kalau adaa yang salah atau enggk nyambung ceritanyaa maapp yaaaahhh soalnya baru pertama bikin cerita kayak ginii (◠‿◕)
Siapa sangka gadis yang berisik, ceroboh, dan selalu bikin keributan itu justru jadi satu-satunya yang bisa meluluhkan hati ketua osis paling dingin, cuek, dan ditakuti seantero sekolah?
Dari yang saling tak suka, jadi tak bisa terpisahkan. Ini kisah gadis barbar yang mencuri hati ketos dingin yang tak pernah tersenyum pada siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAWA, TANDA TANYA, DAN DIA YANG MENJAUH.
Hari-hari berikutnya terasa kayak jalan di antara tawa sama hal yang nggak pernah diucap. Di sekolah, kita tetap gerak diam-diam — nggak pelukan berlebihan, nggak pamer mesra. Cuma senyum yang dikirim diam-diam dari seberang ruangan, sapa pelan pas nggak ada orang lihat, dan kedekatan yang terasa hangat walau nggak kedengaran.
Siang itu di kantin, gue duduk beramai-ramai — gue, Arka, Raka, sama Dito. Suasananya rame banget.
"Eh Luna, denger nggak?" seru Raka sambil nunjuk sendok ke arah gue. "Kemarin ada yang bilang lo bikin Arka berubah total! Katanya si ketua OSIS yang dulu kayak patung sekarang… nyengir sendiri pas baca pesan!" 😂
Gue nyembur minum dikit karena ketawa kaget. "Haah?! Seriusan?!"
"Serius banget!" timpal Dito ngakak sampai nepuk meja. "Kami sendiri nggak percaya! Dulu kalau ada cewek deketin, mukanya langsung beku kayak kulkas. Sekarang? Lo lewat dikit aja, matanya ikut ke mana lo pergi!"
Wajah gue panas banget. Gue lirik Arka — dia diam aja, tapi pipinya agak merah, berusaha tetap tenang.
"Kalian berisik banget," ucapnya pelan, tapi suaranya nggak marah. Malah tangannya diam-diam nindih tangan gue di bawah meja, lembut dan nenangin.
Gue senyum malu, tapi di dalem hati ada rasa hangat yang nyebar. Ternyata… gue beneran ngubah sesuatu di dirinya.
Tapi kehangatan itu nggak bertahan lama.
Beberapa hari kemudian, hal aneh mulai terjadi. Arka jadi sering hilang tanpa pamit. Bilangnya ada urusan, tapi matanya kelihatan capek, pikirannya entah ke mana. Kadang pas gue ngomong, dia natap gue tapi nggak beneran denger — kayak pikirannya terbagi ke tempat lain.
Sore itu kita janjian pulang bareng. Gue nunggu di gerbang sampai sepi, tapi dia nggak muncul. Pas gue hampir pulang, gue lihat dia — berdiri di ujung jalan yang sepi, deket tempat parkir motor tua. Bareng sosok-sosok yang nggak gue kenal. Jaket mereka gelap, ngomong pelan tapi tegas. Arka berdiri di tengah, aura dinginnya muncul lagi — versi yang lebih tajam, lebih keras, bukan Arka yang gue kenal.
Gue melangkah deket, tapi sebelum gue sempat manggil, mereka udah pergi — melesat naik motor sama suara deru yang mecah kesunyian. Arka berdiri sendirian, natap ke arah mereka pergi, napasnya berat.
"Arka?" panggil gue pelan.
Dia noleh kaget, terus wajahnya berubah — berusaha balik tenang, tapi matanya nggak bisa nutupin gelisahnya.
"Lo belum pulang?" suaranya agak kaku.
"gue nungguin lo… lo ke mana aja?" tanya gue pelan, natap dia lekat-lekat. "Siapa mereka?"
Arka diam, nunduk sebentar, terus geleng pelan.
"Teman lama. Urusan sekolah. Nggak penting."
"Kalau nggak penting, kenapa lo nggak bilang dari tadi?" suara gue mulai gemetar. "Kenapa lo selalu sembunyiin bagian ini dari gue?"
Dia terdiam, nggak bisa jawab. Keheningan di antara kita terasa berat — lebih berat dari sebelumnya.
"gue nggak nuntut lo cerita semuanya sekarang," lanjut gue pelan, nahan biar suara nggak pecah. "Tapi tolong… jangan bikin gue merasa kayak orang asing di hidup lo, ya?"
Arka natap gue, ada rasa sakit di matanya. Dia ulurin tangan kayak mau sentuh gue, terus narik balik pelan.
"Maaf, Luna. Bukan maksud gue begitu. Cuma… belum saatnya."
Dia jalan duluan, ninggalin gue berdiri sendirian di sana. Langkahnya pelan, seolah berat — tapi dia tetap pergi.
Sore itu gue pulang sama perasaan campur aduk. Di satu sisi gue tahu dia sayang sama gue. Di sisi lain… dinding di antara kita terasa makin tinggi, bukan makin runtuh.
Gue ketemu Sasa sama Bela di tempat biasa. Ceritain semuanya — soal kepergiannya, soal tatapan yang berubah, soal rahasia yang terasa makin jauh.
"Lo nggak salah, Luna," ucap Bela lembut sambil merangkul bahu gue. "Tapi dia juga manusia yang punya beban sendiri. Kasih dia waktu."
"Tapi sampai kapan?" mata gue terasa panas. "gue takut… kalau gue nunggu terlalu lama, dia malah makin jauh."
Sasa remas tangan gue erat. "Kalau dia memang buat lo, dia bakal balik. Tapi kalau dia sembunyiin hal yang berbahaya… lo harus siap jaga hati lo sendiri juga."
Kata-kata itu masuk ke dalem hati, dan menetap di sana.
Malam itu gue lihat Arka dari kejauhan — duduk sendirian di teras rumahnya, natap langit tanpa gerak. Kayak seseorang yang lagi berantem sama sesuatu yang nggak bisa dilihat siapa pun.
Gue mau deket, mau peluk dia, mau bilang gue ada di sini. Tapi gue tahu — sampai dia sendiri yang buka pintunya, gue nggak bisa maksa masuk.
Dan di kejauhan, di balik pohon besar, ada sosok yang ngeliatin kita — Kirana. Bibirnya senyum tipis, seolah lihat sesuatu yang udah lama dia tunggu.
okay guys sampai sini dulu yahh, JANGAN LUPA BUAT LIKE, VOTE, SUBSCRIBE DAN JANGAN LUPA KOMEN KALIAN YAHH, makasih untuk dukungan kalian semua. 💜 (ღˇ◡ˇ)♥ℒᵒᵛᵉᵧₒᵤ♥