Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~09
"Buk, bapak dapat kerjaan baru untuk menggarap sawah juragan Paijo." ucap ayahnya Marni malam itu ketika baru pulang.
"Apa itu benar pak? wah ibu senang sekali mendengarnya," sahut ibunya Marni karena itu berarti pemasukan keluarganya akan bertambah lagi.
Marni pun juga ikut senang, pantas saja bapaknya tidak kelihatan sejak selesai berbuka puasa rupanya sedang ada urusan diluar. "Juragan Paijo siapa pak?" ucapnya setelah melipat mukenahnya sembari menatap ayahnya yang nampak bahagia itu.
"Itu loh nduk juragan Paijo di kampung sebelah yang juragan pasir yang istrinya sepupunya nak Astuti," sahut sang ayah menjelaskan.
Marni nampak mengingat-ingat dan setelah ingat matanya langsung melebar, bukankah pria itu yang tak sengaja ia lihat di area kostnya dimana sedang bersama intan rekan kerjanya di karaoke? Ia masih sangat ingat wajahnya karena beberapa kali bertemu ketika pria itu datang ke rumah Astuti tetangganya, pantas saja wajahnya seperti tak asing waktu itu.
"Suaminya mbak Lastri?" ucapnya ingin memastikan, Lastri adalah sepupunya Astuti.
"Iya benar nduk, sekarang sejak jadi juragan pasir jadi kaya truknya saja ada dua belum lagi mobil pribadi." terang sang ayah dengan antusias.
Marni mengangguk kecil, kenapa semua jadi kebetulan seperti ini dan ia jadi mengetahui kelakuan buruk para tetangga kampungnya sejak menjadi pemandu karaoke.
"Lebih baik digarap setelah puasa saja pak biar bapak bisa fokus ibadah," Marni memberikan saran kasihan jika ayahnya harus bekerja keras sambil berpuasa.
"Tidak apa-apa nduk, bapak kuat kalau capek paling pulang." ayahnya Marni langsung menepuk punggung putrinya itu lantas berlalu masuk ke dalam kamarnya untuk menaruh pecinya.
Marni hanya bisa menghela napasnya, kapan ia bisa sukses agar ayahnya tak bekerja keras lagi terkadang saat melihat ayahnya bekerja dengan upah yang tak layak rasanya ia sedih sekali.
"Maafkan Marni pak, Marni belum bisa membahagiakan bapak." gumamnya ketika melihat ayahnya keluar dari kamarnya lantas berlalu ke dapur untuk menemui ibunya yang sedang berberes.
"Mbak Marni kapan belikan Mahesa ponsel?" Tiba-tiba Mahesa yang sedang belajar menghampiri kakaknya itu.
"Sabar ya dek, pokoknya kalau tahun ini Mahesa dapat juara pasti mbak belikan." ucap wanita itu menatap dengan gemas bocah montok tersebut.
"Janji ya mbak, Mahesa akan rajin belajar." sahut bocah itu seraya mengulurkan jari kelingkingnya.
Marni pun langsung menyambutnya. "Tapi Mahesa harus janji kalau nilainya turun gara-gara terlalu banyak bermain HP maka mbak Marni ambil lagi," ucapnya.
"Mahesa janji mbak," sahut bocah itu.
Marni pun terseyum senang, dari kedua adiknya Mahesa memang berbeda adik kecilnya itu lebih penurut dan juga lebih pintar di banding dengan Marwan yang serba membantah jika diberitahu, terkadang meskipun dalam satu kandungan sifat seseorang itu berbeda-beda tergantung cara didik kedua orang tuanya maupun lingkungan karena sejatinya bayi yang baru lahir itu ibarat kertas kosong dan keluarga maupun lingkungan yang akan mengisinya.
Mahesa memang lebih dekat dengannya daripada Marwan dan mungkin karena sering ia ajari rasa bersyukur maka bocah itu tumbuh dengan tak banyak tuntutan berbeda dengan Marwan yang selalu di manja oleh ibunya jadinya selalu membantah dan segala kemauannya minta di turuti.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar dan ibunya Marni yang baru keluar dari dapur segera membuka pintunya. "Eh nak Firman, ada apa nak? mari silakan masuk!" ucapnya ketika melihat Firman berdiri di depan pintunya.
Marni yang sedang duduk pun sedikit terkejut melihat kedatangan pria itu malam-malam begini, padahal seharusnya pria tersebut tadarus di mushola setelah solat taraweh selesai.
"Mar," Firman tersebut tipis menatap Marni yang nampak tegang saat melihatnya.
"Mari nak Firman duduk dulu, ngomong-ngomong ada apa tumben mampir kesini?" ucap ibunya Marni mempersilakan pria itu untuk duduk di kursi tuanya itu.
"Sebenarnya kedatangan Firman kesini ingin mengajak Marni untuk ikut membantu menyalurkan bantuan sembako kepada warga yang kurang mampu sekaligus mengawasi zakat nanti agar jatuh kepada orang-orang yang berhak." terang Firman menjelaskan maksud kedatangannya meskipun sebenarnya hanya alibinya saja untuk dekat dengan wanita itu yang selama ini selalu menghindarinya.
"Wah bagus itu nak Firman, kebetulan Marni selama libur juga tidak ada kegiatan hitung-hitung sambil cari pahala." sahut ibunya Marni menyetujuinya.
"Tapi buk ..."
"Sudah terima saja kasihan loh nak Firman sudah capek-capek datang kemari." potong sang ibu lagi hingga membuat Marni mau tak mau mengangguk setuju meskipun terpaksa, niat hati ingin menghindari pria itu malah harus bertemu setiap hari.
Kini Marni pun mengantarkan Firman keluar dari rumahnya itu pun juga atas desakan sang ibu.
"Terima kasih ya Marni sudah terima ajakan mas," ucap pria yang masih mengenakan sarung dan baju koko itu.
"Sama-sama mas, nanti kirim pesan saja jika waktunya ngumpul." sahut wanita itu sembari tersenyum tipis.
Firman pun membalas senyumannya. "Selalu tersenyum seperti itu Marni karena aku suka melihatnya." ucapnya hingga membuat wajah Marni langsung memerah lalu memalingkan wajahnya ke arah lain, sa ae lu Rojali.
"Baiklah mas pergi dulu sampai jumpa besok," imbuh pria itu lalu segera pergi meninggalkan rumah wanita itu.
Marni menatap kepergiannya dan tanpa sadar bibirnya kembali mengulas sebuah senyuman namun langsung menyurut ketika tiba-tiba seseorang mencibirnya.
"Menggatal saja terus lagipula jadi orang ya mbok tahu diri Marni-Marni, Firman itu orang terkaya di sini jadi mana mungkin mau bersanding dengan orang seperti mu lagipula nih ya ku dengar dia sudah di jodohkan dengan anak pondokan yang setara dengan keluarganya." ucap Astuti dengan gaya julidnya tersebut.
Tiba-tiba Joko keluar menyusul istrinya itu. "Sudahlah dek kenapa sih kamu selalu memojokkan Marni dia mau berhubungan dengan siapapun bukan urusan kita," ucap pria itu menegurnya.
"Tapi mas ..."
"Masuk!" tegas Joko menatap jengah istrinya itu.
Astuti pun langsung menghentakkan kakinya masuk ke dalam rumahnya karena merasa marah sekaligus malu ditegur suaminya di hadapan tetangganya itu.
"Maafkan istrinya mas ya Marni," ucap Joko yang kini kembali menatap wanita itu dari teras rumahnya.
"Ga apa-apa mas, kalau begitu aku masuk dulu." sahut Marni yang mencoba menghindari pria itu karena selain tak ingin ribut dengan istrinya juga tak ingin pria tersebut banyak tanya tentang pekerjaannya.
Kini Marni pun masuk ke dalam kamarnya. "Jadi mas Firman sudah memiliki calon istri ya." gumamnya sembari duduk ditepi ranjangnya, entah kenapa rasanya ia tidak rela meskipun ia sendiri tak bisa memberikan kepastian kepada pria itu.
"Sepertinya kita memang bukan jodoh mas," sahutnya lantas segera merebahkan badannya diatas kasur tipisnya karena esok hari ia harus bangun lebih awal untuk membantu ibunya memasak hidangan sahur.
Ngereog mulu 🤦...
aku juga orang kampung Lo bang qinan .aku anak ke 11 dari 18 bersaudara..tapi ga terlalu susah walaupun bapakku seorang petani . sekaligus pegawai pemerintah . karena walaupun petani tapi lahan punya sendiri
Penggemarmu gentayangan di mana -mana 😣...
sabar Marni fokus ibadah jangan dengarkan omongan seyton" di sekitar mu
Kasihan kamu Mar....Paijo Paijo OMes kamu