Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.
Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.
Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.
"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.
Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Mobil yang dikemudian Pak Abdi putar balik sesuai perintah Ojan. Ia diminta menuju lokasi yang baru di share seseorang. Padahal lokasi itu sudah merek lewati tadi, tapi apa boleh buat, sebagai supir ia hanya nurut perintah majikan. Disuruh muter Jakarta 10 kali pun ia tak masalah, asal gaji lancar. Bensin juga bukan ia yang beli.
"Pak nanti langsung pulang aja, gak usah nungguin saya," pesan Ojan.
"Loh, kok gitu, Mas?" Pak Abdi melihat sekilas Ojan dari kaca spion tengah.
"Nanti saya pulang naik taksi saja."
"Waduh, bisa marahin Ibu nanti saya, Mas."
"Bilang aja saya yang suruh, Pak."
"Tetep aja Mas, pasti kena omel. Kamu kok nurut sama Ojan Di, yang bayar kamu itu saya, minta dipecat." Pak Abdi menirukan kebisaan ngomel Bu Dewi.
"Hafal banget kek nya."
"Namanya juga sudah 12 tahun kerja Mas, sudah khatam sama omelannya."
"Ya kalau bosen, resign aja, Pak." Ojan menahan tawa.
"Loh, jangan dong. Anak saya masih belum lulus kuliah, Mas. Mana yang biayain Bapak, dapat beasiswa dari perusahaannya."
Ojan langsung teringat Nisa. Apa Nisa tidak tahu soal beasiswa dari perusahaan, kenapa dia tidak mencoba? Atau mungkin Nisa sudah pernah coba tapi gagal karena terkendala nilai? Nanti saja ia tanyakan langsung padanya.
"Depan sana ya, Mas?" tanya Pak Abdi setelah belok ke sebuah gang.
"Iya Pak." Ojan melihat map di poselnya. "500 meter lagi, ada di sebelah kanan kosannya." Matanya menelisik ke luar mobil, memperhatikan daerah sekitar. Untung lokasinya di gang besar, jadi mobil bisa masuk, tak perlulah ia jalan atau pesen ojol.
Pak Abdi mengurangi kecepatan, takut kebablasan.
Mata Ojan menyipit melihat seseorang berdiri di depan rumah sesuai lokaasi, dari jauh terlihat mirip Nisa. Semakin dekat jarak, dan semakin jelas, yakinlah ia jika itu memang Nisa. Mungkin itu kosan yang dimaksud. "Pak, berhenti di dekat cewek baju ungu itu." Ia menunjuk ke arah Nisa. "Pak, langsung pergi ya. Dan satu lagi, pura-pura jadi driver taksi online, pura-pura gak kenal saya."
"Lah, emang kenapa?"
"Ada deh."
"Cie, lagi nyamar ya," Pak Abdi tertawa cekikikan. "Kirain di dracin doang ada CEO nyamar, ternyata," ia makin kenceng ketawa. "Eh Mas, tapi masa ada taksi online pakai mobil lexus?"
"Mampus!" Ojan tepok jidat. Bagaimana bisa ia sampai lupa soal ini. Rencana awal tadi mau turun di depan gang rumah Nisa, lalu pesen ojol buat nganter masuk karena gak mungkin ia jalan kaki, gak kuat walau dengan bantuan tongkat. Gara-gara lokasi ganti ke kos, ia jadi lupa rencana awal.
Nisa memperhatikan mobil hitam yang menuju arahnya. Mobil jenis mini bus mewah yang tak sembarang orang punya. Apa mungkin pemilik kos datang? Atau mungkin, salah satu warga kos ada yang jadi ani-ani pejabat, antar jemputnya pakai mobil lexus. Ia jadi penasaran, seperti apa orang yang akan turun dari mobil tersebut. Pintu samping mobil terbuka, bukan sepasang kaki dengan heels atau pantofel kinclong, melainkan sebuah tongkat, yang lalu disusul dengan kaki menggunakan sendal jepit swallow.
"Ojan!" Nisa terperangah melihat Ojan turun dari mobil tersebut. Ojan menggunakan tongkat, sebelah kakinya digip. Segera, ia berjalan cepat menghampirinya. "Kamu kenapa, Jan?" tanyanya cemas, memperhatikan Ojan dari bawah hingga atas.
"Habis kecelakaan, Mbak."
"Hah, kapan? Kok gak ngasih tahu aku?"
"Gak mau kamu khawatir aja." Ojan tersenyum, senang melihat Nisa mengkhawatirkannya.
"Kapan? Jangan bilang sejak Minggu lalu, yang kamu gak bisa dihubungi?"
Ojan mengangguk pelan.
"Jadi HP kamu rusak gara-gara kecelakaan?"
Sekali lagi Ojan mengangguk. Ia melirik mobil, kesal karena Pak Abdi tak kunjung pergi. Kalau ngejogrok disini mulu tuh mobil, Nisa bisa curiga, dia juga bisa salfok dengan merknya. Semoga saja Nisa tidak begitu ngeh dengan mobil mahal Papanya. Catat, Papanya, bukan dia yang punya. Mau ngasih kode ke Pak Abdi, gak bisa karena kaca mobil gelap, tak bisa melihat ke dalam.
"Kamu itu kalau ada apa-apa kasih tahu aku, jangan main rahasia-rahasiaan." Nisa berdecak kesal bercampur cemas.
"Maaf, Mbak. Bukan sengaja ngerahasiain, cuma pengen tahu aja, kira-kita kamu kangen gak kalau lama gak ketemu aku." Ojan tersenyum tipis. "Eh, kamu malah tiba-tiba nongol di resto, mana aku pas sama cewek."
"Siapa cewek tadi?" Nisa hampir lupa dengan masalah itu gara-gara lihat kondisi Ojan.
"Tetangga, Mbak. Anak fakultas kedokteran, lagi koas di rumah sakit depan tadi, ketemu pas aku kontrol."
"Terus, ngapain makan bersama?"
"Terus, ngapain kamu nanya? Cemburu?" Ojan menahan tawa.
"Eng, eng, enggak." Sambil memainkan jari untuk mengurangi rasa gugup, Nisa mengalihkan pandangan ke arah lain, tak mau bertatapan dengan Ojan.
"Kalau enggak, kenapa marah?" Ojan mencondongkan badan ke arah Nisa. "Kalau enggak, kenapa langsung pergi tadi. Kenapa gak mau balas WA ku, gak angkat teleponku?"
Nisa makin gugup, salah tingkah dicecar pertanyaan seperti itu.
"Cemburu ya, Mbak?" Ojan makin semangat menggoda melihat pipi merah Nisa. "Mbak, cemburu ya? Mbak, kok diem? Mbak, cemburu ya?" Ia akan terus mencecar Nisa sampai gadis itu mengaku. "Mbak."
"Iya, aku cemburu!" Dengan pipi merah menahan malu, Nisa menatap Ojan. Yang bikin ngeselin, ia malah melihat senyuman tipis penuh kemenangan tersungging di bibir cowok itu.
Ojan menutup wajah dengan sebelah telapak tangan, menyembunyikan senyum bahagianya. "Mbak, kamu tahu gak, apa yang aku rasakan saat ini?" Ia kembali menatap Nisa.
"Apa?"
"Pengen meluk, tapi gak berdaya."
Keduanya tertawa bersama.
"Mbak, kakiku pegal, gak kuat berdiri lama satu kaki gini."
"Gitu ya." Nisa seketika bingung, antara mau megangin Ojan atau bagaimana. Mau ajak masuk, ini bukan kosannya, gak enak sama Dinda. Apa mungkin, dia ajak Ojan kesuatu tempat aja, yang nyaman, yang bisa duduk santai. Saat memikirkan tempat, ia baru sadar, jika mobil yang mengantar Ojan, masih ada disana, belum pergi sejak tadi.
Ojan panik saat tatapan Nisa tertuju pada mobil. Otaknya mikir cepat, nyari alasan yang logis. "Mbak, bisa pinjam dulu seratus."
"Buat apa?" Nisa mengernyit.
"Bayar taksi. Aku lupa gak bawa duit."
tp nai pasti bully dirimu tetap semangat aja nis yakin sm dirimu sendiri..
InsyaAllah jodoh. biar ojan yang mencarimu
😭😭😭😭
dah nisa lebih baik kamu resign dan kuliah dengan biaya sendiri. masih banyak pekerjaan di luaran sana.
nyeseknya jadi nisa, selalu kesenjangan yang jadi masalah percintaan dia. rasanya gak adil kalau hanya memandang orang hanya karena kasta apa lagi hanya masalah pendidikan😭😭