Semua orang bilang Laras sial.
Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.
Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…
*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9: Ujung Jari
Sejak Arya mengumumkan rencana akad di depan para pekerja, namaku seperti berpindah dari satu mulut ke mulut lain di Desa Rejosari.
Bu Sumi mengatakan orang-orang membicarakannya di warung. Bayu pulang sekolah membawa kabar bahwa dua temannya bertanya kapan mereka boleh makan gratis di resepsi. Bahkan Raka yang biasanya tidak peduli pada omongan orang ikut menatapku saat aku menyetrika pakaian.
“Ayah benar-benar mau menikah dengan Mbak?” tanyanya.
“Kalau tidak berubah pikiran.”
“Ayah tidak suka berubah pikiran.”
“Bagaimana dengan kamu?”
Raka diam cukup lama. “Aku lihat dulu.”
Jawaban itu tidak menyakitiku. Untuk anak yang beberapa hari lalu menjatuhkan makanan karena takut aku meracuni adiknya, `aku lihat dulu` sudah lebih dekat pada penerimaan daripada penolakan.
Bayu menyembulkan kepala dari pintu. “Kalau sudah akad, Mbak tinggal di sini terus?”
“Kalau tidak ada yang mengusir.”
“Ayah tidak akan mengusir. Tapi kalau Mbak bosan sama kami?”
Pertanyaan itu membuat Raka menatap lantai. Rupanya dia ingin tahu jawaban yang sama, hanya terlalu bangga untuk bertanya.
“Saya tidak bisa menjanjikan kita tidak pernah marah atau bertengkar,” kataku. “Tapi saya tidak akan mengirim kalian pergi hanya karena hidup bersama terasa sulit. Kalau ada masalah, kita bicarakan di rumah ini.”
Bayu memikirkan jawabanku, lalu mengangguk puas. Raka tidak mengatakan apa-apa, tetapi dia tidak lagi mengulang bahwa orang baru hanya baik di awal.
Tiga hari setelah kejadian di peternakan, aku kembali membawa rantang makan siang.
Kali ini aku tidak berjalan. Sesuai permintaan Arya, aku mengirim pesan lebih dulu. Bang Gino datang dengan motor untuk mengantarku, sementara Sasa dititipkan kepada Bu Sumi sampai Raka dan Bayu pulang sekolah.
“Bos dari tadi lihat jam,” kata Bang Gino ketika kami sampai di gerbang peternakan.
“Mungkin ada pekerjaan.”
“Iya. Pekerjaannya menunggu makan siang.”
Aku turun dari motor sebelum dia sempat melihat wajahku memanas.
Waktu istirahat sudah dimulai. Para pekerja berkumpul di bangunan makan dekat kandang, membuat area kantor lebih sepi. Aku mengetuk pintu yang terbuka setengah.
“Mas Arya?”
“Masuk.”
Ruangannya sederhana dan sangat rapi. Sebuah meja besar dipenuhi daftar berat ternak, jadwal vaksin, dan nota pengiriman. Di dinding tergantung peta jalur distribusi dari Ungaran sampai Semarang. Ada lemari berkas berkunci dan sebuah sofa panjang yang tampaknya lebih sering dipakai untuk menumpuk jaket daripada menerima tamu.
Arya menutup buku laporan. “Bang Gino mengantarmu?”
“Iya.”
“Pulangnya tunggu aku.”
“Kalau pekerjaan Mas Arya belum selesai, saya bisa ikut Bang Gino.”
“Tunggu aku.”
Nada suaranya tidak keras. Tetap saja, sulit membantah lelaki yang mengucapkan permintaan seperti keputusan.
Aku menaruh rantang di meja kecil dekat sofa. “Hari ini tidak ada yang membawa ayam ungkep?”
Tatapannya terangkat. Ada sesuatu seperti geli di matanya, meski bibirnya tetap lurus.
“Tidak ada.”
“Sayang sekali. Mas Arya melewatkan kesempatan melihat makanan sebelum menolaknya.”
“Aku tidak perlu melihat.”
“Kenapa?”
“Bukan masakanmu.”
Jawaban singkat itu membuat tanganku yang sedang membuka pengait rantang berhenti.
Aku memaksakan diri melanjutkan. Hari ini aku membawa nasi, semur daging, tumis buncis, tahu goreng, dan irisan pepaya. Aroma kecap dan pala memenuhi ruangan.
Arya pindah dari meja kerja ke sofa. Sebelum mengambil sendok, dia memandangku.
“Duduk. Makan bersama.”
“Saya sudah makan sedikit di rumah.”
“Sedikit bukan makan.”
Dia membuka laci meja kecil dan mengeluarkan piring kedua, seolah sudah menyiapkannya sejak pagi. Aku tidak bertanya. Kalau kutanya, mungkin dia hanya akan menjawab `kebetulan` dengan wajah datar.
Kami makan berhadapan. Dari luar terdengar suara sapi, roda gerobak, dan tawa pekerja yang terbawa angin. Di ruangan kecil itu, setiap bunyi sendok menyentuh piring terasa terlalu jelas.
“Semurnya kurang manis?” tanyaku.
“Enak.”
“Itu jawaban aman.”
“Dagingnya empuk. Buncisnya tidak terlalu matang. Sambalnya kurang pedas.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Ternyata Mas Arya bisa bicara lebih dari satu kata soal makanan.”
Dia menunduk lagi, tetapi aku melihat sudut mulutnya bergerak.
Sesaat kemudian, pandanganku jatuh pada tangan kanannya. Ada goresan baru di buku jari dan kulitnya memerah.
“Tangan Mas Arya kenapa?”
“Kena pagar kandang.”
“Sudah dibersihkan?”
“Sudah.”
“Dengan apa?”
“Air.”
“Air bukan antiseptik.”
Aku bangkit dan mencari kotak pertolongan pertama di lemari kaca. Arya tidak menghentikanku. Dia hanya menyerahkan tangannya ketika aku kembali membawa kapas dan antiseptik.
Tangannya besar, penuh kapalan, dan hangat. Goresannya dangkal, tetapi masih ada debu tipis di sekitar luka.
“Katanya sudah dibersihkan.”
“Sudah kena air.”
“Kalau begitu, mulai hari ini kita punya definisi berbeda tentang bersih.”
Aku mengusap lukanya. Otot di tangannya mengencang, tetapi dia tidak menarik diri.
“Sakit?”
“Tidak.”
“Semua laki-laki selalu bilang tidak sakit sampai lukanya infeksi.”
“Kamu sering mengobati laki-laki?”
Pertanyaan itu membuatku mengangkat wajah.
Arya menatapku tanpa ekspresi, tetapi jemarinya bergerak sedikit di dalam tanganku.
“Tidak,” jawabku. “Saya hanya sering melihat laki-laki berpura-pura kuat.”
“Aku tidak berpura-pura.”
“Tentu.”
Aku menempelkan plester pada buku jarinya. Saat hendak melepaskan, tangannya justru berbalik dan menahan ujung jariku sesaat.
Hanya satu detik.
Lalu dia melepaskannya.
“Terima kasih,” katanya.
Aku kembali duduk. Semur di piringku masih hangat, tetapi wajahku terasa jauh lebih panas.
Kami menghabiskan makan siang tanpa banyak bicara. Setelah piring kosong, Arya menutup rantang dan meletakkan kedua tangannya di atas lutut.
“Aku sudah periksa enam bulan transfer dan catatan kiriman,” katanya. “Malam ini Pak RT dan dua saksi akan datang. Bik Inah harus menjelaskan semuanya.”
“Mas Arya mau melapor ke polisi?”
“Bukti cukup untuk itu.”
“Tapi Mas Arya masih ragu.”
Dia memandang ke luar jendela. “Dulu, saat Almira sakit, Bik Inah beberapa kali membantu menjaga anak-anak. Karena itu aku memercayainya setelah kakakku meninggal.”
“Jasa lama tidak menghapus anak-anak yang dibuat lapar sekarang.”
“Aku tahu.” Rahangnya mengeras. “Dia tetap harus pergi. Kalau mengakui perbuatannya dan mengembalikan yang masih ada, aku tidak akan memperpanjangnya ke polisi. Bukan karena utangnya lunas. Karena aku tidak mau anak-anak terus melihat keributan.”
“Dan kalau dia masih menyangkal?”
“Pak RT akan mendengar semua bukti. Setelah itu, dia tidak punya tempat lagi di rumahku.”
Keputusannya sudah bulat. Bukan kemarahan sesaat, melainkan batas yang ditarik setelah terlambat terlalu lama.
“Soal yang kukatakan di depan orang-orang kemarin.”
Aku menunggu.
“Aku seharusnya bicara kepadamu dulu.”
Itu bukan kalimat yang kuduga akan keluar dari mulutnya.
“Mas Arya menyesal?”
“Tidak.” Jawabannya langsung. “Tapi aku tidak mau membuatmu merasa dipaksa lagi. Kalau kamu belum ingin akad, aku akan bicara kepada Pak RT dan orang-orang.”
“Membatalkan?”
“Menunda. Sampai kamu siap.”
Aku memandang lelaki di depanku. Dia bisa saja memakai rasa maluku, jarak dari Jakarta, dan ketergantunganku pada rumahnya untuk memaksakan pernikahan. Sebaliknya, setelah mengumumkannya kepada satu desa, dia masih bersedia menanggung malu dengan menarik kembali rencana itu demi memberiku pilihan.
“Saya ingin melanjutkan,” kataku.
Tatapannya menahan wajahku. “Yakin?”
“Saya tidak datang ke sini untuk main-main. Tapi saya punya syarat.”
“Sebutkan.”
“Saya ingin menemui orang tua kandung saya di Tegalsari sebelum akad. Mereka berhak tahu dan memberi restu. Lalu soal mahar, saya tidak mau memakai apa pun yang dulu disiapkan untuk Tiara. Saya tidak ingin menikah sebagai sisa dari perjodohan orang lain.”
Arya mengangguk perlahan. “Kita datang ke Tegalsari. Mahar untukmu akan disiapkan dari awal.”
“Tidak perlu berlebihan.”
“Itu urusanku.”
“Mas Arya selalu seperti ini?”
“Seperti apa?”
“Memberi orang pilihan, lalu tetap mengambil keputusan pada bagian lain.”
“Kalau keputusan itu merugikanmu, bantah.”
“Kalau tidak?”
“Biarkan aku mengurusnya.”
Aku tidak punya jawaban untuk itu.
Untuk mengalihkan diri, aku mengambil pepaya yang belum dipotong dari rantang paling atas. Di sudut ruangan ada wastafel kecil dan pisau buah. Aku mencuci pepaya, membelahnya, lalu membuang bijinya.
Arya kembali ke meja kerja untuk menjawab telepon. Dia bicara singkat tentang jadwal pengiriman, tetapi tatapannya beberapa kali jatuh padaku.
“Jangan lihat terus,” kataku setelah teleponnya selesai. “Nanti potongannya jelek.”
“Aku tidak melihat pepayanya.”
Pisau di tanganku berhenti.
Dia baru saja mengatakan apa?
“Mas Arya ternyata bisa menggoda orang.”
“Aku cuma menjawab.”
“Jawaban seperti itu yang disebut menggoda.”
“Kalau begitu, aku baru tahu.”
Wajahnya terlalu serius untuk menentukan apakah dia sengaja. Aku menunduk, berusaha memotong pepaya menjadi ukuran sama. Namun kesadaranku sudah terpecah antara mata pisau dan tatapan lelaki di belakangku.
Ujung pisau meleset.
“Ah!”
Garis merah terbuka di ujung telunjukku. Setetes darah membulat sebelum sempat jatuh.
Arya tiba di sisiku dalam dua langkah.
Dia meraih pergelangan tanganku, menahannya di bawah cahaya. Rahangnya mengeras seolah luka kecil itu kesalahan besar.
“Kena dalam?”
“Tidak. Cuma sedikit.”
Dia membuka keran, membilas jariku, lalu mengambil kain kasa dari kotak obat. Gerakannya cepat, tetapi saat membalut, jari-jari besarnya mendadak canggung. Balutannya terlalu longgar. Darah merembes di tepi kain.
“Mas Arya, biar saya sendiri.”
“Diam.”
Dia melepas kain kasa itu. Alih-alih mengambil yang baru, tangannya mengangkat jariku mendekati wajahnya.
“Mas Arya?”
Napas hangat menyentuh kulitku.
Lalu, sebelum aku sempat bereaksi, dia menunduk dan memasukkan ujung jariku ke dalam mulutnya.
Suara tonggeret menjerit dari luar jendela. Sapi-sapi bergerak di dalam kandang. Seseorang memanggil Bang Gino dari halaman.
Namun di antara bibir hangat Arya dan telapak tangannya yang mengunci pergelanganku, aku hanya mendengar jantungku sendiri.
Sekali.
Lalu sekali lagi.
Cepat, keras, dan sama sekali tidak mau menurutiku.