NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Kontras Takdir
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.



Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.



Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.



Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.



Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.






Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.




Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6:

“Anda meninggalkan ruang rawat sebelum visit akhir. Itu pelanggaran prosedur.”

Shafiyya terhenyak.

Mendongak, menatap sejenak, lalu menunduk. Diam. Masih diam.

Agam melanjutkan, suaranya tetap datar.

“Dan pergi dengan cara seperti itu bukan keputusan bijak bagi perempuan dengan usia kehamilan dini.”

Kini wajah itu berubah. Tegang. Napasnya tertahan, berat.

Shafiya mendongak. Menatap lelaki yang berdiri menjulang di hadapannya.

“Anda siapa?”

Agam tidak langsung menjawab. Ia duduk, memberi jarak yang cukup.

“Saya yang menyebabkan Anda mengalami kecelakaan.”

Shafiya diam. Tak ada keterkejutan, tak ada kemarahan. Hanya hening yang lebih dalam.

“Saya akan bertanggung jawab sampai akhir.”

“Maaf?”

Kening Shafiya berkerut. Arah pembicaraan itu belum ia tangkap.

“Dokter sudah menyampaikan kondisi Anda.”

Agam berhenti sejenak, membaca ketegangan di wajahnya.

“Saya perlu menghubungi keluarga Anda untuk penanganan selanjutnya--"

“Saya tidak apa-apa.”

Kali ini Shafiya memotong. Cepat. Tegas.

Agam mengangguk pelan.

“Ada prosedur yang tidak bisa diabaikan.”

Tatapannya beralih padanya, tenang--hampir terlihat tulus.

“Bukan hanya tentang Anda. Tapi tentang kehidupan lain yang sedang Anda bawa.”

Karena Shafiya tetap diam, Agam melanjutkan.

“Siapa yang berwenang mengambil keputusan atas kondisi Anda?”

Agam tak melepaskan tatap dari Shafiyya.

Hening.

Shafiya tidak langsung menjawab. Tatapannya sempat goyah, sepersekian detik--cukup bagi Agam untuk membaca.

“Tidak ada,” jawabnya akhirnya. Pelan. Tegas, tapi tanpa penopang.

Agam mengangguk sekali. Tidak terkejut.

“Baik.”

Ia bersandar sedikit, memberi jeda yang terasa terlalu tenang untuk situasi seperti itu.

"Mari kembali ke ruang perawatan, Anda dulu. Saya harus pastikan semuanya terkendali."

Shafiya menggeleng cepat.

"Saya menunggu dokter Zul."

"Untuk?"

"Diagnosa yang lebih akurat."

"Saya temani." Agam mengucap itu seraya melirik jam tangannya. Ia tak cukup punya waktu, tapi juga tak bisa terburu-buru.

Dalam hening itu ia pikirkan segalanya. Aksi, reaksi dan hal yang tak terduga.

Hening kemudian dipecahkan dengan suara langkah kaki, mendekat, lalu berhenti.

"Ning Shafiya?"

Shafiya yang tak mengubah arah pandangan, tetap menunduk--tetap diam, terdongak pelan, saat namanya disebutkan.

Seorang wanita, usia sedikit di atasnya. Shafiya tahu, ia mengenalnya, masih kerabat, tapi tidak dekat.

"Benar Ning Shafiya." Ia mengenali Shafiya dengan tepat. Bahkan, "Mas ini, Ning Shafiya putrinya kyai Fakih Zayyad." Ia mengenalkan pada pria yang bersamanya, berdiri di dekat dengan gestur siaga. Suaminya.

Dan Shafiya, saat namanya disebut dengan embel-embel gelar sebagai anak kyai, dan saat nama ayahnya juga disebut, ia merasa seperti ada palu godam yang jatuh ke pundaknya. Gadis cantik itu tahan napas, lalu memaksa tersenyum.

"Apa kabarnya, Ning?" Wanita itu ulurkan tangan menyalami, sedikit membungkuk sopan. Menghormati anak seorang kyai.

"Baik." Satu kata, dengan suara hampir tercekat pula.

Perempuan itu belum menyadari gestur tak nyaman Shafiya. Ia duduk, cukup dekat. Sementara Agam mengamati semuanya dengan diam.

"Mau periksa juga ya, Ning?" Ia bertanya, tanpa ada maksud apa-apa. "Saya juga biasa ke dokter Zul, dari sejak program. Alhamdulillah sekarang sudah masuk bulan kedua." Ia bercerita lancar, berbagi kabar bahagia.

Shafiya hanya menanggapi dengan anggukan kecil, singkat.

"Ning Shafiya juga mau periksa?"

Di akhir pertanyaannya, ia baru menyadari sesuatu. Tatapannya lalu jatuh telak ke wajah Shafiya yang tampak pucat.

Informasi datang bersamaan di ingatan.

Shafiya belum punya suami.

Acara pernikahannya dengan gus Ilzam batal tanpa penjelasan, bahkan dua hari sebelum akad menjelang.

Dan kini, dia menemui gadis itu duduk mengantri di ruang pemeriksaan dokter spesialis Obstetri dan Genekologi. Bersama lelaki asing.

Dapatkah seseorang menahan asumsi liar yang datang? Ia bahkan merasa ngeri dengan bayangannya sendiri.

Perempuan itu terdiam.

Tatapannya tak lagi sekadar melihat--tapi menilai.

“Ning…” suaranya berubah pelan. “Panjenengan … sudah menikah?”

Pertanyaan itu jatuh tepat di tengah.

Dan Shafiya--tak menjawab.

Jeda itu terlalu panjang untuk disebut kebetulan.

Perempuan itu menarik napas. Pandangannya berubah. Lebih hati-hati. Lebih berjarak.

“Maaf … saya hanya khawatir.”

Dan justru karena kata itu terdengar halus--ia terdengar lebih tajam.

Di saat itulah Agam bergerak.

Ia tidak terburu-buru. Tapi cukup untuk mengubah posisi. Sedikit mendekat. Sedikit menutup ruang.

“Sudah,” ucapnya.

Tenang. Tegas. Tanpa penjelasan panjang.

Perempuan itu menoleh ke Agam.

“Maaf?”

Agam menatapnya lurus. Tidak menantang. Tapi juga tidak memberi ruang untuk ragu.

“Pertanyaan Anda sudah terjawab.”

Sunyi. Bukan karena tidak ada kata--tapi karena tidak ada celah.

Perempuan itu tampak ingin bertanya lagi. Tapi tatapan Agam menghentikannya lebih dulu.

“Ada hal-hal yang tidak perlu dibicarakan di ruang tunggu,” lanjutnya, tetap dengan nada datar. “Terlebih jika menyangkut keluarga pesantren.”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan keras.

Tapi cukup untuk mengingatkan batas.

Dan cukup untuk membuat perempuan itu mengangguk kecil.

“Iya… saya mengerti.”

Selanjutnya Agam menatap Shafiya yang menunduk. "Ning." Ia juga memanggil yang sama. "Dokternya tidak bisa ditunggu."

Agam berbicara halus. "Kita kembali lain waktu."

Shafiya mendongak, menatapnya. Tidak ada air mengambang di matanya. Belum. Tapi, kepedihan itu tergambar dengan jelas, lebih tajam dari sekedar lukisan kanvas.

"Mari," ajak Agam, sembari ulurkan tangan.

Shafiya ragu menerima uluran itu, bahkan tangannya gemetar.

Agam segera meraih tangannya, membimbing berdiri, dan menuntun berjalan. Tiga langkah Agam berhenti, menoleh pada perempuan tersebut.

"Kami duluan."

Tak menunggu jawaban, Agam membawa Shafiya pergi.

Di koridor yang sepi, langkah Shafiya berhenti. Ia tarik tangannya dari genggaman Agam. Pelan, tapi pasti.

Kali ini ia merasa baru bisa bernapas. Dan kali ini juga air matanya jatuh, meski tanpa isakan yang keras.

Agam menatapnya, mengerti cukup banyak hal. Shafiya putri kyai. Belum menikah. Dan kini ia hamil. Berat. Agam juga merasakan itu.

"Terima kasih." Suara itu terdengar lirih, cukup kuat tanpa gelombang isak. Sepertinya Shafiya berusaha menegarkan diri.

Ia tahu apa yang barusan terjadi.

Dan ia tahu siapa yang menutupi. Tapi lebih dari itu, ia juga tahu masalahnya tidak akan sesederhana ini.

Kabar tentangnya akan terus bergulir.

Nama abinya akan terbawa.

Nama pesantren akan terusik.

Dan itu, yang membuat napasnya tertahan lebih lama. Shafiya merasa sesak.

"Saya tau apa yang kamu rasakan, Ning Shafiya."

Sahfiya menggeleng. Cepat.

"Tidak ada yang tau perasaan saya."

"Saya punya solusi." Agam terdengar meyakinkan. "Kita bicara di tempat yang lebih aman."

Shafiya diam.

Agam menganggap itu persetujuan.

"Mari." Ia kembali memimpin langkah. Kali ini dengan struktur yang terbangun lebih pasti.

Agam tidak langsung membawanya jauh.

Ia hanya memilih sudut koridor yang lebih sepi. Cukup jauh dari jangkauan pandang, tapi masih dalam batas aman rumah sakit.

Ia berhenti. Menoleh.

Menatap Shafiya--kali ini lebih dalam, lebih terukur.

“Barusan,” ucapnya pelan, “bukan kejadian kecil.”

Shafiya diam.

“Kamu tahu itu,” lanjut Agam. “Dan saya juga tahu … itu baru permulaan.”

Hening.

Agam memberi jeda. Bukan karena ragu. Tapi karena ia tahu, kata-kata berikutnya harus jatuh tepat.

“Nama ayahmu akan disebut,” katanya datar.

“Pesantren akan diseret.”

“Sementara kamu…” ia menatap perut Shafiyya sekilas, lalu kembali ke matanya, “…tidak punya waktu untuk menjelaskan apa pun.”

Napas Shafiyya tercekat.

Bukan karena ia tidak tahu.

Tapi karena semuanya diucapkan terlalu jelas. Terlalu telanjang. Dan terasa menghantam.

“Saya bisa menghentikan itu, Ning Shafiya."

Shafiyya mengangkat wajahnya. Menatap Agam dengan ragu yang mulai retak.

“Maksud Anda?”

Agam tidak langsung menjawab.

Ia justru bertanya balik--halus, tapi mengunci.

“Kamu ingin situasi ini tetap menjadi urusanmu saja… atau menjadi konsumsi banyak orang?”

Diam.

Pilihan itu tidak benar-benar pilihan.

Dan Agam tahu.

“Saya bisa menutup semua akses,” lanjutnya. “Rumah sakit ini. Data. Orang-orang yang melihatmu tadi.”

Ia berhenti sejenak.

“Termasuk cerita yang belum sempat keluar. Saya bisa menghentikannya sampai di sini."

Shafiya menelan ludah, merasa melihat secercah sinar--yang ia tahu tak akan didapat begitu saja.

“Sebagai gantinya…” Agam menatap lurus, tanpa kedipan, “…saya butuh kamu melakukan satu hal.”

Ada jeda pendek.

Tapi cukup untuk membuat jantung berdegup lebih keras.

"Me--lakukan apa?"

Agam melirik jam di pergelangan tangannya.

10.45.

Lima belas menit.

Waktu yang tidak cukup untuk penjelasan panjang.

Tapi cukup untuk mengambil keputusan.

“Dengar saya baik-baik, Ning Shafiyya,” ucapnya, lebih tegas dari sebelumnya.

Shafiya menatapnya. Kali ini tanpa menghindar.

“Dalam lima belas menit ke depan, saya harus membawa seseorang ke satu tempat.”

Ia menjeda.

“Dan sekarang, orang itu… kamu.”

Sunyi.

Bukan karena tidak mengerti.

Tapi karena kalimat itu terlalu lurus.

“Apa maksud Anda?” suara Shafiyya menegang.

Agam tidak mengalihkan pandangan.

“Kamu tidak perlu memahami semuanya sekarang,” katanya datar. “Kamu hanya perlu tahu--ini satu-satunya cara agar situasimu tidak berkembang lebih jauh dari yang barusan terjadi.”

Ia sedikit mendekat. Tidak mengintimidasi secara kasar--tapi cukup untuk membuat jarak terasa hilang.

“Teman saya sudah menunggu di parkiran,” lanjutnya.

“Dan saya tidak punya waktu untuk meyakinkanmu dua kali.”

Shafiya menggenggam jemarinya sendiri. Ragu. Takut. Tapi juga sadar--ia tidak benar-benar punya ruang untuk mundur.

“Kalau saya menolak?” tanyanya pelan.

Agam mengangguk kecil. Seolah pertanyaan itu sudah ia siapkan.

“Maka kamu kembali ke ruang tunggu itu,” jawabnya tenang.

“Menunggu dokter Obgyn. Menunggu pertanyaan berikutnya." Agam diam sesaat.

“Menunggu berita apapun yang mulai menghubungkan semuanya.”

Jeda kembali.

“Dan kali ini… saya tidak akan menghentikan mereka.”

Kalimatnya memang tidak keras.

Tapi cukup untuk menyadarkan Shafiya, ia tidak punya pilihan.

Agam mengambil setengah langkah ke samping. Memberi ruang.

Bukan untuk pergi.

Tapi untuk mengikuti.

“Ayo,” ucapnya singkat. “Kita sudah terlambat.”

--------.

🥀🥀

Apa kabarnya di hari ketiga Ramadhan?

Semoga gak tepar seperti saya kemarin ya.

Semoga semuanya sehat, puasa lancar, dan minat baca selalu ada untuk buku ini..jangan lupa like ya, pliss..like nya tiap bab, bacanya jangam loncat, biar semua cerita sampai secara utuh.

Love u..semuanya..

1
Ayuwidia
Sagara meski terlihat datar dan dingin, tapi dia berpikiran bijak. Tidak menuntut Shafiya bercerita, karena tak ingin wanita bergelar istri itu terluka.
Ayuwidia
Jangan2, anak itu memang milik Sagara
Ayuwidia
Beruntung Sagara punya istri cerdas. Dan semoga keberuntungan itu nggak bersifat sebentar
Ayuwidia
Agam selalu punya cara untuk mengikis jarak antara Sagara & Shafiya
Ayuwidia
Nah, betul itu. Kedatangan Shafiya jg bisa jadi obat bagi Sagara. 🤭
Ayuwidia
Bagus, Sagara. Satu keputusan yang tepat untuk melindungi Shafiya
Deuis Lina
kaya nya malu untuk mengakui bahwa ada d dekat safiya rasa tak nyaman itu hilang,,,
Ayuwidia
Jangan2, Ravendra tau siapa ayah biologis janin yang dikandung Shafiya. 🤔 Menarik!!!
Ayuwidia
Bagus, Shafiya. Bikin dia bungkam, nggak bisa ngomong
Ayuwidia
Itu karena ulahmu sendiri, Ravendra
Ayuwidia
Kalau Sagara nggak di rumah, harusnya dia putar balek, bukan malah duduk manis. Pasti ada rencana jahat lagi yg terselubung
Deuis Lina
makanya jangan mengusik macan yg lagi tidur,,,
Nofi Kahza
sekegelap itu loh dunia para elit. melenyapkan nyawa itu segampang nyentil upil di jari. Bisa2 nyawa Shafiya pu. terancam.
Nofi Kahza
Proses inseminasinya pasti salah alamat..
Deuis Lina
Sagara d kelilingi sama keluarga yg haus akan kekuasaan tapi tak punya kemampuan dan safiya jadi korbannya tapi sangat d butuhkannya
Nofi Kahza
Sagara belum pernah jatuh cinta ya, kok senggak mau itu untuk menikah?
Nofi Kahza
aku masih curiga dg dokter zulaika🤧
Nofi Kahza
soalnya penyakitmu itu juga abu2 loh😆
Nofi Kahza
betullll
Nofi Kahza
gpp, sesekali Sagara itu harus ditegesin kalau jd pasien nggak nurutan😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!