Clara Nagendra, siswi berprestasi dengan senyum tempelan sempurna, hidup dalam rumah dingin yang hanya memuja adiknya, Thea. Di balik nilai 98 dan piala emas, ia menyembunyikan gagal ginjal kronis stadium 4 dalam diary biru lusuhnya. Hanya Nenek Kamila dan tiga sahabatnya yang melihat lukanya. Pertemuannya dengan Kim Seokjin, ketua geng motor yang ditakuti, mengubah segalanya. Dari musuh jadi rumah. Dari taman belakang yang bersih hingga janji rumah kecil bernomor 7 di Lembang, Clara akhirnya menemukan tempat pulang — bukan gedung, melainkan pelukan yang tidak menuntutnya sempurna. Sebuah kisah tentang luka yang tak terlihat, cinta yang menjadi tempat istirahat, dan rumah yang tertinggal namun tetap menyala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 — Tiga Orang yang Bertahan
Malam itu gak jadi ngobrol.
Pas Clara keluar kamar, Mama Vania sama Papa Faizan cuma bilang satu kalimat.
"Besok Thea kontrol, kamu jangan bikin ribut. Belajar aja yang bener."
Udah. Titik.
Clara balik ke kamar. Diary biru udah dia selipin lagi ke kolong. Tapi halaman yang basah tadi masih agak keriting.
Dia tidur jam 2 pagi. Bangun jam 5. Senyumnya udah di-charge lagi.
Jam 6.15 dia udah di gerbang sekolah.
Dan seperti biasa, ada tiga orang yang udah nongkrong di sana kayak satpam.
Mutiara, Diana, Safira.
Tiga orang yang bertahan. Bahkan pas Clara lagi ngeselin sekalipun.
"WOY! CLARA!"
Diana yang pertama teriak. Rambutnya dikuncir dua, tasnya isinya bekal 3 kotak padahal yang makan cuma dia.
"Telat lo! Kita udah nungguin dari tadi tau!"
Clara nyengir.
"Telat 2 menit doang, Di. Drama banget."
Safira langsung scan dari atas ke bawah. Mata elangnya nyala.
"Muka lo pucet lagi. Tidur jam berapa lo semalam? Jangan bohong."
Mutiara gak ngomong banyak. Dia cuma jalan pelan, terus narik lengan Clara pelan banget. Deketin.
"Udah minum air putih belum?" bisiknya.
Itu Mutiara banget. Gak berisik. Tapi ngena.
Clara cuma angguk-angguk.
"Udah dong. Aman."
Bohong.
Dari semalam perutnya perih lagi. Pinggang belakang rasanya kayak ditusuk-tusuk. Tapi dia udah jago banget ngerapiin muka biar gak ketauan.
Mereka berempat jalan bareng ke kelas. Ini ritual.
Kalau di sekolah ini Clara itu kayak matahari kecil yang dipinjem semua orang, tiga orang ini tuh yang tau kapan mataharinya mau meledak.
---
Di kelas, Clara balik jadi Clara versi display.
Ngebantu Bu Lilis beresin absen.
Ngebantuin anak cowok yang gak bisa integral padahal udah dijelasin 5 kali.
Dengerin curhat adek kelas yang diputusin lewat chat.
Senyum. Angguk. Bilang "semangat ya".
Diana ngeliatin dari bangku belakang sambil ngunyah roti.
"Gue enek tau liat dia gitu terus," bisik Diana ke Safira.
Safira nyaut, "Iya. Senyumnya tuh kayak stiker. Tempel terus. Padahal lemnya udah abis."
Mutiara diem. Matanya ngikutin Clara terus.
Jam 9.15, Clara izin ke toilet.
Kelamaan. 15 menit gak balik.
Mutiara langsung berdiri.
"Gue nyusulin Clara dulu ya."
Diana sama Safira langsung ngangguk. Mereka udah apal.
Di toilet lantai 2, Clara duduk di kloset paling ujung. Kepalanya nempel ke pintu.
Pucet. Keringet dingin.
Tangannya megang perut. Nahan mual.
Pintu diketuk pelan. Tiga ketukan. Kode mereka.
Tok. Tok. Tok.
"Ra, gue Mut."
Clara buru-buru siram muka. Buka pintu.
"Eh, lo ngapain kesini?" Clara maksa senyum lagi.
Mutiara gak ketawa. Dia langsung ngeluarin botol minum sama tisu basah dari tasnya. Tas Mutiara tuh isinya kayak apotek berjalan.
"Duduk. Minum dulu dikit."
Clara nurut. Karena kalau sama Mutiara, dia capek bohong.
Mereka duduk di lantai toilet. Gak peduli kotor.
"Perih lagi ya?" tanya Mutiara pelan.
Clara angguk kecil.
"Udah mendingan kok. Tadi doang."
Mutiara nghela napas.
"Ra, jadwal kontrol lo kan minggu ini ya?"
Clara langsung kaku.
Cuma Mutiara yang tau soal ini. Ceritanya 4 bulan lalu.
Waktu itu Clara tiba-tiba pingsan pas upacara. Semua panik. Dibawa ke UKS. Mutiara yang gendong tasnya. Di dalem tas Clara, ada amplop coklat. Kertas lab. Tulisan gede: NEFROLOGI.
Mutiara gak buka. Tapi dia liat nama Clara sama stempel RSUD.
Abis itu Clara jujur. Pelan-pelan.
Dia bilang dia harus rutin cek lab. Harus cek ginjal. Harus jaga makan. Gak boleh kecapean. Tapi dia gak mau ada yang tau. Gak mau dikasihani. Gak mau jadi beban.
Mutiara nangis waktu itu. Safira sama Diana belum tau sampe sekarang.
"Mut, please jangan bilang siapa-siapa ya," kata Clara waktu itu. "Gue janji gue jaga diri. Tapi jangan bilang Di sama Fira dulu. Gue belum siap."
Dan Mutiara janji. Sampai sekarang janjinya masih dia pegang.
"Masih jadwalnya besok," kata Clara lirih. "Kontrol darah biasa."
Mutiara ngeremas tangan Clara. Tangannya dingin banget.
"Lo janji kan gak skip makan lagi? Tadi pagi lo sarapan gak?"
Clara diem.
"CLARA!"
"Ya dikit... roti..."
"Roti satu gigitan itu bukan sarapan, Ra!"
Clara ketawa kecil. Akhirnya ketawa beneran. Bukan senyum tempelan.
"Ya maap. Gue lupa. Tadi buru-buru."
"Alasan lo tuh template banget," Mutiara ngedumel, tapi sambil ngeluarin kotak bekal kecil. "Nih, gue bawain bubur. Gak pake micin. Makan sekarang. Gue tungguin."
Clara mau nolak, tapi perutnya bunyi.
Ya udah, dia makan. Pelan-pelan. Mutiara ngeliatin kayak ibu-ibu ngeliatin anaknya makan.
Di luar, bel istirahat bunyi.
---
Kantin. Meja pojok. Markas mereka.
Diana udah mesen es teh 4 gelas. Safira udah siap dengan ceramahnya.
"Jadi gini ya, Clara Nagendra yang terhormat," Safira mulai, tangannya nyilang. "Lo itu kenapa sih hobi banget jadi pahlawan kesiangan? Tadi gue liat lo ngerjain tugasnya si Kevin lagi. Kevin yang kemarin nyontek lo terus ngatain lo ambis itu loh!"
Clara nyedot es teh.
"Yaudah kasian. Dia bingung."
"KASIAN PALA LO!" Diana nyamber. "Lo tuh kasian sama semua orang kecuali sama diri lo sendiri! Kapan terakhir kali lo bilang enggak?"
Clara bengong.
Kapan ya terakhir kali dia bilang enggak?
Kayaknya gak pernah.
Mutiara yang biasanya kalem, tiba-tiba nimbrung.
"Gue setuju sama mereka, Ra."
Clara kaget. Mutiara jarang banget nge-judge.
"Gue liat lo tuh capek. Sumpah capek banget. Tapi lo tutupin terus pake senyum itu. Lo pikir kita gak tau?"
Suasana meja jadi agak sepi.
Clara nunduk. Ngaduk es tehnya.
"Gue gak mau nyusahin orang," katanya pelan. Hampir gak kedengeran. "Kalau gue gak senyum, nanti orang malah nanya kenapa. Terus gue harus cerita. Terus jadi ribet. Jadi mending senyum aja. Lebih gampang."
Safira napas panjang. Nada suaranya langsung melunak.
"Ra, dengerin ya. Kita di sini bukan 'orang'. Kita temen lo. Tiga orang bego yang bertahan dari kelas 10 sampe sekarang. Kalau lo sedih ya sedih aja. Gak usah dipoles."
Diana ngangguk cepet. Matanya udah berkaca-kaca. Anaknya emang cengeng.
"Iya! Lo tuh kalau nangis juga gapapa tau! Kita gak bakal nge-judge! Kita malah lega kalau lo jujur!"
Clara ngerasa matanya panas lagi. Anjir. Kenapa di sekolah nangis mulu sih.
Mutiara geser duduknya. Meluk Clara dari samping. Peluknya erat.
"Lo gak sendirian, Ra," bisik Mutiara.
Dan untuk beberapa detik, Clara ngerasa beneran gak sendirian. Bahunya turun. Napasnya lega.
Tapi abis itu dia inget lagi.
Papa Faizan. Mama Vania. Thea. Diary biru. Ginjalnya.
Semua numpuk lagi.
Dia lepas pelukan. Senyum lagi. Reflek.
"Lebay ah kalian. Gue gapapa beneran. Makasih ya."
Safira sama Diana saling lirik. Mereka tau. Itu senyum tempelan lagi.
Mutiara cuma diem. Dia tau lebih banyak. Makanya dia lebih takut.
---
Sore. Pulang sekolah.
Mereka berempat jalan kaki sampe halte. Seperti biasa, Clara yang paling pelan.
"Ra, besok kontrol jam berapa? Gue anter ya?" Mutiara bisik pas Diana sama Safira lagi berantem rebutan gorengan.
Clara gelagapan.
"Eh gak usah, Mut. Gue bisa sendiri kok. Deket. Naik angkot doang."
"Gak bisa. Terakhir lo naik angkot pulang kontrol lo pucet kayak mayat. Gue anter. Titik."
Clara mau ngelawan, tapi Mutiara udah ngeluarin jurus tatapan ibunya. Ya udah kalah.
"Oke oke. Jam 9 pagi. Tapi jangan bilang Di sama Fira dulu ya. Please."
Mutiara angguk.
"Janji."
Bus dateng. Mereka naik. Dempet-dempetan.
Di dalem bus yang penuh itu, Clara nyender ke kaca. Ngeliatin jalanan yang macet.
Di kepalanya muter terus.
Gimana caranya jadi anak yang cukup baik biar dipeluk?
Gimana caranya biar gak capek terus?
Gimana kalau suatu hari ginjalnya beneran nyerah?
Dia ngelirik ke Mutiara yang ketiduran di bahunya. Ke Diana yang lagi curhat di telfon. Ke Safira yang lagi ngomel-ngomel sama kondektur.
Tiga orang ini. Cuma tiga orang ini yang bikin dia masih mau dateng ke sekolah besok.
Tiba-tiba HP Clara geter.
Bukan chat dari grup kelas. Bukan dari Mama.
Nomor tak dikenal. Tapi depannya ada logo rumah sakit.
[RSUD Harapan - Lab]
Clara langsung duduk tegak. Jantungnya deg-degan gak karuan. Hasil lab minggu lalu harusnya baru keluar besok.
Kenapa sekarang?
Mutiara kebangun karena gerakan Clara.
"Kenapa, Ra?"
Clara nunjukin layar HP-nya. Tangannya gemeter.
Mutiara baca. Mukanya langsung berubah. Pucet.
Diana sama Safira yang ngeliat gelagat mereka langsung diem.
"Clara, siapa?" tanya Safira.
Clara belum sempet jawab. Telfonnya masuk. Bukan chat lagi. Telfon beneran.
Dari rumah sakit.
Clara ngangkat dengan tangan gemeter.
"Halo... iya saya Clara..."
Di seberang, suara suster.
"Adik Clara Nagendra ya? Maaf mengganggu. Hasil lab terakhir ada yang perlu dokter jelaskan segera. Besok kontrolnya bisa dimajuin jadi sore ini? Dokter mau ketemu orang tua juga."
Dunia Clara berhenti muter.
Orang tua.
Kata itu.
Mutiara langsung megang tangan Clara erat banget.
Di seberang, Diana sama Safira cuma bisa saling pandang. Mereka gak tau apa-apa. Tapi dari muka Clara sama Mutiara, mereka tau ini bukan telfon biasa.
Clara nutup telfon. Pelan.
"Gue... gue harus ke rumah sakit sekarang," bisiknya.
Dan bus masih kejebak macet. Jauh dari rumah sakit. Jauh dari rumah.
Mutiara langsung teriak ke supir, "Pak, berhenti dulu! Kita turun sini!"
Safira bingung, "Eh eh mau kemana? Ada apa sih? Jelasin dulu!"
Clara gak bisa jawab. Matanya udah penuh air mata. Senyum tempelannya akhirnya copot juga.