NovelToon NovelToon
Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Dokter / Tamat
Popularitas:412.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.

Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 09

Pagi setelah operasi, nama Naira mulai bergerak di ponsel orang-orang rumah sakit.

Tidak ada berita resmi. Tidak ada konferensi pers. Hanya potongan suara perawat, foto buram dari lorong, dan kalimat-kalimat pendek di grup internal.

Dokter tamu semalam siapa?

Yang operasi perdarahan vaskular itu?

Katanya murid Dr. Sari.

Bukan, katanya dia Arkana.

Kalimat terakhir membuat ruang dokter bedah Cipta Medika mendadak ramai.

Arkana bukan nama yang sering diucapkan keras. Di antara dokter senior, nama itu seperti rumor yang terlalu besar untuk dipastikan. Seorang ahli bedah yang pernah muncul di misi kemanusiaan, menangani kasus mustahil, lalu menghilang sebelum orang sempat menanyakan identitasnya. Di beberapa forum internasional, ada catatan operasi dengan tanda tangan A.R.K.

Sebagian mengira itu tim.

Sebagian mengira itu kode program.

Tidak ada yang mengira itu seorang perempuan yang semalam berjalan keluar dari ruang operasi dengan wajah tenang dan mata lelah.

Dimas mendengar nama itu dari dua perawat ketika ia kembali ke rumah sakit untuk menjenguk pasien rekan bisnisnya.

"Aku serius, Dokter Bagus sendiri panggil dia Dr. Naira."

"Tapi Arkana itu kan legenda."

"Legenda juga bisa punya KTP."

Dimas berhenti di dekat mesin kopi.

Rendi yang berjalan di belakangnya hampir menabrak.

"Pak?"

Dimas menatap dua perawat itu. Mereka langsung diam saat sadar ada orang luar mendengar.

"Maaf, Pak," kata salah satunya.

Dimas melangkah mendekat. "Dokter yang operasi semalam, siapa nama lengkapnya?"

Perawat itu saling pandang.

"Kami tidak berwenang memberi informasi, Pak."

Kalimat itu sopan, tapi menutup pintu.

Dulu, nama Dimas Mahendra cukup untuk membuka banyak pintu rumah sakit. Perusahaannya memasok alat kesehatan ke beberapa jaringan klinik, ia sering muncul di seminar bisnis kesehatan, dan dokter-dokter muda mengenalnya sebagai sponsor.

Hari ini, seorang perawat menolak menjawab pertanyaannya.

Rendi cepat menyela. "Pak Dimas hanya ingin memastikan. Beliau mengenal dokter itu."

"Kalau begitu, silakan tanya langsung kepada yang bersangkutan."

Perawat itu pergi.

Dimas berdiri dengan rahang mengeras.

Rendi berkata pelan, "Mungkin kita bisa tanya Dokter Clara."

Dimas tidak menjawab.

Ia justru menuju ruang administrasi direksi. Di sana, setelah menunggu hampir dua puluh menit, ia akhirnya bertemu Dokter Bagus.

Dokter Bagus terlihat tidak senang.

"Saya ada jadwal operasi."

"Saya hanya butuh lima menit," kata Dimas.

"Kalau soal pasien semalam, saya tidak bisa memberi detail."

"Bukan pasien. Naira."

Nama itu membuat Dokter Bagus berhenti.

Dimas menangkap perubahan kecil itu.

"Dia istri saya."

"Saya dengar sedang proses cerai."

Dimas tersentak. "Itu urusan pribadi kami."

"Tepat. Maka urusan profesional Dr. Naira juga bukan hak Anda."

Nada Dokter Bagus datar, tetapi setiap katanya terasa seperti pintu yang dikunci dari dalam.

Dimas menahan marah. "Saya hanya ingin tahu apakah dia benar dokter."

Dokter Bagus menatapnya lama.

"Pak Dimas, pertanyaan itu lebih menjelaskan Anda daripada menjelaskan dia."

Wajah Dimas panas.

Rendi tampak ingin bicara, tetapi Dokter Bagus sudah melanjutkan.

"Dr. Naira punya kualifikasi yang membuat banyak dokter senior memilih mendengar ketika dia bicara. Kalau selama lima tahun Anda tidak tahu, itu bukan karena dia tidak punya kemampuan."

Dimas menggenggam ponsel di saku.

"Kenapa dia menyembunyikannya?"

"Mungkin karena rumah Anda tidak pernah menjadi tempat aman untuk dirinya."

Kalimat itu menusuk terlalu tepat.

Dimas keluar dari ruangan dengan langkah cepat.

Di lobi rumah sakit, Clara menunggunya.

Ia memakai jas putih, rambut ditata rapi, wajahnya tampak cemas. Begitu melihat Dimas, ia mendekat.

"Mas, aku dengar kamu mencari Dokter Bagus."

"Kamu tahu tentang Naira?"

Clara terdiam sebentar. "Tahu apa?"

"Bahwa dia dokter."

"Aku baru tahu semalam."

"Kamu yakin?"

Pertanyaan itu keluar sebelum Dimas sempat menahannya.

Wajah Clara berubah. "Mas curiga padaku?"

Dimas memijat pelipis. Rasa sakitnya naik sejak pagi. "Aku tidak bilang begitu."

"Tapi nada Mas begitu." Mata Clara berkaca-kaca. "Aku juga kaget. Selama ini Mbak Naira tidak pernah bilang apa-apa. Wajar kalau kita semua tidak tahu."

Kita semua.

Frasa itu seharusnya menenangkan.

Dimas dulu suka ketika Clara menggunakan "kita". Rasanya ia tidak sendirian menghadapi Naira yang sering sulit dibaca. Namun hari ini, kata itu membuatnya sadar betapa mudah ia memasukkan Clara ke dalam rumah tangganya sendiri.

"Aku perlu bicara dengan Naira."

Clara menunduk. "Tentu."

Tapi tangannya memegang lengan Dimas.

"Mas, hati-hati. Aku bukan menuduh, tapi orang yang menyembunyikan identitas selama lima tahun pasti punya alasan. Bisa saja semua ini bagian dari rencana keluarganya untuk mengambil alih perusahaan."

Dimas menatapnya.

Ucapan itu masuk akal, tetapi ada sesuatu yang tidak nyaman.

"Perusahaan itu memakai patennya."

Clara berkedip. "Apa?"

Dimas tidak menjelaskan. Ia menarik lengannya pelan.

"Aku pergi dulu."

Clara berdiri di lobi, senyumnya hilang.

Setelah Dimas keluar, ia mengambil ponsel dan menelepon seseorang.

"Jess, cari tahu soal nama Arkana."

Di ujung sana, temannya tertawa. "Arkana? Yang legenda dokter itu?"

"Iya."

"Kenapa?"

Clara melihat pintu kaca yang baru dilewati Dimas.

"Aku ingin tahu apakah legenda bisa dijatuhkan."

Sementara itu, Naira berada di laboratorium kecil rumah Menteng.

Ruangan itu dulu milik ibunya. Setelah Sari menghilang, Surya mengunci semuanya. Tidak ada yang berani masuk sampai Naira kembali.

Di meja stainless, beberapa dokumen lama sudah dibuka. Ada catatan tangan Sari, foto sampel jaringan, dan daftar pasien uji klinik yang sebagian namanya disamarkan.

Dokter Bagus mengirim pesan.

Dimas mencari tahu tentangmu.

Naira membalas singkat.

Biarkan.

Ia tidak punya energi untuk mengatur rasa terkejut Dimas.

Pintu lab terbuka. Surya masuk, berhenti di ambang pintu. Ia tidak pernah melangkah masuk tanpa izin sejak lab itu dibuka kembali.

"Kamu bekerja semalaman?"

"Tidak semalaman."

Surya menatap lingkar gelap di bawah mata putrinya.

"Naira."

Ia mengangkat wajah.

"Kalau kamu ingin menghancurkan Mahendra, Papa bisa selesai dalam satu hari."

"Aku tahu."

"Tapi?"

"Aku tidak ingin menghancurkan mereka karena marah." Naira menatap catatan ibunya. "Aku ingin membongkar semua yang mereka pakai dari Ibu. Itu beda."

Surya berjalan masuk perlahan. Ia berhenti di depan foto Sari yang tertempel di papan kaca.

"Ibumu juga selalu bilang begitu. Jangan bakar rumah kalau yang busuk hanya tiangnya. Bongkar satu-satu, supaya orang tahu bagian mana yang dimakan rayap."

Naira tersenyum lemah.

Ponselnya bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Ia mengangkat.

"Dr. Naira?" suara pria terdengar panik. "Saya dari Cipta Medika. Pasien semalam kejang mendadak. Dokter Bagus sedang operasi lain. Beliau meminta kami menghubungi Anda."

Naira langsung berdiri.

"Kirim hasil lab terbaru. Siapkan CT ulang. Jangan beri antikoagulan sebelum saya lihat."

Surya menatapnya. "Kamu pergi?"

"Pasien."

"Aku antar."

"Tidak perlu."

Surya tidak membantah. Ia hanya mengambil kunci dari meja dan memberikannya ke Bagas yang baru muncul di pintu.

"Lima mobil. Jaga jarak."

Naira hendak protes, tapi Surya sudah berkata lebih dulu.

"Aku tidak mengganggu keputusanmu. Aku hanya memastikan jalanmu tidak ditutup orang."

Naira menatap ayahnya.

Kali ini ia tidak menolak.

Di perjalanan, ponselnya kembali bergetar.

Raka.

Aku dengar pasienmu bermasalah.

Naira membalas tanpa berpikir panjang.

Kamu menaruh orang di rumah sakit?

Balasannya cepat.

Aku menaruh orang di tempat dunia suka mencuri perempuan yang pernah menyelamatkanku.

Naira menatap layar, kesal, lelah, dan sedikit ingin tertawa.

Ia mengetik.

Kalau kamu menghalangi pekerjaanku, aku akan memblokirmu.

Raka membalas.

Aku takut sekali, Dokter.

Naira mematikan layar.

Di kaca jendela, bayangannya terlihat memakai wajah yang hampir hidup lagi.

Di rumah sakit, Clara masih berdiri di lobi setelah Dimas pergi.

Ia membuka mesin pencari dan mengetik satu kata.

Arkana.

Hasil yang muncul tidak banyak. Beberapa forum medis, satu artikel bahasa Inggris tentang operasi darurat di wilayah konflik, dan foto buram tim kemanusiaan yang wajah-wajahnya sengaja disamarkan.

Clara memperbesar foto itu.

Di sudut kiri, ada seorang perempuan berdiri membelakangi kamera. Tidak terlihat wajahnya. Hanya postur dan cara ia memegang sarung tangan operasi.

Clara menggigit bibir.

Ia tidak punya bukti bahwa itu Naira.

Tapi untuk pertama kalinya, ia takut buktinya benar-benar ada.

1
say't
busyet nih clara sdh tdr sm siapa ja y 🤪 kok berani skl
Sumiyatun Martoyo
iya. ini sudah dilewati
say't
kalo aq jd naira aq racun ni 3 org menjijikkn 🤪
Tuti irfan
seru cerita nya , ak suka ceritanya TDK melulu tentang romansa Ceo penuh intrik dan misteri 😍😍👍👍👍
Katherina Ajawaila
mending pakai topeng langsung aja Dimas, cabut 5 hurup
Katherina Ajawaila
makin seru aja thour, cara dan ibunya sama ja penjahat berkedok mana ada ibu mau membunuh anak nya sendiri. dasar pelakor ngk mutu
Debbie Teguh
seru banget!
Katherina Ajawaila
Clara kamu itu ibarat anak ayam yg BB aru netes jgn sombong di pites juga modar. Dimas mau di andalan, Domas aja parasit yg ngumpet di kaki rok Naira 🫣
Katherina Ajawaila
maka nya jd Suami harus bisa adil kalau sdh brani melangkah kedepan, dasar nya aja kere, mau sombong kacang lupa kulit nya, kalau smua di tarik sm Naira, jadi apa parasit
Katherina Ajawaila
kere tapi belagu, biasa parasit
Ken L
kenapa cerita diulang2 ya...supaya kelihatan isi bab ceritanya penuh?
Abie Mas
raka love naira
Heni Setiyaningsih
heran ya,pemili perusahaan kok gk mau beli rumah sendiri,gk malu apa numpang dirumah calon mantan istri 🤭
Wahyu Kasep
jalan ceritanya bagus menarik tegang tapi sepi pembaca gak ada yang komentar
Nengs
bagus cerita wlpun harus benar2 paham
yuqana
bagus banget novelnya 😍😍😍🥰🥰🥰
Dewa Nara
astagaaaaa... pengulangan lagiiiii
Dewa Nara
kok ada pengulangan lagi 🤭
Dewa Nara
ada pengulangan alinea Thor
Dewa Nara
wah ceritanya bukan hanya masalah rumah tangga nih 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!