Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lensa Kaca & Detak Jantung
Lokasi: Lantai Beton Peron 3, Stasiun Manggarai.
Waktu: 13.20 WIB (Sesaat Setelah Penyelamatan).
Cerita ini disisispkan tepat setelah KRL melesat lewat dan Dimas berhasil menarik gadis itu ke lantai peron, namun sebelum mereka bangkit untuk berhadapan dengan petugas stasiun.
Roda-roda baja lokomotif KRL itu berdecit nyaring, mengerem mendadak puluhan meter di depan sana. Angin kencang sisa gerbong yang melintas masih menerbangkan rintik hujan ke wajah Dimas yang terbaring telentang di lantai peron.
Dada Dimas naik-turun dengan kasar. Tulang rusuknya yang sempat retak di Trowulan (dan terbentur lagi di SCBD) terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Tangan kirinya masih mencengkeram kerah seragam gadis itu dengan gemetar.
Gadis berseragam putih-abu itu terbaring menumpu pada dada Dimas. Ia masih shock. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit stasiun yang berkarat. Perlahan, kesadarannya kembali. Sensasi dingin nya lantai beton dan kasarnya kain jaket Dimas menampar logika gadis itu kembali ke dunia nyata.
“Aku… aku tadi mau ngapain…” bisik gadis itu gemetar, bibirnya pucat pasi. Lalu tangisnya pecah sejadi-jadinya. “Bunda… aku mau pulang… aku takut…”
Sarah langsung menjatuhkan dirinya berlutut di lantai yang becek. Ia menarik siswi itu dari dada Dimas ke dalam pelukannya.
“Kamu aman sekarang, Dek. Semuanya udah lewat,” bisik Sarah menenangkan. Ia mengusap rambut gadis itu yang basah dan kusut. “Napas sama Kakak. Ikutin suara Kakak. Tarik… buang… perlahan…”
Di saat Sarah berusaha menjadi jangkar kewarasan bagi gadis itu, kerumunan di peron mulai bereaksi.
Bukannya menolong atau bertanya keadaan, puluhan orang justru merangsek maju membentuk lingkaran di sekitar mereka. Terdengar suara klik dan bunyi rana kamera beruntun. Kilatan lampu flash dari puluhan kamera smartphone menyilaukan mata.
“Wah, gila, ada yang mau bunuh diri…”
“Masuk Lambe Turah nih, live woy, live!”
“Itu cowoknya yang nyelametin? Gila, action banget.”
Bisik-bisik dan gumaman kerumunan itu terdengar seperti dengungan lalat bangkai di telinga Dimas. Melalui sisa Mata Batinnya, Dimas bisa melihat bercak-bercak asap abu-abu menguar dari kerumunan itu.
Ponsel-ponsel pintar itu bagaikan mata-mata kecil bagi Sang Pemakan.
Sarah, yang masih memeluk siswi yang gemetar ketakutan itu, merasakan kemarahan yang luar biasa mendidih di ubun-ubunnya. Siswi ini baru saja selamat dari percobaan bunuh diri karena gangguan iblis, dan masyarakat justru menjadikannya tontonan sirkus.
Sarah perlahan menoleh ke arah kerumunan. Sorot matanya sangat tajam, penuh amarah murni seorang wanita pelindung.
“Masukin HP kalian,” desis Sarah, suaranya rendah tapi memotong riuh stasiun.
Kerumunan itu tidak peduli. Beberapa pemuda malah memajukan ponselnya.
Sarah berdiri perlahan, memposisikan tubuhnya menutupi siswi itu. Ia merogoh saku jaketnya, menarik lencana emas BPCBAN-nya, lalu membentak dengan suara lantang yang menggelegar ke seluruh peron.
“SAYA BILANG MASUKIN HP KALIAN SEKARANG! ATAU SAYA SITA SEMUANYA DENGAN PASAL PELANGGARAN PRIVASI KORBAN!”
Aura intimidasi Sarah begitu kuat hingga beberapa orang refleks menurunkan ponsel mereka. Keberanian mereka ciut di hadapan otoritas absolut yang terpancar dari wajah Sarah.
Dua petugas Polisi Khusus Kereta (Polsuska) akhirnya berhasil membelah kerumunan, berlari mendekat sambil meniup peluit.
“Ada apa ini?! Minggir, minggir!” Teriak petugas berbadan tegap itu. Ia melihat Dimas yang sedang dibantu duduk oleh Sarah, lalu menatap siswi yang menangis. “Mbaknya tadi mau lompat? Wah, ini tindak pidana membahayakan perjalanan kereta api!”
Sarah langsung mencegat pandangan petugas itu, menempelkan lencananya ke dada sang petugas.
“Badan Perlindungan Cagar Budaya dan Aset Negara. Divisi khusus,” potong Sarah dengan nada birokratis yang dingin, mencegah siswi itu diinterogasi seperti kriminal. “Gadis ini tidak bermaksud melompat. Dia menderita vertigo parah, kehilangan keseimbangan karena desak-desakan, dan nyaris jatuh ke rel. Suami saya yang menariknya mundur.”
Petugas itu mengerutkan kening melihat lencana emas berlogo Garuda itu. “BPCBAN? Tapi kata penumpang tadi…”
“Apa Bapak mau percaya gosip penumpang atau laporan resmi intelijen negara?” Tekan Sarah, tidak memberikan celah sedikit pun. “Tolong sterilkan peron ini. Bawa gadis ini ke ruang kesehatan stasiun, berikan selimut hangat dan teh manis. Jangan hubungi polisi, hubungi Ibunya. Katakan dia sakit. Paham?”
Ketegasan Sarah membuat petugas itu mengangguk kaku. “S-siap Bu.”
Sarah kembali berjongkok, memegang bahu siswi yang masih terisak itu. Ia menatap name-tag di seragam basah sang gadis. ‘Rara’.
“Rara,” panggil Sarah lembut, mengubah suaranya dari komandan militer menjadi seorang Kakak. “Dengerin Kakak. Apapun suara bisikan yang kamu dengar di kepalamu sebelum ini… soal nilai, soal ayahmu… itu bukan pikiranmu sendiri. Kamu berharga. Kamu kuat. Jangan pernah nyerah, ya?”
Rara menatap mata Sarah. Di balik lensa kacamata Rara yang basah oleh air mata, Sarah bisa melihat bahwa kabut keputusasaan itu telah benar-benar pergi. Rara mengangguk pelan. “Makasih, Kak…”
Polsuska dan tim medis stasiun datang membawa kursi roda. Mereka memapah Rara menjauh dari peron, melindunginya dari tatapan lapar kamera ponsel warga.
Setelah Rara dibawa pergi, Sarah menghela napas panjang. Kakinya tiba-tiba terasa lemas. Ia berbalik, menatap suaminya yang masih duduk bersandar di pilar beton.
Dimas memegangi lengan kanannya (yang dulu bergesekan dengan mesin Lemuria), wajahnya basah oleh keringat dan hujan.
“Kamu tadi gila, Profesor,” bisik Sarah, berjongkok di samping Dimas dan memeriksa denyut nadinya. “Lima senti lagi hidungmu pindah ke stasiun Tebet.”
Dimas tersenyum miring, senyum lelah yang dipaksakan. “Kita Dynamic Duo, kan? Nggak ada yang berani nyentuh kita. Bahkan kereta Commuter Line.”
Dimas perlahan bangkit berdiri dengan bantuan bahu Sarah. Ia menatap rel kereta yang kosong. Asap hitam kecil tadi sudah lenyap.
“Sar,” gumam Dimas serius, melihat ke arah kerumunan penumpang yang mulai bubar sambil sibuk mengetik di ponsel mereka. “Kamu sadar sesuatu nggak waktu mereka merekam kita tadi?”
“Mereka nggak punya empati?”
“Lebih buruk dari itu,” Dimas membetulkan kerah jaketnya. “Sang Pemakan itu licik. Dia nggak cuma nyebar lewat udara. Dia nyebar lewat ketakutan dan gosip. Waktu video Rara yang nyaris bunuh diri ini viral di medsos… ribuan orang yang lagi depresi bakal nonton. Itu bakal ngasih ‘sinyal’ kemana makhluk itu harus pergi selanjutnya. Jaringan internet jadi semacam urat nadinya.”
Sarah membelalakan mata, menyadari kengerian konklusi itu. “Dia memanipulasi algoritma media sosial buat nyari inang yang paling rentan…”
“Satu musuh, sepuluh juta inang potensial,” kata Dimas sambil memegangi rusuknya. “Ayo kita pulang ke Safe House. Kita butuh rencana yang jauh lebih besar daripada kejar-kejaran motor. Kita butuh jaring raksasa.”
Pasangan Archivist itu berjalan tertatih meninggalkan peron Manggarai yang basah, bersiap menghadapi malam terpanjang dalam karier mereka.