Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.
Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.
Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.
Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.
Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.
Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?
Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Sesampainya di rumah, hujan masih turun rintik-rintik.
Halaman rumah mereka basah, tanahnya licin. Arhan mendorong kursi roda Anya sampai ke teras, dengan hati-hati agar roda tidak selip. Bajunya basah kuyup, rambutnya meneteskan air. Mantel Anya juga basah di bagian bahu dan punggung.
Arhan membantu Anya duduk di kursi dapur, karena basah kursi roda ditinggalkan di luar. Ia mengangkat Anya dengan kedua tangannya, tidak digendong tinggi, hanya dipapah perlahan dari kursi roda ke kursi kayu yang ada di dapur.
"Pelan-pelan, An," kata Arhan sambil memegang pinggang Anya.
"Iya, Han," jawab Anya pelan. Napasnya agak berat setelah perjalanan pulang tadi.
Di dapur, udara terasa lebih hangat daripada di luar. Arhan mengambil handuk kering yang besar dari gantungan di belakang pintu dan selimut tipis.
"An, bajunya basah. Ganti dulu ya, nanti masuk angin," kata Arhan dengan suara pelan, tidak menatap langsung, memberi ruang.
Anya mengangguk. "Iya, Han. Tolong ya."
Arhan mengeringkan tubuhnya terlebih dahulu. Ia mengelap rambut Anya yang basah dengan handuk, pelan-pelan. Rambut Anya yang panjang dan tipis itu basah kuyup, menempel di lehernya. Arhan mengelapnya dengan lembut, tidak menarik, hanya menekan handuk agar airnya terserap.
"Rambutnya basah sekali, An," kata Arhan.
"Iya, Han. Hujan tadi enak," jawab Anya sambil tersenyum kecil, masih ingat tawa mereka di jalan.
Setelah rambutnya agak kering, Arhan membantu mengganti mantel Anya yang basah dengan baju kering yang ada di kursi. Ia melakukannya dengan cepat dan sopan, menjaga agar Anya tetap nyaman. Ia memalingkan wajah ketika Anya mengganti baju dalamannya sendiri, hanya membantu saat Anya kesulitan mengangkat tangan.
"Sudah, Han," kata Anya setelah selesai.
Arhan menatap Anya. Wajah Anya terlihat lebih segar setelah rambutnya dikeringkan, meski masih pucat. Pipinya sedikit memerah karena hawa dingin.
"Nah, sudah kering. Enakan?" tanya Arhan.
"Enakan, Han. Terima kasih," jawab Anya.
Setelah itu, Arhan mengambil 2 vas bunga dan disimpan di meja. Vas itu ada di rak atas dapur, vas kaca bening yang sudah lama tidak dipakai dan sedikit berdebu. Arhan mencucinya dulu di wastafel, mengisi air bersih, lalu meletakkannya di atas meja makan.
"Sini, bunganya aku taruh sini dulu ya, An," kata Arhan sambil mengambil 30 bunga yang tadi ia tutup plastik dari teras.
Ia menata bunga itu di atas meja. Mawar merah, lily kuning, krisan ungu, anyelir pink, semua masih segar meski kelopaknya sedikit basah karena hujan. Satu lily putih masih ada di genggaman Anya, tidak ia letakkan di meja.
Anya melihat 2 vas bunga itu.
"Han, bunganya banyak sekali. Vasnya cuma dua, cukup ya?" tanya Anya.
"Cukup, An. Nanti kita bagi dua, biar di ruang tamu satu, di kamar satu," jawab Arhan.
Anya mengangguk. "Iya, Han."
Setelah semua beres, bubur dan obat sudah ada di meja, baju basah sudah dimasukkan ke dalam ember, Arhan pun berkata.
"An, aku mandi dulu ya. Bajuku basah semua. Kamu di sini dulu, jangan kemana-mana," kata Arhan sambil menunjuk bajunya yang masih meneteskan air ke lantai dapur.
"Iya, Han. Mandi aja. Aku di sini dulu," jawab Anya sambil mengelus lily putih di tangannya.
Arhan berjalan ke kamar mandi yang ada di belakang dapur. Pintu kamar mandi kayu itu ia tutup pelan.
Di dalam kamar mandi, Arhan menyalakan shower. Air hangat langsung mengguyur kepalanya yang dingin karena hujan. Uap mulai memenuhi kamar mandi kecil itu.
Di dalam kamar mandi, Arhan tersenyum sejenak. Mengingat saat pulang kehujanan bersama Anya. Ia ingat tawa Anya yang kecil, rambutnya yang basah, dan bagaimana mereka berdua di tengah rintik hujan seperti anak kecil yang bermain air. Untuk beberapa menit, Anya terlihat sehat, terlihat hidup.
Senyum itu muncul di bibirnya yang basah oleh air shower.
"Basah, An," ia mengulang kalimatnya sendiri sambil tersenyum.
Tapi setelahnya, Arhan kembali teringat. Ia sadar kebahagiaan itu akan pergi. Senyum di bibirnya perlahan menghilang, berganti dengan rasa sesak yang naik dari dada ke tenggorokan.
Ia sadar, kebahagiaan barusan hanya pinjaman. Hujan akan berhenti, baju akan kering, tapi waktu Anya tidak akan pernah kembali.
Dan Anya akan pergi selamanya meninggalkan Arhan sendirian.
Pikiran itu menghantamnya keras di dalam kamar mandi yang sempit itu.
Air matanya kembali menetes. Di balik shower yang dia nyalakan, air mata itu bercampur dengan air hangat, tidak terlihat, tidak terdengar. Bahunya bergetar pelan.
Dia tidak rela harus ditinggalkan oleh Anya.
"An, jangan pergi dulu, An," bisik Arhan pelan di bawah shower, suaranya pecah. "Aku belum siap, An."
Ia menempelkan dahinya ke dinding kamar mandi yang dingin. Air shower terus mengguyur punggungnya.
Arhan menarik nafas, mencoba menghentikan tangisnya. Ia menarik nafas panjang, menghembuskannya pelan, menarik lagi. Dadanya naik turun.
Dia tidak ingin Anya tau dirinya menangis. Anya tidak boleh tau kalau di dalam kamar mandi ini Arhan hancur. Anya harus melihat Arhan kuat, Arhan tersenyum, Arhan yang bisa diandalkan.
Dengan segenap sisa ketegarannya, Arhan melanjutkan mandi. Ia mengambil sabun, menggosok tubuhnya dengan kasar, seolah ingin menghapus rasa takut itu bersama dengan air hujan. Ia membasuh wajahnya berkali-kali, memastikan tidak ada bekas air mata yang tersisa.
Arhan selesai pun selesai, dan keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih basah, ia hanya memakai kaos oblong dan celana pendek, dengan handuk di lehernya. Uap hangat keluar dari kamar mandi mengikuti langkahnya.
Dia melihat Anya sedang menyimpan bunga-bunga itu ke dalam vas. Anya sudah berdiri dari kursi dapur, bersandar di meja, dengan pelan-pelan memasukkan bunga-bunga itu satu per satu ke dalam dua vas yang sudah diisi air oleh Arhan tadi.
Tangan Anya yang kurus bergerak pelan, mengatur mawar merah di samping krisan ungu.
"An, sudah aku aja yang masukin. Kamu duduk aja," kata Arhan sambil berjalan mendekat.
"Tidak apa-apa, Han. Aku bisa," jawab Anya sambil tersenyum. "Aku mau menata bunganya sendiri."
Arhan melihat vas pertama sudah penuh, vas kedua juga sudah hampir penuh. Semua bunga warna-warni sudah ada di dalam vas, kecuali satu.
Dan hanya bunga warna putih yang belum disimpan. Lily putih itu masih ada di atas meja, tergeletak sendirian, belum masuk ke vas mana pun.
Saat Arhan menyimpan handuk basahnya. Anya kembali memanggilnya.
"Han, tolong ambilkan satu vas lagi ya," kata Anya dengan suara pelan sambil menatap lily putih itu.
Arhan berhenti melangkah. "Vas lagi, An? Kan itu sudah dua vas? Emangnya buat apa?."
Anya mengangguk, mengelus kelopak lily putih itu.
"Iya, Han. Satu lagi. Yang putih ini aku mau simpan sendirian, di vas yang lain. Jangan dicampur sama yang lain ya, Han."