NovelToon NovelToon
The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi
Popularitas:444
Nilai: 5
Nama Author: Lallunna

Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.

Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.

Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.



Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Tembok yang Tak Terlihat

​Kekalahan di ruang rapat tempo hari meninggalkan luka yang bernanah di harga diri Bima. Baginya, melihat rekan-rekannya sendiri berbalik membela Senara adalah pengkhianatan level tertinggi. Jika ia tidak bisa menjatuhkan Senara lewat debat sains, maka ia akan menjatuhkannya lewat sistem yang lebih dingin dan tak berbelas kasihan.

​Sore itu, di ruang belajar pribadinya, Bima duduk di depan layar komputer. Wajahnya keras, tanpa ekspresi. Di tangannya terdapat draf laporan formal yang ditujukan kepada Komite Evaluasi Beasiswa Daerah.

​"Subjek: Evaluasi Kelayakan Penerima Beasiswa Berkelanjutan - Senara Zafira Atmaja," gumam Bima sambil mengetik dengan ritme yang stabil.

​"Karakteristik kepemimpinan yang buruk, ketidakmampuan mengelola logistik, dan perilaku yang cenderung konfrontatif dalam proyek gabungan," gumam Bima, membacakan poin-poin yang ia tulis. "Itu sudah cukup untuk mencabut predikat 'Siswa Teladan' miliknya."

​Bima tahu bahwa beasiswa Senara juga bergantung pada catatan perilaku dan kepemimpinan. Dengan posisinya sebagai Wakil Koordinator Regional dari sekolah elit, satu laporan tertulis darinya mengenai ketidakstabilan emosional dan kegagalan manajerial Senara dalam proyek gabungan, sudah cukup untuk memicu audit beasiswa. Sekali audit berjalan, Bima bisa menggunakan koneksi ayahnya untuk memastikan hasilnya tidak menguntungkan bagi Senara.

​Beasiswa itu adalah satu-satunya jembatan yang membuat Senara bisa bersekolah. Tanpa itu, Senara harus kembali ke dunianya yang kumuh dan menghilang dari radar prestasi regional. Dengan hanya menekan satu tombol, Bima merasa ia sedang memegang kendali atas takdir seseorang.

​Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Saat ia menekan tombol enter, sebuah kotak dialog merah muncul di layarnya.

​[!] ERROR: ACCESS DENIED [!]

“Tujuan pengiriman tidak ditemukan atau alamat email Anda telah diblokir oleh administrator jaringan pusat.”

​Bima mengerutkan kening. Ia mencoba lagi. Gagal. Ia mencoba mengirim draf tersebut ke alamat pribadi ayahnya untuk diteruskan ke dinas pendidikan, namun email itu tiba-tiba terhapus dari folder draf, bahkan sebelum sempat ia kirim. Komputernya mendadak freeze selama beberapa detik, lalu melakukan restart otomatis.

​"Ada apa dengan jaringannya?" desis Bima frustrasi.

​Bima tidak menyerah. Keesokan harinya, ia datang langsung ke kantor administrasi SMP Super Internasional. Sebagai anak dari donatur utama, ia punya akses ke ruang arsip dan administrasi.

​"Pak, saya ingin meninjau ulang berkas rekomendasi beasiswa untuk peserta proyek gabungan dari SMP 12, namanya Senara Zafira Atmaja" ujar Bima kepada staf administrasi.

​Staf itu, seorang pria paruh baya yang biasanya sangat patuh pada Bima, kini tampak bingung saat memeriksa komputernya. "Aneh sekali, Mas Bima. Berkas atas nama Senara tidak bisa saya buka. Ada enkripsi tingkat tinggi yang mengunci data tersebut, bahkan saya tidak punya otoritas untuk mengubah apapun."

​"Maksud Bapak apa?" tanya Bima, suaranya meninggi. "Bapak kan admin sekolah ini."

​"Iya, tapi sistem beasiswa ini sepertinya sudah diproteksi langsung oleh pihak luar. Saya baru saja mendapat notifikasi bahwa berkas Senara masuk dalam kategori pengawasan khusus."

​Bima terdiam, jantungnya berdegup kencang karena rasa penasaran yang bercampur dengan amarah. "Siapa yang melindunginya? Tidak mungkin SMP 12 punya kekuatan untuk mengunci sistem enkripsi sekolah elit seperti ini," batin Bima.

​Keesokan harinya di SMP 12, Senara masuk ke sekolah dengan wajah yang lebih segar. ​Senara duduk di bangkunya, membuka buku catatan. Ia tampak sangat sibuk mencatat rumus fisika untuk persiapan kompetisi minggu depan.

​Saat ia sedang membereskan buku-bukunya, Bima tiba-tiba muncul di ambang pintu kelasnya. Kehadirannya yang mencolok, dengan seragam mahal dan aura sombongnya, membuat siswa lain berbisik. Kenapa "Tuan Muda Wijaya" masuk ke sekolah pinggiran.

​Bima berjalan mendekati meja Senara. Ia menatap gadis itu dengan tatapan menyelidik, mencoba mencari tanda-tanda kecurangan atau keterlibatan dalam apa yang terjadi pada sistem komputernya.

​"Senara," panggil Bima.

​Senara mendongak, menatap Bima penuh kebingungan. "Bima, sedang apa kamu di sekolahku? Apa yang membuat anak dari sekolah elit, datang ke sekolah pinggiran yang hampir rubuh ini? Lagi pula, kita juga tidak ada jadwal rapat hari ini, kan?"

​Bima menarik kursi di depan Senara dan duduk. Ia memajukan tubuhnya, menatap Senara tepat di mata. "Siapa orang kuat di belakangmu?"

​Senara mengerutkan kening, "Orang kuat? Maksudmu Pak Darmono? Atau Ibu Maria?"

​"Jangan pura-pura bodoh, Senara" desis Bima. "Aku mencoba mengirim laporan evaluasi tentangmu ke komite beasiswa, tapi sistemnya menolak. Bahkan staf administrasi sekolahku tidak bisa menyentuh berkasmu. Ada seseorang yang mengunci datamu dengan teknologi yang tidak masuk akal. Katakan padaku, siapa yang kamu hubungi? Siapa orang yang sudah membantumu?"

​Senara terdiam sejenak, ia meletakkan pulpennya dan menatap tepat ke mata Bima. "Bima, aku bahkan tidak punya komputer di rumah. Ponselku saja sering kehabisan kuota kalau tidak pakai Wi-Fi sekolah atau balai desa. Bagaimana mungkin aku tahu soal sistem enkripsi atau orang kuat yang kamu maksud?"

​"Kamu pasti bohong," tuduh Bima, namun ia tidak menemukan jejak kebohongan di mata Senara. Gadis itu hanya terlihat seperti korban yang bingung.

​"Kalau memang laporannya tidak bisa terkirim, mungkin itu karena laporannya tidak jujur," ucap Senara pelan. "Mungkin sistemnya tahu kalau kamu hanya ingin menjatuhkanku secara pribadi, bukan secara profesional. Bukannya kamu sendiri yang bilang, kalau teknologi sekarang itu sangat pintar? Dan juga... aku tidak menyangka kamu bisa bertindak sejauh ini, dan berusaha menghilangkan beasiswaku."

​"Teknologi tidak punya nurani, Senara!" bentak Bima pelan. "Sudah jelas ada orang yang sengaja melakukan semua ini. Seseorang yang memiliki kemampuan jauh di atas rata-rata, dan orang itu melindungimu. Kenapa? Kenapa, Senara? Kenapa dia mau melindungimu?"

​Senara menggeleng. "Aku tidak tahu, Bima. Dan sejujurnya, aku tidak peduli. Selama aku bisa tetap sekolah dan belajar, itu sudah cukup bagiku. Kalau memang ada orang yang melindungiku, mungkin mereka hanya ingin memastikan bahwa keadilan tetap ada."

​Bima mencengkeram pinggiran meja. Ia merasa seperti sedang menabrak tembok yang tak terlihat. Ia memiliki uang, ia memiliki koneksi, tapi ia baru saja menyadari bahwa ada kekuatan lain yang sedang bermain di sekeliling Senara. Kekuatan yang tidak bisa ia beli, dan tidak bisa ia hancurkan dengan nama besar keluarganya.

​Ketegangan itu berlanjut hingga hari-hari berikutnya. Bima menjadi sangat paranoid. Setiap kali ia berada di dekat Senara, ia merasa seolah-olah ada mata yang mengawasinya. Ia mulai menyewa jasa konsultan IT untuk memeriksa keamanan perangkat pribadinya, namun hasilnya nihil. Tidak ada penyadapan, tidak ada virus, semuanya bersih.

​Namun, setiap kali Bima mencoba melakukan tindakan administratif yang merugikan Senara, mulai dari mencoba memindahkan lokasi riset secara sepihak, hingga mencoba memotong anggaran transportasi tim SMP 12, selalu saja ada kendala teknis yang menghalanginya. Email yang gagal terkirim, dokumen yang mendadak hilang, atau panggilan telepon yang tiba-tiba terputus saat ia ingin bicara dengan pihak dinas pendidikan.

Di sisi lain, Senara tetap menjalankan tugasnya sebagai ketua dengan penuh dedikasi. Ia memimpin rapat dengan adil, ia turun ke lapangan dengan semangat, dan ia tetap bersikap ramah namun tegas pada semua anggota, termasuk Bima. Sikap polos Senara inilah yang justru membuat Bima semakin gila.

​"Dia benar-benar tidak tahu apa-apa, atau dia aktor paling hebat yang pernah kutemui," gumam Bima suatu malam, menatap tumpukan berkas di mejanya.

​Dion, yang berdiri di samping Bima, tampak gelisah. "Bim, mungkin sebaiknya kita fokus saja pada kompetisi nasional. Kalau kita terus mengurusi masalah beasiswa Senara, bisa jadi portofolio kita sendiri yang akan hancur berantakan. Pak Darmono sudah mulai curiga padamu, karena terlalu sering ke ruang admin."

​Bima tidak menjawab. Obsesinya pada Senara kini bukan lagi sekedar soal peringkat satu. Ia merasa ada sebuah teka-teki besar yang sedang menantangnya. Ada sosok bayangan di belakang Senara yang seolah-olah sedang menertawakannya dari kegelapan.

​Di sisi lain kota, Senara pulang ke rumahnya yang sederhana. Ia melihat ibunya sedang menjahit dengan telaten. Senara duduk di lantai, menyandarkan kepalanya di lutut ibunya.

​"Nara, tumben hari ini kamu terlihat lesu? Lelah mengerjakan soal di sekolah?" tanya ibunya lembut.

​"Hanya sedang banyak pikiran, Bu," jawab Senara pelan. "Nara merasa... ada banyak hal yang tidak Nara pahami di sekolah. Tapi Nara janji akan terus berjuang supaya beasiswa Nara tetap aman."

​Senara memejamkan matanya. Ia tidak tahu mengapa Bima begitu yakin ada orang yang melindunginya. Namun di dalam hati kecilnya, ia merasa bersyukur. Siapa pun atau apa pun itu, ia merasa tidak lagi sendirian melawan raksasa seperti Bima.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!