"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..
Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.
Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Seragam Baru, Misi Lama
Bab 1: Seragam Baru, Misi Lama
Dunia ini hanyalah barisan data dan kelemahan. Itulah prinsip yang tertanam di otak Kenzi selama sepuluh tahun terakhir. Baginya, sebuah rumah semegah apa pun tidak lebih dari sekadar struktur beton dengan titik-titik buta yang bisa dieksploitasi.
Kenzi berdiri tegak di depan gerbang raksasa kediaman Wijaya. Setelan jas hitam yang ia kenakan terasa kaku, namun pas membungkus tubuh atletisnya. Di balik saku jasnya, tersimpan identitas palsu sebagai mantan anggota pasukan khusus dengan rekam jejak bersih. Sebuah ironi besar, mengingat pekerjaan aslinya adalah seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi yang dikirim untuk menghancurkan pemilik rumah ini.
"Nama?" suara berat dari interkom membuyarkan pengamatannya.
"Kenzi. Bodyguard baru yang dikirim oleh agensi Garda Utama," jawabnya datar. Suaranya dingin, seolah-olah pita suaranya terbuat dari logam.
Gerbang besi setinggi empat meter itu bergeser pelan dengan suara hidrolik yang halus. Kenzi melangkah masuk, matanya bergerak secara mikro, memindai setiap sudut.
Dua kamera CCTV tipe pan-tilt-zoom di sudut utara. Satu sensor inframerah di balik semak rhododendron. Pintu masuk utama dijaga oleh dua orang dengan postur yang ceroboh—tumpuan kaki mereka terlalu lebar, mereka tidak akan sempat bereaksi jika ada serangan mendadak.
Kenzi mencatat semua itu dalam benaknya. Bagi orang awam, kediaman Wijaya adalah benteng yang mustahil ditembus. Bagi Kenzi, tempat ini adalah jebakan maut yang menunggu untuk dipicu.
Di dalam ruang kerja yang mewah, seorang pria paruh baya dengan guratan wibawa di wajahnya menatap Kenzi melalui kacamata baca. Dialah Tuan Wijaya, konglomerat properti yang menjadi target utama organisasi Kenzi.
"Duduklah," ujar Wijaya. Ia meletakkan map berisi profil palsu Kenzi. "Rekam jejakmu impresif. Pasukan khusus, spesialisasi pengawalan VIP, dan mahir dalam deteksi ancaman dini. Aku butuh orang sepertimu bukan untuk menjaga bisnisku, tapi untuk menjaga putriku, Alana."
Kenzi hanya mengangguk tipis. Tidak ada senyum, tidak ada keramahan. "Saya dibayar untuk memastikan keselamatannya, Tuan. Bukan untuk bersosialisasi."
Wijaya sedikit tertegun, namun kemudian tersenyum tipis. "Bagus. Aku suka sikapmu. Alana adalah segalanya bagiku. Musuh bisnisku semakin nekat belakangan ini. Mereka tidak akan menyerangku secara langsung, mereka akan menyerang titik lemahku. Dan titik lemahku adalah Alana."
Titik lemah, batin Kenzi. Logika yang tepat. Organisasiku juga berpikir demikian.
"Ada satu hal lagi," lanjut Wijaya, wajahnya berubah serius. "Alana tidak suka dikawal. Dia akan mencoba segala cara untuk membuatmu tidak betah, atau mencoba melarikan diri dari pengawasanmu. Jangan biarkan dia sedetik pun lepas dari pandanganmu."
"Saya mengerti."
Tugas dimulai saat itu juga. Kenzi diberikan akses penuh ke sistem keamanan rumah. Ia menghabiskan satu jam pertama untuk mempelajari jadwal rutin Alana. Mahasiswi seni, hobi melukis, tidak suka keramaian, namun memiliki kecenderungan memberontak yang tinggi terhadap ayahnya.
Saat matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, sensor gerak di area taman belakang berkedip di tablet keamanan Kenzi.
Sektor 4. Gerbang pelayan.
Kenzi bergerak tanpa suara. Langkah kakinya seringan kucing, hampir tidak menimbulkan bunyi di atas lantai marmer. Ia tidak berlari, namun kecepatannya sangat efisien. Dalam hitungan detik, ia sudah berada di balik bayang-bayang pohon cemara yang menghadap ke dinding belakang.
Di sana, seorang gadis dengan sweter oversized dan celana jins ketat sedang berusaha memanjat tumpukan tong kayu untuk mencapai tepi gerbang belakang. Rambut hitam panjangnya dikuncir kuda, tampak sedikit berantakan karena usaha fisiknya.
"Satu langkah lagi ke atas, dan Anda akan jatuh dengan posisi pergelangan kaki yang retak," suara Kenzi memecah keheningan.
Gadis itu terlonjak kaget. Tumpuan kakinya goyah, dan seperti prediksi Kenzi, ia tergelincir. Dengan refleks yang tidak manusiawi, Kenzi sudah berada di sana, menangkap pinggang gadis itu sebelum tubuhnya menghantam tanah.
Hening sejenak. Alana Wijaya menatap pria yang baru saja menangkapnya. Mata pria itu sehitam jelaga, tanpa emosi, dan sedingin es.
"Lepaskan!" Alana meronta, mendorong dada Kenzi dengan kasar begitu kakinya menyentuh tanah.
Kenzi mundur satu langkah, menjaga jarak profesional, namun tatapannya tetap terkunci pada targetnya. "Saya Kenzi. Bodyguard baru Anda."
Alana mendengus, merapikan bajunya yang berantakan. Wajahnya yang cantik tampak memerah karena marah. "Bodyguard lagi? Ayah benar-benar tidak mengerti kata 'tidak'. Dengar, aku tidak butuh pengasuh berbaju jas yang mengikutiku seperti bayangan. Pergi dan katakan pada Ayah kalau aku sudah memecatmu."
"Hanya Tuan Wijaya yang bisa memecat saya," balas Kenzi datar. "Dan menurut protokol keamanan, upaya melarikan diri lewat gerbang belakang ini dikategorikan sebagai perilaku berisiko tinggi. Area ini tidak terjangkau CCTV utama, target penculikan akan sangat mudah dieksekusi di sini."
Alana menyipitkan mata. Ia merasa seperti sedang berbicara dengan robot. "Target penculikan? Kau pikir ini film aksi? Ini hidupku! Aku hanya ingin keluar minum kopi tanpa harus diawasi oleh dua gorila di depan rumah."
"Kopi bisa dipesan melalui layanan antar," jawab Kenzi tanpa perubahan ekspresi. "Sekarang, silakan kembali ke dalam. Suhu udara mulai turun, dan itu tidak baik untuk kesehatan Anda."
Alana tertawa sinis, langkahnya mendekat hingga ia berada tepat di depan Kenzi. Ia jauh lebih pendek dari pria itu, namun keberaniannya meluap-luap. "Kau pikir kau bisa mengatorku? Kita lihat berapa lama kau bertahan. Bodyguard sebelumnya hanya bertahan tiga hari sebelum aku buat mereka memohon untuk berhenti."
Kenzi menatap tepat ke dalam manik mata Alana. Di balik ketenangan wajahnya, otaknya sedang memproses rute pelarian yang baru saja coba digunakan Alana. Gerbang ini adalah celah keamanan yang sempurna untuk memasukkan senjata atau menyusupkan agen timnya nanti.
"Saya berbeda dari mereka, Nona Alana," ujar Kenzi pelan, namun penuh penekanan. "Saya di sini bukan untuk membuat Anda senang. Saya di sini untuk memastikan Anda tetap hidup, terlepas dari apakah Anda menyukainya atau tidak."
Alana menghentakkan kakinya dengan kesal dan berjalan cepat menuju rumah, sengaja menabrak bahu Kenzi saat lewat. Pria itu tidak bergeming. Ia hanya memutar tubuhnya, mengikuti sosok Alana dengan pandangan tajam.
Kenzi menyentuh earpiece kecil di telinganya. "Target kembali ke dalam gedung. Area sektor 4 aman secara fisik, namun memerlukan peningkatan sensor."
Ia terdiam sejenak, menatap dinding yang tadi dipanjat Alana. Tugasnya sederhana: mengamati, memetakan, dan pada saat yang tepat, menghancurkan keluarga ini dari dalam. Namun, saat menatap punggung Alana yang menghilang di balik pintu kaca, ada sesuatu yang tidak biasa. Gadis itu bukan sekadar data. Dia adalah variabel yang hidup.
Misi tetaplah misi, batin Kenzi dingin.
Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah alat penyadap kecil berbentuk baut yang sudah ia persiapkan. Sambil berjalan kembali ke posnya, ia dengan lihai memasangkan baut itu pada salah satu panel listrik luar.
Baru satu jam ia berada di sini, dan Kenzi sudah mengantongi dua celah keamanan utama dan akses ke jalur komunikasi internal. Bagi organisasi, Kenzi adalah aset terbaik. Bagi Alana, dia adalah penjara baru.
Namun di balik seragam hitam yang kaku itu, Kenzi tahu, permainan ini baru saja dimulai. Dan dalam permainan ini, tidak ada ruang untuk kesalahan. Satu kesalahan berarti kematian—entah itu kematian targetnya, atau kematian dirinya sendiri.
Kenzi kembali ke ruang monitor, duduk di depan barisan layar yang menampilkan setiap sudut kediaman Wijaya. Ia menatap layar yang menampilkan kamar Alana. Gadis itu tampak sedang membanting tasnya ke tempat tidur dengan marah.
"Selamat malam, Nona Alana," bisik Kenzi pada layar yang bisu. "Mari kita lihat, siapa yang akan menyerah lebih dulu."
Layar CCTV berkedip pelan, memantulkan bayangan wajah Kenzi yang tanpa ekspresi. Di luar, langit malam Jakarta mulai menelan cahaya, menyisakan kegelapan yang sama pekatnya dengan rahasia yang dibawa pria itu ke dalam rumah ini.