Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.
Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!
Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.
Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Mendadak Indigo
"Dokterrr... tungguuu..."
"Nggak bisa! Saya nggak melayani BPJS di luar jam kerja!" raung Rahsya sambil menambah kecepatan.
Di depan, ada pocong yang melompat-lompat menyeberang jalan mirip bola bekel raksasa. Rahsya bukannya mengerem, malah sengaja membunyikan klakson sekeras mungkin.
Tinnnn! Tinnnnn!
"Woi, ngalangin jalan aja! Minggir! Saya mau ke Jakarta!" teriaknya kalap.
Pocong itu tampak kaget dan jatuh terjungkal ke parit dengan bunyi gedubrak yang tidak estetik sama sekali bagi ukuran hantu.
Namun, Rahsya tetap menatap lurus ke depan dan memacu motornya tanpa peduli jika ia berakhir ditilang polisi. Ia hanya ingin cepat sampai ke Jakarta, ke apartemen mewahnya. Sepertinya sejak ia memasuki dimensi lain itu, Rahsya mendadak jadi mempunyai indra keenam.
"Gila, kalau jadi dokter nggak laku, kayaknya gue bisa buka jasa pengawalan jenazah lewat jalur ekspres," gumamnya sambil gemetar, sementara di sampingnya, sesosok genderuwo setinggi pohon kelapa hanya bisa melongo melihat motor Rahsya melesat bagai komet.
Begitu melewati gapura batas desa yang bertuliskan "Selamat Jalan", Rahsya tidak berani menoleh ke belakang. Ia melaju kencang menuju peradaban, meskipun ia sadar tas punggungnya miring sebelah, helmnya juga masih terpasang miring dan untungnya tidak sampai terbalik.
****
Sesampainya di Jakarta, ia tidak pulang ke apartemen, melainkan ke mansion orang tuanya. Tadinya Rahsya memang sempat mau ke apartemen, namun di tengah-tengah lobi berdiri hantu cantik tapi genit yang terus mengerlingkan mata ke arahnya.
Mungkin jika manusia masih bisa dimaklumi, tapi kalau yang ini urusannya lain lagi—bola matanya bisa berputar 360 derajat sambil tetap mengedip genit. Rahsya lebih memilih diceramahi ibunya daripada harus diajak "ngopi" oleh penunggu lift.
"Wajah kamu kenapa Rahsya, kok pucat gitu? Kamu sakit ya?" tanya Miranti, ibu Rahsya, yang sedang asyik merawat tanaman hiasnya di halaman.
Miranti tampak anggun dengan gunting tanaman di tangan, kontras dengan Rahsya yang penampilannya sudah seperti korban selamat dari kecelakaan helikopter.
Rahsya yang baru saja datang tak langsung menjawab. Ia menyalami mamanya terlebih dahulu dengan tangan yang masih gemetar, seolah-olah baru saja menggenggam kabel tegangan tinggi.
"Nanti aku ceritain di dalam, Mah," ucapnya sambil menoleh ke segala arah.
Ia merasa sedang diawasi oleh makhluk-makhluk tak kasat mata yang bersembunyi di balik pohon-pohon cemara yang berjejer di sekitar jalan depan gerbang mansionnya.
Bahkan, ia bersumpah melihat sesosok hantu anak kecil sedang mencoba melakukan gerakan Moonwalk di atas gerbang listrik rumahnya, tapi gagal karena terpeleset kabel.
Sepertinya sejak ia memasuki dimensi lain itu, Rahsya mendadak jadi mempunyai indra keenam yang sayangnya sangat tidak selektif.
"Mah, pohon cemara kita sejak kapan ada aksesori putih-putihnya?" tanya Rahsya pelan, suaranya nyaris hilang.
Miranti mengernyit, menoleh ke arah deretan cemara yang rapi. "Aksesori apa? Itu cuma lampu taman, Sya. Kamu kebanyakan begadang ya di desa?"
Rahsya menelan ludah. "Bukan lampu, Mah. Itu... itu putih-putihnya punya mata, lagi gelantungan sambil kayang."
"Sya, Mama serius. Kamu jangan mulai deh horor-horornya. Ini Jakarta, bukan lokasi syuting film murah!"
Miranti memutar bola matanya, lalu kembali fokus pada tanaman kuping gajahnya. Tiba-tiba, dari arah belakang Miranti, sesosok nenek bungkuk yang mirip dengan penunggu cermin di vila tadi muncul, ikut mengintip tanaman Miranti.
Si nenek memberikan jempol dengan jari yang tinggal tulangnya saja ke arah Rahsya, seolah memuji pilihan tanaman ibunya.
"Nek, jangan di situ! Itu tanaman mahal!" teriak Rahsya refleks.
Miranti tersentak kaget sampai gunting tanamannya terjatuh. "RAHSYA! Siapa yang kamu panggil nenek?! Mama baru umur lima puluh!"
"Bukan Mama! Itu di belakang Mama ada... aduh, Mah, ayo masuk sekarang!"
Rahsya langsung menarik tangan ibunya, berlari masuk ke dalam rumah sambil menghindari 'kerumunan' yang hanya bisa dilihat olehnya.
"Kamu itu kenapa sih, Rahsya? Pulang dari Ci Sepi kok jadi aneh begini," ucap Miranti seraya meletakkan cangkir porselen berisi teh hangat di depan putranya.
"Mendingan minum dulu biar fokus. Otak kamu sepertinya masih tertinggal di tanjakan desa."
Rahsya menerima cangkir itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Bukannya langsung meminumnya, matanya justru bergerak liar, menatap ke pojok langit-langit ruang tamu, lalu berpindah cepat ke kolong meja, seolah-olah takut ada hantu yang muncul secara tiba-tiba dan meminta bagian dari tehnya.
"Begini, Mah... aku tuh bisa ngelihat hantu sekarang," bisik Rahsya dengan nada sangat serius, sampai-sampai ia harus mencondongkan tubuh ke arah ibunya.
"Semenjak aku tinggal di Desa Ci Sepi selama seminggu itu, aku jadi mendadak bisa lihat makhluk gaib. Atau lebih tepatnya, semua ini dimulai saat aku lewat telaga setelah membantu sapi salah satu warga melahirkan."
Bukannya merinding, Miranti malah terkekeh renyah. Wanita itu bahkan sampai menepuk-nepuk pundak Rahsya dengan keras, saking tak percaya pada apa yang dianggapnya sebagai bualan lucu sang anak.
"Nah ini! Begini jadinya kalau kamu masih jomblo dan belum punya pacar sampai sekarang. Halusinasinya kejauhan," ucap Miranti sambil terus menggoda dengan senyum meledek.
"Mungkin hantunya kasihan lihat kamu sendirian, makanya mereka antre mau jadi pacar kamu. Siapa tahu ada kuntilanak yang tipenya kayak model."
Rahsya mendengus kencang, meletakkan cangkirnya kembali ke meja dengan bunyi klunting yang agak keras karena kesal.
"Mama gimana sih? Aku serius, Mah, nggak bercanda!" protesnya sambil mengusap wajahnya yang masih pucat pasi.
Ia kembali menoleh ke arah jendela, memastikan tidak ada sosok Kinan yang sedang menempel di kaca.
"Malahan warga di sana juga ada yang sempat ngelihat hantu penunggu telaga, Mah. Dan masalahnya, hantu-hantu itu sepertinya sekarang ikut pindah ke Jakarta gara-gara aku!"
Rahsya mendadak kaku. Matanya terpaku pada lantai marmer yang mengilap. Di sana, bayangan tubuhnya tidak sendirian; ada satu bayangan kecil berkepala plontos yang sedang asyik memainkan yoyo. Begitu ia mendongak, sosok tuyul pucat dengan perut buncit sedang nyengir menatapnya.
"Tadi kamu bilang bantuin sapi warga melahirkan? Telaga? Sya, kamu ini dokter manusia atau dokter hewan yang lagi halusinasi?"
Miranti masih tertawa renyah. Ia menyesap tehnya tanpa beban, menganggap igauan anaknya hanyalah efek samping terlalu lama menghirup oksigen pegunungan yang kelewat bersih.
Namun, tawa Miranti mendadak terhenti. Ia meletakkan cangkirnya, tapi benda porselen itu justru bergoyang hebat di atas meja. Bukan karena tangan Rahsya yang gemetar, melainkan karena ada sesuatu yang tak kasat mata sedang mencoba ikut menyeruput teh panas itu dari sisi cangkir yang lain hingga airnya berdesir.
"Ma, serius! Di Desa Ci Sepi itu ada rumah kayu yang aslinya sudah terbakar delapan tahun lalu, tapi aku malah masuk ke sana! Aku ketemu Kinan, ketemu Nathan... mereka itu—"
Sret... sret...
Suara gesekan kain kasar di atas lantai marmer yang dingin memutus kalimat Rahsya. Pria itu membeku. Di samping sofa tempat ibunya duduk, sesosok nenek bungkuk berkebaya lusuh dengan kain jarik yang seret—sosok yang tadi menerornya di cermin vila—kini sedang mengelus-elus salah satu koleksi tas branded milik Miranti.
"Cakep ya, Cu... warnanya kayak darah seger," bisik si nenek. Suaranya serak, membawa embusan angin yang menusuk tengkuk Rahsya.
"MAMAH! TASNYA! JANGAN BIARIN DIA PEGANG TASNYA!" teriak Rahsya sambil meloncat berdiri. Jari telunjuknya gemetar menunjuk ke arah tas yang sedang dielus tangan keriput tak kasat mata itu.
Miranti melotot kaget. Ia refleks menyambar dan memeluk tas Hermes-nya dengan protektif.
"Rahsya! Kamu kenapa sih? Kamu mau minta uang beli tas juga sampai harus akting begini? Jangan nakut-nakutin Mama!"
"Bukan mau beli, Mah! Itu nenek-neneknya mau pinjam buat kondangan di alam sebelah!"
Rahsya berteriak frustrasi. "Tuh, lihat! Dia sekarang lagi nyobain lipstik Mama!"
Benar saja, di mata Rahsya yang kini "berlubang" indra keenam, si nenek hantu itu sedang memegang lipstik merah milik ibunya. Ia memulas bibirnya yang tinggal separuh dengan berantakan, membuat wajahnya tampak seperti badut dari neraka.
Si nenek kemudian menoleh ke arah Rahsya, mengerlingkan matanya yang hampir copot, dan melemparkan flying kiss yang mengerikan.
"Haduuuh... ini mah bukan indigo lagi, ini mah instalasi horor berjalan!" umpat Rahsya dalam hati.
Ia sadar, selama sisa "aura" telaga Ci Sepi masih menempel, ia akan menjadi magnet bagi setan-setan Jakarta yang haus perhatian.
"Sya, mending kamu mandi. Pakai sabun yang banyak, kalau perlu rendam pakai air doa," perintah Miranti yang mulai merinding, meski matanya tetap tak melihat apa-apa.
Rahsya mengangguk pasrah. Namun, saat ia hendak melangkah menuju tangga lantai dua, ia berpapasan dengan asisten rumah tangganya yang sedang membawa nampan berisi camilan.
Rahsya nyaris terjungkal; asistennya kini tampak memiliki dua kepala. Kepala asli yang sedang tersenyum ramah, dan satu lagi kepala kecil plontos—si tuyul tadi—yang nangkring di bahu sang asisten.
"Dokter... mau main petak umpet lagi?"