Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Keesokan harinya, sesuai janji, Abraham membonceng Prita berkeliling mencari alamat rumah yang sempat mereka incar.
Udara pagi itu terasa segar, dan Prita tampak sangat bersemangat saat motor berhenti di depan sebuah rumah kecil dengan taman minimalis yang asri. Namun, harapan mereka pupus seketika saat melihat tulisan di gerbangnya.
"Maaf, Mas, Mbak, rumahnya sudah laku kemarin sore," ucap pemilik rumah dengan nada menyesal.
Prita terdiam sejenak. Ia melihat gurat kelelahan yang masih tersisa di wajah Abraham meski suaminya itu berusaha tetap tersenyum untuknya. Ia teringat kejadian semalam, betapa suaminya bertaruh nyawa dan betapa hangatnya teman-teman di mess melindunginya selama Abraham pergi.
"Ya sudah, Mas. Mungkin belum rezeki kita," ucap Prita sambil menggenggam tangan Abraham.
"Prita pikir-pikir lagi, tinggal di mess tidak seburuk itu. Setidaknya di sana ramai dan Mas tidak perlu khawatir meninggalkanku sendirian kalau ada panggilan darurat. Prita mau tetap tinggal di mess saja dulu bareng Mas."
Abraham menatap istrinya dengan haru. Ia tahu Prita melakukan ini demi kenyamanan hatinya juga.
"Terima kasih ya, Sayang. Mas janji akan cari yang lebih baik nanti."
Untuk mencairkan suasana yang sempat agak lesu, Prita tiba-tiba menarik lengan jaket Abraham dengan manja.
"Mas, mumpung kita sudah di jalan, ayo kita ke Malang kota! Aku mau beli bakso malang yang asli, terus aku mau beli sesuatu buat Mas Ham," seru Prita dengan mata berbinar.
Abraham menghidupkan mesin motornya kembali.
"Beli apa? Kok tumben Mas dibelikan?" tanya Abraham sambil tertawa kecil.
Prita segera naik ke boncengan dan memeluk pinggang suaminya erat-erat.
"Rahasia! Pokoknya Mas nanti pasti suka. Ayo berangkat!"
Motor pun melesat menuju pusat kota Malang. Di sepanjang jalan, Prita terus tersenyum, berencana memberikan kejutan kecil untuk suaminya sebagai penebus rasa bersalah atas kejadian semalam, sekaligus tanda syukur karena mereka masih memiliki satu sama lain.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup menyenangkan, motor Abraham berhenti di sebuah warung bakso pinggir jalan yang sangat ramai pengunjung.
Aroma kuah kaldu yang gurih dan sambal yang pedas menggugah selera mereka.
"Wah, ramai sekali ya, Mas. Untung kita masih dapat tempat," ujar Prita sambil duduk di bangku panjang.
Mereka menikmati semangkuk bakso malang lengkap dengan pangsit goreng dan tahu baksonya.
Abraham tampak makan dengan lahap, sesekali menyeka keringat di dahinya.
Kehangatan suasana sore itu seolah menghapus sisa-sisa ketegangan malam sebelumnya.
Setelah menghabiskan mangkuknya, Prita tiba-tiba berdiri.
"Mas, tunggu sini bentar ya. Mas santai saja dulu, minum es tehnya. Aku ke sana sebentar," tunjuk Prita ke arah deretan ruko di seberang jalan.
"Mau ke mana, Sayang? Mas temani ya?" tanya Abraham heran.
"Nggak usah, Mas tunggu sini saja. Sebentar kok!" Prita mengedipkan mata, lalu dengan langkah cepat ia menyeberang jalan.
Prita menuju ke sebuah konter ponsel besar yang ada di area tersebut.
Ia langsung menghampiri etalase dan memilih sebuah ponsel dengan spesifikasi tangguh—ponsel yang baterainya awet dan memiliki ketahanan lebih, sangat cocok untuk pekerjaan Abraham di lapangan.
Tanpa ragu, Prita mengeluarkan uang dari dompetnya untuk membayar ponsel tersebut.
Ia ingin suaminya punya alat komunikasi yang bisa diandalkan, agar kejadian "ponsel mati" dan salah paham semalam tidak terulang lagi.
Beberapa saat kemudian, Prita kembali ke warung bakso dengan membawa tas belanja kecil di tangannya dan senyum lebar yang misterius.
"Ini kejutan buat Mas Ham," ucap Prita sambil meletakkan kotak ponsel baru itu di depan suaminya yang masih bingung.
Abraham menatap kotak di depannya dengan dahi berkerut, lalu beralih menatap wajah Prita yang tampak sangat puas dengan kejutan itu.
Ia ragu-ragu untuk menyentuhnya, seolah takut salah lihat.
"Sayang, Apa ini?" tanya Abraham pelan, suaranya terdengar tidak enak hati.
"Buka saja, Mas," jawab Prita sambil tersenyum lebar.
Saat Abraham membuka kotak itu dan melihat sebuah ponsel baru dengan desain yang kokoh dan baterai besar, ia justru menghela napas panjang.
"Prita, ini pasti mahal sekali. Kenapa beli baru? Mas masih bisa betulkan ponsel yang kemarin ke tempat servis. Paling cuma ganti baterai atau layarnya saja."
Prita langsung menggeleng tegas. Ia memegang tangan kasar suaminya yang masih terbalut kasa tipis.
"Mas, ponsel Mas itu sudah rusak parah. Sudah sering mati mendadak, apalagi kemarin sampai jatuh di tower," ucap Prita dengan nada serius namun lembut.
"Aku tidak mau kejadian kemarin terulang lagi. Aku tidak mau cemas seharian hanya karena ponsel Mas mati di lapangan."
Prita mengelus punggung tangan Abraham. "Ini pakai uangku, Mas. Anggap saja ini permintaan maafku karena sudah tidak percaya padamu kemarin. Aku ingin kalau Mas di puncak tower sekalipun, Mas tetap bisa kasih kabar ke aku. Mas butuh alat yang layak untuk kerja."
Abraham terdiam sambil menatap ponsel baru itu, lalu menatap istrinya dengan pandangan haru yang dalam.
Ia merasa sangat dihargai. Selama ini ia selalu memikirkan kebutuhan Prita, namun kali ini, istrinya yang justru sangat memperhatikan detail kecil tentang pekerjaannya.
"Terima kasih ya, Prita. Mas janji akan jaga ponsel ini baik-baik," ucap Abraham tulus.
Ia menggenggam tangan Prita di bawah meja warung bakso, merasakan kebahagiaan yang jauh lebih besar daripada sekadar mendapatkan barang mewah.
"Sama-sama, Mas. Sekarang, ayo dihidupkan. Aku mau jadi orang pertama yang Mas telepon pakai nomor baru ini!" seru Prita ceria.
Abraham tersenyum lebar melihat semangat istrinya.
Ia segera mengeluarkan ponsel baru itu dari kotaknya, menyalakannya, dan langsung membuka aplikasi kamera.
"Wah, bening sekali kameranya, Sayang. Sini, Mas mau ambil foto kamu dulu," ujar Abraham dengan nada kagum.
Prita langsung berpose manis di depan mangkuk baksonya yang tinggal setengah.
Abraham mengambil beberapa foto Prita dengan latar belakang keramaian warung.
Di salah satu foto, karena merasa sangat bahagia dan bersyukur, Abraham tiba-tiba mendekatkan wajahnya dan mencium pipi istrinya dengan lembut.
Prita tersipu malu, wajahnya memerah seketika. "Iih, Mas! Malu dilihat orang banyak," bisiknya sambil tertawa kecil.
Ternyata, kemesraan mereka dan aksi Abraham memamerkan ponsel baru sambil memuji-muji kualitas fotonya menarik perhatian pemilik warung bakso yang sedang berdiri di dekat sana.
Pemilik warung itu tertawa melihat pasangan yang sedang dimabuk asmara tersebut.
"Waduh, pengantin baru ya? Mesra sekali!" seru si bapak pemilik warung sambil membawa sebuah piring kecil.
"Ini, karena masnya sudah senang sekali dan sudah bantu mempromosikan warung saya lewat foto-foto bagus di HP barunya, saya kasih bonus bakso urat besar dan gorengan krispi spesial buat kalian!"
"Wah, benaran, Pak? Terima kasih banyak!" jawab Abraham senang.
Prita tertawa melihat keberuntungan mereka sore itu.
"Tuh kan, Mas. HP baru langsung bawa rezeki bakso gratis!"
Mereka pun melanjutkan makan dengan penuh keceriaan.
Rasa bakso yang gurih terasa berkali-kali lipat lebih nikmat karena hati mereka yang kini sudah benar-benar tenang dan bahagia kembali.
Setelah puas menikmati bakso, mereka tidak langsung pulang ke mess. Abraham melajukan motornya menuju sebuah supermarket besar di Kota Malang.
Di sana, mereka berjalan santai menyusuri lorong-lorong rak yang dingin.
Prita terlihat sangat teliti memilih kebutuhan sehari-hari, namun matanya langsung berbinar saat melewati bagian makanan ringan.
Ia mengambil beberapa bungkus manisan mangga kesukaannya yang memiliki rasa asam manis segar.
"Buat camilan di mess ya, Mas," ucap Prita sambil memasukkannya ke keranjang belanjaan.
Abraham hanya mengangguk setuju sambil terus menggenggam tangan istrinya.
Setelah selesai belanja, mereka pun menempuh perjalanan pulang menuju mess. Sore telah berganti malam saat motor Abraham memasuki halaman.
Di teras mess, ternyata Deddy sedang duduk santai sambil merokok dan menikmati kopi bersama teman-teman yang lain.
Begitu Abraham turun dan tak sengaja mengeluarkan ponsel barunya dari saku untuk melihat jam, mata tajam Deddy langsung tertuju pada benda mengkilap tersebut.
"Waduh! Ponsel baru nih!" seru Deddy dengan suara lantang yang membuat semua orang menoleh.
"Gila, Bram! Kemarin pulang babak belur dari tower, sekarang bangun tidur sudah pegang HP gahar. Merk terbaru lagi!"
Abraham hanya bisa tersenyum simpul, agak malu karena digoda di depan umum.
"Ini hadiah dari Prita, Ded," jawab Abraham singkat sambil melirik istrinya dengan bangga.
"Walah, Mbak Prita memang istri idaman! Habis perang dunia semalam, langsung dikasih 'alat tempur' baru ya?" ledek Deddy yang disambut tawa oleh teknisi lainnya.
Prita hanya tersipu malu sambil menenteng belanjaan mereka.
Meskipun mereka batal pindah ke kontrakan hari ini, namun kehangatan di mess dan ponsel baru itu menjadi awal yang manis untuk hubungan mereka yang sempat terguncang.
Prita yang melihat suasana mess begitu ramai dan akrab, segera membuka bungkusan manisan mangga yang tadi dibelinya.
Ia meletakkannya di atas piring plastik dan membawanya ke teras untuk dibagikan kepada Deddy dan rekan-rekan teknisi lainnya.
"Ayo dimakan, Mas-Mas semua. Tadi habis jalan-jalan sebentar ke kota," tawar Prita ramah.
"Wah, asyik! Mbak Prita memang paling mengerti perut orang lapangan," sahut Deddy sambil mencomot satu potong manisan dengan semangat.
Tak lama kemudian, Pak Gio, sang pimpinan wilayah, keluar dari kantor mess yang terletak di samping teras.
Ia tampak tersenyum lebar melihat kebersamaan anak buahnya, terutama melihat Abraham yang sudah tampak lebih segar.
"Nah, pas sekali ada manisan mangga," ujar Pak Gio sambil bergabung.
Ia menatap Abraham dengan tatapan serius namun bangga.
"Bram, kejadian di Ampelgading kemarin benar-benar membuktikan dedikasi kamu. Kantor pusat sangat mengapresiasi. Karena itu, saya ingin mengangkat jabatan kamu menjadi Supervisor Operasional, semacam 'superhero' di kantor yang mengatur strategi lapangan. Kamu tidak perlu naik-naik tower lagi sesering dulu."
Mendengar tawaran kenaikan jabatan yang sangat menggiurkan itu, suasana teras mendadak hening.
Semua orang menantikan jawaban Abraham, termasuk Prita yang sempat berbinar matanya karena berpikir suaminya akan bekerja lebih aman.
Namun, Abraham justru terdiam sejenak lalu perlahan menggelengkan kepalanya.
"Terima kasih banyak atas kepercayaannya, Pak Gio. Tapi mohon maaf, saya rasa saya lebih cocok berada di lapangan. Jiwa saya ada di sana, menarik kabel dan memanjat tower," ucap Abraham dengan nada mantap namun rendah hati.
"Kalau boleh saya usul, biar Deddy saja yang tetap menjadi supervisor. Dia punya kemampuan komunikasi dan pengaturan yang jauh lebih baik daripada saya."
Deddy yang sedang mengunyah manisan mangga hampir tersedak.
Ia terbelalak tidak percaya bahwa Abraham justru memberikan kesempatan emas itu kepadanya.
"Bram? Kamu serius? Itu gaji dan tunjangannya lebih besar, lho," bisik Deddy tak percaya.
Abraham menepuk bahu sahabatnya itu sambil tersenyum tipis.
"Masalah rezeki sudah ada yang mengatur, Ded. Aku lebih suka berkeringat di lapangan. Lagipula, siapa lagi yang akan menjaga kamu kalau kamu kena masalah di atas tower nanti?"
Pak Gio hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tertawa kecil, kagum akan loyalitas dan kerendahan hati anak buahnya itu.
Prita, meski sempat terkejut, akhirnya tersenyum bangga. Ia menyadari bahwa suaminya adalah pria yang sangat memegang teguh jati dirinya.
"Besok kita adakan rapat resmi untuk pengangkatan ini. Deddy, kamu siapkan mental ya!" seru Pak Gio sambil tertawa, yang disambut sorakan meriah dari teknisi lainnya.
Deddy hanya bisa nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, masih merasa antara mimpi dan nyata.
Bram kemudian merangkul bahu Prita dengan lembut.
"Ayo Dik, kita masuk dulu. Sudah malam," ajaknya. Prita menurut, ia membawa sisa manisan mangga dan mengikuti langkah suaminya masuk ke dalam kamar mess mereka yang sederhana.
Begitu pintu tertutup, Prita tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.
Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap Abraham yang sedang melepas jaketnya.
"Mas yakin nggak mau naik jabatan itu?" tanya Prita pelan.
"Tadi Pak Gio bilang tunjangannya besar, dan Mas nggak perlu naik-naik tower tinggi lagi. Jujur, aku sedikit tenang kalau Mas kerjanya di kantor saja."
Abraham menghentikan gerakannya, lalu duduk di samping Prita.
Ia menganggukkan kepalanya dengan mantap tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya.
"Mas yakin sekali, Dik. Mas ini orang lapangan, bukan orang kantoran," jawab Abraham sambil tersenyum tipis.
"Mas itu nggak betah kalau harus duduk lama-lama pas ada rapat, mendengarkan presentasi, atau mengurus berkas di depan komputer. Rasanya badan Mas malah pegal semua."
Ia meraih tangan Prita dan menggenggamnya erat.
"Enak di lapangan, Dik. Mas bisa melihat pemandangan dari atas, menghirup udara luar, dan ada kepuasan tersendiri waktu melihat sinyal yang tadinya mati bisa hidup lagi karena tangan Mas sendiri. Mas lebih merasa 'hidup' di sana."
Prita menghela napas, namun ia bisa melihat binar kejujuran di mata suaminya.
Ia menyadari bahwa kebahagiaan Abraham bukan terletak pada jabatan atau kursi empuk, melainkan pada keahlian tangan dan pengabdiannya di lapangan.
"Ya sudah kalau itu mau Mas Ham. Prita akan selalu dukung, yang penting Mas bahagia dan tetap hati-hati kalau sedang kerja," ucap Prita tulus.
Abraham menarik Prita ke dalam pelukannya. Di tengah kesederhanaan mess itu, mereka merasa sangat kaya karena memiliki satu sama lain dan kejujuran yang menyatukan mereka.
Malam di mess telekomunikasi itu terasa jauh lebih tenang dibandingkan malam sebelumnya.
Setelah keriuhan di teras mereda, hanya terdengar suara jangkrik dan embusan angin malam yang menyelinap masuk melalui celah jendela kamar mereka.
Abraham baru saja mengunci pintu kamar. Ia menatap istrinya yang sedang merapikan mukena di atas meja kecil.
Rasa syukur memenuhi dadanya; fitnah telah berlalu, dan kejujuran telah menang.
"Dik..." panggil Abraham pelan. Suaranya berat dan serak, membawa nada yang berbeda dari biasanya.
Prita menoleh, "Mmmph..."
Belum sempat Prita menyahut, ia dikejutkan dengan ciuman suaminya yang tiba-tiba namun penuh kelembutan.
Abraham merengkuh pinggang istrinya, menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukan hangat yang posesif.
Ciuman itu terasa seperti ungkapan rindu yang tertahan sejak kepulangannya dari Ampelgading yang penuh drama.
Abraham melepaskan pagutan itu perlahan, keningnya bersandar di kening Prita.
Napas mereka menderu, beradu di udara yang mulai terasa panas.
"Ayo kita olahraga sebentar, Dik. Mas rindu sekali..." bisik Abraham tepat di telinga Prita, suaranya dalam dan penuh godaan.
Wajah Prita merona merah hingga ke telinga. Ia tahu betul apa yang dimaksud suaminya dengan istilah "olahraga" di jam segini.
Ia bisa merasakan detak jantung Abraham yang kencang, sama kencangnya dengan miliknya.
Prita menganggukkan kepalanya perlahan, tanda setuju yang malu-malu.
"Tapi pelan-pelan ya, Mas. Mas kan masih capek, tangannya juga masih luka," ucapnya lirih penuh perhatian.
"Mas sudah sembuh kalau di dekatmu," balas Abraham sambil tersenyum nakal.
Menyadari bahwa dinding mess sangatlah tipis dan teman-teman teknisi lainnya mungkin masih terjaga di luar atau di kamar sebelah, Prita meraih sebuah kain bersih di dekat bantalnya.
Dengan cekatan, ia melipat kain itu untuk menutup mulutnya sendiri, berjaga-jaga agar tidak terdengar suara desahannya yang bisa memicu ledekan Deddy dan kawan-kawan keesokan harinya.
Lampu kamar kemudian dipadamkan, menyisakan kegelapan yang menjadi saksi bisu kemesraan sepasang suami istri yang baru saja melewati badai kepercayaan itu.
Di balik dinding mess yang sederhana, mereka merajut kembali cinta yang sempat koyak oleh hasutan, membuktikan bahwa meski hanya tinggal di mess, kebahagiaan mereka tak bisa dibeli dengan jabatan maupun kemewahan.