NovelToon NovelToon
MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.

Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.

Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.

"Jangan sentuh!"

Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.

"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22.

​Tiga hari telah berlalu sejak malam yang mengubah seluruh alur hidup Aluna. Bagi Aluna, waktu seolah berhenti di dalam kamar berukuran tiga kali empat meter itu.

Tubuhnya terasa remuk dan hampa, namun rasa sakit di fisiknya tak sebanding dengan kehancuran jiwa yang ia rasakan. Ia bahkan tak sanggup memandang wajah kakaknya sendiri. Setiap kali mendengar langkah kaki atau suara Romeo di luar, dadanya dihantam gelombang rasa bersalah yang amat luar biasa.

​Sementara itu, Romeo menjalani harinya seperti biasa. Tidak ada curiga sedikit pun yang terlintas di pikirannya. Pria itu hanya menduga adiknya sedang kelelahan parah akibat menanggung beban hidup yang terlalu berat selama ini—mengurus kuliah sekaligus bekerja paruh waktu di kafe saat Romeo terbaring di rumah sakit.

​"Na... sarapannya Kakak taruh di meja depan pintu, ya," panggil Romeo lembut dari balik pintu pada suatu pagi, memutar roda kursi rodanya pelan. "Makan sedikit ya, Na. Jangan bikin Kakak khawatir."

"iya kak, nanti Aluna ambil." balas Aluna dengan mulut bergetar.

"Jika masih sakit, kakak minta mbak Ina panggil dokter saja ya." Romeo merasa hawatir.

"Tidak perlu kak. Aluna butuh istirahat saja. Aluna juga sudah beli obat di apotik. Sebentar lagi juga sembuh."

​Romeo menghela napas panjang. Rasa bersalah terus menggerogoti hatinya. Ia merasa sebagai kakak yang gagal karena belum bisa melindungi adiknya.

Tekadnya untuk sembuh pun kian membara. Setiap sore, ditemani Suster Maya, Romeo berlatih fisioterapi tanpa kenal lelah. Ia memaksakan kakinya untuk menahan beban, menahan rasa nyeri yang menusuk demi bisa kembali berdiri.

​Di rumah sederhana itu kini juga hadir seorang Asisten Rumah Tangga (ART) paruh waktu yang dikirim langsung oleh Hayden. Awalnya Romeo menolak keras, merasa rumah mereka terlalu kecil dan tidak membutuhkan bantuan orang luar.

Namun, Hayden beralasan bahwa ini adalah bentuk dukungannya agar Romeo bisa fokus penuh pada pemulihan tanpa memikirkan urusan domestik, ditambah lagi dengan kondisi Aluna yang sedang sakit. Melihat Aluna yang terus mengurung diri, Romeo akhirnya tak punya pilihan selain menerima.

​Memasuki hari keempat, keheningan di kamar Aluna terasa kian pekat. Makanan yang disiapkan Romeo sejak semalam sama sekali tak tersentuh di ambang pintu.

​Di dalam kamar yang temaram, Aluna duduk terduduk di lantai yang dingin, meringkuk sambil memeluk erat foto kedua orang tuanya yang telah tiada. Air matanya mengalir tanpa henti, membasahi kaca bingkai foto tersebut.

​Pikirannya berkecamuk liar tanpa arah. Harga dirinya felt melayang hilang dalam semalam. Dan pria itu... Hayden... apakah pria itu benar-benar peduli pada dampaknya?

​Bagaimana jika aku hamil? bisik batinnya dengan tubuh bergetar hebat. Bagaimana jika berita ini menyebar di kampus dan beasiswaku dicabut? Bagaimana aku harus menghadapi Kak Romeo?

​"Ayah... Ibu... maafkan Aluna..." isak Aluna lirik, suaranya hampir tak terdengar. "Aluna gak bisa menjaga diri Aluna... Aluna gak sanggup menghadapi Kak Romeo... Aluna gak sanggup menghadapi dunia..."

​Kepalanya mendadak terasa amat berat. Pandangannya mulai mengabur seiring dada yang terasa makin sesak akibat rasa panik dan kelelahan luar biasa. Tubuhnya yang tak tersentuh makanan selama berhari-hari akhirnya menyerah. Pegangan tangannya pada bingkai foto merelonggar, dan tubuh rapuh itu terkulai pingsan di atas lantai dingin.

​Di luar kamar, Romeo mengetuk pintu kayu itu berulang kali dengan raut wajah yang diliputi kecemasan mendalam.

​"Na? Aluna! Buka pintunya, Na!" panggil Romeo, suaranya mulai bergetar. "Piring makanan dari semalam sama sekali belum kamu sentuh. Na, tolong jawab Kakak!"

​Tidak ada sahutan dari dalam. Keheningan yang menyambutnya justru membuat dada Romeo makin berdegup kencang.

​Tepat saat rasa panik Romeo berada di puncak, pintu depan rumah terbuka. Hayden melangkah masuk dengan setelan kemeja rapinya, melangkah mendekati lorong tempat Romeo berada.

​"Romeo? Ada apa?" tanya Hayden tenang, meski matanya menyapu sekeliling dengan cermat.

​Romeo menoleh dengan wajah pucat menatap sahabatnya. "Hayden! Aluna... dari semalam dia tidak menyahut sama sekali. Makanan tidak dimakan, pintu dikunci dari dalam. Aku takut terjadi apa-apa padanya di dalam!"

​Romeo memegang lengan Hayden dengan tatapan memohon. "Hayden, tolong aku.. dobrak pintu kamar Aluna!"

Hayden menatap lengan Romeo yang mencengkeram kemejanya, lalu mengalihkan pandangan ke pintu kamar kayu yang tertutup rapat.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ekspresinya berubah dingin dan penuh kalkulasi. Ia menepis perlahan tangan Romeo, melangkah maju, dan tanpa ragu menghantamkan bahunya ke pintu tersebut.

BRAK!

Hantaman pertama membuat engsel pintu berderit keras. Pada hantaman kedua, kait pintu terlepas dan pintu kayu itu terdorong lebar.

Di atas lantai dingin yang temaram, tubuh Aluna terbaring kaku tak sadarkan diri, masih memeluk bingkai foto orang tuanya yang retak.

"Aluna!" jerit Romeo histeris, memutar roda kursi rodanya dengan panik berusaha mendekat. "Hayden, adikkku! Tolong dia!"

Hayden melangkah masuk duluan. Tatapan matanya yang tajam menyapu wajah Aluna yang pucat pasih dan tirus. Rasa bersalah dan dominasi bersaing ketat di balik topeng intonasinya yang tetap tenang dan tak tersentuh. Ia berlutut sejenak, memeriksa denyut nadi di leher Aluna yang terasa sangat lemah.

Tanpa menunggu persetujuan, Hayden menyusupkan kedua tangannya di bawah tubuh rapuh Aluna dan mengangkat gadis itu ke dalam dekapannya. Tubuh Aluna terasa begitu ringan dan dingin di lengannya.

"Hayden, kamu mau bawa dia ke mana?" tanya Romeo dengan napas memburu, matanya berkaca-kaca menatap adiknya yang tak berkutik.

"Rumah sakit," jawab Hayden datar seraya melangkah cepat menuju pintu keluar, mengabaikan tatapan heran dari Mbak Ina—ART yang berdiri cemas di sudut ruangan.

"Aku ikut, Hayden! Aku harus mendampingi Aluna!" seru Romeo seraya mencoba mendorong kursi rodanya mengejar.

Hayden menghentikan langkahnya di ambang pintu, menoleh sedikit tanpa mengubah raut wajahnya yang keras. "Tidak perlu, Romeo. Kondisimu belum pulih total. Fisioterapi sore ini tetap harus berjalan. Biar aku dan tim medis yang mengurus Aluna. Rendra akan terus memberimu kabar."

"Tapi dia adikku satu-satunya—"

"Dan dia akan aman bersamaku," potong Hayden tegas dan mutlak. "Istirahatlah. Jangan membuat kondisimu sendiri memburuk."

Tanpa memberi ruang untuk bantahan lagi, Hayden membawa Aluna keluar menuju mobil SUV hitam yang sudah menunggu di depan rumah kontrakan. Rendra dengan sigap membukakan pintu belakang. Hayden mendudukkan Aluna di kursi belakang, lalu ikut masuk dan duduk di sampingnya.

"Ke Rumah Sakit Medika Utama, Sekarang." perintah Hayden pada Rendra yang mengemudi.

"Baik, Tuan," jawab Rendra sigap seraya menancap gas.

Sepanjang perjalanan, Hayden duduk tegap dengan pandangan lurus ke depan. Jemarinya yang menopang dagu memperlihatkan ketegangan yang tersembunyi. Sesekali matanya melirik sosok Aluna yang terkulai lemas di sampingnya. Kepala gadis itu menyandar pasrah pada bahunya.

Hayden mengulurkan tangan, menyentuh kening Aluna yang dingin dengan punggung jarinya. Tidak ada kehangatan dalam tatapannya, hanya kilatan posesif dan kepastian bahwa gadis ini kini berada penuh dalam kendalinya.

"Maafkan aku, Aluna..." bisik Hayden sangat pelan dengan nada dingin yang menusuk, "Aku tak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu. Aluna.."

*

*

*

Hai.. Pembaca setia Model Rahasia Teman Kakak..

Jangan lupa berikan dukungan pada author untuk memberikan like, komen, gift, dan vote ya...

Satu dukungan memberikan suntikan semangat untuk author memberikan bab-bab baru yang menarik.

Jika kalian menyukai cerita ini, berikan ulasan dan bintang nya ya...

Terima kasih 🙏🙏🙏

1
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Mia Camelia
Hayden makin gak bisa melepaskan Aluna nih🤭
𝐀⃝🥀Weny
baru aja baca, udah disuguhin Bombay banyak sama othor😭
Mia Camelia
siap thor 😁penasaran nih visual ny gimana😂
diga pues
+21☻️☻️☻️
diga pues
☻️☻️☻️
diga pues
serigala☻️
diga pues
ugh☻️
Mia Camelia
hayden obsesif banget ini mah ke aluna🤭
sukaa banget nih sama modelan ky hayden 😁
diga pues
ugh🌚
Ita Putri
haduuhh
bahaya Aluna
sudah dong Hayden kasihan aluna
Mia Camelia
lanjut thor😁
Mita Paramita
Thor nih novelnya sampai tamat kn? gak kayak novel kemarin yang dihapus? padahal lagi seru cerita ny
Mita Paramita: siap Thor 🔥🔥🔥🔥
semangat Thor 🔥🔥🔥
total 2 replies
Mia Camelia
seru banget thor😁😁😁
MissSHalalalal: terimakasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!