NovelToon NovelToon
Hiraisin: Legenda Pedang Kilat

Hiraisin: Legenda Pedang Kilat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Penyelamat
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: Astrius

Dianggap sampah tanpa bakat. Dikhianati oleh seniornya sendiri. Dan dipaksa menyaksikan kematian sang guru di depan mata.
Hiraisin hanyalah murid terbuang di Sekte Awan Putih yang dianggap tak punya masa depan karena meridian tubuhnya terluka. Namun, di tengah gempuran brutal pasukan Raja Kegelapan, darah Hiraisin menetes di atas hulu pedang patah berkarat—membangunkan rahasia purba yang lama tertidur.
Segel di tubuhnya hancur. Petir dari langit menyambar, membakar meridiannya dan membangkitkan legenda yang telah lama punah: Pedang Kilat.
Kini, dengan luka pengkhianatan di dada dan percikan listrik yang sanggup merobek malam, Hiraisin memulai perjalanan darah. Di hadapannya berdiri jutaan pengikut iblis, para jenderal mengerikan, dan Raja Kegelapan yang menguasai takhta dunia.
Satu tebasan telah lahir. Dan kegelapan tak akan pernah sama lagi.
"Saat dunia dikuasai bayang-bayang, kilat adalah satu-satunya keadilan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astrius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelabuhan Gelombang Kelam & Janji Kapten Laut

Aroma asin air laut beradu tajam dengan bau minyak tanah, kayu lapuk, dan asap tembakau murah yang mengudara di atas Pelabuhan Gelombang Kelam. Kota pesisir yang berdiri di ceruk tebing karang hitam ini adalah titik paling utara Benua Tianlan yang masih dihuni oleh manusia. Tempat ini bukan pelabuhan biasa; ini adalah sarang bagi para bajak laut, pedagang pasar gelap, buronan kerajaan, serta tempat bersembunyinya mata-mata aliran hitam.

Dari atas bukit karang yang mengawasi dermaga, Hiraisin dan Liora berdiri berdampingan. Jubah pengelana cokelat mereka berkibar perlahan diterpa angin laut yang membawa hawa dingin menusuk.

Di hadapan mereka, membentang pemandangan Lautan Hitam yang mengerikan. Air lautnya berwarna gelap bagaikan tinta, dengan ombak raksasa yang bergulung-gulung tanpa henti hantam menabrak dinding karang. Di balik garis cakrawala yang samar, gumpalan kabut racun berwarna keunguan menggantung rendah, menyembunyikan misteri jurang lautan yang tak tersentuh.

"Lautan Hitam..." gertak Liora pelan seraya merapatkan selendangnya. "Legenda mengatakan airnya mengandung asam pekat dari kotoran iblis purba. Kapal kayu biasa akan hancur meleleh jika nekat berlayar lebih dari sepuluh mil ke tengah."

Hiraisin menyentuh hulu Pedang Kilat Purba yang kini terikat mantap di punggungnya. Bilah pedang yang kini telah utuh itu memancarkan getaran hangat yang halus, seolah memberi rasa percaya diri pada pemiliknya.

"Artefak kedua memanggil dari dasar samudera itu," ucap Hiraisin tenang. Matanya yang kini berwarna hitam kelam memancarkan kedalaman intuisi seorang pendekar yang telah menguasai Puncak Ranah Jiwa Pedang. "Seberbahaya apa pun jalannya, kita harus menemukan kapal yang sanggup menembus kabut racun itu."

Kedua traveler itu melangkah menuruni jalan berbatu yang terjal menuju kawasan dermaga bawah. Suara hiruk-pikuk manusia—teriakan para kuli angkut, tawar-menawar barang selundupan, dan denting gelas dari kedai-kedai remang—menyambut kedatangan mereka.

Namun, terlepas dari keramaian tersebut, Hiraisin dan Liora tetap bersiaga. Di bawah latihan penajaman indra yang dilalui Hiraisin, ia bisa merasakan belasan pasang mata dari balik lorong-lorong gelap yang mengawasi setiap gerak-gerik mereka. Mata-mata Pasukan Bintang Hitam dan pemuja aliran Abyss telah menyusup jauh ke dalam jantung kota pelabuhan ini.

Mereka menyusuri deretan dermaga kayu yang panjang, mendatangi satu per satu kapten kapal yang sedang bersandar. Namun, setiap kali Hiraisin menyebutkan tujuan mereka—menembus Lautan Hitam menuju zona terlarang—para kapten kapal langsung menggelengkan kepala dengan wajah pucat pasi.

"Kau gila, Bocah!" bentak seorang kapten bertubuh tambun dengan mata satu seraya meludahkan kunyahan sirihnya ke laut. "Tidak ada pelaut berakal sehat yang mau berlayar ke Lautan Hitam! Kapal yang nekat ke sana kalau tidak hancur dimakan asam laut, ya digulung oleh Leviathan Abyss! Cari mati saja sana sendiri!"

Penolakan demi penolakan terus mereka terima hingga matahari mulai bergeser ke ufuk barat, memancarkan warna jingga kemerahan yang muram.

Ketika harapan mulai terkikis, Liora menghentikan langkahnya di ujung dermaga paling terpencil. Di sana, bersandar sebuah kapal perang tua berukuran sedang. Hull kapal tersebut tidak terbuat dari kayu biasa, melainkan dilapisi oleh kepingan sisik naga laut kehitaman yang memancarkan pendar perlindungan alami. Di bagian anjungan, terukir nama kapal tersebut dengan cat emas yang telah memudar: Bahari Purba.

Di atas geladak kapal, tampak seorang pria paruh baya bertubuh tinggi tegap sedang memoles bilah tombak besinya. Wajahnya dipenuhi garis-garis luka bakar tua, dan lengan kirinya terbuat dari pasak besi raksasa.

"Kapal itu dilapisi Sisik Naga Laut Kuno," bisik Liora terkagum. "Itu satu-satunya bahan alami yang kebal terhadap asam Lautan Hitam."

Hiraisin mengangguk, lalu melompat ringan melintasi jembatan kayu dan mendarat di atas geladak kapal.

Pria tua itu mendongakkan kepalanya secara perlahan. Sepasang matanya yang tajam bagaikan elang mengunci sosok Hiraisin dan Liora. Ia tidak terkejut, melainkan melemparkan tombaknya hingga tertancap di kayu geladak dengan suara dentuman berat.

"Aku tidak menerima penumpang, Anak Muda," ucap pria itu dengan suara berat dan parau bagaikan gesekan batu karang. "Kapal ini bukan untuk pelayaran wisata."

"Kami tidak sedang berwisata, Kapten," balas Hiraisin tenang namun bermartabat. "Kami butuh kapalmu untuk menembus Lautan Hitam hingga ke pusat pusaran air purba."

Pria tua itu menyipitkan matanya, lalu tertawa dingin yang terkesan menyakitkan. "Pusat pusaran air? Tempat bersemayamnya monster-monster Abyss? Kau tahu berapa banyak pelaut handal yang mati membusuk di sana? Termasuk seluruh awak kapalku sepuluh tahun lalu?"

Pria itu melangkah mendekat, memperlihatkan lengan besinya. "Namaku Kapten Roderick. Dulu aku memiliki armada pelaut terbaik di pesisir ini. Namun Pasukan Pasang Hitam milik Abyss membantai seluruh krunya dan menenggelamkan anak istriku ke dasar laut. Sejak hari itu, aku bersumpah tidak akan pernah kembali ke laut lepas kecuali untuk membalas dendam."

"Kalau begitu tujuan kita sama, Kapten Roderick," potong Liora seraya melangkah maju. "Kami sedang berburu sisa-sisa kekuatan Abyss yang mencoba menguasai benua ini. Jika kau membawa kami ke sana, kau akan mendapatkan kesempatan membalas dendam pada monster yang menghancurkan hidupmu."

Kapten Roderick membisu. Ia menatap Liora, lalu mengalihkan pandangannya pada hulu pedang utuh di punggung Hiraisin. Sebagai pelaut veteran yang telah mengarungi ribuan samudra, Roderick bisa merasakan aura keberadaan yang sangat mengerikan melingkupi pemuda di hadapannya—sebuah aura ketenangan yang hanya dimiliki oleh para pendekar tingkat tinggi.

"Bicaramu tinggi, Bocah," desis Roderick seraya meremas gagang lengan besinya. "Tapi Lautan Hitam tidak peduli pada janji manis. Aku harus melihat apakah kau punya kemampuan untuk bertahan hidup sebelum aku mempertaruhkan kapalku."

Belum sempat Hiraisin membalas, sebuah gelombang hawa pembunuh yang sangat pekat mendadak berembus dari arah dermaga.

Szt! Szt! Szt!

Puluhan sosok bertopeng hitam memanjat tiang-tiang dermaga dan melompat turun mengepung kapal Bahari Purba. Mereka memegang belati beracun dan rantai besi yang memancarkan pendar aura Abyss.

Dari tengah kerumunan musuh, melangkah keluar seorang pria jangkung bertopeng tengkorak perunggu. Dialah ketua mata-mata aliran hitam di Pelabuhan Gelombang Kelam.

"Pewaris Petir Hiraisin..." kekeh pria bertopeng tengkorak itu dengan suara melengking yang ganjil. "Ternyata kau benar-benar datang ke kota ini! Jenderal Ravaka telah memberikan perintah langsung: Bawa kepalamu dan gadis tabib itu hidup-hidup!"

Seketika itu juga, suasana di sekitar dermaga menjadi gempar. Para kuli angkut dan warga sipil berlarian histeris ketakutan, menciptakan kekacauan di sepanjang garis pantai.

Kapten Roderick mencabut tombak besinya dengan raut wajah muram. "Sialan! Mata-mata Abyss sudah menguasai pelabuhan ini!"

"Kapten, amankan kapalmu," ucap Hiraisin datar. Ia melangkah santai ke depan, berdiri di pinggir anjungan kapal.

"Bocah! Ada lebih dari lima puluh pembunuh bertopeng di sana!" teriak Roderick bersiap melompat bertarung. "Dermaga ini penuh dengan warga sipil! Jika kau meledakkan petirmu secara sembarangan, seluruh dermaga ini akan hancur dan membunuh orang-orang tak berdosa!"

Hiraisin tidak menoleh. Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya.

"Dulu, mungkin aku akan menghancurkan dermaga ini karena tidak bisa mengendalikan daya ledak petirku," bisik Hiraisin halus. "Tapi sekarang... berbeda."

Hummmmm...

Hiraisin tidak mencabut pedangnya. Ia hanya mengulurkan dua jarinya ke udara, memusatkan dorongan Puncak Jiwa Pedang dari dalam Dantiannya.

Di mata pendekar biasa, tidak ada energi meledak yang terlihat. Namun di mata para pembunuh bertopeng, udara di sekitar Hiraisin mendadak terdistorsi. Niat pedang (Sword Intent) yang teramat sangat padat dan halus menyebar secara presisi, membentuk ribuan benang kilat mikro berwarna ungu keemasan yang melayang-layang di udara bagaikan jarum-jarum gaib yang tak terlihat mata telanjang.

"Serang!" jerit pria bertopeng tengkorak.

Puluhan pembunuh melompat bersamaan dari segala arah, mengayunkan senjata mereka untuk mencincang Hiraisin.

"Niat Pedang Kilat Purba: Hujan Senyap."

ZAP-ZAP-ZAP-ZAP-ZAP!

Tanpa ada ledakan suara guntur, tanpa ada kobaran api yang merusak bangunan kayu dermaga, ribuan benang kilat mikro meluncur menyelimuti arena pertarungan dengan kecepatan yang melampaui batas penglihatan manusia.

Benang-benang energi suci itu menembus titik-titik meridian utama milik lima puluh pembunuh bertopeng secara serentak dengan presisi yang teramat sangat mengerikan!

Thump! Thump! Thump! Thump!

Satu per satu, tubuh puluhan pembunuh bertopeng membeku kaku di udara sebelum jatuh terjerembap ke atas lantai dermaga kayu. Saluran tenaga batin mereka terputus total, dan saraf gerak mereka lumpuh seketika tanpa ada menetaskan secelah darah pun atau merusak selembar papan kayu dermaga.

Pria bertopeng tengkorak membelalakkan matanya yang penuh rasa tidak percaya. Ia berlutut kaku di tanah, tubuhnya gemetar hebat saat menyadari bahwa seluruh pasukannya telah ditumbangkan dalam kurun waktu kurang dari satu detik saja.

"Bagaimana... bagaimana bisa ada pengendalian tenaga batin sejernih ini..." cicit pria bertopeng tengkorak sebelum akhirnya pingsan tak sadarkan diri.

Di atas Geladak Bahari Purba, Kapten Roderick berdiri mematung dengan mulut terbuka lebar. Lengan besinya gemetar pelan. Sebagai pelaut yang telah menyaksikan ribuan pertarungan pendekar, ia belum pernah melihat penguasaan elemen seunggul dan sepresisi ini sepanjang hidupnya.

Hiraisin menurunkan tangannya, lalu memutar tubuhnya menatap Kapten Roderick dengan pandangan mata yang tenang.

"Apakah ini cukup untuk membuktikan bahwa kita sanggup bertahan hidup di Lautan Hitam, Kapten?" tanya Hiraisin ramah.

Kapten Roderick menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan seraya tertawa bangga yang menggelegar dari dadanya. Ia menyarungkan tombak besinya, lalu memukul dada besinya dengan keras.

"Bocah... kau benar-benar monster yang luar biasa!" seru Roderick penuh semangat yang membara kembali. "Baiklah! Demi janji balas dendam pada iblis-iblis itu, kapal Bahari Purba dan nyawaku ada di tanganmu!"

Roderick melompat ke kemudi kapal, memutar roda kayu raksasa tersebut seraya berteriak nyaring membelah keheningan pelabuhan.

"Angkat jangkar! Kembangkan layar sisik naga! Kita berlayar menuju Lautan Hitam!"

CREAAAK!

Jangkar besi raksasa terangkat dari dasar air. Layar kapal yang terbuat dari membran sisik naga terkembang gagah ditiup angin malam. Kapal Bahari Purba perlahan-lahan bergerak menembus gelombang, meninggalkan Pelabuhan Gelombang Kelam yang tertegun di belakang mereka.

Hiraisin dan Liora berdiri di geladak depan, menatap lurus ke dalam kegelapan Lautan Hitam yang dipenuhi oleh kilatan badai keunguan dari kejauhan.

Pelayaran menuju Artefak Pedang Kilat Kedua telah resmi dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!