NovelToon NovelToon
DUDA PEMILIK MALAMKU

DUDA PEMILIK MALAMKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / CEO / One Night Stand / Ibu Pengganti
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ditaa

"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 02: Deana Ailana Yashfa

"Dari mana saja kau Reno? putrimu sekarang sedang sakit dan kau susah dihubungi, Daddy macam apa kamu ini." ucap Tuan Samuel marah, ia heran memandang wajah putranya yang kusut bagai setrika, biasanya Reno selalu datang dengan wajah yang bahagia dan hangat.

Reno terkejut mendengarnya, bahkan asistennya tidak memberi tahu padanya.

"Apa? Maaf Dad, sekarang di mana Lena?" ucap Reno lalu berlari kecil menuju kamar putri kecilnya.

Brakk!

Reno membuka pintu kamarnya dengan kasar, ia menatap sendu putrinya yang sedang makan ditemani oleh Mommynya, Nyonya Ellen.

"Sayang, maaf, Daddy baru datang." Reno mendekati putrinya dan langsung memeluknya erat, mencium keningnya yang sudah terbalut penurun demam itu.

"Daddy lama pulang...." ucap Lena lalu memegang tangan Daddynya erat.

"Maafkan Daddy, gimana keadanmu sayang?" Reno meraba wajah Lena, sedikit terasa hangat.

"Sudah lebih baik dari semalam, Ren. Kamu dari mana saja? Daddy dan Mommy sudah menghubungimu berkali-kali, tapi tak ada satu pun panggilan yang diangkat olehmu, Jordi pun sama sepertimu." ucap Nyonya Ellen dengan nada yang kesal.

"Maaf Mom, ada urusan." jawab Reno berbohong, padahal malam tadi ia sedang melampiaskan kekesalannya pada seseorang yang sudah berani menyelundupkan beberapa anak perusahaan asing tanpa sepengetahuannya.

Nyonya Ellen mengangguk, "Iya Ren." ucapnya, ia tahu sikap putranya yang anteng dan lempeng itu, tidak ada kegiatan lain bagi putranya selain bekerja.

Reno memeluk erat tubuh Lena, "Sayang, maafkan Daddy ya?"

Vellena mengangguk, "Aku ingin Daddy di sini." pintanya. Reno langsung saja menganggukkan kepalanya dengan cepat.

"Habiskan sarapanmu lalu minum obat, Daddy ingin mandi dulu, tubuh Daddy sudah gatal." ucap Reno.

"Ya, Daddy." sahut Vellena lalu melepaskan pelukannya.

Reno pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.

Di bawah guyuran shower yang mengalir, duda tampan itu masih memikirkan wanita yang tadi malam sudah ia gagahi, "Siapa dia? akh!" Reno menjambak rambutnya kasar, kesal sekali.

Reno sudah berjanji tidak akan pernah mendekati wanita mana pun pada mendiang istrinya, ia juga berjanji tidak akan menikah lagi.

"Bagaimana kalau dia mengandung benihku?" gumam Reno uring-uringan sendiri. Ia sudah melakukannya berkali-kali tanpa menggunakan pengaman, ia mengeluarkan benih-benihnya di dalam, wanita itu bagai candu untuknya.

Reno meraup wajahnya kasar, "Kenapa kau bisa lancang seperti itu Reno!"

Reno menyudahkan acara mandinya, ia masuk ke dalam walk in closet untuk mengenakan pakaiannya.

Reno duduk di atas sofa kamarnya yang menyorot langsung pemandangan gedung-gedung tinggi itu.

Reno kembali termenung, "She is vir-gin." gumamnya kembali merasa bersalah, mengingat bercak darah di atas seprai kasur setelah bermain bersama gadis itu. Ia juga bingung karena gadis itu tiba-tiba berada di dalam kamarnya dan satu selimut dengannya. Ia harus menanyakan kejanggalan ini pada Jordi, asisten serbagunanya.

Tidak mau membuat putrinya marah, Reno kembali menuju kamar putrinya untuk menemani putrinya.

***

"Hiks, hiks, hiks, dia siapa... berani sekali... bagaimana kalau Ibu tahu?" Deana memandangi tubuhnya, ia sangat benci sekali, sekarang ia merasa sudah menjadi wanita murahan, ia benci tubuhnya.

Deana tidak mengambil kartu ATM itu, ia meninggalkannya di dalam kamar, membiarkan bagian pekerja pembersih kamar untuk mengembalikannya pada laki-laki itu.

"Deana, kamu kenapa?" tanya Irgi, salah satu teman kerjanya.

"Irgi...." Deana menutup mulutnya rapat-rapat, ia takut Irgi mendengarnya, "Ti-tidak."

"Kamu kenapa menangis? ayo pulang! ini sudah waktunya kita pulang." ajak Irgi memandang Deana. Biasanya Deana jika waktunya pulang, ia akan semangat, namun kali ini berbeda dari biasanya.

"Duluan saja, aku harus menemui Mbak Tresha." sahut Deana.

"Untuk apa?" tanya Irgi heran. Ia juga cukup penasaran.

"Karena semalam aku tertidur di VIP room, aku ingin meminta maaf, atau mungkin aku... aku membuat kerugian, aku ingin bertanggung jawab." jawab Deana.

Irgi mengangguk sambil tersenyum, Deana memang perempuan yang baik, "Baiklah-baiklah, aku pulang dulu ya? kamu hati-hati di sini, bye Dea!"

Deana mengangguk, "Iya Irgi, bye."

Deana berjalan....

"Awsh! ini sakit sekali...." Deana melihat ke arah kakinya.

Deana mencoba berjalan pelan-pelan, ia tidak ingin dilihat oleh orang-orang karena jalannya yang berbeda. Deana mengintip Irgi yang ternyata sudah pulang. Deana bernapas lega.

"Ya Allah, aku tidak mau Ibu tahu, aku takut...." lirih Deana kembali mengeluarkan air matanya.

Sampai di parkiran, Deana langsung memakai helmnya, ia menjalankan motor bututnya menuju rumahnya.

Sesampainya di rumah, Deana kembali mengeluarkan air matanya ketika melihat Ibunya sedang menyapu latar rumahnya.

"Ibu...." sapa Deana lalu memeluk tubuh Ibunya.

"Hey Deana, kenapa menangis?" tanya Ibu Hesti heran. Ibu Hesti buru-buru menaruh sapunya dan membawa Deana masuk ke dalam.

Deana mengusap air matanya, "Nggak apa-apa Bu, Deana cuman lagi kangen sama Ayah saja." balas Deana tersenyum tipis.

Ah ya Ayah! kalau Ayahnya lihat kelakuannya tadi malam, sudah pasti murka. Deana meremat kedua tangannya, "Maafkan aku Ayah." ucapnya dalam hati. Semoga Ayahnya mau memaafkannya.

Ibu Hesti ikut menangis lirih, "Do'akan Ayah agar tenang di sana. Ibu pikir ada apa... sudah sana makan dulu, Ibu sudah siapkan sarapanmu di meja makan. Tadi pagi Ibu bertemu dengan Arya, katanya mau jalan-jalan sama kamu, cepatlah bersiap, kasihan Nak Arya kalau menunggu lama."

Deg... deg... deg....

Deana termenung, apa Arya mau menerimanya dengan keadaan sudah tak suci lagi seperti ini?

Arya adalah kekasihnya, sudah genap dua tahun menjalin hubungan. Arya, laki-laki yang baik yang selalu mau menemaninya kapan saja. Ibu Hesti juga sudah merestui hubungannya dan sangat menunggu Arya menikahi putrinya, tapi Arya beralasan masih fokus bekerja, Deana pun setuju dengan itu, karena ia juga masih belum ada niatan menikah di usianya yang masih 20 tahun itu.

"Dea...." panggil Ibu Hesti.

Deana tergelak, "Ah ya Bu, Dea sampai melupakan itu. Deana ke kamar dulu." pamit Deana lalu berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya.

Ibu Hesti menggeleng pelan, "Tidak biasanya Deana seperti ini... ada apa dengan dia." gumam Ibu Hesti bertanya-tanya.

Suaminya sudah lama meninggalkannya, ia dan anak-anaknya sudah tegar menerimanya, dan sekarang Deana tiba-tiba menangis dan berkata merindukan almarhum Ayahnya. Memang wajar rindu, tapi baru kali ini Ibu Hesti mendengar putrinya mengadu padanya.

Arya sudah siap, ia sudah menjemput Deana di depan rumahnya.

"Assalamu'alaikum Bu, Deana ada?" ucap Arya mencium punggung tangan Ibu Hesti.

"Wa'alaikumsalam Nak Arya, masuk saja, Dea masih di kamar, dia baru saja pulang, Dea pulang telat hari ini, Nak Arya ingin minum apa? Ibu buatkan."

"Nggak usah Bu, jangan, Ibu duduk saja." ujar Arya menggeleng.

"Kamu itu tamu, sudah diam di sini, Ibu buatkan kopi." sahut Ibu Hesti lalu meninggalkan Arya seorang diri di ruang tamu itu.

Arya tersenyum tipis, ia sudah akrab dengan keluarga Deana, ia selalu semangat bekerja ketika mengingat ada seorang wanita cantik yang ingin dihalalkannya.

1
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!