tapi kamu malah menghamili wanita lain. Apa-apaan itu?!”
“Patris, Kakak tahu kamu sedang marah sekali sekarang. Tapi tolong, mari kita bicarakan ini baik-baik.”
Alexander mencoba mendekat. “Kakak mohon padamu. Jangan seperti ini.”
Tangannya hendak meraih tangan Patris.
Namun perempuan itu langsung menepisnya dengan keras.
“Sudah cukup, Kak!”
Patris menatapnya tajam.
“Aku tidak mau mendengar apa pun selain kepastian bahwa Kakak akan menikahi Hana. Titik!”
Alis Alexander bertaut. Bibirnya mengering dalam sekejap. “Patris, jangan seperti ini. Mari kita bicara. Biarkan Kakak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”
“TIDAK!”
Patris membentak.
“Aku tidak mau tahu!”
Dia menunjuk kakaknya dengan marah.
“Pokoknya aku hanya mau Hana yang menjadi saudari iparku. Tidak dengan wanita lain atau siapa pun itu, ee—”
Dia mencoba mengingat nama yang baru saja didengarnya. “Soraya! Ya, aku tidak mau dengan Soraya itu!”
Alexander menatap adiknya dengan tidak percaya.
“Hanya boleh ada satu Nyonya Kim dalam kediaman Kim, dan itu adalah Hana!”
“Patris, diam.”
Alexander menggeram.
Dia sudah tidak tahan mendengar ocehan adiknya.
Entah bagaimana dia harus menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah sengaja melakukan semua ini.
Namun lebih daripada itu, meskipun semuanya terjadi tanpa kesengajaan, bukan berarti dia akan lari dari tanggung jawab.
Patris akhirnya diam.
Mau tidak mau.
Dia bahkan sedikit gemetar ketika melihat mata hitam Alexander berkilat tajam. “Patricia…”
Nada Alexander lebih rendah kali ini. “Hanya karena aku bersalah, bukan berarti kamu diizinkan berbicara semaumu. Aku tetap kakakmu, dan kamu masih harus menghormati ku.”
Alih-alih takut, Patris justru terkekeh remeh.
Dia membuang wajah, seolah tidak sudi lagi melihat kakaknya.
“Kamu…”
Alexander masih tidak percaya. “Kamu bersikap seperti itu kepada kakakmu?”
Tangannya terangkat, menunjuk Patris. Namun tindakan kecil itu justru menjadi sesuatu yang vital dan berbahaya.
Tatapan Patris tanpa sengaja tertuju pada layar ponsel Alexander yang masih menyala.
Nama yang tertera di sana membuat matanya membesar.
Soraya.
Panggilan masih terhubung.
Patris tidak berpikir panjang.
“PATRICIA!”
Alexander berteriak.
Terlambat.
Ponsel di tangannya telah disambar Patris.
Perempuan itu langsung berlari ke dalam kamar dan mengunci pintunya dari dalam.
Alexander menyadari apa yang hendak dilakukannya.
“Patris!”
Dia segera mengejar.
Tangannya menghantam pintu.
Namun semuanya terlambat.
Di balik pintu yang terkunci itu, Patris telah mengangkat ponsel ke telinganya.
Lalu dengan napas yang masih memburu, dia berbicara kepada seseorang di ujung sana.
“Soraya?”