NovelToon NovelToon
Satu Notifikasi Seribu Luka

Satu Notifikasi Seribu Luka

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.

Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.

Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Kebahagiaan yang baru saja kupupuk seolah terhenti saat aku melangkah masuk ke rumah sore itu. Di ruang tamu, suasana mendadak dingin. Mama duduk mematung di sofa, sementara Kak Pandu berdiri di depan jendela dengan rahang yang mengeras.

Di atas meja kopi, terletak sebuah buket bunga Lily putih—bunga kesukaan Mama yang dulu selalu dibawa Ayah setiap kali ia pulang membawa janji manis. Di selipan bunga itu, ada sebuah amplop cokelat tebal.

"Dia datang tadi, Ra," suara Kak Pandu rendah, penuh penekanan yang tertahan 

"Ayah?" tanyaku, suaraku mendadak hilang. Genggamanku pada tali tas ransel—tempat bunga Daisy dari Arkan bergantung—mengencang.

Mama mengangguk lemah, matanya sembab. "Dia menaruh ini. Katanya, ini tabungan untuk kuliah kamu. Dia ingin menebus waktu yang hilang, katanya."

Aku mendekat, namun bukannya merasa senang, dadaku justru terasa sesak. Aku membuka amplop itu; isinya tumpukan uang dan sebuah surat permohonan maaf yang panjang. Seketika, memori tujuh tahun lalu berputar hebat. Bayangan koper-koper besar di bagasi mobil, tangisan Mama yang memohon di depan pagar, dan punggung Ayah yang menjauh tanpa menoleh sedikit pun 

"Tebusan?" aku tertawa getir, air mata mulai menggenang. "Dia pikir tujuh tahun luka bisa dibayar pakai kertas-kertas ini?"

Ting!

Ponselku bergetar. Pesan dari Arkan.

Arkan P: Ra, gue baru liat sketsa gedung baru. Gue kepikiran kalau nanti kantor gue harus ada jendela gede biar lo bisa liat bintang. Lo lagi apa?

Aku menatap layar itu, lalu menatap buket Lily di depan mata. Kontras yang menyakitkan. Arkan sedang membangun masa depan, sementara Ayah kembali menarikku ke reruntuhan masa lalu. Ketakutanku kembali muncul: Bagaimana jika Arkan juga berakhir seperti ini? Bagaimana jika semua laki-laki punya cara yang sama untuk pergi setelah memberi harapan?

"Ra, jangan dibaca kalau itu bikin lo sakit," Kak Pandu mencoba meraih amplop itu, tapi aku menjauhkannya.

"Gue mau dia ambil lagi ini, Kak. Gue nggak butuh uangnya. Gue butuh dia nggak pernah ada di hidup kita lagi," desisku tajam.

Malam itu, tembok yang sudah susah payah diruntuhkan Arkan selama berbulan-bulan, seolah kembali terbangun dalam semalam. Aku mematikan ponsel, mengunci pintu kamar, dan meringkuk di pojok ruangan. Bunga Daisy rajutan itu kulepaskan dari tas dan kutaruh di laci paling dalam.

Aku kembali ke titik nol. Titik di mana aku percaya bahwa bahagia memang hanya jebakan untuk luka yang lebih besar 

Gelap menyelimuti kamarku, namun kegelapan di dalam kepalaku jauh lebih pekat. Suara tawa Arkan di GOR tempo hari mendadak terdengar seperti gema yang mengejek dari kejauhan. Aku menatap laci tempat bunga Daisy itu tergeletak; simbol "awal baru" itu kini terasa seperti kebohongan yang manis 

Tiba-tiba, terdengar ketukan pelan di pintu kamar. Bukan Kak Pandu yang biasanya menggedor, bukan pula Mama. Ketukannya berirama, sabar, dan memiliki jeda yang khas.

"Ra? Gue tahu lo di dalem," suara Arkan terdengar lirih dari balik pintu. "Pandu yang buka pintu depan. Dia bilang lo lagi nggak mau ketemu siapa pun, termasuk asuransi lo sendiri."

Aku tidak menjawab. Air mataku jatuh tanpa suara, membasahi lutut yang kupeluk erat.

"Gue nggak akan masuk kalau lo nggak izinin. Tapi gue bakal duduk di sini, di depan pintu lo," lanjutnya. Aku mendengar bunyi gesekan kain dengan kayu pintu—Arkan benar-benar duduk di lantai koridor, hanya terhalang selembar pintu dariku. "Gue bawa susu cokelat. Masih dingin, tapi kalau lo kelamaan, mungkin bakal sehangat suasana hati gue sekarang yang lagi bingung."

Keheningan menyelimuti kami selama beberapa menit. Di luar, suara hujan mulai turun rintik-rintik, persis seperti suasana malam saat dia pertama kali meminjamkan jaketnya 

"Ra, lo tahu nggak kenapa arsitek butuh pondasi yang dalem banget?" suara Arkan kembali terdengar, kali ini lebih berat. "Bukan cuma buat nahan beban bangunan di atasnya, tapi supaya kalau ada gempa, bangunannya nggak langsung runtuh ke bawah tanah. Ayah lo mungkin gempa yang ngerusak segalanya dulu. Tapi Nara... lo bukan bangunan yang rusak. Lo itu tanahnya. Tanah yang kuat banget."

Aku perlahan merangkak mendekati pintu, menyandarkan punggungku di sisi yang berlawanan dengan tempat Arkan duduk.

"Gue takut, Kan," bisikku akhirnya. "Gue takut lo cuma bagian dari siklus yang sama. Datang, bikin gue percaya, terus pergi bawa semua harapan gue."

"Maka dari itu gue minta lo liat ban kapten di tangan lo," balas Arkan cepat. "Itu bukan cuma kain. Itu janji kalau gue bakal tetep di lapangan, berjuang bareng lo, sampai peluit akhir bunyi. Gue bukan bokap lo, Nara. Gue Arkan. Cowok yang rela begadang ngerajut bunga cuma buat liat lo senyum lima detik."

Tanganku perlahan memutar kunci pintu. Saat pintu terbuka sedikit, cahaya lampu koridor masuk menyilaukan mataku. Di sana, Arkan mendongak dengan wajah yang tampak sangat khawatir, memegang sekotak susu cokelat dan sebuah penghapus berbentuk bintang.

"Jangan ditaruh di laci lagi ya, Daisy-nya?" ucapnya lembut, menunjuk ke arah laci tempatku menyembunyikan hadiahnya tadi. "Bunga itu butuh cahaya, sama kayak lo."

Aku menatapnya, dan untuk pertama kalinya malam itu, sesak di dadaku sedikit melonggar. Ayah mungkin meninggalkan luka, tapi Arkan sedang menawarkan obatnya—bukan dengan uang dalam amplop cokelat, tapi dengan kehadirannya di depan pintu kamarku saat aku merasa paling hancur 

1
Sutrisno Sutrisno
puitis banget, jadi makin penasaran
Sutrisno Sutrisno
semangat
Sutrisno Sutrisno
semangat Arkhan, semoga berhasil
falea sezi
lanjut donk g sabar liat arkan nikah ma nara
falea sezi
arkan aja goblok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!