Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Suasana di dalam ruang observasi nomor empat mendadak menjadi begitu sunyi seketika.
Dr. Dimas terbelalak lebar, menatap Arka dengan bola mata yang hampir keluar dari kelopaknya.
"Apa... apa yang baru saja kamu katakan, hah?!" bentak Dr. Dimas dengan suara bergetar karena rasa kaget dan marah bercampur jadi satu.
Arka perlahan-lahan menegakkan posisinya, menatap Dr. Dimas dengan tatapan mata yang setajam pisau bedah.
"Kamu mendengarnya dengan sangat jelas, Dr. Dimas," jawab Arka dengan nada suara dingin tanpa emosi.
"Pasien ini mengalami pendarahan subdural akut akibat benturan tumpul di bagian pelipis kiri."
"Tapi kalian sengaja menelantarkannya di ruangan kumuh ini tanpa oksigen dan infus penstabil selama lebih dari lima belas menit."
"Tujuan kalian cuma satu, yaitu membiarkan pasien ini mati perlahan agar kalian bisa menutupi kesalahan diagnosis awal di IGD utama."
Mendengar tuduhan telak yang diucapkan dengan sangat lancar itu, Dr. Budi mendadak pucat pasi.
"Jangan asal bicara kamu, pesuruh gila!" teriak Dr. Budi histeris mencoba menutupi kepanikannya.
"Mana mungkin seorang petugas kebersihan mengerti istilah medis rumit seperti pendarahan subdural?!"
Direktur rumah sakit menoleh tajam ke arah Dr. Dimas dan Dr. Budi dengan tatapan menyelidik yang penuh curiga.
"Dr. Dimas, apa benar kalian sengaja memindahkan pasien ini ke sini tanpa penanganan yang layak?" tanya direktur dengan suara menggelegar.
"Bukan begitu, Pak Direktur!" sangkal Dr. Dimas berkeringat dingin seketika.
"Anak bodoh ini hanya mengarang cerita untuk menyelamatkan dirinya dari hukuman malpraktik!"
Siska langsung melangkah maju berdiri di sebelah Arka dengan wajah penuh keyakinan.
"Pak Direktur, saya bisa menjadi saksi!" seru Siska lantang.
"Saya mendengar sendiri percakapan mereka berdua di ruang kerja IGD tadi, mereka memang sengaja menjebak Arka!"
Dr. Dimas menunjuk Siska dengan jari telunjuk yang gemetar hebat karena emosi.
"Siska! Kamu sudah tertular gila juga karena bergaul dengan pesuruh idiot ini!" maki Dr. Dimas murka.
"Satpam! Cepat seret mereka berdua keluar dari ruangan ini dan panggil pihak kepolisian sekarang juga!" perintah Dr. Dimas kepada dua petugas keamanan besar di belakangnya.
Kedua satpam itu saling berpandangan sejenak, lalu melangkah maju mendekati Arka dengan wajah sangar.
"Maaf, Arka. Kamu harus ikut kami sekarang," ujar salah satu satpam sambil mengulurkan tangan ingin mencengkeram bahu Arka.
Namun, sebelum tangan satpam itu sempat menyentuh seragamnya, Arka melayangkan tatapan dingin yang membuat langkah mereka terhenti seketika.
"Kalau kalian melangkah satu langkah lagi ke depan, nyawa pasien di atas brankar ini tidak akan bisa tertolong lagi," ucap Arka dengan suara mutlak.
"Halah, jangan dengarkan omong kosongnya! Cepat tangkap dia!" perintah Dr. Dimas panik.
Arka mengabaikan teriakan Dr. Dimas sepenuhnya.
Ia dengan sangat cepat merogoh kantong bajunya dan mengeluarkan empat buah jarum akupunktur perak yang berkilau di bawah lampu ruangan.
Pluk! Pluk! Pluk! Pluk!
Keempat jarum itu melesat secepat kilat menancap di titik-titik saraf utama di kepala dan leher pasien paruh baya tersebut.
"Hei! Apa yang kamu lakukan pada pasien?!" seru direktur rumah sakit panik melihat tindakan nekat itu.
Srekk...
Arka mengalirkan sedikit tenaga akupresur tingkat tinggi melalui ujung jarum perak tersebut dengan presisi milimeter yang sempurna.
Seketika itu juga, tubuh pasien yang tadinya kaku kejang langsung mengendur secara perlahan.
Monitor portabel di samping brankar berbunyi nyaring dengan grafik yang menunjukkan kestabilan luar biasa.
Beep... beep... beeep...
Tekanan darah pasien yang tadinya drop drastis kini kembali normal dalam hitungan detik.
Seluruh orang di dalam ruangan itu terperanjat kaku menyaksikan keajaiban medis yang terjadi di depan mata kepala mereka sendiri.
"I-ini... tidak mungkin..." gumam Dr. Budi dengan mulut terbuka lebar selebar-lebarnya.
Bahkan seorang spesialis bedah senior membutuhkan waktu berjam-jam untuk melakukan operasi rumit pada kasus pendarahan otak seperti itu.
Namun Arka menyelesaikannya hanya dalam waktu sepuluh detik menggunakan beberapa batang jarum perak kecil.
Pasien paruh baya di atas brankar perlahan-lahan membuka kedua matanya dengan napas yang sudah teratur.
"Ugh... di mana... di mana aku..." gerutu pasien itu dengan suara parau.
Direktur rumah sakit langsung melangkah mendekati brankar dengan perasaan sangat terkejut.
"Bapak... bapak sudah sadar? Bagaimana keadaan kepala bapak?" tanya direktur cemas.
Pasien itu meraba pelipis kirinya yang sudah tidak terasa sakit lagi, lalu menatap direktur dengan bingung.
"Kepalaku... rasanya sudah jauh lebih ringan... pusingnya mendadak hilang," jawab pasien tersebut jujur.
Direktur rumah sakit menolehkan kepalanya tajam ke arah Dr. Dimas dan Dr. Budi dengan kemarahan yang sudah mencapai puncaknya.
"Dr. Dimas! Jelaskan apa artinya semua ini?!" bentak direktur dengan suara menggelegar memenuhi ruangan.
Dr. Dimas dan Dr. Budi bersimpuh lemas di lantai, keringat dingin bercucuran membasahi jas putih mereka.
"P-Pak Direktur... kami... kami bisa jelaskan..." jawab Dr. Dimas terbata-bata ketakutan setengah mati.
"Penjilat tidak tahu diuntung!" maki direktur murka.
"Kalian sengaja menelantarkan pasien demi menutupi kebobrokan kalian, dan mencoba memfitnah pegawai lain!"
Direktur langsung memanggil kepala keamanan utama rumah sakit untuk segera membawa Dr. Dimas dan Dr. Budi pergi.
"Bawa dua dokter biadab itu ke ruang tahanan basement sekarang juga! Pecat mereka detik ini dan serahkan semua buktinya ke pihak berwajib!" perintah direktur mutlak.
"Jangan, Pak Direktur! Tolong ampuni kami!" jerit Dr. Dimas histeris saat diseret keluar oleh dua satpam bertubuh besar.
Suara tangisan dan permohonan ampun Dr. Dimas perlahan-lahan menghilang di sepanjang koridor rumah sakit.
Suasana di dalam ruang observasi kembali menjadi hening.
Direktur rumah sakit menarik napas panjang, lalu berjalan mendekati Arka dengan wajah penuh rasa bersalah dan hormat.
"Dokter Arka... saya... saya benar-benar minta maaf atas kelakuan staf saya yang bodoh tadi," ucap direktur sambil membungkukkan badan dalam-dalam di depan Arka.
Siska yang berdiri di samping Arka menatap kejadian itu dengan rasa kagum yang luar biasa besar.
Arka memasang kembali ekspresi wajah tenang, lalu merapikan saku bajunya perlahan.
"Lain kali, periksa dulu siapa yang bekerja dengan benar dan siapa yang hanya mencari keuntungan di rumah sakit ini," pesan Arka dengan nada dingin berwibawa.
"Baik, Dokter! Saya akan membersihkan seluruh manajemen rumah sakit ini mulai malam ini juga!" janji direktur bersungguh-sungguh.
[Sistem Mendeteksi Keberhasilan Misi Membongkar Sabotase Medis]
[Peningkatan Reputasi Karakter Utama Di Lingkungan Internal Rumah Sakit: 100 Persen]
[Membuka Akses Penuh Dokumen Rahasia Lantai Basement]
Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kesadaran kepala Arka.
Arka tersenyum tipis sangat misterius, menyadari bahwa langkah pertamanya untuk menguasai dan membersihkan Rumah Sakit Medika Sentosa telah berjalan dengan sukses besar.