Betapa bahagianya Sekar ketika dinikahi oleh dokter yang bernama Ilham Kaniago. Sekar yang bekerja sebagai perawat menyadari jika ia bukan gadis yang cantik. Kulit hitam gelap, wajah berjerawat tidak disangka jika akan dipinang oleh dokter tampan dan kaya raya. Tetapi dalam pernikahan itu, Sekar hanya mendapat nafkah batin malam pertama saja. Ilham selalu dingin dan cuek membuat hari-hari Sekar Ayu bersedih.
"Apa tujuan kamu menikah dengan aku, Mas?"
"Ya, karena ingin menjadikan kamu istri, Sekar."
Usut punya usut, Ilham menikah dengan Sekar karena ada maksud tertentu.
Tetapi walaupun hanya diberi nafkah sekali, Sekar akhirnya mengandung. Namun, sayangnya bayi yang Sekar lahirkan dinyatakan meninggal. Setelah bercerai dengan Ilham, Sekar bekerja kembali di rumah sakit yang berbeda membantu dokter Rayyan. Dari sekian anak yang Sekar tangani ada anak laki-laki yang menginginkan Sekar ikut pulang bersamanya.
Apakah Sekar akan menerima permintaan anak itu? Lalu apa Rahasia Ilham?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Jam tangan yang kamu cari ada di saku jubah mandimu, Luna. Tadi pagi Mama melihatnya terjatuh di depan kamar saat kamu terburu-buru, lalu Mama menaruhnya di saku kimono yang menggantung di pintu kamar kamu," kata nyonya Pratiwi.
Semua orang menoleh termasuk Sekar, ke arah nenek yang berjalan mendekat dengan tatapan tajam ke arah Luna.
"Jangan pernah menuduh tanpa bukti yang jelas, Luna," ucap nenek Arka tajam, menatap Luna dengan pandangan kecewa, kemudian beralih kepada Ilham, dengan sorot mata penuh peringatan.
Di tengah situasi panas itu, Sekar menatap nyonya Pratiwi berkaca-kaca, beliau selalu mengangkat derajatnya yang direndahkan oleh Luna.
Ilham hanya terpaku, pandanganya tertuju kepada wanita yang semua diam dengan ekpresi wajah masing-masing.
Luna terkejut dan langsung memegang dadanya. "Mama? Tapi aku ingat benar, jam tangan itu ada di atas meja kamar Arka, pasti Suster Sekar tadi sengaja meletakkan di saku baju kimono itu."
"Sudahlah, Luna. Jangan diperpanjang," Nyonya Pratiwi sebenarnya marah tapi ia tidak mau terlalu menjatuhkan menantunya di depan Sekar, dan para art. Ia menyuruh semua yang berada di ruangan itu kembali ke tugas masing-masing.
Hanya tinggal Luna, Ilham dan Sekar.
Selagi Ilham dan Luna masih di tempat itu, Sekar mendekati Pratiwi. "Terima kasih, Nyonya sudah membela saya, tapi saya memang tidak melakukan yang dituduhkan Ibu Luna," Sekar melirik Luna yang menatapnya tidak suka, tapi tepat meluruskan meski nyonya Pratiwi pun tidak terpengaruh dengan Luna menantunya sendiri.
"Saya tahu, Sekar" ujar Nyonya Pratiwi dengan lembut sambil menepuk bahu Sekar. "Selama kamu tinggal di sini, saya melihat betapa jujur nya kamu dan mengajarkan pada Arka tentang kebaikan. Mana mungkin saya percaya dengan tuduhan Luna."
"Luna, kamu harus berhenti menghina dan menuduh Sekar sembarangan hanya karena kamu tidak nyaman dengan keberadaannya."
Ilham yang berdiri di sisi Luna kini mengeluarkan suara. "Sayang, Mama sudah jelas mengatakan bahwa Sekar tidak bersalah. Kita harus meminta maaf kepadanya."
Deg.
Sekar seketika berpaling ke arah Ilham, apa pria itu juga akan mengajari istrinya untuk minta maaf, jika sudah menyadari bahwa ia adalah mantan istrinya yang dibuang.
"Apa Mas? Yang benar saja!" Ketus Luna, mana mungkin ia mau melakukan itu, jelas akan menjatuhkan harga dirinya.
"Mommy, kata mama kecil, kalau kita salah halus minta maaf, iyakan Ma?" Tanya Arka menatap Sekar. Anak yang sejak tadi asik menonton film kartun yang diputar Sekar tidak mendengar keributan, tapi tiba-tiba muncul. Wajah Luna merah merasa dipermalukan anaknya sendiri di hadapan Suster.
Sekar mengangguk dengan senyum lembut, lalu menggendong Arka ke kamarnya. Ia tidak akan berharap maaf Luna, andai Luna lakukan pun pasti hanya terpaksa.
Nyonya Pratiwi tersenyum puas menatap cucunya hingga menjauh, lalu beralih ke arah Luna. "Luna, kamu tidak malu dengan anak kamu yang masih balita tapi bisa berpikir sejauh itu. Mulai sekarang, jangan ada lagi tuduhan tanpa dasar di rumah ini. Sekar sekarang keluarga kita, darahnya mengalir ke tubuh Arka, tidakkah ada sedikit rasa simpati dari kamu selaku ibunya Arka?" Tanya nenek lalu meninggalkan Ilham dan juga Luna.
Luna menghentakkan kaki ke kamarnya dengan emosi yang berkobar. Ilham mengikuti.
"Mama kamu itu kenapa selalu menjatuhkan harga diriku, Mas?!" Luna mendelik gusar.
"Mama tidak salah Luna, lagi pula kenapa kamu mesti fitnah Sekar?"
"Bela saja terus Mas, benarkan dugaan aku, kamu memang main hati dengan perawat itu. Siapa yang fitnah? Memang benar jam aku tadi hilang!"
"Sudahlah Luna... Mana mungkin aku melakukan itu? Jangan ribut, aku capek. Ayolah, kita lama tidak bertemu masa bertengkar seperti ini," Ilham mengangkat istrinya ke tempat tidur.
Begitu Luna tertidur nyenyak setelah mandi keringat, Ilham yang baru selesai mandi sore handphone miliknya bergetar. Nyonya Pratiwi memanggil agar Ilham ke ruang tamu.
"Ilham, duduklah," ucapnya dengan nada tegas namun penuh kasih sayang. Anaknya segera mengikuti perintah, wajahnya menunjukkan rasa khawatir.
"Kamu tahu bukan, betapa berharganya peran Sekar bagi keluarga kita? Saat Arka mengalami kritis dan membutuhkan donor darah dengan golongan yang langka, dan Sekar dengan senang hati memberikan darahnya tanpa ragu sama sekali. Sejak itu, dia merawat cucu Mama dengan sepenuh hati, tidak pernah mengeluh walau harus bangun tengah malam atau mengorbankan waktu pribadinya. Sementara itu kalian kemana?" Nyonya Pratiwi menatap Ilham dengan raut wajah kecewa.
Ilham mengangguk perlahan, matanya penuh rasa syukur. "Aku tahu, Mama. Aku sendiri sangat berterima kasih padanya. Tapi Luna..."
"Tapi Luna apa?!" Nyonya Pratiwi memotong kata Ilham. "Kamu sebagai suaminya harus bisa menegurnya dengan bijak. Luna tidak boleh terus bersikap semena-mena dan menghina Sekar seperti tadi. Sekar bukanlah orang yang datang untuk mengganggu keharmonisan rumah tangga kalian, tapi dia datang karena Arka yang memaksa. Sekarang Mama peringatan, jika kalian tidak bisa ambil hati Arka dan terus sibuk dengan urusan kalian sendiri, cepat atau lambat kalian akan kehilangan Arka!" Tegas nyonya Pratiwi.
Ilham terdiam, selama ini Luna memang terlalu sibuk di luar, berbeda dengan dirinya yang selalu menyempatkan diri untuk memberi perhatian kepada Arka, tapi akhir-akhir ini dia pun jarang di rumah.
"Aku mengerti, Mama. Aku sudah salah karena tidak segera mengambil tindakan dan hanya diam melihat bagaimana Luna memperlakukan Sekar," ucap Ilham. "Aku akan berbicara tegas tapi dengan cara yang baik agar dia tidak marah, bisa memahami, dan mengubah sikapnya."
Nyonya Pratiwi menghela napas lega, lalu menepuk bahu Ilham. "Itulah anakku yang baik. Ingat, kebaikan yang diberikan Sekar tidak boleh kita balas dengan sikap yang tidak baik," pungkas nyonya Pratiwi lalu meninggalkan Ilham.
Ilham bersandar di kursi sofa, menelaah nasehat mamanya. Sekarang pun ia sudah hampir kehilangan Arka. Anaknya lebih memilih dekat dengan Sekar daripada dirinya. Ingat Sekar bayangkan empat tahun yang lalu ketika menikahi perawat. "Apa dia memang Sekar? Tapi kenapa wajahnya cantik sekali? Jika bukan, kenapa tutur katanya pun sama persis."
Dalam hati Ilham bertanya-tanya, tapi dia bantah sendiri, tidak mungkin Sekar yang dulu bisa berubah secantik itu dan dia sama sekali tidak mengenalinya. "Tapi kenapa kalau Ray menjemput Sekar aku suka cemburu? Ada apa ini, jangan-jangan aku jatuh cinta lagi. Oh tidak!"
...~Bersambung~...
dia ada di dekat mu tau...bhkn sbntr lgi bikin idup mu jungkir balik Luna.....