NovelToon NovelToon
Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Hari-hari berikutnya di kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu tidak lagi berjalan dengan kesunyian yang hampa. Di balik tumpukan diktat kuliah dan buku catatan tebal, ponsel retak milik Keira menyimpan sebuah denyut kehidupan baru sebuah ruang digital tempat ia dan pemilik akun @ruang_terbuka mulai bertukar pesan secara berkala.

Balasan pesan yang dikirim Keira beberapa hari lalu ternyata ditanggapi dengan antusias. Sang pemilik akun yang memperkenalkan diri sebagai Rian, seorang pengelola proyek penerbitan zine independen berskala kecil menjelaskan detail proyek yang sedang ia garap.

Mereka membutuhkan beberapa ilustrasi bertema ruang sunyi, sudut kota yang lengang, dan suasana kamar-kamar kecil bagi edisi cetak zine puisi mendatang.

“Gaya arsir kamu pas banget sama konsep zine kita yang bernuansa kontemplatif, Kak. Kalau Kakak bersedia, kita bisa mulai dari satu ilustrasi sampel dulu.

Soal honor, meskipun belum besar karena kita indie, pasti kita hargai sesuai kesepakatan,” tulis Rian dalam pesan terakhirnya.

Membaca kalimat tersebut, dada Keira berdegup kencang. Honor. Kata itu memiliki makna yang sangat besar bagi perempuan yang selama berbulan-bulan hanya menggantungkan setiap rupiah uang belanjanya dari amplop pemberian Davin. Bukan semata-mata soal nominal uangnya, melainkan pengakuan bahwa karya tangannya memiliki nilai tukar di dunia nyata.

Namun, di balik rasa antusias itu, ketakutan besar langsung mencengkeram benaknya.

Sampel ilustrasi. Itu berarti ia harus membuat gambar sesuai pesanan, dengan tema spesifik yang ditentukan orang lain, bukan sekadar mencoret-coret apa yang ia suka di buku sketsanya sendiri. Bagaimana jika hasilnya tidak sesuai ekspektasi Rian? Bagaimana jika ia gagal memenuhi tenggat waktu seminggu yang diberikan?

Keraguan itu sempat membuat Keira ingin membalas pesan tersebut dengan penolakan halus. Ia merasa belum siap. Ia merasa dirinya hanyalah perempuan rumahan yang tidak punya pengalaman profesional.

Akan tetapi, bayangan tentang kartu nama Galeri Senja Bimantara yang tersimpan di sela-sela buku sketsanya, serta obrolan hangatnya bersama Amara beberapa waktu lalu, mendadak berkelebat di kepalanya. Jika ia terus menuruti rasa takut, ia tidak akan pernah tahu di mana batas kemampuannya yang sebenarnya.

Coba dulu. Cuma satu sampel. Tidak ada yang rugi, bisik Keira meyakinkan dirinya sendiri.

Pagi itu, saat Davin sudah berangkat kerja ke kantor, Keira tidak langsung membereskan tempat tidur seperti biasa. Ia membentangkan selembar kertas gambar bertekstur agak kasar di atas meja plastik, mengambil pensil 2B kesayangannya, dan mulai merancang konsep sesuai permintaan Rian: sebuah kamar kecil dengan jendela yang menampakkan siluet langit senja.

Tangannya bergerak perlahan, memadukan garis-garis arsir tipis dan tebal untuk menciptakan kesan sunyi dan tenang. Ia begitu fokus hingga tidak menyadari waktu berjalan begitu cepat. Suara bising kendaraan di luar gang Jalan Melati seakan melebur, terserap ke dalam setiap goresan pensil di atas kertas.

Ketika jarum jam menunjukkan pukul tiga sore, sampel ilustrasi itu akhirnya selesai. Keira menatap hasil kerjanya dari kejauhan. Gambar itu tidak sempurna, tetapi ada nyawa di dalamnya sebuah ekspresi kejujuran yang keluar langsung dari sudut pandangnya selama hidup di dalam kamar kos yang sempit.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia mengambil foto gambar tersebut menggunakan kamera ponsel retaknya, melakukan sedikit penyesuaian kontras cahaya agar garis-garis arsiran pensilnya terlihat tajam di layar, lalu mengirimkannya lewat pesan langsung kepada Rian.

“Halo, Rian. Ini draf sampel awal untuk tema kamar dan senja. Kalau ada bagian yang perlu direvisi atau diganti konsepnya, kabari ya.”

Tombol kirim ditekan. Seketika itu juga, udara di dalam kamar kos terasa sedikit lebih lapang. Keira mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan, merosotkan bahunya yang tegang, lalu tersenyum tipis pada dirinya sendiri.

Apapun balasan dari Rian nanti, satu hal yang pasti: ia baru saja melangkahkan satu kaki ke luar dari batas-batas ketakutan yang selama ini mengurungnya.

Menjelang petang, suara deru motor matic Davin terdengar memasuki halaman kos. Ketukan tiga kali di pintu kayu menyusul beberapa detik kemudian, menjadi penanda kembalinya rutinitas harian yang sudah akrab baginya.

Keira dengan cepat merapikan kertas-kertas kerjanya, menyembunyikan lembar sampel ilustrasi di bawah tumpukan diktat kuliah, dan menyingkirkan ponselnya ke dalam laci meja. Semua gerakannya dilakukan dengan tenang dan terukur, tanpa menyisakan kecurigaan apa pun.

Ia membuka pintu kayu itu dan mendapati Davin berdiri di sana dengan senyuman hangat, membawa sebungkus martabak keju kesukaan mereka.

"Sore, Sayang," sapa Davin riang, langsung melangkah masuk dan merengkuh tubuh Keira ke dalam pelukannya.

"Wah, hari ini badan rasanya pegal semua. Di kantor kerjaan numpuk banget gara-gara audit cabang Bandung tinggal hitungan hari."

Keira membalas pelukan itu dengan lembut, menyandarkan kepalanya di dada bidang kekasihnya.

"Capek banget ya, Vin? Sini duduk dulu, aku ambilin air minum."

Davin melepaskan pelukan, lalu duduk di tepi kasur sambil mengusap tengkuknya yang kaku.

"Iya, Kei. Tapi sebentar lagi beres kok. Kalau audit minggu depan selesai, urusan proyek itu bakal jauh lebih longgar."

Keira mendengarkan dengan penuh perhatian, menyiapkan segelas air dingin dan menyerahkannya kepada Davin. Lelaki itu meneguknya dengan lahap, lalu tersenyum tulus menatap Keira.

"Cuma di sini aku bisa tenang, Kei," kata Davin lembut, mengelus puncak kepala Keira penuh kasih sayang.

"Makasih ya udah selalu ada buat aku."

Mendengar kalimat itu, Keira membalasnya dengan senyuman yang tenang dan wajar. Tidak ada rasa bersalah yang menusuk dadanya, karena rahasia kecil yang ia simpan di balik tumpukan diktat bukanlah sebuah bentuk pengkhianatan terhadap hubungan mereka. Itu adalah sebuah ruang bernapas sebuah bukti kecil bahwa di dalam dunia yang diatur oleh rutinitas dan lelahnya sang kekasih, Keira kini memiliki lembaran-lembaran kertas kasar yang mulai merekam jejak keberadaannya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!