NovelToon NovelToon
Eksistensi Terlarang: Kenzi Sang Bodyguard

Eksistensi Terlarang: Kenzi Sang Bodyguard

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."

Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..

Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.

Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Seragam Baru, Misi Maut

# Bab 1: Seragam Baru, Misi Maut

Dunia ini, bagi Kenzi, hanyalah barisan algoritma yang menunggu untuk diretas dan denyut nadi yang menunggu untuk dihentikan. Itulah doktrin yang dipahat ke dalam otaknya selama sepuluh tahun terakhir di bawah tempaan organisasi.

Baginya, sebuah rumah semegah apa pun tidak lebih dari sekadar struktur beton dengan titik-titik buta yang bisa dieksploitasi. Tidak ada keindahan dalam arsitektur, yang ada hanyalah jarak tembak dan rute pelarian.

Kenzi berdiri tegak di depan gerbang raksasa kediaman Wijaya. Setelan jas hitam yang ia kenakan terasa kaku, namun pas membungkus tubuh atletisnya yang menyimpan kekuatan ledak.

Bau parfum maskulin yang samar—bagian dari penyamarannya—beradu dengan aroma aspal basah sisa hujan sore tadi di Jakarta.

Di balik saku jasnya, tersimpan identitas palsu: mantan anggota pasukan khusus dengan rekam jejak bersih tanpa noda. Sebuah ironi yang pahit, mengingat tangan yang kini terbungkus sarung tangan kain halus ini telah merenggut nyawa di tiga benua berbeda. Pekerjaan aslinya? Seorang predator tingkat tinggi yang dikirim untuk menghancurkan pemilik rumah ini dari dalam.

*“Nama?”* Suara berat dan statis dari interkom membuyarkan pengamatannya yang sedingin es.

"Kenzi. *Bodyguard* baru yang dikirim oleh agensi Garda Utama," jawabnya datar.

Suaranya tidak memiliki intonasi, seolah-olah pita suaranya terbuat dari logam yang ditempa. Dingin, tak tersentuh, dan mematikan.

Gerbang besi setinggi empat meter itu bergeser pelan dengan suara hidrolik yang halus—suara kemewahan yang bagi Kenzi terdengar seperti desah napas terakhir korban. Ia melangkah masuk, matanya bergerak secara mikro, memindai setiap sudut dengan kecepatan yang tidak dimiliki manusia biasa.

Dua kamera CCTV tipe *pan-tilt-zoom* di sudut utara—butuh tiga detik untuk berputar. Satu sensor inframerah tersembunyi di balik rimbunnya kelopak bunga *rhododendron* yang wangi namun beracun. Pintu masuk utama dijaga oleh dua pria dengan postur yang ceroboh. Kenzi memperhatikan tumpuan kaki mereka; terlalu lebar, pundak terlalu santai. Mereka tidak akan sempat menarik napas jika ada serangan mendadak yang mengincar tenggorokan.

Kenzi mencatat semua itu dalam *database* mentalnya. Bagi orang awam, kediaman Wijaya adalah benteng yang mustahil ditembus. Bagi Kenzi, tempat ini adalah peti mati mewah yang hanya menunggu untuk dipaku.

Di dalam ruang kerja yang didominasi aroma kayu cendana dan cerutu mahal, seorang pria paruh baya dengan guratan wibawa yang dipahat waktu menatap Kenzi. Dialah Tuan Wijaya, konglomerat properti yang menjadi target utama organisasinya.

"Duduklah," ujar Wijaya. Suaranya berat, penuh dengan tekanan kekuasaan. Ia meletakkan map berisi profil palsu Kenzi di atas meja mahoni yang mengkilap. "Rekam jejakmu impresif. Pasukan khusus, spesialisasi pengawalan VIP, dan mahir dalam deteksi ancaman dini. Aku butuh orang sepertimu bukan untuk menjaga bisnisku..."

Wijaya menjeda kalimatnya, melepas kacamata bacanya, lalu menatap Kenzi dengan mata yang mulai sayu namun penuh kekhawatiran. "...tapi untuk menjaga putriku, Alana."

Kenzi hanya mengangguk tipis. Tidak ada senyum palsu, tidak ada keramahan basa-basi. "Saya dibayar untuk memastikan keselamatannya, Tuan. Bukan untuk bersosialisasi."

Wijaya sedikit tertegun, namun kemudian tersenyum tipis. "Bagus. Aku suka pria yang tahu posisinya. Alana adalah segalanya bagiku. Musuh bisnisku semakin nekat belakangan ini. Mereka tidak akan menyerangku secara langsung, mereka akan menyerang titik lemahku. Dan titik lemahku adalah Alana."

*Titik lemah,* batin Kenzi sinis. Logika yang sangat presisi. Organisasiku juga berpikir hal yang sama, Tuan. Itulah alasan mengapa aku ada di sini.

"Ada satu hal lagi," lanjut Wijaya, wajahnya berubah menjadi topeng keseriusan yang kelam.

"Alana tidak suka dikawal. Dia akan mencoba segala cara untuk membuatmu tidak betah, atau mencoba melarikan diri. Jangan biarkan dia sedetik pun lepas dari pandanganmu. Paham?"

"Saya mengerti."

Misi dimulai detik itu juga. Kenzi diberikan akses penuh ke sistem keamanan. Ia menghabiskan satu jam pertama untuk mempelajari jadwal rutin targetnya. Alana Wijaya: Mahasiswi seni, hobi melukis dengan warna-warna provokatif, tidak suka keramaian, namun memiliki kecenderungan memberontak yang setajam pisau bedah.

Saat matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, menciptakan bayangan panjang yang menyeramkan di taman, sensor gerak di area Sektor 4 berkedip di tablet keamanan Kenzi.

*Gerbang pelayan. Sektor 4.*

Kenzi bergerak tanpa suara. Langkah kakinya seringan kucing hutan, hampir tidak menimbulkan bunyi di atas lantai marmer yang dingin. Ia tidak berlari, namun kecepatannya sangat efisien—sebuah tarian taktis di antara bayang-bayang.

Dalam hitungan detik, ia sudah berada di balik pohon cemara yang aromanya tajam menusuk hidung.

Di sana, seorang gadis dengan sweter *oversized* berwarna krem dan celana jins ketat sedang berusaha memanjat tumpukan tong kayu. Rambut hitam panjangnya dikuncir kuda, tampak sedikit berantakan. Keringat tipis terlihat di leher jenjangnya, memantulkan sisa cahaya matahari sore.

"Satu langkah lagi ke atas, dan Anda akan jatuh dengan posisi pergelangan kaki yang retak," suara Kenzi membelah kesunyian taman seperti sembilu.

Gadis itu terlonjak kaget. Napasnya terhenti seketika. Tumpuan kakinya goyah pada kayu yang mulai lapuk, dan seperti prediksi akurat Kenzi, ia tergelincir.

Dengan refleks yang tidak manusiawi, Kenzi sudah berada di bawahnya. Ia menangkap pinggang gadis itu dengan satu tangan yang kokoh, sementara tangan lainnya menahan punggungnya agar tidak menghantam tanah.

Hening sejenak. Waktu seolah membeku di antara mereka.

Aroma stroberi dan cat minyak tercium kuat dari tubuh gadis itu, bertabrakan dengan bau jas Kenzi yang dingin. Alana Wijaya mendongak, menatap pria yang baru saja menyelamatkannya. Mata Kenzi sehitam jelaga, tanpa emosi, dan sedingin kedalaman samudra.

"Lepaskan!" Alana meronta, jantungnya berdegup kencang—bukan karena romansa, tapi karena teritorialnya baru saja dilanggar. Ia mendorong dada Kenzi dengan kasar begitu kakinya menyentuh rumput.

Kenzi mundur satu langkah, menjaga jarak profesional yang kaku, namun tatapannya tetap terkunci pada manik mata Alana yang berkilat marah. "Saya Kenzi. *Bodyguard* baru Anda."

Alana mendengus, merapikan bajunya yang berantakan dengan gerakan gusar. Wajahnya yang cantik tampak memerah. "Bodyguard lagi? Ayah benar-benar tidak mengerti kata 'tidak'. Dengar, aku tidak butuh pengasuh berbaju jas yang mengikutiku seperti bayangan kematian. Pergi dan katakan pada Ayah kalau aku sudah memecatmu!"

"Hanya Tuan Wijaya yang bisa memecat saya," balas Kenzi datar. "Dan menurut protokol keamanan, upaya melarikan diri lewat gerbang belakang ini dikategorikan sebagai perilaku berisiko tinggi. Area ini tidak terjangkau CCTV utama. Secara taktis, Anda baru saja menyerahkan leher Anda pada penculik."

Alana menyipitkan mata, mendekat hingga jarak mereka hanya sejengkal. Ia bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari tubuh Kenzi. "Target penculikan? Kau pikir ini film aksi murahan? Ini hidupku! Aku hanya ingin keluar minum kopi tanpa harus diawasi oleh dua gorila di depan rumah!"

"Kopi bisa dipesan melalui layanan antar," jawab Kenzi tanpa perubahan ekspresi, matanya tetap sedatar garis kematian pada monitor rumah sakit. "Sekarang, silakan kembali ke dalam. Suhu udara mulai turun, dan itu tidak baik untuk sistem imun Anda."

Alana tertawa sinis, tawa yang penuh dengan kebencian. "Kau pikir kau bisa mengatorku? Kita lihat berapa lama kau bertahan, Robot. *Bodyguard* sebelumnya hanya bertahan tiga hari sebelum aku membuat mereka memohon untuk berhenti bekerja."

Kenzi menatap tepat ke dalam manik mata Alana. Di balik ketenangan wajahnya, otaknya sedang memproses rute pelarian yang baru saja coba digunakan Alana. Gerbang ini adalah celah keamanan yang sempurna untuk memasukkan senjata atau menyusupkan agen timnya nanti.

"Saya berbeda dari mereka, Nona Alana," ujar Kenzi pelan, suaranya kini terdengar seperti bisikan iblis yang menjanjikan kepastian. "Saya di sini bukan untuk membuat Anda senang. Saya di sini untuk memastikan Anda tetap hidup, terlepas dari apakah Anda menyukainya atau tidak."

Alana menghentakkan kakinya dengan kesal dan berjalan cepat menuju rumah, sengaja menabrak bahu Kenzi dengan keras saat lewat. Pria itu tidak bergeming sedikit pun, bagaikan pilar batu yang tertanam di bumi. Ia hanya memutar tubuhnya, mengikuti sosok Alana dengan pandangan tajam yang memburu.

Kenzi menyentuh *earpiece* kecil di telinganya yang tidak terlihat. "Target kembali ke dalam gedung. Area Sektor 4 aman secara fisik, namun memerlukan peningkatan sensor."

Ia terdiam sejenak, menatap dinding yang tadi dipanjat Alana. Tugasnya sederhana: mengamati, memetakan, dan pada saat yang tepat, menghancurkan keluarga ini dari akarnya. Namun, saat menatap punggung Alana yang menghilang di balik pintu kaca besar, ada sesuatu yang tidak biasa dalam ritme jantungnya sendiri.

Gadis itu bukan sekadar angka atau data. Dia adalah variabel yang tidak stabil. Variabel yang bisa merusak seluruh kalkulasi misinya.

*Misi tetaplah misi,* batin Kenzi kembali membeku.

Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah alat penyadap mikro berbentuk baut yang sudah ia persiapkan. Sambil berjalan kembali ke posnya, tangannya bergerak lihai—sebuah trik sulap maut—memasangkan baut itu pada salah satu panel listrik luar.

Baru satu jam ia berada di sini, dan Kenzi sudah mengantongi dua celah keamanan utama dan akses ke jalur komunikasi internal. Bagi organisasi, Kenzi adalah aset terbaik mereka. Bagi Alana, dia adalah penjara baru yang tidak memiliki pintu keluar.

Namun di balik seragam hitam yang kaku itu, Kenzi tahu, permainan ini baru saja dimulai. Dan dalam permainan ini, tidak ada ruang untuk kesalahan kecil sekalipun. Satu tarikan napas yang salah berarti kematian—entah itu kematian targetnya, atau kematian dirinya sendiri.

Kenzi kembali ke ruang monitor, duduk di depan barisan layar yang menampilkan setiap inci kediaman Wijaya. Ia menatap layar yang menampilkan kamar Alana. Gadis itu tampak sedang membanting tasnya ke tempat tidur dengan marah, bibirnya meracaukan kutukan yang tidak terdengar.

"Selamat malam, Nona Alana," bisik Kenzi pada layar yang bisu, sebuah seringai tipis yang mengerikan muncul di wajahnya untuk pertama kali. "Mari kita lihat, siapa di antara kita yang akan hancur lebih dulu."

Layar CCTV berkedip pelan, memantulkan bayangan wajah Kenzi yang tanpa ekspresi di atas wajah Alana. Di luar, langit malam Jakarta mulai menelan cahaya, menyisakan kegelapan yang pekat. Rahasia besar baru saja masuk ke dalam rumah itu, dan tidak ada satu orang pun yang menyadari bahwa maut kini sedang memakai setelan jas dan berdiri di balik pintu kamar mereka.

*Akankah Alana berhasil menemukan rahasia gelap di balik mata es Kenzi? Atau justru Kenzi yang akan terjebak dalam pesona variabel tak terduga bernama Alana sebelum misinya selesai?

Jangan lewatkan Bab selanjutnya

1
Founna
terimakasih😍
Dewa Naga 🐲🐉
awal yg menarik.....👍
Dewa Naga 🐲🐉
cerita yg menarik.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!