"Satu tahun pernikahan kontrak, Levara," bisik Dante dingin di antara remang ruang kerjanya. "Kamu dapat akses dokumen ayahmu, dan saya dapat mengunci saham perusahaan dari ambisi Paman Julian Perkasa."
"Dan jika bahaya mengincarku?" tantang Levara.
Dante memajukan kursi rodanya, menatapnya tajam.
"Selama kamu menyandang nama Velmore, keselamatanmu adalah tanggung jawab saya."
Di balik kemewahan ibu kota, Levara bertaruh nyawa mengungkap misteri hilangnya sang ayah dua puluh tahun silam. Petunjuk terakhir mengarah pada dokumen rahasia milik Velmore Group. Satu-satunya jalan masuk adalah Dante Castillo Velmore, pewaris tunggal nan dingin di atas kursi roda.
Perjanjian di atas kertas berubah menjadi ancaman maut saat fakta terkuak. Di tengah gempuran teror dan perang hukum, mampukah pernikahan tanpa rasa itu bertahan ketika dendam masa lalu menuntut keadilan?
Di tambah, sosok bocah menggemaskan yang menjadi tambahan hiburan untuk mereka.
"Om cate magelan, kenapa jadi cuami?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Biar Terbiasa
Mobil sedan milik kediaman Velmore membelah jalanan utama kota Jakarta yang mulai memadat di pagi hari. Setelah memercayakan keamanan kediaman utama dan pengawasan jaringan pada Riko, Dante memutuskan untuk turun langsung mendampingi Levara. Perjalanan menuju sebuah kota kecil di daerah itu memakan waktu beberapa jam, sebuah tempat terpencil yang dipilih oleh Helena untuk mengubur masa lalunya selama dua puluh satu tahun.
Di dalam kabin mobil yang kedap suara, suasana terasa begitu tenang. Dante duduk di kursi penumpang depan yang telah dimodifikasi khusus untuk kenyamanan fisiknya, sementara Levara duduk tepat di sampingnya, memandangi deretan pepohonan yang mulai menggantikan pemandangan gedung-gedung bertingkat.
Levara memecah keheningan, menatap profil samping wajah Dante yang tampak tegas dan mengintimidasi di bawah pendar sinar matahari pagi.
"Dante ...," panggil Levara pelan.
Dante memalingkan wajahnya perlahan, menatap Levara dengan iris matanya yang tajam namun selalu melunak tiap kali berhadapan dengan istrinya. "Iya, Levara? Ada yang mengganggu pikiranmu?"
Levara menghela napas panjang, meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan. "Apa menurutmu Nyonya Helena mau bicara dengan kita? Dua puluh satu tahun itu waktu yang sangat lama. Kalau dia memilih bersembunyi di kota kecil selama itu, artinya dia benar-benar ketakutan setengah mati pada David Veyron."
Dante mengulurkan tangan kirinya, meraih jemari Levara dan menggenggamnya hangat. "Ketakutan itu wajar, Levara. Siapa pun yang pernah bersinggungan langsung dengan David Veyron pasti tahu seberapa jauh pria itu sanggup berbuat biadab untuk melindungi kekuasaannya. Tapi ingat satu hal."
"Apa?" tanya Levara, menatap mata suaminya mencari kepastian.
"Helena tidak menghancurkan dokumen atau ingatan itu," tegas Dante dengan suara bass-nya yang mantap. "Kalau dia benar-benar ingin lepas sama sekali, dia tidak akan menyisakan jejak rahasia yang terhubung dengan dokumen Ayahmu. Rasa bersalah atau keinginan untuk melihat David Veyron jatuh pasti masih tersimpan di hatinya. Tugas kita hanya meyakinkannya bahwa kali ini ... kita punya kekuatan untuk melindunginya."
Levara tersenyum tipis, merasakan gelombang kehangatan mengalir di dadanya setiap kali mendengar keteguhan suara Dante. "Kamu selalu tahu apa yang harus dikatakan untuk membuatku tenang, Dante."
"Itu karena saya tidak akan membiarkanmu ragu sedikit pun," balas Dante seraya mengepalkan perlahan tangannya yang menggenggam jemari Levara. "Perjalanan ini bukan cuma soal mencari saksi kunci, tapi soal mengembalikan kehormatan keluarga kita."
Mobil terus melaju menelusuri jalanan menanjak yang dikelilingi perbukitan hijau. Udara dingin khas pegunungan mulai menyusup pelan saat jendela dibuka sedikit. Levara menyandarkan kepalanya di bahu tegap Dante, membiarkan keheningan yang nyaman kembali membungkus mereka di sepanjang sisa perjalanan.
.
.
.
.
Hari mulai gelap ketika sedan hitam Velmore akhirnya berhenti di depan sebuah penginapan tua berarsitektur klasik di pinggiran kota kecil tersebut. Karena kedatangan mereka yang terkesan mendadak dan keterbatasan fasilitas di daerah terpencil itu, pilihan akomodasi sangat terbatas.
"Maaf sekali, Tuan, Nyonya," ujar resepsionis penginapan seraya menatap canggung ke arah Dante yang duduk di kursi roda dan Levara yang berdiri di sampingnya. "Kamar eksekutif atau kamar dengan dua ranjang terpisah sudah penuh dipesan untuk acara rombongan dinas. Kami hanya menyisa satu kamar lantai bawah yang aksesibel untuk kursi roda ... tapi ranjangnya hanya ada satu king size."
Levara tersentak pelan, wajahnya mendadak memanas. Ia memalingkan wajah menatap Dante. "Satu ranjang?"
Dante tetap bersikap tenang, mengangguk pelan pada resepsionis. "Tidak masalah. Kami ambil kamar itu."
Setelah menerima kunci, Dante memandu kursi rodanya menyusuri koridor kayu yang sepi menuju kamar nomor 104. Begitu pintu kayu tebal itu terbuka, aroma kayu jati dan keharuman lavender langsung menyambut mereka. Di tengah ruangan, berdiri sebuah tempat tidur kayu berukuran besar dengan sprei putih bersih.
Suasana mendadak terasa begitu canggung. Ini adalah pertama kalinya mereka harus menginap di luar rumah utama Velmore hanya berdua saja, tanpa Riko atau pelayan yang biasanya berseliweran di kediaman mereka.
"Ini juga bagus," gumam Dante.
Levara meletakkan tas pakaian mereka di atas sofa kecil dekat jendela, berusaha mengalihkan rasa gugup yang tiba-tiba menyerbunya.
"Dante ... kamu mau membersihkan diri dulu? Aku bisa bantu menyiapkan pakaianmu."
Dante memutar kursi rodanya mendekati sisi tempat tidur, mengamati gestur kaku istrinya dengan sudut bibir yang terangkat tipis. "Levara."
Levara mendadak menghentikan gerakannya, membalikkan badan dengan canggung. "I-iya?"
"Kamu terlihat sangat tegang," goda Dante pelan, nada suaranya terdengar hangat dan menghibur. "Kita sudah menikah, dan semalam kita juga tidur di satu tempat tidur yang sama."
"Tapi ... tapi di rumah kan beda," bisik Levara lirih, meremas ujung bajunya. Pipi mulusnya kini merona merah padam. "Di sini kamarnya lebih kecil, dan ... dan cuma ada kita berdua."
Dante terkekeh pelan, suara terkekeh rendah yang jarang sekali terdengar dari pria tegas itu. Ia memajukan kursi rodanya hingga berhenti tepat di hadapan Levara, lalu mendongak menatap iris mata wanita itu.
"Kamu tidak perlu canggung dengan suamimu sendiri, Levara," ucap Dante lembut, mengulurkan tangannya dan mengusap pelan jemari Levara yang saling bertautan. "Saya tidak akan melakukan apa pun yang membuatmu tidak nyaman. Tempat tidur ini cukup luas untuk kita berdua."
Mendengar nada suara Dante yang jujur dan begitu menghargai dirinya, perlahan rasa canggung di dada Levara luluh. Rasa berdebar di dadanya tak lagi berasal dari rasa takut atau canggung, melainkan dari gejolak perasaan lain yang kian tumbuh untuk suaminya.
Levara berlutut pelan di samping kursi roda Dante, menyejajarkan pandangannya dengan sang suami. Ia menatap wajahi tegap Dante dengan sorot mata tulus.
"Aku nggak takut atau risih padamu, Dante. Aku cuma. .. belum terbiasa dengan desiran aneh di dadaku setiap kali aku dekat denganmu."
Dante terdiam sejenak, menatap lekat mata Levara sebelum menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kehangatan. "Kalau begitu, biarkan dirimu terbiasa, Levara. Karena saya tidak berniat untuk pergi dari sisimu."
malemgara2 mikirin leva😭😭