NovelToon NovelToon
DUA WAJAH SATU HATI

DUA WAJAH SATU HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:687
Nilai: 5
Nama Author: Kenzy Elbarra

Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.

Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Jam tepat menunjukkan pukul lima pagi. Cahaya fajar belum menyentuh langit, ruang tamu rumah mewah itu masih remang-remang. Roxy duduk di tepi ranjang, menatap ke luar jendela besar yang menghadap ke taman depan. Malam tadi masih terasa jelas — senyum Shella, cara matanya berbinar saat bicara, nada suaranya yang terdengar lebih ringan setelah bercerita.

Aku meraih jam tangan di meja samping. Jarum mendekati angka enam pagi.

Tepat saat detik terakhir berlalu, getaran halus terasa di seluruh tubuhnya. Di udara di depannya, tulisan bercahaya muncul perlahan.

DING!

FASE BERGANTI

Mode malam berakhir. Mode siang dimulai.

Akses dana sistem ditutup.

Penampilan kembali ke wujud asli.

Pandangannya sedikit kabur sejenak. Saat jernih kembali, bayangan di cermin lemari sudah berubah. Wajah yang tadi tajam dan karismatik, kini kembali biasa — sedikit lelah, kantung mata samar, rambut yang kalau tidak diatur terlihat agak berantakan. Ia kembali menjadi Maxy.

Rumah ini tetap sama. Mobil mewah di garasi juga tetap ada. Sistem tidak mengambil apa-apa. Yang berubah cuma dirinya — dan akses ke dompet sistem yang tadi malam masih penuh. Sekarang, kalau ia mau beli apa-apa, bayarnya pakai gaji pegawai administrasi yang pas-pasan.

Aku bangkit, mandi, lalu membuka lemari pakaian di sisi lain kamar — yang isinya pakaian kerja. Kemeja putih, celana bahan hitam, sepatu kulit yang sudah mulai terlihat bekas pakai.

Aku berpakaian rapi, lalu berjalan ke garasi samping. Mobil tua yang terparkir kemarin masih di sana, sedikit berdebu tapi siap menyala.

Sebelum masuk mobil, Aku menoleh ke arah garasi utama. Sedan hitam mewah itu terparkir tenang, mengkilap di bawah cahaya pagi yang mulai masuk.

Kalau Aku mau, bisa saja pakai mobil itu ke kantor. Tapi satu tatapan aneh dari rekan kerja, satu pertanyaan polos dari Shella, dan semua yang Aku sembunyikan bisa terancam terbongkar.

Aku memilih mobil tua. Lebih aman. Lebih sesuai peran yang harus ia mainkan hari ini.

Perjalanan ke kantor terasa lebih lama dari biasanya. Pikiran Maxy melayang ke pertemuan malam tadi. Shella bilang mau makan bersama lagi. Kapan? Sebagai siapa? Kalau bertemu siang hari, ia cuma bisa jadi Maxy — yang duduk di meja sebelahnya, yang mendengarkan tanpa banyak bicara. Kalau malam, ia Roxy — yang bisa menatap matanya setara, yang bisa mendengarkan dan memberi pandangan.

Mana yang lebih Shella inginkan?

Aku memarkir mobil di tempat biasa, masuk ke gedung, menaiki lift ke lantai tiga. Jam tepat menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit. Ruangan kantor mulai ramai, suara ketikan keyboard, dering telepon, obrolan rekan kerja yang menyapa pagi.

"Pagi, Maxy!" sapa salah satu staf bagian keuangan sambil berjalan lewat.

"Pagi," jawabnya pelan, tersenyum sekilas lalu berjalan ke mejanya.

Ia meletakkan tas, duduk, menyalakan komputer. Baru beberapa menit, suara langkah kaki yang ia kenal mendekat. Ia menegang sedikit.

"Pagi, Maxy."

Aku mendongak. Shella berdiri di samping mejanya, tas kerja di tangan, wajahnya segar, tidak ada lagi kerutan di dahi seperti kemarin sore.

"Pagi, Shella," jawabnya, berusaha terdengar biasa saja. "Kamu sehat?"

"Bagus banget, malah." Shella tersenyum — senyum yang sama seperti biasanya, sopan dan ramah. Tapi ada sesuatu yang berbeda? Atau cuma perasaannya saja? "Kamu sendiri? Kelihatan kurang tidur lagi."

"Ah, biasa aja. Masih ada berkas yang harus diselesaikan," jawabnya, mengalihkan pandangan ke layar komputer.

Takut kalau menatap terlalu lama, rahasianya bakal terbaca di matanya.

Shella menatapnya sejenak, lalu mengangguk. "Jangan dipaksain ya. Kalau ada yang bisa dibantu, bilang aja."

"Terima kasih," ucapnya pelan.

Shella berjalan menuju mejanya yang tidak jauh dari situ. Maxy menghela napas pelan, baru menyadari jantungnya berdetak agak cepat.

Sepanjang pagi, Aku mencoba fokus bekerja. Tapi matanya sering melirik ke arah meja Shella. Wanita itu sibuk dengan tumpukan berkas, sesekali menelepon, sesekali berbicara dengan rekan kerja lain. Tertawa kecil, mengerutkan kening, menulis catatan di buku. Semua gerakannya terlihat biasa — seolah tidak ada yang berubah.

Apakah Shella ingat percakapan mereka malam tadi? Atau baginya Roxy cuma orang asing yang menyenangkan, yang akan perlahan dilupakan sampai mereka bertemu lagi?

Menjelang siang, Shella berjalan ke mejanya lagi.

"Maxy, nanti makan siang bareng yuk? Aku traktir. Sebagai terima kasih..." Shella berhenti sejenak, seolah mencari kata yang tepat. "...karena kamu selalu bantu aku beresin berkas yang ketinggalan."

Maxy tertegun. Jantungnya melonjak. Makan siang — siang hari. Sebagai Maxy. Bukan Roxy.

"Eh, iya... boleh," jawabnya, sedikit gugup. "Tapi kenapa tiba-tiba?"

Shella tersenyum, sedikit ragu. "Gak boleh ya? Aku cuma pengen berterima kasih aja. Kamu kan selalu bantu, aku jarang ngucapin makasih secara langsung."

"Bukan gitu... boleh kok. Aku senang," ucapnya cepat.

Mereka pergi ke kantin di lantai bawah. Bukan tempat mewah, cuma kantin kantor yang biasa. Mereka duduk di meja sudut. Shella memesan nasi goreng dan es teh, Maxy memesan yang paling murah di daftar menu.

"Kamu sering makan di sini?" tanya Shella sambil menyuap.

"Kalau lagi sibuk, iya. Biar gak jauh-jauh," jawabnya.

Shella menatapnya sejenak, lalu menurunkan suaranya sedikit. "Maxy, kamu... pernah ngerasa kayak orang lain di dunia ini? Kayak ada bagian dari diri kamu yang nggak pernah bisa kamu tunjukin ke siapa-siapa?"

Maxy hampir tersedak minumannya. Ia menelan pelan, menatap mata Shella yang menatapnya serius.

"Kenapa tanya begitu?"

"Gak tau aja. Tadi pagi ketemu seseorang... eh bukan, kemarin malam. Ngobrol sama orang yang bikin aku mikir. Kadang kita ngerasa harus jadi orang tertentu biar diterima, padahal diri kita yang asli mungkin udah cukup." Shella menunduk mainkan sendoknya. "Kamu ngerasa gitu gak?"

Maxy diam sejenak, hati-hati memilih kata. "Mungkin semua orang ada bagian yang disembunyikan. Bukan karena buruk, tapi karena belum waktunya diperlihatkan."

Shella mendongak, menatapnya lekat. "Kamu ngomong kayak orang yang ngerti banget soal itu."

"Siapa tau," jawabnya pelan, tersenyum tipis.

Makan siang berakhir dengan perasaan campur aduk. Shella seolah-olah sedang bicara soal Roxy — tapi apakah ia menyadari kalau mereka itu orang yang sama? Atau cuma kebetulan?

Sore itu berlalu lambat. Maxy menyelesaikan berkas, tapi pikirannya di tempat lain. Ia cek ponsel beberapa kali. Ada pesan dari Shella, masuk sekitar jam empat sore.

"Malam ini aku ke restoran yang sama lagi. Kalau kamu... eh, kebetulan lewat, boleh mampir. Aku mau cerita lebih lanjut. — Shella"

Maxy menatap layar lama sekali. Pesannya ditujukan untuk Roxy. Tapi dia yang membacanya.

Ia menatap jam di dinding. Jarum menunjukkan pukul lima sore. Satu jam lagi.

Ia harus memutuskan sekarang. Pulang dulu, ganti pakaian, ambil mobil mewah, dan datang sebagai Roxy. Atau... jujur sekarang, datang sebagai Maxy, dan lihat apa yang terjadi?

Belum sempat ia selesaikan pikirannya, getaran halus terasa di kepala. Di udara di depannya, tulisan hologram muncul pelan.

DING!

Waktu menuju pergantian fase: 60 menit.

Rekomendasi: Tetap konsisten identitas.

Pengungkapan identitas prematur dapat menimbulkan risiko yang belum terukur.

Saran: Ambil keputusan pada waktu yang tepat, bukan terdesak.

Maxy menghela napas panjang, menatap pesan yang melayang itu perlahan memudar. Sistem tidak melarang, tidak memaksa. Cuma memberi tahu. Keputusan tetap di tangannya.

Ia melirik ke arah meja Shella yang sudah kosong — wanita itu sudah pulang.

Ia tahu apa yang harus ia lakukan malam ini. Tapi ia juga tahu, setiap pertemuan sebagai Roxy hanya menambah beban yang suatu hari nanti harus ia angkat dan katakan.

Ia merapikan mejanya, berdiri, dan berjalan menuju pintu keluar. Langkah kakinya terasa mantap, meski hatinya masih ragu.

Besok mungkin akan lebih jelas. Atau mungkin justru lebih rumit.

Tapi satu hal sudah pasti: malam ini, ia akan datang. Bukan untuk menyembunyikan kebenaran selamanya, tapi untuk memberi waktu — untuk dirinya, dan untuk Shella.

1
Lylik Kurniawan
😍😍😍😍😍😍😍
Lylik Kurniawan
Bagus. beneran fresh.. aku ksih bintang 5
Lylik Kurniawan
bagus dan beda. like this!!!😍😍😍
Kenzy Elbarra
hehehe 😍😍😍
Salwina Riyani
mewek gw ... 🤣🤣🤣🤣🤣
Salwina Riyani
😍🤭😍🤭🤭😍🤭😍😍
Salwina Riyani
wadidawwww... 😍
Salwina Riyani
heran.. pdhl ini novel bagus.. knpa msh sepi ya
Salwina Riyani
nusuukkkm
Salwina Riyani
seruuuuu.....!!! bener bener beda dari yang lain.. byee bye CEO... bosen gw ma alur CEO wkwkwk
Salwina Riyani
seruuuu.... 😍😍😍😍😍😍
Ma Xy
gasssss terussss kak...
Ma Xy
lanjutkan kaka.. saya suka🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!