Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Mahkota Cahaya di Tokyo
Gemuruh tepuk tangan membahana memenuhi Grand Ballroom hotel bintang lima di kawasan Ginza. Di atas panggung megah yang berlatar layar LED raksasa, nama Grand Dirgantara Tower resmi diumumkan sebagai pemenang utama penghargaan Best Sustainable Commercial Architecture tingkat Asia.
Dania berdiri di pusat panggung, menggenggam piala kristal murni yang berkilau di bawah tembakan lampu sorot. Di sampingnya, Erlangga dan Maya tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca menatap kerumunan jurnalis dan tamu undangan yang berdiri memberikan standing ovation.
Di barisan depan tamu VIP, Arvin berdiri paling tegak. Pria tegap itu bertepuk tangan dengan tenang, namun tatapan matanya yang pekat terkunci rapat pada Dania. Ada rasa bangga yang begitu dalam terpancar dari raut wajah kaku sang CEO—sebuah kebanggaan murni yang tak bisa disembunyikan oleh protokol formal apa pun.
Saat Dania memberikan pidato singkat dalam bahasa Inggris yang sangat fasih dan lugas, matanya berulang kali bertemu dengan tatapan Arvin. Bros emas putih berbentuk melati peninggalan keluarga Dirgantara yang tersemat di dadanya berkilau indah, seolah menjadi saksi bisu terangkatnya martabat dan nama baik keluarganya di panggung dunia.
Dua jam kemudian, riuk rendah acara penganugerahan telah mereda.
Di lantai paling atas hotel, pintu Presidential Suite berpanel kayu mahoni terbuka pelan. Dania melangkah masuk ke dalam ruangan yang hangat dan luas itu, meletakkan piala kristalnya di atas meja kaca tengah. Langkah kakinya terasa agak berat setelah berjam-jam berdiri menggunakan sepatu hak tinggi.
Arvin melangkah masuk di belakangnya, melepas jas tuxedo-nya dan menyampirkannya secara santai di atas sandaran sofa kulit. Pria itu melepas dasi kupu-kupunya, membuka dua kancing teratas kemeja putihnya hingga memperlihatkan garis leher tegasnya yang maskulin.
"Perjalanan dan perjuanganmu berakhir dengan sempurna malam ini, Dania," kata Arvin, suara baritonnya yang berat dan rendah terdengar begitu hangat di dalam ruangan yang hening itu.
Dania berbalik menatap Arvin, menghembuskan napas panjang yang sarat akan rasa lega. "Saya masih tidak percaya draf yang dulu saya gambar hingga larut malam di studio akhirnya memenangkan penghargaan ini, Arvin."
"Aku percaya sejak pertama kali melihat cetak biru itu di mejamu," sahut Arvin jujur seraya berjalan mendekati dapur bersih suite, menyeduh dua cangkir teh hangat.
Arvin kembali membawa satu cangkir porselen putih, menyodorkannya pada Dania. Dania menerima cangkir tersebut, merasakan kehangatan cairan teh yang mengalir menenangkan tenggorokannya.
"Terima kasih untuk semuanya, Arvin," bisik Dania tulus, menatap mata Arvin yang pekat di bawah pendar lampu gantung yang temaram. "Tanpa dukungan fasilitas, kepercayaan, dan keputusannmu mempertahankan posisi saya di proyek ini... saya tidak akan pernah berdiri di panggung itu."
Arvin menatap Dania lurus-lurus, mengikis jarak hingga berdiri hanya satu pijakan di depan Dania. Aura dominannya yang biasa dingin kini berganti menjadi kehangatan yang amat intens.
"Bukan aku yang membawamu ke panggung itu, Dania," ujar Arvin pelan, suaranya merendah bagai bisikan yang memikat. "Kemampuan, keteguhan, dan kejeniusanmu sendiri yang membawamu ke sana. Aku hanya pria beruntung yang berkesempatan menyaksikan keberhasilanmu dari jarak paling dekat."
DEG!
Jantung Dania berdetak kencang mendengar pengakuan tulus itu. Tatapan mata Arvin begitu dalam dan jujur, runtuh sepenuhnya dari benteng gengsi atau alasan hukum bisnis yang selama ini selalu dijadikan tameng.
Dania menelan ludah, mencoba menguasai perasaannya yang meletup-letup. "Arvin... acara di Tokyo sudah selesai. Besok kita kembali ke Jakarta. Dan beberapa bulan lagi..." Dania jeda sejenak, tenggorokannya terasa agak tercekat. "...kontrak satu tahun kita akan resmi berakhir."
Suasana di kamar suite mendadak membeku. Kata 'kontrak' yang diucapkan Dania seolah menjadi pengingat pahit atas batas waktu yang pernah mereka sepakati di atas kertas.
Arvin tidak menjawab dengan cepat. Pria tegap itu meletakkan cangkir tehnya di atas meja, lalu melangkah satu pijakan lebih dekat hingga aroma parfum woody-nya memenuhi indra penciuman Dania. Tangannya yang kokoh dan hangat terulur perlahan, menyentuh lembut jemari Dania yang memegang cangkir, lalu mengambil cangkir itu dari tangan Dania dan meletakkannya di meja.
Ibu jari Arvin mengusap pelan pipi halus Dania, menaikkan pandangan wanita itu agar menatap langsung ke dalam matanya.
"Apakah kamu masih menganggap keberadaanmu di sisiku murni karena kertas perjanjian itu, Dania?" tanya Arvin dengan suara bariton yang amat pekat dan bergetar tipis oleh emosi yang tertahan.
Dania menatap manik mata Arvin yang pekat. Kehangatan sentuhan jemari Arvin di pipinya membuat seluruh pertahanan dan gengsi yang dibangun Dania selama berbulan-bulan runtuh tanpa sisa.
"Saya... saya tidak tahu, Arvin," bisik Dania jujur, suaranya hampir tak terdengar akibat detak jantungnya yang bergemuruh. "Awalnya memang hanya karena kontrak dan pengobatan Rehan. Tapi sekarang... batas di antara kita sudah terlalu kabur."
Arvin menundukkan kepalanya sedikit, menempelkan dahi tegasnya pada dahi Dania. Napas hangat mereka beradu halus di udara dingin musim gugur Tokyo.
"Kalau begitu, biarkan batas itu hancur sepenuhnya malam ini, Dania," desis Arvin rendah, menyuarakan keinginan terdalam dari hatinya. "Aku tidak pernah peduli lagi pada draf kertas perjanjian itu sejak hari pertama aku menyadari bahwa aku tidak bisa membayangkan hidup di penthouse itu tanpa keberadaanmu."
Mata Dania membelalak tipis penuh keharuan mendengarkan pengakuan paling jujur dari bibir sang CEO dingin yang dikenal tak tersentuh tersebut. Sebelum Dania sempat membalas dengan kata-kata, bibir Arvin mendarat lembut di atas bibir Dania—sebuah ciuman yang dalam, hangat, dan sarat akan kerinduan yang selama ini terkurung di balik kata 'pernikahan rahasia'.
Dania memejamkan matanya rapat-rapat, menyusupkan jemarinya ke dalam lipatan kemeja Arvin, membalas ciuman pria itu dengan seluruh perasaan cinta yang kini tak lagi bisa dipungkiri.
Di lantai atas Ginza yang benderang oleh lampu kota, di bawah dinginnya angin musim gugur Tokyo, kesepakatan bisnis di antara dua hati yang kaku itu resmi bertransformasi menjadi ikatan cinta sejati yang tak tergoyahkan oleh draf perjanjian apa pun.