mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18:Rumah yang Bernyanyi Selamanya
Jakarta, bulan Juni. Matahari bersinar cerah, tapi tidak terlalu terik. Angin sepoi-sepoi membawa wangi bunga dari halaman rumah Menteng yang semakin rindang.
Pagi itu, rumah besar itu bangun dengan suara riuh rendah. Bukan suara tangis atau pertengkaran, tapi suara tawa dan langkah-langkah kecil.
"Rara! Jangan lari-lari! Nanti jatuh!"
Suara Kalara terdengar dari dapur. Ia sedang menyiapkan sarapan, sambil mengawasi putrinya yang berlarian di ruang keluarga.
Rara—nama lengkapnya Rarasati Asmara—kini berusia empat tahun. Rambut ikalnya terikat dua, pipinya tembem, matanya bulat dan cerah. Ia mewarisi senyum Kalara dan kecerdasan Arsya. Ia adalah pusat dari rumah ini.
"Aku mau lihat Om!" teriak Rara, berlari menuju tangga.
"Om masih mandi, Sayang. Tunggu sebentar."
Tapi Rara tidak peduli. Ia sudah menaiki tangga dengan lincah, memanggil-manggil, "Om! Om Arsya! Bangun!"
Arsya baru selesai mandi, membuka pintu dengan handuk di leher. Begitu melihat Rara, ia langsung menggendongnya.
"Rara! Pagi-pagi udah teriak-teriak?"
"Aku kangen Om!"
"Baru semalam ketemu, udah kangen?"
"Iya. Kangen terus."
Arsya tertawa. Ia mencium pipi gembul Rara. "Om juga kangen Rara. Sekarang turun, yuk. Sarapan dulu."
Mereka turun bersama. Di ruang makan, Nadia sudah duduk dengan secangkir kopi. Ia tersenyum melihat suami dan keponakannya.
"Pagi, Sayang. Pagi, Rara."
"Pagi, Tante Nad!"
Nadia mengelus rambut Rara. "Cantik banget pagi-pagi. Udah gosok gigi?"
"Udah! Tadi Mama yang gosokin."
"Pinter."
Raka keluar dari kamar dengan setelan rapi, siap berangkat ke kafe. Ia mencium Kalara, lalu mengelus kepala Rara.
"Ayah pergi dulu, ya, Sayang. Jaga Mama."
"Iya, Ayah. Rara jaga Mama."
"Janji?"
"Janji!"
Semua tertawa. Rara memang selalu serius kalau disuruh jaga Mama.
Sarapan berlangsung meriah. Rara berceloteh tentang mimpinya semalam—ia mimpi bertemu nenek dan kakek yang ada di foto.
"Mereka tersenyum sama Rara," katanya polos. "Nenek pakai kebaya, Kakek pakai baju putih."
Suasana hening sejenak. Kalara dan Arsya bertukar pandang.
"Nenek dan Kakek pasti sayang Rara," kata Kalara lembut.
"Iya. Mereka bilang, Rara boleh main di sini terus."
"Di sini maksudnya?"
"Di rumah ini. Kata mereka, ini rumah Rara."
Arsya tersenyum. "Iya, ini rumah Rara. Rumah kita semua."
Rara mengangguk puas, lalu melanjutkan makannya.
Nadia meraih tangan Arsya di bawah meja. "Dia istimewa," bisiknya.
"Iya. Dia anugerah."
Setelah sarapan, Raka berangkat ke kafe. Kalara sibuk dengan proyek desainnya di ruang kerja lantai bawah. Rara "membantu" dengan krayon dan kertas di sampingnya.
Arsya dan Nadia duduk di beranda belakang, menikmati kopi kedua. Pemandangan halaman belakang kini semakin indah. Pohon beringin tetap kokoh, tapi di sekelilingnya tumbuh berbagai bunga—melati, mawar, lavender. Taman kecil yang dirawat dengan cinta.
"Ars," panggil Nadia.
"Hm?"
"Aku dapat kabar baik."
"Apa?"
Nadia mengeluarkan sesuatu dari sakunya—sebuah test pack dengan dua garis merah.
Arsya terkesiap. "Apa ini?"
"Aku hamil."
Dunia Arsya berhenti sejenak. Lalu ia memeluk Nadia erat-erat.
"Benaran? Kita punya baby?"
"Iya. Dua bulan."
Arsya menangis. Ia tidak malu. Ini tangis bahagia.
"Nad... ini luar biasa."
"Aku tahu. Aku juga nggak nyangka."
Mereka berpelukan lama. Di halaman belakang, bunga-bunga bermekaran seolah ikut merayakan.
Kabar itu menyebar cepat. Kalara berjingkrak-jingkrak (sekarang lebih hati-hati karena pengalaman). Raka pulang lebih awal dengan kue dan bunga. Rara bingung tapi ikut senang karena semua orang tersenyum.
"Tante Nad punya baby di perut?" tanyanya polos.
"Iya, Sayang. Kamu bakal punya adek."
"Adik? Kayak Om?"
"Bukan. Adik bayi. Nanti kalau lahir, kamu bisa main sama dia."
Rara berpikir keras. "Boleh Rara kasih nama?"
Nadia tertawa. "Boleh. Mau kasih nama apa?"
Rara mengerutkan kening, lalu dengan yakin berkata, "Melati."
Semua terdiam. Lalu tertawa.
"Melati?" tanya Arsya.
"Iya. Wangi. Kayak bunga di halaman. Nenek suka melati, kata Mama."
Kalara terharu. Ia memeluk Rara. "Iya, Nenek suka melati. Nama bagus, Nak."
Nadia mengusap perutnya. "Kalau perempuan, kita kasih nama Melati. Setuju?"
Arsya mengangguk. "Setuju. Tapi kalau laki-laki?"
Rara langsung menjawab, "Asmara!"
Mereka tertawa lagi. Asmara, nama kakeknya. Nama yang dulu penuh kontroversi, kini akan dihidupkan kembali oleh generasi baru.
"Kamu ini," kata Kalara sambil menggeleng. "Nama-nama berat semua."
"Rara suka nama berat!"
"Ya udah, nanti kita pikirkan."
Malam itu, mereka merayakan dengan makan malam istimewa. Raka memasak (ia jago memasak, beda dengan Kalara). Nadia hanya duduk dan beristirahat, sesuai instruksi Arsya yang protektif.
"Lo jangan capek-capek," kata Arsya. "Biar aku yang ngurus."
"Nggak apa-apa. Aku kuat."
"Tapi aku mau jagain kamu. Janji sama diri sendiri."
Nadia tersenyum. "Baiklah, Bos."
Minggu-minggu berikutnya, rumah Menteng semakin ramai.
Persiapan kelahiran bayi baru dimulai. Kamar di sebelah kamar Nadia disulap jadi kamar bayi. Kalara, dengan keahlian desainnya, mendekorasi ruangan itu dengan tema alam—warna hijau dan krem, hiasan daun-daunan, dan tentu saja, gambar bunga melati di dinding.
Rara "membantu" dengan memilihkan boneka-boneka untuk adiknya. Ia mengumpulkan semua boneka favoritnya dan menaruhnya di kamar bayi.
"Ini untuk adik," katanya. "Biar nggak takut tidur."
"Adik beruntung punya kakak kayak kamu," puji Nadia.
"Iya. Rara kakak terbaik!"
Semua tertawa. Rara memang tidak pernah rendah diri.
Mama Kalara dan Ayah Arsya sering berkunjung. Mereka kini akrab, sering main catur bersama sambil ditemani Rara yang "mengajari" mereka.
"Nenek, itu salah. Kuda jalannya L, bukan lurus."
"Iya, iya. Nenek lupa."
"Kakek, benteng jangan dimajuin. Nanti dimakan."
"Iya, Sayang. Kakek hati-hati."
Rara menjadi pusat perhatian semua orang. Dan ia menikmatinya.
Bulan berganti. Kandungan Nadia semakin besar.
Suatu sore, saat mereka duduk di beranda belakang, Arsya tiba-tiba berkata, "Nad, aku mau ngomong sesuatu."
"Apa, Sayang?"
"Aku mau renovasi rumah ini lagi."
Nadia terkejut. "Renovasi? Lagi? Untuk apa?"
"Buat kamar anak-anak. Dan buat..." ia ragu. "Buat ruang keluarga yang lebih besar. Karena keluarga kita makin besar."
Nadia tersenyum. "Kamu serius?"
"Iya. Dan aku juga mau bikin taman kecil di belakang, khusus buat Rara dan adiknya main."
"Itu ide bagus."
"Tapi aku minta pendapat kamu. Kamu kan arsitek juga."
"Wah, jadi kita kolaborasi?"
"Iya. Proyek keluarga."
Mereka berjabat tangan, lalu tertawa. Rencana-rencana indah untuk masa depan.
November tiba. Bulan yang selalu istimewa.
Tanggal 15 November, seperti biasa, mereka berziarah ke makam Rarasati dan Asmara. Kali ini Rara ikut.
"Ini makam Nenek dan Kakek?" tanyanya polos.
"Iya, Sayang. Mereka di sini."
Rara meletakkan bunga melati di atas pusara. Ia belajar dari Mama.
"Nenek, Kakek, ini Rara. Rara bawa bunga. Wangi, kan?"
Angin sepoi-sepoi bertiup, membawa wangi melati ke mana-mana.
"Kata Mama, Nenek suka melati. Kakek juga suka. Makanya Rara bawa."
Arsya dan Kalara tersenyum. Air mata mereka jatuh, tapi ini tangis haru.
"Nenek, Kakek," bisik Kalara. "Kami baik-baik saja. Rara sehat, lucu, pintar. Adiknya Nadia juga sebentar lagi lahir. Doakan kami."
Arsya menambahkan, "Ibu, Ayah, terima kasih sudah menjaga kami dari sana. Kami bahagia."
Mereka berdoa bersama. Rara ikut memejamkan mata, meskipun tidak tahu persis apa yang didoakan.
Setelah ziarah, mereka makan siang di rumah Menteng. Suasana hangat penuh tawa.
Dua minggu kemudian, Nadia melahirkan.
Seorang bayi perempuan mungil, sehat, dengan rambut tipis dan mata bulat. Lahir tanggal 1 Desember, pukul 3 pagi.
Arsya menemani di ruang bersalin, memegang tangannya erat. Begitu bayinya lahir, ia menangis.
"Mas Ar... s, ini anak kita," bisik Nadia lelah.
Arsya mencium keningnya. "Makasih, Sayang. Makasih banyak."
Bayi itu diletakkan di dada Nadia. Mungil, merah, menangis kuat.
Rara yang menunggu di luar bersama Kalara langsung berjingkrak begitu pintu terbuka.
"Adik! Adik! Rara mau lihat adik!"
Kalara menggendongnya, mendekat ke tempat tidur Nadia.
"Ini adikmu," kata Nadia lembut.
Rara menatap bayi itu dengan mata berbinar. "Cantik!" serunya. "Kayak boneka!"
Semua tertawa. Kalara menangis haru.
"Nama?" tanya Rara. "Kasih nama Melati, kan?"
Arsya dan Nadia bertukar pandang.
"Kita kasih nama Melati Rarasati," kata Arsya. "Melati, untuk bunga kesukaan Nenek. Rarasati, untuk neneknya."
Kalara terisak. "Nama yang indah."
Rara mengulang, "Melati Rarasati. Melati. Adek Melati."
Bayi itu membuka mata sebentar, lalu tidur lagi. Seperti setuju.
Hari-hari berikutnya, rumah Menteng semakin ramai.
Dua bayi—Rara dan Melati—menjadi pusat perhatian. Rara membantu menjaga adiknya, menyanyikan lagu, membacakan cerita dari buku bergambar.
"Adik, ini kucing. Meong-meong."
Melati hanya menggerakkan tangan kecilnya, tapi Rara puas.
Kalara dan Raka sibuk dengan pekerjaan masing-masing, tapi selalu ada waktu untuk keluarga. Arsya dan Nadia bergantian mengurus Melati, dibantu Mama Kalara dan Ayah Arsya yang sering main.
Pak Willem sesekali mampir, membawa oleh-oleh untuk "cucu-cucunya". Ia sudah seperti kakek sendiri.
"Rumah ini hidup banget sekarang," katanya suatu hari. "Dulu sepi, angker. Sekarang rame, hangat."
"Karena cinta, Pak," jawab Kalara. "Cinta yang bikin rumah jadi hidup."
Pak Willem tersenyum. "Kalian contoh keluarga yang baik."
Suatu malam, setelah anak-anak tidur, Arsya dan Kalara duduk di beranda belakang.
Sendiri. Nadia dan Raka juga sudah istirahat. Hanya mereka berdua, seperti dulu saat pertama kali memulai pencarian.
"Kak," panggil Kalara.
"Hm?"
"Lo ingat dulu? Waktu pertama kita ketemu di rumah ini?"
Arsya tersenyum. "Ingat. Lo dateng telat, ada laba-laba di pagar."
"Terus lo jutek banget."
"Lo juga rese."
Mereka tertawa.
"Sekarang semuanya berubah," kata Kalara. "Lo nggak jutek lagi."
"Lo juga nggak rese lagi."
"Ah, gue masih rese."
"Iya, sih. Tapi rese yang manis."
Kalara memukul lengan Arsya pelan. "Kak, lo romantis banget malam ini."
"Mungkin karena pengaruh bintang."
Mereka menatap langit. Bintang-bintang bertaburan, bulan sabit tersenyum di antara awan.
"Kak, lo nggak nyangka kita bisa sampai di sini?"
"Nggak. Dulu aku kira hidupku akan sepi terus. Apartemen, kerja, tidur, ulang. Tapi sekarang..."
"Sekarang?"
"Sekarang aku punya keluarga. Punya kamu, punya Nadia, punya Rara, punya Melati. Rumah ini. Hidup yang hangat."
Kalara mengangguk. "Gue juga. Dulu gue takut sama komitmen, takut ditinggal. Sekarang gue punya suami, anak, kakak, ipar. Gila, ya."
"Gila. Tapi indah."
Mereka diam, menikmati malam.
"Kak," panggil Kalara lagi.
"Apa?"
"Makasih."
"Untuk apa?"
"Untuk jadi kakak. Untuk nggak pergi. Untuk selalu ada."
Arsya meraih tangannya. "Makasih juga, Dik. Untuk jadi adik. Untuk ngajarin aku hidup."
Mereka berpelukan. Dua saudara yang dulu terpisah oleh rahasia kelam, kini bersatu dalam cinta.
Di dalam rumah, di kamar Rara, anak kecil itu tidur nyenyak dengan boneka kelincinya. Di kamar sebelah, Melati tidur di ayunan, dijaga Nadia yang tertidur di sampingnya.
Di kamar lain, Raka memeluk Kalara dalam tidur.
Rumah Menteng sunyi, tapi tidak sepi. Ada kehangatan di setiap sudutnya. Ada cinta di setiap ruangnya.
Rumah ini bernyanyi.
Bernyanyi dengan suara napas bayi.
Bernyanyi dengan suara detak jantung.
Bernyanyi dengan suara cinta.
Selamanya.
Pagi hari, satu tahun kemudian.
Ulang tahun Rara yang kelima dirayakan meriah di halaman belakang. Tenda putih dipasang, balon-balon warna-warni, dan tentu saja, kue ulang tahun dengan hiasan putri duyung—tema favorit Rara.
Tamu-tamu berdatangan. Mama Kalara dengan kue buatannya. Ayah Arsya dengan hadiah boneka besar. Pak Willem dengan buku cerita bergambar. Teman-teman Rara dari sekolah dan tetangga sekitar.
Rara berlarian dengan gaun pinknya, tertawa riang. Melati, yang kini sudah setahun, digendong Nadia, matanya bundar melihat keramaian.
"Tiup lilin, tiup lilin!" teriak anak-anak.
Rara berdiri di depan kue, lima lilin menyala. Ia memejamkan mata, berpikir keras.
"Maunya apa?" tanya Kalara.
Rara membuka mata, tersenyum lebar. "Rara mau keluarga Rara bahagia terus. Selamanya."
Ia meniup lilin. Tepuk tangan pecah.
Arsya memeluk Nadia. Kalara memeluk Raka. Mereka semua tersenyum.
Di sudut halaman, di bawah pohon beringin, dua bingkai foto terpasang—Rarasati dan Asmara, tersenyum bahagia. Seperti ikut merayakan.
Angin sepoi-sepoi bertiup, membawa wangi melati dari taman. Seperti bisikan lembut dari mereka yang telah pergi, tapi tetap hadir dalam cinta.
"Kami bangga padamu, anak-anakku."
Malam harinya, setelah semua tamu pulang, keluarga kecil itu berkumpul di ruang keluarga.
Rara sudah tidur kelelahan. Melati juga pulas di gendongan Nadia. Mereka berempat duduk dengan teh hangat, menikmati keheningan yang damai.
"Kak," kata Kalara.
"Hm?"
"Lo tahu nggak, judul novel yang dulu lo bilang mau tulis?"
Arsya mengernyit. "Novel?"
"Iya. Waktu pertama kita mulai cari kebenaran. Lo bilang, suatu hari lo akan tulis novel tentang ini. Tentang kita."
Arsya tersenyum. "Aku ingat."
"Udah lo tulis?"
"Belum. Tapi aku punya judulnya."
"Apa?"
Arsya menatap Kalara, lalu Nadia, lalu Raka. Kemudian matanya beralih ke foto orang tuanya di dinding.
"Duka Baru Luka Lama."
Kalara tersenyum. "Cocok."
"Tapi itu cerita kita. Sekarang, kita punya cerita baru."
"Cerita apa?"
"Cerita tentang rumah yang bernyanyi. Tentang keluarga yang sembuh. Tentang cinta yang menang."
Nadia meraih tangannya. "Itu judul yang indah."
Raka mengangguk. "Lo harus tulis, Kak. Biar anak cucu kita baca."
Arsya mengangguk. "Aku akan tulis. Suatu hari."
Malam semakin larut. Satu per satu mereka masuk ke kamar. Arsya dan Nadia terakhir, memastikan semua pintu terkunci, lampu dimatikan.
Di balkon, Arsya berhenti sejenak. Menatap langit malam yang cerah.
"Ibu, Ayah," bisiknya. "Kami bahagia. Terima kasih sudah menjaga kami."
Angin bertiup, membawa wangi melati.
Arsya tersenyum. Ia masuk ke kamar, memeluk Nadia dan Melati yang tidur di sampingnya.
Rumah Menteng sunyi.
Tapi tidak sepi.
Karena rumah ini bernyanyi.
Bernyanyi dengan suara cinta.
Selamanya.