"Satu kesempatan lagi... dan kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh apa yang menjadi milikku."
Yuuichi Shiro tahu persis bagaimana bau kematian. Sebagai korban eksperimen ilegal yang selamat hanya untuk melihat dunia hancur oleh virus Chimera, ia mati dengan penyesalan di ujung pedangnya. Namun, takdir berkata lain. Yuuichi terbangun enam hari sebelum hari kiamat dimulai—di ruang kelas yang tenang, dengan guru kesehatan yang cantik dan teman-teman yang seharusnya sudah mati di depan matanya.
Dengan bantuan Apocalypse Ascension System dan kesadaran Miu yang sarkastik, Yuuichi memulai langkahnya. Bukan untuk menjadi pahlawan bagi dunia yang sudah busuk, melainkan untuk membangun singgasananya sendiri di atas puing-puing peradaban.
Di tengah erangan mayat hidup dan pengkhianatan manusia, Yuuichi berdiri dengan elemen es di tangan dan barisan wanita luar biasa di belakangnya. Kiamat bukan lagi sebuah akhir, melainkan taman bermain bagi sang Regressor untuk membalas dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Yang Terucap {1}
Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah-celah shoji yang robek, menciptakan garis-garis emas yang menari di atas lantai kayu Dojo yang berdebu. Suara gemericik air dari pancuran bambu di halaman belakang menjadi satu-satunya melodi yang memecah keheningan setelah malam yang penuh dengan pengkhianatan dan ledakan.
Yuuichi terbangun di atas tatami ruang utama. Ia tidak benar-benar tidur; instingnya sebagai subjek eksperimen membuatnya tetap berada dalam kondisi setengah sadar sepanjang malam. Ia melirik ke samping, melihat Sakura dan Chika yang tertidur lelap karena kelelahan emosional yang luar biasa. Sakura meringkuk dengan tangan masih memegang erat ujung jubah latihan ayahnya, sementara Chika tidur dengan posisi duduk bersandar pada dinding, tas medisnya tidak pernah lepas dari dekapannya.
Yuuichi berdiri tanpa suara. Sendi-sendinya berderit pelan, namun ia merasa jauh lebih kuat.
"Selamat pagi, Kakak. Kau melewatkan fase tidur REM sebesar 40%, tapi regenerasi selmu berkat poin vitalitas kemarin menutup celah itu. Apa kau ingin menu sarapan yang kaya protein atau sekadar latihan fisik untuk menghilangkan penat?"
"Siapkan analisis menu yang ada di dapur, Miu. Kita butuh tenaga untuk mulai memperkuat pertahanan tempat ini," jawab Yuuichi dalam hati.
Ia berjalan menuju dapur bawah tanah yang baru saja mereka temukan semalam. Di sana, Rina Suzuki sudah bangun lebih dulu. Gadis jenius itu masih mengenakan jas laboratoriumnya yang kini nampak kusam, matanya tertuju pada barisan monitor yang masih menyala redup.
"Kau tidak tidur, Rina?" tanya Yuuichi sambil mengambil sebotol air mineral dari kulkas darurat.
"Tidur adalah pemborosan waktu saat kau baru saja menemukan bahwa seluruh hidupmu mungkin adalah bagian dari simulasi terkontrol," jawab Rina tanpa menoleh. Jemarinya menari di atas papan ketik. "Aku berhasil meretas sebagian kecil protokol komunikasi yang tertinggal di radio itu sebelum kau menghancurkannya. Ayah Sakura... dia bukan sekadar pengamat. Dia adalah Kepala Keamanan Sektor 4. Dia yang memfasilitasi 'pelarian' kita dari sekolah."
Yuuichi terdiam sejenak, meneguk airnya hingga tandas. "Artinya, rute yang kita ambil kemarin sudah diprediksi."
"Tepat. Kecuali satu variabel," Rina menoleh, menatap Yuuichi dengan tatapan tajam di balik kacamatanya. "Kemampuan esmu. Itu tidak ada dalam data awal mereka. Kau bermutasi di luar ekspektasi mereka, Yuuichi. Kau adalah anomali yang membuat mereka ketakutan sekaligus penasaran."
"Pemberitahuan: Rina Suzuki mulai memandangmu sebagai objek penelitian yang menarik... dan mungkin sesuatu yang lebih. Tingkat kepercayaan meningkat."
"Biarkan mereka penasaran," ucap Yuuichi dingin. "Sekarang, aku butuh kau membantu Chika dan Sakura. Mereka punya potensi, tapi mereka masih berpikir seperti warga sipil. Aku akan menggunakan sistem untuk membagikan sebagian atributku kepada mereka melalui 'Ikatan Kontrak'."
Yuuichi melangkah kembali ke ruang atas. Ia menemukan Sakura sudah terbangun. Gadis itu sedang berdiri di tengah halaman Dojo, menatap pedang kayu ayahnya yang tergeletak di lantai. Matanya tidak lagi menangis, melainkan memancarkan kekosongan yang berbahaya.
"Sakura," panggil Yuuichi.
Sakura menoleh perlahan. "Yuuichi-kun... jika semua ini adalah kebohongan, lalu untuk apa aku berlatih kendo selama ini? Untuk menjadi alat yang mengawasimu?"
Yuuichi berjalan mendekat hingga ia berdiri tepat di depan Sakura. Ia mengambil bokken dari tangan Sakura dan melemparkannya ke samping.
"Latihanmu dulu mungkin untuk alasan yang salah. Tapi mulai hari ini, kau berlatih untuk dirimu sendiri. Untuk melindungiku, untuk melindungi Chika, dan untuk membalas mereka," Yuuichi memegang pundak Sakura, meremasnya dengan lembut namun mantap. "Aku bisa memberimu kekuatan yang tidak pernah dibayangkan ayahmu. Apa kau bersedia?"
Sakura menatap mata merah Yuuichi. Di sana, ia tidak melihat manipulasi, hanya perlindungan yang tulus. "Apapun... lakukan apapun padaku agar aku bisa menjadi lebih kuat, Yuuichi-kun."
[ AKTIVASI FITUR: KONTRAK PELINDUNG ]
[ SUBJEK: SAKURA HOSHINO ]
[ BIAYA: 50 POIN ENERGI ]
Yuuichi menyentuh dahi Sakura dengan jarinya yang bercahaya biru redup. Seketika, Sakura merasakan gelombang panas menjalar ke seluruh sarafnya. Otot-ototnya yang tadinya kaku karena stres mendadak terasa ringan dan bertenaga.
[ TRANSFER ATRIBUT BERHASIL ]
[ SAKURA HOSHINO: AGI +5, STR +3 ]
[ KETERAMPILAN BARU: TEKNIK PEDANG ALIRAN ES (TINGKAT DASAR) ]
"Ugh..." Sakura terengah, ia menatap tangannya yang kini mengeluarkan uap dingin tipis. "Apa ini? Aku merasa... aku bisa melihat gerakan angin."
"Itu adalah awal," ucap Yuuichi.
Di ambang pintu rumah, Chika berdiri dengan wajah yang masih sembab namun nampak lebih tenang. Ia melihat interaksi itu dan merasakan sedikit rasa cemburu, namun ia tahu posisinya.
"Shiro-kun... bagaimana denganku? Aku tidak bisa bertarung seperti Sakura," tanya Chika pelan.
Yuuichi menatap Chika, lalu berjalan menghampirinya. Ia tahu bahwa kekuatan Chika bukan pada pedang, melainkan pada kemampuannya untuk menjaga kewarasan kelompok ini.
"Kau adalah jantung kami, Sensei. Kekuatanmu akan fokus pada penyembuhan dan perlindungan," Yuuichi menyentuh tangan Chika, melakukan proses yang sama.
[ SUBJEK: CHIKA KUDOU ]
[ TRANSFER ATRIBUT: REC +10, INT +5 ]
[ KETERAMPILAN BARU: AURA PENYEMBUHAN KRISTAL ]
"Ini... terasa sangat hangat," bisik Chika, wajahnya merona saat merasakan energi Yuuichi mengalir di dalam tubuhnya.
"Cemburu Terdeteksi: Sakura Hoshino melihat momen ini dengan tatapan yang sedikit tajam. Kakak, manajemen haremmu harus dimulai dari sekarang jika kau tidak ingin dojo ini membeku karena alasan yang salah."
Yuuichi mengabaikan komentar Miu. Ia menatap ke arah gerbang luar. "Latihan dimulai sekarang. Kita punya waktu tiga jam sebelum aku harus keluar mencari persediaan tambahan dan memeriksa area sekitar."
Namun, baru saja Yuuichi hendak memberikan instruksi pertama, radar sistem di kepalanya berbunyi dengan nada peringatan yang keras.
"Peringatan! Tanda kehidupan terdeteksi di luar gerbang utama. Kondisi: Lemah, dikejar oleh tiga zombie tipe pelari. Kakak, kau mengenali tanda ini. Ini adalah Akari dari kelas sebelah."
Yuuichi segera berlari menuju gerbang, katananya sudah siap di tangan. "Tetap di posisi masing-masing! Sakura, jaga pintu masuk utama!"
Dengan satu sentakan, Yuuichi membuka gerbang kayu Dojo. Di sana, seorang gadis dengan rambut kuncir kuda yang berantakan dan seragam sekolah yang robek sedang berlari dengan napas yang hampir habis. Di belakangnya, tiga zombie pelari hanya berjarak beberapa meter, siap menerkam punggungnya.
"Yuuichi... Tolong!" teriak Akari dengan suara parau sebelum jatuh tersungkur tepat di depan kaki Yuuichi.
Yuuichi melompat melewati tubuh Akari, bilah katananya berkilat di bawah sinar matahari pagi.