NovelToon NovelToon
Bumil Barbar Di Mansion Megah

Bumil Barbar Di Mansion Megah

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Aurelia baru saja akan menikmati masa mudanya sebagai gadis single yang bebas, sampai sebuah kecelakaan menyeret jiwanya ke tubuh Nadia Atmaja. Saat terbangun di ranjang rumah sakit, hal pertama yang ia rasakan bukanlah sakit kepala, melainkan beban berat di bagian perutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 19

***

Waktu bergulir seperti aliran sungai yang tenang namun menghanyutkan. Tak terasa, dua bulan telah berlalu sejak insiden Perang Durian di ruang makan yang legendaris itu. Kini, usia kandungan Nadia telah memasuki angka enam bulan sebuah fase di mana perutnya sudah membulat sempurna, menciptakan lengkungan indah di balik gaun-gaun mewahnya.

Selama waktu itu pula, Aurelia telah sepenuhnya berdamai dengan takdir. Ia tidak lagi mempertanyakan mengapa ia terbangun di tubuh Nadia. Sebaliknya, ia menikmati setiap detik fasilitas sebagai Nyonya Hadiwinata yang sah. Jika di kehidupan sebelumnya ia harus bekerja keras hanya untuk membayar sewa kos sempit, sekarang ia bisa tidur di bawah dekapan AC dua puluh empat jam dengan sprei sutra ribuan thread count.

Gangguan dari Nyonya Sekar, sepupu ipar ulat bulu bernama Siska, hingga manuver politik kakeknya pun perlahan mereda. Nadia tidak tahu pasti apakah mereka benar-benar menyerah atau karena tangan besi Raditya yang bekerja di balik layar, namun ia tidak peduli. Kehidupannya saat ini benar-benar damai.

Hingga siang itu, rasa bosan mulai menyerang.

Nadia duduk di sofa velvet kamarnya yang megah, menatap jurnal kehamilan bersampul kulit yang baru saja ia baca setengah. Ia menguap lebar, lalu mengelus perutnya yang terasa menendang-nendang kecil.

"Aduh sayang, kamu mulai bosan juga ya di rumah terus?" gumam Nadia pada dirinya sendiri. "Apa kita perlu menyusul Papamu? Kayaknya asyik juga ya kalau kita kasih sidak ke kantornya. Siapa tahu ada sekretaris genit yang perlu Mama selepet."

Idenya muncul begitu saja. Dengan semangat baru, ia berdiri sedikit kepayahan karena berat di perutnya dan mulai bersiap.

**

Gedung Hadiwinata Group menjulang tinggi ke angkasa, sebuah monumen kaca dan baja yang melambangkan kekuasaan suaminya. Nadia melangkah masuk ke lobi yang luasnya hampir seluas lapangan bola itu. Ia mengenakan dress ibu hamil panjang selutut dari brand mewah Paris berwarna krem yang sangat anggun. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai bebas, jatuh di bahunya dengan berkilau. Ia tampak seperti dewi kesuburan yang modern.

Nadia melangkah menuju meja resepsionis dengan langkah anggun yang kini sudah alami baginya.

"Permisi Mbak, ruangan Pak Raditya di lantai berapa ya?" tanya Nadia dengan nada sopan dan senyum ramah.

Resepsionis bernama Amelia itu mendongak. Ia terpana sejenak melihat kecantikan wanita di depannya, namun profesionalismenya segera kembali. Ia meneliti Nadia dari ujung rambut hingga ujung sepatu, mencoba menebak siapa wanita hamil yang datang tanpa pengawalan ini.

"Mohon maaf sebelumnya, Ibu," jawab Amelia dengan nada formal yang kaku. "Apakah Ibu sudah memiliki janji temu dengan Pak Raditya? Beliau sangat sibuk hari ini."

Nadia sedikit mengernyit. "Belum ada janji sih, Mbak. Tapi bisakah cepat beritahu saja kalau saya ada di bawah?"

Amelia tersenyum tipis, jenis senyum yang biasa diberikan untuk menolak tamu yang mengaku-ngaku. "Mohon maaf sekali, Ibu. Sesuai SOP perusahaan kami, kami tidak diperkenankan memberikan informasi atau mengizinkan sembarang orang naik tanpa janji yang tercatat di sistem."

Tepat saat Nadia hendak membalas, sebuah suara langkah kaki yang angkuh terdengar dari arah pintu masuk. Siska berjalan masuk dengan gaun ketat dan tas bermerek, melenggang melewati pintu keamanan tanpa hambatan. Ia berhenti sejenak saat melihat Nadia, lalu sebuah senyum ejekan terukir di wajahnya.

"Lho? Kak Nadia?" Siska tertawa kecil, menatap Nadia dari atas ke bawah. "Lagi apa di sini? Mau minta uang saku tambahan ke Mas Radit? Kasihan ya, istri sah tapi tertahan di lobi sementara sepupu sepertiku bisa masuk kapan saja."

Darah Nadia mulai mendidih. Jiwa barbarnya yang sudah lama tertidur mendadak bangun dengan alarm kencang. Ia menatap resepsionis tadi dengan tajam.

"Mbak, kenapa wanita ulat ini bisa masuk dengan mudah?" tanya Nadia, suaranya mulai meninggi dan berwibawa.

Amelia tampak kikuk. "Mohon maaf Ibu, itu adalah Nona Siska, sepupu dari Pak Raditya sendiri. Beliau sudah ada di daftar akses prioritas kami."

"Kalau dia yang cuma sepupu bisa keluar masuk seenaknya, apalagi saya yang Istri Sah Raditya Hadiwinata!" ucap Nadia dengan suara menggelegar di lobi yang luas itu.

Seketika, seluruh aktivitas di lobi berhenti. Para staf dan tamu menoleh. Hening mencekam. Siska tertawa mengejek, "Aduh Kak, jangan teriak-teriak. Malu dilihat orang. Lagian siapa yang percaya kamu istrinya? Pak Radit nggak pernah bawa kamu ke kantor, kan?"

Resepsionis itu memandang Nadia dengan tatapan ragu yang menghina. "Mohon maaf Ibu, jika Ibu terus mengaku-ngaku dan membuat keributan, saya terpaksa akan memanggil keamanan untuk mengantar Ibu keluar."

"Coba saja kalau berani! Dengar ya—"

"Ibu Nadia?"

Sebuah suara pria yang familiar memotong kalimat Nadia. Aldi, asisten pribadi Raditya, baru saja masuk melalui pintu samping. Wajahnya yang biasanya datar kini tampak sangat terkejut melihat sang Nyonya besar berdiri di tengah lobi.

"Aldi, tepat waktu sekali kamu datang," ucap Nadia sambil melipat tangan di depan dadanya, dagunya terangkat tinggi.

Aldi segera menghampiri Nadia dengan sikap hormat yang sangat dalam. "Ibu, kenapa Ibu ada di sini sendirian? Saya baru saja menyelesaikan tugas luar dari Pak Raditya. Mari, saya antar langsung ke atas."

Nadia menoleh ke arah resepsionis bernama Amelia yang kini wajahnya mendadak pucat pasi, seperti baru saja melihat hantu di siang bolong.

"Terima kasih, Aldi. Oh ya, tunggu sebentar," Nadia menatap Amelia, matanya melirik tag name di seragam wanita itu. "Nona Amelia, terima kasih telah menjalankan tugasmu dengan sangat baik untuk tidak membocorkan informasi suamiku ke sembarang orang. Itu bagus."

Nadia menjeda, tatapannya berubah sedingin es kutub. "Tapi, membiarkan ulat keket seperti dia masuk dengan bebas hanya karena alasan sepupu sementara menghalangi Istri Direktur Utama adalah kesalahan fatal. Itu sangat mengganggu kenyamanan saya. Aldi, kamu paham kan apa yang harus dilakukan terhadap SOP lobi kita?"

"Paham, Bu. Saya akan pastikan ada evaluasi menyeluruh hari ini," jawab Aldi tegas.

Amelia menunduk dalam-dalam, tubuhnya gemetar. Sementara Siska hanya bisa menggigit bibir, wajahnya merah padam karena malu menjadi pusat perhatian negatif.

**

Ting !

Pintu lift khusus eksekutif terbuka di lantai 60. Nadia keluar dengan langkah mantap, diikuti Aldi yang membawa tas belanja ringan yang tadi dibawa Nadia. Tepat saat mereka menuju ruangan utama, pintu besar itu terbuka.

Siska keluar dari ruangan Raditya dengan wajah yang tampak seperti cucian belum kering kusut dan penuh kekesalan. Sepertinya ia baru saja diusir atau mendapat teguran keras di dalam.

Nadia berhenti tepat di depan Siska. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya memberikan tatapan penuh ejekan dan senyum kemenangan yang sangat tipis namun mematikan. Ia sengaja mengelus perut buncitnya seolah memamerkan posisi tawarnya yang tak tergoyahkan. Tanpa memedulikan Siska yang mendesis kesal, Nadia melanjutkan langkahnya.

"Ini ruangan Pak Raditya, Bu. Silakan," Aldi membukakan pintu.

"Terima kasih, Aldi. Kamu boleh kembali ke pekerjaanmu," ucap Nadia anggun.

Nadia berdiri di depan pintu jati besar itu. Ia menarik napas, lalu mengetuk pelan.

Tok... Tok...

Tidak ada sahutan dari dalam. Nadia memberanikan diri membuka pintu secara perlahan. Begitu ia melangkah masuk, suara bariton yang dingin dan penuh otoritas langsung menyambar.

"Saya sudah bilang jangan pernah lagi datang ke ruangan saya tanpa izin, Siska! Keluar sekarang juga!" gertak Raditya tanpa menoleh, matanya masih terpaku pada dokumen di meja.

Nadia terdiam di ambang pintu, berpura-pura memasang wajah sedih yang sangat dramatis. Ia memegangi perutnya dengan satu tangan.

"Ah... padahal aku datang jauh-jauh buat kasih kejutan ke Mas Radit. Ternyata aku diusir," ucap Nadia dengan nada suara yang bergetar dibuat-buat. "Ya sudah sayang, kita pulang saja ya. Papa sepertinya lebih suka sendirian daripada sama kita."

Raditya tersentak. Kepalanya mendongak seketika. Matanya yang tajam langsung melembut saat melihat sosok cantik istrinya yang berdiri di sana.

"Nadia?"

Raditya segera berdiri dari kursi kebesarannya, melangkah cepat menghampiri Nadia. Wajah dinginnya runtuh seketika, digantikan oleh guncangan kecil yang langka di matanya.

"Kenapa kamu ke sini? Dan kenapa tidak memberitahu saya dulu?" tanya Raditya, meskipun tangannya secara otomatis merangkul pinggang Nadia dan membimbingnya duduk di sofa empuk ruang kerjanya.

Nadia mengerucutkan bibirnya. "Habisnya aku bosan di rumah. Tapi tadi di bawah susah banget masuknya, aku hampir dipanggilkan satpam. Terus ulat bulu tadi juga lewat sambil ngejek aku. Mas nggak sayang aku lagi ya?"

Raditya menghela napas, jemarinya mengusap rambut Nadia dengan lembut. "Siapa yang berani memanggil satpam untuk istri saya? Dan soal Siska... dia tidak akan masuk ke lantai ini lagi, saya janjikan itu."

Raditya menatap wajah Nadia yang kini terlihat segar namun menyimpan kelelahan di matanya. "Lalu, kejutan apa yang kamu bawa sampai berani menembus kemacetan Jakarta jam segini?"

Nadia tersenyum manis, menarik tangan Raditya untuk menyentuh perutnya yang membulat. "Kejutannya adalah... bayimu kangen Papanya. Dan dia bilang, dia mau makan siang bareng di kantor yang keren ini. Mas nggak keberatan kan kalau aku jadi asisten khusus hari ini?"

Raditya menatap istrinya dengan pandangan yang dalam, sebuah senyum tipis benar-benar senyum yang tulus muncul di bibirnya. "Tentu tidak. Kamu boleh menguasai kantor ini sesukamu, Nyonya Hadiwinata."

***

Bersambung

1
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir....slm knal....
Aku syuka crtanya........tipe istri yg ga menye2,trs suami posesif.....mskpn d awl dia acuh,tp akhrnya jd bucin.....
d tnggu up'ny.....smngtt.....😘😘😘
Heresnanaa_: happy reading yaa 🫶
total 2 replies
MARWAH HASAN
aku suka yg cerita model begini
ehhhh
suka semua ceritamu deng🤣
Heresnanaa_: aaa maaciw kaka😍🤭😚🥹🫂
total 1 replies
partini
wah tumben mafia bermain dulu bisa sikat tebas biarpun itu ibu ayah sodara ga penting,keren bang Radit
partini
wow
aku
sangat jelas..... 🤣🤣🤣🤣
partini
ahhh ternyata mafia juga Thor,masih di dalam perut aja aktif luar biasa gimana kalau dah lahir bisa lebih sadis dari ayahnya tu baby
MOZZA AUDYA
sikattt trussssssssss Thor buat nyaaaa seru bat drama siang yang di buat nadia 🤭
partini
itu baru di semprot kalau pakai jurus 10 tinju dan tendangan apa ko langsung 😂
MOZZA AUDYA
lanjut thorrr.... gk sabar nih nunggu drama di kantor nyaaa🤭
partini
ulet kadut itu,ayo nak bantu mommy buat hempas uler kadut 😂😂
tunggu aksi luar biasa bumil thor
𝐀⃝🥀Weny
si kulkas jadi bucin😁
MOZZA AUDYA
wahhhhh nampak aada drama baru yang akan di main kn nihh🤭
partini
Thor sekali pakai lingerie bagus deh perut Belendung uhhhh
partini
see main masuk aja kata ga berani wkwkwk
partini
lah masa udah ketauan aja sih ,roh nya Nadia ganti yg tau orang lain pula 🤦
MOZZA AUDYA
aduhh nadia jiwa barbar nya gk bisa di tahan sihhh 🤭
partini
good story 👍👍👍👍👍
partini
lanjut Thor 👍👍👍👍
Heresnanaa_: stay tune beb 😚
total 1 replies
partini
Nemu juga novel kaya gini suka "❤️
Heresnanaa_: hai kaka🤭
happy reading yaa 🤭
total 1 replies
rara🍁🍃🦋
mo nangis tapi mallu
Heresnanaa_: diam diem aja author engga liat kok🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!