Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.
Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.
Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.
Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan
Udara pagi di Kota Citywon masih terasa lembap, menyimpan dingin malam yang belum sepenuhnya pergi. Kabut tipis membungkus atap-atap rumah kayu yang rendah, mengaburkan kontur mereka, dan embun pagi membasahi batu-batu jalan hingga mengkilap di tanah.
Kota itu baru saja menguap dan meregangkan sendi kayunya yang tua. Asap tipis dan lurus mengepul dari cerobong-cerobong tembikar, membawa aroma kayu pinus bakar dan air rebusan herbal yang menyengat namun menenangkan di tenggorokan.
Derit roda gerobak kayu yang berat dari kejauhan, kokok ayam jantan yang saling bersahutan, dan dentang-dentang pertama dari bengkel tukang besi yang mulai membara—semua itu membentuk simfoni pagi yang sederhana.
Mereka berjalan berjajar di jalan setapak yang sempit: Iago di sisi kiri dengan bahu sedikit menunduk, anak laki-laki Edward di tengah dengan langkah riang, dan gadis berambut merah di kanan. Bibir bocah itu melengkung ke atas dalam senyuman tak terbendung, langkahnya ringan dan berjingkat seolah ingin melompat di setiap ketidakrataan jalan. Matanya birunya berbinar dengan kepolosan.
"Ayo kita berpegangan tangan!" pinta Edward, menengadah dengan polos, tangannya yang kecil sudah terulur setengah.
Iago terhenti sebentar, langkahnya terpaku di batu yang sama. Kekakuan terasa di bahunya. Berpegangan tangan? Sebuah isyarat kecil, biasa bagi anak-anak, yang rasanya asing dan berat baginya. Sebelum ia menemukan kata-kata yang tepat untuk menolak dengan halus, Yuki di sampingnya sudah tersenyum.
"Ide yang bagus, kan?" ujarnya, matanya yang hijau menatap Iago dengan kelembutan yang dalam.
"...Ya. Tentu," jawab Iago akhirnya. Tangannya yang dingin terulur pelan, dan jari-jari kecil Edward yang hangat dan sedikit lengket segera menggenggamnya erat.
Saat mereka berjalan beriringan, tangan bertautan membentuk rantai manusia yang rapuh, Iago merasakan sesuatu yang aneh dan menusuk di dadanya, tepat di belakang tulang dada. Kehangatan itu mengalir dari telapak tangannya, merayap naik melalui lengannya yang dingin, dan menetap di suatu tempat di dekat tulang rusuknya.
Apakah kami terlihat seperti sebuah keluarga? pikirnya, dan segera ia mencaci dirinya sendiri, mengutuk kelemahan yang muncul. Hentikan! Mereka hanya orang asing yang baik hati.
Saat melewati toko roti yang baru membuka pintu kayunya, aroma malt hangat, ragi, dan roti panggang yang renyah di bagian luarnya memenuhi udara. Burung-burung pipit berkicau riang di atap rumah yang ditumbuhi lumut hijau lembut, lagu mereka riang dan tanpa beban.
Beberapa kuli angkut dengan otot berpeluh mendorong gerobak kayu berat penuh gulungan kain dan kulit mentah menuju pasar, wajah mereka masih menyisakan kantuk, mata setengah tertutup, dan langkah mereka berat namun teratur.
Diam yang terus-menerus mulai terasa canggung, diisi hanya oleh langkah kaki dan kicau burung. Iago menoleh pada gadis di sampingnya, suaranya hampir tertelan oleh keramaian pagi yang mulai ramai dan bersahutan.
"Ehm... siapa namamu?" tanyanya.
"Yuki Hellen," jawabnya, senyumnya merekah. “Dan kau?”
“Iago Verbal.”
"Verbal?" Yuki menaikkan alisnya yang tipis. “Nama yang unik. Terdengar seperti nama dari selatan yang jauh.”
"Orang sering bilang begitu," sahut Iago.
Yuki terkekeh. “Dan ini adikku, Edward Caves. Dia... penuh energi.”
“Halo, Edward.”
"Hai, Kak Iago!" sahut Edward riang, mengayunkan tangan mereka yang bertautan maju mundur.
Senyum mereka polos, tidak berbentuk oleh kepalsuan, dan tulus. Untuk sesaat yang singkat, terlalu singkat, dunia dalam pandangan Iago tidak perlu dilihat melalui kacamata kecurigaan yang selalu awas atau perhitungan rumit yang menggerogoti. Hanya ada jalan, pagi, dan kehangatan tangan yang menggenggamnya.
...****************...
Rumah mereka sederhana, berdiri di ujung jalan batu dengan pagar kayu rendah yang dicat warna biru pudar. Beberapa pot tanah liat berukuran sedang, retak-retak halus di pinggirnya, berisi tanaman rempah yang terawat rapi—mint hijau tua, thyme yang merambat, dan lavender ungu pucat yang sudah mulai berbunga—berdiri rapi di teras kayu, menyebarkan aroma segar dan menenangkan yang bercampur dengan bau tanah basah yang subur. Lebah kecil berdengung rendah di antara bunga lavender, sibuk dengan urusan mereka yang penting.
"Kita sampai!" seru Edward, melepas genggamannya yang hangat dan berlari kecil mendahului, sepatu bot kulitnya yang usang berbunyi tap-tap-tap berirama di batu-batu jalan.
Pintu kayu oak itu berderit pelan namun nyaring saat dibuka, menyambut mereka dengan semburan kehangatan dari dalam dan aroma yang sudah akrab dan nyaman: ramuan herbal yang digantung, roti gandum tua di rak kayu, dan sedikit aroma lilin lebah yang manis. Rumah itu bersih dan rapi, setiap permukaan bebas debu, meski perabotannya sederhana dan menunjukkan usia.
"Silakan duduk," kata Yuki dengan ramah, menunjuk sebuah kursi kayu ek yang kokoh dan berat di dekat perapian batu yang sudah padam, abunya masih hangat.
Iago duduk perlahan, merasakan kelelahan mendalam yang baru sekarang menyergapnya sepenuhnya. Edward duduk di bangku rendah tiga kaki di hadapannya, menopang dagu yang masih bulat dengan kedua tangannya, matanya yang biru penuh rasa ingin tahu seperti anak kucing.
“Kak Iago, keluarga Kakak di mana? Kenapa Kakak sendirian?”
Pertanyaan itu seperti tamparan es di wajah, menusuk langsung ke tulang.
Iago membeku di kursinya. Napasnya tertahan sejenak. "Mereka... sudah tidak ada. Sejak aku berumur sepuluh tahun." Kata-kata itu terasa asing di mulutnya.
"Kok bisa? Apakah mereka pergi?"
Sebelum Iago merangkai jawaban—yang bahkan ia sendiri tak memilikinya—Yuki muncul dari balik tirai kain yang memisahkan dapur, membawa nampan kayu tua yang sudah halus. Di atasnya ada potongan roti gandum yang sudah dihangatkan di atas kompor hingga tepinya renyah dan kecokelatan, dan dua cangkir tanah liat tebal berisi teh herbal yang beruap-uapnya naik perlahan, membentuk spiral tipis yang menari di udara sebelum menghilang.
"Edward, cukup." Nada Yuki tegas, namun tidak kasar. “Itu tidak sopan. Kita tidak bertanya seperti itu pada tamu.”
"Tapi aku cuma penasaran—" protes Edward, alisnya berkerut.
“Tidak. Jangan membuat tamu kita tidak nyaman.”
Edward menunduk, ujung telinganya yang kecil memerah. “Maaf, Kak Iago. Aku tidak bermaksud...”
Iago memaksakan senyum tipis, menggerakkan otot wajah yang kaku. "Tidak apa-apa. Kau hanya ingin tahu."
“Kakak tidak marah, kan? Aku janji tidak tanya lagi!”
“... Tidak, aku tidak marah.”
"Hore!" Edward langsung berseri lagi, cahaya kembali ke wajahnya, kesedihannya yang singkat sudah terlupakan seperti kabut pagi yang ditiup angin. “Ayo makan! Aku lapar!”
Yuki tersenyum dan duduk di kursi di seberang Iago. Ia mulai mengiris roti dengan pisau kecil bermata baja yang sudah tipis karena sering diasah—bunyi sayatan lembut dan berirama di atas papan kayu yang ikut tergores. “Ayo kita makan. Tehnya masih panas.”
Mereka makan dengan tenang, hanya suara kunyahan dan denting sesekali cangkir menyentuh meja. Teh mint itu hangat dan menenangkan, mengalir ke dalam tubuh Iago. Rasanya segar di lidah, sedikit manis oleh madu, membuat tenggorokan yang kering dan serak terasa lega.
Suasana nyaman yang mulai terbangun itu tiba-tiba pecah, retak oleh suara Yuki yang memecah keheningan.
"Iago... kau sudah dengar kabar tentang kejadian semalam?" Suaranya pelan, hati-hati.
Iago mengangkat pandangan dari cangkirnya. “Kabar apa?”
"Saat Edward dan aku di pasar barat tadi pagi, sebelum menemukanmu, orang-orang ramai membicarakannya." Yuki menatap uap tehnya. “Katanya, ada dua mayat ditemukan di losmen tua dekat alun-alun timur. Satu di lantai atas, kamar nomor tujuh. Satu lagi di dekat pintu masuk, persis di lantai satu.”
"Iya! Aku juga dengar!" seru Edward, mengunyah rotinya dengan cepat, remah-remah halus jatuh ke pangkuannya. “Katanya ada darah di mana-mana!”
Jantungnya yang mulai tenang kembali berdetak lebih kencang, mengetuk-ngetuk tulang rusuknya dari dalam. Ia menjaga wajahnya tetap datar, mengerutkan kening seolah-olah baru mendengar, mencoba menampilkan ekspresi kekhawatiran yang wajar. “Benarkah? Mengerikan... Di losmen yang mana?”
"Yang 'Pondok Pengelana', losmen kayu tiga lantai di sudut," jelas Yuki, matanya mengamati reaksi Iago dari balik tepi cangkir. "Dan itu belum semuanya." Suaranya turun lebih rendah, menjadi hampir berbisik. “Katanya, di sebuah gang sempit di belakang losmen itu... ada tumpukan mayat lain. Empat atau lima orang. Lukanya... berbeda. Bukan tembakan.”
Iago mengepal tangannya di bawah meja, di pangkuannya. Getaran halus, tak terkendali, mulai dari ujung jarinya yang dingin, naik ke pergelangannya. Kukunya yang pendek menggores permukaan kayu kasar celananya pelan, menghasilkan suara gesekan halus. "Sungguh mengerikan," ulangnya. “Apa serdadu kota sudah datang?”
"Sudah. Tapi mereka terlihat bingung." Yuki menyeruput tehnya lagi, lalu meletakkannya. "Dua mayat di losmen tewas karena tembakan di kepala. Tapi yang di gang... tusukan yang presisi, sayatan dalam di leher atau dada. Dan..." ia berhenti, seolah memilih kata, “banyak dari mereka kehilangan jari. Dipotong bersih.”
Iago menunduk, menyembunyikan raut wajahnya yang mungkin mulai berubah di balik tirai rambut hitamnya. Tangannya kini bergetar lebih keras, ia harus menekannya dengan paha. Ia berusaha mengatur napas, menariknya dalam-dalam melalui hidung dan perlahan melalui mulut.
Tentu saja aksi Eliana akan meninggalkan jejak yang berbeda, lebih brutal, lebih personal. Sekarang masalahnya bukan cuma dua pembunuhan, tapi sebuah pembantaian kecil. Dan itu menarik perhatian lebih.
"Itu menunjukkan pelaku yang berbeda," kata Yuki seolah berpikir keras, jari-jari rampingnya mengetuk-ngetuk sisi cangkir tanah liat, menghasilkan bunyi tok-tok yang ringan. "Atau... satu tim dengan metode berbeda. Tapi jika semua terjadi dalam waktu berdekatan… kemungkinan besar ini kerja kelompok terorganisir. Atau seseorang yang punya akses ke berbagai senjata." Kemudian ia menghela napas. “Fiuhh… Semenjak Organisasi IV memulai aksinya dulu, pistol jadi semakin terkenal.”
Iago menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. "Apa... mereka menyebarkan informasi sedetail itu?" tanyanya.
"Tidak," jawab Yuki sambil menyeruput tehnya untuk terakhir kali. Ia meletakkan cangkir dengan hati-hati. “Aku hanya dengar tentang lokasi dan jenis lukanya secara umum. Selebihnya... adalah tebakanku sendiri.”
Iago diam, matanya menatap sisa roti di piringnya yang tiba-tiba terlihat tak menarik lagi.
Di dalam, tubuhnya menggigil meski ruangan hangat. Gadis ini berbahaya. Pikirannya tajam. Aku tidak boleh berlama-lama di sini, batinnya.
Dalam pikirannya, ia membentak suara yang biasanya muncul di kepalanya, suara yang mendorongnya: Hei! Kau yang menyuruhku melakukan semua ini! Sekarang bagaimana? Semua orang membicarakan ini!
Ia berharap suara itu akan menjawab, memberi petunjuk, atau setidaknya mengejek kecemasannya. Tapi yang ada hanya keheningan—sunyi yang mengejek, kosong, seperti gua yang dalam.
Sial. Muncul saat kau tidak dibutuhkan, menghilang saat segalanya kacau.
"Iago? Kau baik-baik saja?" Suara Yuki memecah lamunannya yang tegang, penuh perhatian. “Wajahmu pucat.”
“Ah, iya. Maaf. Aku hanya... terkesan dengan analisismu. Kau berpikir seperti detektif.”
Yuki memberi tawa kecil. “Ah, kau berlebihan. Pasti banyak orang lain yang berpikir sepertiku.”
Apa-apaan sikap rendah hatinya itu? pikir Iago dengan waspada yang semakin mengeras. Dia bisa mendeduksi detail seperti itu? Dan dia benar. Dia membuatku tidak nyaman. Aku harus lebih berhati-hati.
"Iago... ada satu hal lagi yang kudengar," lanjut Yuki.
"Hm?" Iago merasa dadanya kembali sesak. “Apa lagi?”
“Orang-orang bilang, sekitar subuh, ada seorang pria tua terlihat lewat di depan losmen... tapi tidak berhenti, tidak terlihat panik. Dia hanya terus berjalan dan menghilang di ujung jalan.”
"Hmm... mungkin dia tidak melihat mayatnya," kata Iago, berusaha terdengar biasa saja. “Atau mungkin penglihatannya sudah kabur karena tua.”
"Mungkin," kata Yuki. “Tapi mayat yang di dekat pintu masuk, yang terbaring di lantai satu... seharusnya terlihat jelas, bukan?”
"Iya... benar juga." Bagus. Biarkan si pria tua itu yang dicurigai.
"Mereka menggambarkan pria tua itu..." Yuki berhenti sejenak, matanya yang hijau menatap Iago dengan intensitas yang tiba-tiba meningkat. “Memakai mantel abu-abu lusuh, penuh tambalan. Dan membawa tas perjalanan kulit yang besar.”
Seketika, mata Iago membelalak. Pupilnya menyempit.
Darah seakan mengalir deras dari wajahnya, meninggalkan kulit dingin, pucat, dan berkeringat. Tangannya yang tersembunyi di bawah meja terlepas dari genggaman, mulutnya terbuka sedikit—tidak cukup untuk terlihat jelas seperti terkejut, tapi cukup untuk merasakan udara dingin masuk dan mengeringkan lidahnya.
Mantel itu... tas besar itu…
Ingatannya berputar cepat, seperti roda gerobak yang kehilangan rem dan meluncur menuruni bukit. Sial. SIAL. Dia pasti yang mencuri tas dan mantelku semalam! Tiga Flor itu... dan semua barangku…
Ia berdiri begitu tiba-tiba sehingga kursi kayu yang kokoh itu berderak keras di lantai, kakinya bergesekan dengan kasar, menghasilkan suara yang menyayat.
"Iago?" Mata Yuki melebar, menatapnya.
"Kak Iago, kenapa?" Edward terdengar ketakutan.
Tangan Iago meraba saku celananya yang dalam dengan gemetar, jari-jarinya menyusuri setiap lipatan kain. Kosong. Tidak ada satu koin pun. Tapi jari-jarinya yang gugup menyentuh selembar kertas kecil yang licin dan padat. Ia menariknya keluar dengan gerakan tersentak.
Dia mencuri uangku... dan meninggalkan ini? Sebuah pesan? Siapa sebenarnya orang tua brengsek itu?!
Dengan tangan yang bergetar namun dipaksakan untuk stabil, Iago membuka lipatan kertas persegi kecil itu dengan hati-hati. Tulisan di dalamnya pendek dan tajam, ditulis dengan tinta yang warnanya hampir cokelat:
“Tahukah kau? Seorang penyihir hebat bisa melakukan apa saja.”
Kata-kata itu terbakar di retina matanya, mencakar pikirannya. Pesan untuknya. Jelas. Tentang penyihir tua di gunung. Tentang ingatannya. Tentang segala sesuatu.
Dan pesan itu datang dari seorang pencuri yang mengambil uangnya, yang menyamar sebagai orang tua, yang mungkin menyaksikan atau bahkan memanfaatkan kekacauan malam itu.
Dunia di sekeliling Iago berputar. Kehangatan rumah, aroma roti, suara Edward yang cemas—semua itu meredam, menjadi latar belakang yang buram. Hanya ada kertas itu, dan kata-kata di dalamnya, dan pertanyaan yang berdentang di kepalanya seperti lonceng kematian: Siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan ini?