Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Ting!
Layar biru transparan langsung muncul di depan matanya, mengabaikan cengkeraman kasar Bagas di kerahnya.
"Cari skill pasif yang bisa memprediksi gerakan fisik, harga di bawah seratus poin," perintah Tommy.
[Kalkulasi Lintasan Benda Bergerak Pasif - Harga: 80 PS]
[Deskripsi: Memungkinkan otak pengguna menghitung vektor, kecepatan, dan titik jatuh dari semua benda bergerak di sekitarnya dalam waktu kurang dari satu detik.]
"Beli," putus Tommy tanpa ragu sedikit pun.
[Pembelian berhasil. Poin Sistem dikurangi -80 PS.]
[Skill Kalkulasi Lintasan Benda Bergerak Pasif telah ditambahkan.]
Seketika itu juga, pandangan mata Tommy seakan berubah menjadi layar radar canggih.
Ia bisa melihat garis merah transparan yang memproyeksikan arah pukulan Bagas sebelum tangan itu bahkan bergerak sepenuhnya.
Garis merah itu mengarah lurus ke tulang pipi kirinya dengan perkiraan gaya dorong sebesar tiga ratus newton.
"Kalkulasi selesai," batin Tommy tersenyum dingin di balik wajah paniknya.
"Mati lo, Tom!" teriak Bagas sambil mengayunkan tinjunya sekuat tenaga ke wajah Tommy.
Bugh!
Suara hantaman keras terdengar menggema di seluruh ruangan kelas.
Tetapi itu bukan suara tinju Bagas yang mengenai wajah Tommy.
Tepat satu milidetik sebelum tinju itu mendarat, kaki Tommy dengan sengaja menginjak ujung tali sepatunya sendiri.
Tubuhnya terhuyung ke belakang dengan gerakan yang terlihat sangat kikuk dan tidak disengaja.
"Eh, copot!" teriak Tommy dengan nada panik yang dibuat-buat saat tubuhnya jatuh terduduk ke lantai.
Karena Tommy tiba-tiba menghilang dari jangkauannya, pukulan Bagas hanya memukul angin kosong.
Gaya dorong yang terlalu besar membuat tubuh Bagas kehilangan keseimbangan sepenuhnya.
Tubuh Bagas melesat ke depan tanpa bisa direm.
Brakkk!
Dahi Bagas menghantam sudut tajam dari lemari besi penyimpan buku di belakang meja Tommy dengan sangat keras.
Suara benturan itu terdengar sangat mengerikan.
Bagas langsung ambruk ke lantai seperti boneka rusak tanpa sempat berteriak.
Darah segar mulai mengalir dari pelipisnya membasahi lantai keramik kelas.
"Astaga!" jerit Nadin dan beberapa murid perempuan secara bersamaan.
Kelas yang tadinya tegang kini berubah menjadi arena kepanikan massal.
Reno dan Dito langsung berlari mendekati tubuh Bagas yang terkapar tidak sadarkan diri.
"Dia pingsan, kepalanya bocor!" teriak Reno dengan wajah pucat pasi melihat darah temannya.
Tommy yang duduk di lantai hanya bergeser menjauh dengan wajah sangat pucat dan gemetar.
Ia meremas kakinya sendiri seolah sedang menahan sakit karena terjatuh.
"Aku... aku cuma kepeleset tali sepatu," gumam Tommy dengan suara memelas kepada seisi kelas.
"Aku gak sengaja ngehindar, sumpah, dia nabrak lemari sendiri."
Semua murid yang melihat kejadian itu dari awal mengangguk membenarkan ucapan Tommy.
"Iya, gue liat sendiri kok, si Tommy emang jatoh gara-gara tali sepatunya lepas," ucap salah satu murid laki-laki.
"Si Bagas aja yang terlalu emosi sampai nabrak lemari sendiri, kualat dia," tambah murid lainnya.
Tidak ada satu pun orang di kelas itu yang menyalahkan Tommy atas insiden berdarah tersebut.
Di mata mereka, ini hanyalah kejadian kebetulan yang disebabkan oleh kecerobohan luar biasa dari seorang murid bodoh.
Tetapi Nadin yang berdiri tidak jauh dari sana, menatap Tommy dengan dahi yang berkerut sangat dalam.
Mata gadis pintar itu terus memperhatikan ujung tali sepatu Tommy yang memang terlepas.
"Apakah mungkin seseorang bisa terpeleset tepat pada detik yang sangat krusial?" batin Nadin penuh curiga.
Nadin teringat kembali pada gambar jaring laba-laba dan jawaban limit probabilitas di panggung kemarin.
Terlalu banyak kebetulan gila yang selalu menyelamatkan Tommy dari situasi mustahil.
"Lo gak apa-apa, Tom?" tanya Dito sambil mengulurkan tangan membantu Tommy berdiri.
"Kakiku lumayan sakit, To, tapi gapapa," jawab Tommy sambil menerima uluran tangan Dito dan berdiri tertatih-tatih.
"Ada apa ini ribut-ribut?!"
Suara bariton Pak Budi menggelegar dari arah pintu kelas.
Guru sejarah itu masuk dengan wajah terkejut melihat Bagas terkapar bersimbah darah di pojok ruangan.
"Bagas nabrak lemari besi pas mau mukul Tommy, Pak!" lapor Reno dengan cepat.
Pak Budi segera menghampiri Bagas dan memeriksa nadinya.
"Panggil petugas UKS sekarang bawa tandu, kita harus bawa dia ke rumah sakit!" perintah Pak Budi panik.
Beberapa murid laki-laki langsung berlari keluar untuk mencari bantuan.
"Dan kamu, Tommy," tegur Pak Budi menatap Tommy dengan cemas. "Kamu luka tidak?"
"Saya cuma kaget dan kepeleset jatuh ke lantai, Pak," jawab Tommy menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Ya sudah, kalian semua kembali ke tempat duduk masing-masing, biar bapak yang urus Bagas," perintah Pak Budi.
Beberapa menit kemudian, petugas UKS datang membawa tandu dan mengangkut tubuh Bagas yang masih pingsan keluar dari kelas.
Darah di lantai segera dibersihkan oleh petugas kebersihan sekolah.
Suasana kelas perlahan kembali tenang, meskipun bisik-bisik tentang karma dan nasib sial Bagas terus terdengar.
Tommy duduk kembali di kursinya dan merapikan tali sepatunya dengan gerakan lambat.
Ting!
Layar biru transparan kembali muncul di depan pandangannya di tengah keheningan itu.
[MISI MENDADAK SELESAI.]
[Evaluasi: Pengguna berhasil menetralisir ancaman fisik dengan perhitungan vektor yang sempurna tanpa merusak penyamaran.]
[Mengirimkan hadiah...]
[IQ pengguna meningkat +2 poin.]
[Poin Sistem bertambah +15 PS.]
[IQ Saat Ini: 117 Kategori: Cerdas]
[Poin Sistem Saat Ini: 120 PS]
Tommy menutup layar sistem itu dan menyandarkan punggungnya dengan nyaman.
IQ seratus tujuh belas membuat kepalanya terasa semakin ringan dan jernih.
Setiap gerakan Dito yang sedang menulis di depannya, setiap tarikan napas murid di sebelahnya, semuanya bisa ia baca dan ia prediksi dengan mudah.
"Satu masalah parasit di kelas ini sudah berhasil kusingkirkan sepenuhnya," batin Tommy dengan senyum kepuasan yang sangat dingin.
Bagas kemungkinan besar akan diskors atau bahkan mengundurkan diri dari sekolah setelah kasus ayahnya dan insiden memalukan hari ini.
Tiba-tiba, sebuah gumpalan kertas kecil mendarat tepat di atas meja Tommy.
Tommy melirik ke arah depan dan melihat Nadin sedang menatapnya dengan tajam dari kejauhan.
Gadis itu memberikan isyarat dengan matanya agar Tommy membaca kertas tersebut.
Tommy perlahan membuka gumpalan kertas itu dan membaca tulisan tangan Nadin yang rapi.
"Keberuntunganmu tidak akan bisa menipu logika untuk selamanya, Tommy. Aku akan membongkar siapa kamu sebenarnya."
Tommy membaca ancaman tertulis itu tanpa mengubah ekspresi polos di wajahnya.
Ia mengambil pulpen dan menekan ujungnya perlahan ke atas kertas tersebut.
Ia tidak membalas tulisan itu, melainkan hanya menggambar sebuah wajah senyum sederhana.
Sebuah balasan yang sangat kekanak-kanakan dan bodoh.
Ia lalu meremas kertas itu kembali dan menyentilnya ke lantai.
"Silakan mencoba, Nadin," batin Tommy sambil membuang muka menatap ke luar jendela.
"Karena semakin dalam kau menggali rahasiaku, semakin kau akan menyadari betapa jauhnya jarak antara kita berdua."
Panggung seleksi tingkat kota tinggal menghitung hari.
Dan Tommy sudah tidak sabar untuk menunjukkan kepada dunia apa yang bisa dilakukan oleh seorang idiot yang memiliki IQ seratus tujuh belas.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇