NovelToon NovelToon
The Units : Bright Sides

The Units : Bright Sides

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / CEO / Percintaan Konglomerat
Popularitas:669
Nilai: 5
Nama Author: Nonira Kagendra

Arsenio Satya Madya (26 tahun) putra dari pasangan Ankara Madya dan Arindi Satya, tegas dan jenius. Semua karakter kedua orangtuanya melekat pada diri Arsen. Memiliki seorang adik yang cantik seperti mamanya, bernama Auroa Queen Satya Madya (21 Tahun).

Aira Narumi Sagara (24 Tahun), wanita cantik, licik dan tangguh. Memilik seorang adik yang kadang normal kadang abnormal, bernama Arkanza Narumi Sagara (22 Tahun). Mereka anak dari Alan Rumi dan Reyna Sagara.

Tak lupa Cyber Wira Pratama (21 Tahun), putra tunggal dari Galih Pratama dan Dania Swasmitha. Ahli di dunia cyber seperti ibunya dan kecerdikan Inspektur Galih.

---
Ikuti kisah dari anak-anak para tokoh "Switching Sides" dari kecil hingga dewasa.
Intrik, romansa dan keluarga menjadi cerita di kehidupan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonira Kagendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal - Keabsurban

## SELAMAT MEMBACA ##

Pagi hari di kediaman keluarga Satya kini bukan lagi diisi dengan rencana penyergapan atau ketakutan akan skandal. Sebaliknya, suara derap kaki kecil yang berlari di koridor marmer adalah alarm alami bagi **Ankara** dan **Arindi**.

**Arsenio Satya Madya**, bocah berusia lima tahun itu, mewarisi ketajaman mata ibunya dan sifat keras kepala ayahnya. Pagi ini, Arsen berhasil menyelinap ke kamar orang tuanya, melompat ke tengah tempat tidur dengan gaya *superhero* yang membuat Ankara nyaris jatuh dari kasur.

"Papaaaa! Bangun! Pasukan musuh sudah menyerang dapur!" Arsen berteriak tepat di telinga Ankara.

Ankara mengerang, menarik selimut untuk menutupi wajahnya. "Arsen, musuhnya suruh makan sereal dulu. Papa masih butuh lima menit lagi."

Arindi, yang sudah bangun sejak jam 5 pagi untuk meditasi (kebiasaan lamanya sebagai detektif yang tak bisa hilang), masuk ke kamar sambil membawa segelas jus hijau. Ia menggeleng melihat suaminya yang tak berdaya menghadapi bocah berukuran satu meter itu.

"Ankara, bangun. Kau ada rapat direksi jam 09.00 WIB. Dan Arsen, kau belum mandi," ucap Arindi tegas.

Arsen langsung duduk tegak. Ia menatap ibunya dengan binar mata yang sangat manipulatif, warisan dari masa muda Ankara. "Mama, Arsen mau tanya sesuatu yang penting. Tadi malam Arsen nonton kartun, ada kakak yang punya adik bayi kecil yang lucu sekali. Bisa menangis *nguuueee-nguuuueee* tapi kalau dikasih susu dia diam. Kenapa Arsen cuma sendirian di rumah ini?"

Ankara seketika membuka selimutnya. Ia melirik Arindi dengan senyum nakal yang tertahan. "Nah, Mama, dengar itu? Itu aspirasi rakyat terkecil di rumah ini."

Arindi memutar bola matanya. "Arsen, punya adik itu tidak gampang. Adik bayi itu berisik."

"Tidak apa-apa! Arsen bisa ajari dia bela diri seperti Mami ajari Arsen! Arsen mau adik perempuan yang cantik, yang pakai pita besar, biar Arsen bisa jadi bodyguardnya," Arsen berargumen dengan sangat serius, lengkap dengan tangan yang bersedekap di dada.

"Dengar itu, Sayang?" Ankara bangkit dari tempat tidur, mendekati Arindi dan merangkul pinggangnya. "Dia ingin jadi *bodyguard*. Sepertinya kita harus mulai 'memproses' pesanan Arsen malam ini, bukan?" Jawab Ankara sambil mengerlingkan matanya.

*Ck...*

Arindi menyikut perut Ankara pelan, pipinya sedikit merona—hal yang jarang terjadi pada mantan detektif dingin sepertinya. "Mandikan anakmu dulu, Pak CEO. Baru kita bicara soal 'pesanan'."

Kemudian Arindi pergi meninggalkan ruangan itu, karena jika dia tetap berada disana mak keduanya akan saling memprovokasi. Sedangkan Ankara menatap putranya, "Lihat, Boy. Sepertinya mama setuju dengan permintaanmu. Buktinya dia malu dan langsung keluar dari kamar ini". Dasar bapak satu ini, padahal istrinya muak dengan segala tingkah lakunya bahkan putranya pun sama.

"Benarkah, Papa!  Yes.... akhirnya aku akan punya adik. Tapi, kenapa mama malu? Padahal kan Arsen tidak minta aneh - aneh kok", tanyanya heran.

"Pfft...kau tanyakan saja nanti. Ya sudah, ayo kita mandi bersama. Kalau kita telat turun ke bawah nanti mama marah - marah lagi," Mereka sering mendapatkan amukan dari Arindi jika soal urusan mandi yang suka terlambat. Bapak dan anak sama - sama suka membuat Arindi darah tinggi.

---

Di sisi lain kota, di sebuah apartemen yang dipenuhi cahaya matahari, **Alan Rumi** sedang sibuk di dapur. Ia tidak lagi memegang botol alkohol atau meratapi masa lalu. Sekarang, tangannya lebih mahir memegang spatula dan memotong sayuran organik.

**Dokter Reyna**, dengan rambut yang sedikit berantakan karena baru bangun, memeluk Alan dari belakang. "Wangi sekali... kau masak apa?"

"Omelet keju kesukaanmu, Dokter Cantik," jawab Alan, memutar tubuhnya dan mengecup hidung Reyna.

Alan dan Reyna telah resmi menikah setahun yang lalu. Kehidupan mereka adalah perpaduan antara ketenangan dan kekonyolan. Reyna adalah sosok yang sangat pintar di rumah sakit, tapi sangat ceroboh di rumah.

"Alan! Kenapa kaus kakiku ada di dalam kulkas lagi?" teriak Reyna tiba-tiba saat ia mencari susu.

Alan tertawa terbahak-bahak. "Itu pasti karena kau semalam pulang sambil mengantuk setelah *shift* malam, Sayang. Kau pikir itu cokelat?"

Reyna cemberut, namun kecantikannya justru bertambah saat ia sedang kesal. "Ini semua salahmu karena selalu membuatku tertawa sampai lemas. Oh iya, hari ini aku ada jadwal kontrol untuk Aira."

Aira Narumi Sagara adalah putri kecil mereka yang baru berusia lima bulan, bayi cantik dengan mata yang sangat mirip dengan Reyna. Nama tengah putri mereka merupakan gabungan dari nama Reyna dan Rumi (nama belakangnya) serta nama belakang tetap memakai nama marga dari sang istri, itupun atas kehendak dari Alan.

Alan merasa hidupnya benar-benar telah ditebus. Saat ia menggendong Aira, ia sering berbisik pada bayinya, "Terima kasih sudah lahir dari ibu yang luar biasa, agar kau tidak mewarisi kegilaan ayahmu dulu."

Konflik kecil mereka biasanya seputar Alan yang terlalu protektif. Seperti saat Alan melarang Reyna memakai baju yang "terlalu imut" ke rumah sakit karena ia cemburu pada dokter-dokter muda di sana.

"Reyna, ganti bajumu. Itu terlalu pendek," protes Alan.

"Ini seragam medis, Alan! Memang begini ukurannya!"

"Tetap saja, kalau kau lewat, detak jantung pasien bisa langsung naik tanpa obat!"

"Ck....iya. Hufft, padahal bajunya tidak sependek yang kau kira," Lalu pergi ke kamar sambil menghentakkan kakinya.

Alan hanya menggelengkan kepalanya. Bukannya marah dengan ucapan sang istri, tapi malah gemas melihat tingkah Reyna yang kesal karena seperti anak kecil.

"Itu semua demi kebaikanmu sayang. Lihatlah, nak! Bunda keras kepala sekali. Nanti kalau sudah besar jangan tiru sifat keras kepalanya ya?"

Sedangkan bayi Aira hanya tersenyum seolah mengerti apa yang ayahnya katakan. Namun tidak dengan Reyna yang mendengar curhatan sang suami kepada putri cantiknya.

"Apa kau bilang?!! Aku mendengarnya SUAMIKU...", jawabnya penuh tekanan.

"Ti-dak ada. Kau salah dengar sayang". Alan tergagap, perasaan dia hanya menggumam saja. Tapi kenapa telinga istrinya sangat tajam. Apakah itu salah satu kelebihan tersembunyi dari seorang dokter?

"Aku masih muda untuk dikatakan memiliki penyakit tuli, Alan".

Ya, begitulah perdebatan suami istri itu terus berlanjut sampai Reyna berangkat bekerja. Sedangkan Aira tidak terganggu dengan perdebatan kecil orang tuanya. Mungkin nanti akan semakin terbiasa. Sedangkan Alan, hanya pasrah. Toh nanti, ujung-ujungnya tetap dia yang minta maaf pada Reyna. Jadi percuma untuk terus mengelak.

---

Kedua keluarga kecil memiliki drama masing-masing, namun tidak untuk Inspektur Galih yang posisinya masih akan 'merintis' untuk membangun keluarga kecil. Inspektur Galih sudah move on akan perasaannya ke Arindi, namun dulu saat datang ke pernikahan mereka bersama 'kekasihnya' ternyata itu hanya untuk menutupi rasa sedihnya. Benar, Galih minta tolong rekan beda divisinya untuk berpura-pura menjadi kekasihnya. Seperti pepatah jawa 'Tresno jalaran saka kulino (Cinta datang karena terbiasa)', Galih mulai menyadari perasaannya pada rekannya tersebut.

Dia, yang biasanya hanya peduli pada berkas kasus dan kopi hitam pahit, kini memiliki hobi baru: mampir ke divisi *Cyber Crime*.

Bukan untuk urusan kasus, melainkan untuk melihat **Dania Swasmitha**, teman beda divisinya yang merupakan ahli IT di kepolisian. Dania adalah wanita yang enerjik, berbicara sangat cepat seolah otaknya adalah prosesor *high-end*, dan seringkali membuat Galih bingung dan....sedikit terpesona.

"Inspektur, kalau kau cuma mau berdiri di sana sambil memegang kopi dingin itu selama sepuluh menit, lebih baik kau bantu aku *crack* sandi ini," ujar Dania tanpa menoleh dari layar monitornya.

Galih berdeham, mencoba mengatur wibawanya. "Aku hanya sedang... lewat."

"Kau sudah lewat lima kali dalam satu jam terakhir, Galih. Jalur kantormu tidak lewat sini," Dania berbalik, tersenyum jahil yang membuat Galih salah tingkah.

Galih akhirnya duduk di sampingnya. "Dania, aku ada tiket nonton film aksi malam ini. Tapi temanku batal ikut."

"Siapa? Yudha?" tanya Dania datar.

Yudha yang dimaksud Dania adalah Briptu Aksa yang kembali dan menetap di dunia yang sama dengan Arimbi. Dia mengalami kematian untuk kedua kalinya di dunia asli saat menjalankan tugas bersama Komandan Giga. Sedangkan Komandan Giga telah menikah dengan adik angkat Arimbi Sena, yakni Mira Senara. Saat kematian Arimbi Sena, Giga sangat kehilangan dan baru menyadari akan rasa cintanya pada Arimbi. Namun semua itu terlambat, hingga menemukan tambatan hati yang baru yaitu Mira. Begitupula Aksa, sangat terpukul waktu itu ketika Arimbi menolak untuk kembali. Tapi sekarang, takdir seolah terus bermain dengan Aksa hingga dia kembali lagi masuk kembali ke dunia ini.

(Kita kembali ke Galih dan Dani)

"Bukan, maksudku... apakah kau mau ikut?"

Dania diam sejenak, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Galih. "Apakah ini ajakan kencan atau perintah dinas?"

"Bisa keduanya?" jawab Galih dengan suara rendah.

Dania tertawa kecil. "Baiklah. Tapi dengan satu syarat: jangan bicara soal pasal-pasal hukum selama film berlangsung. Terakhir kali kita makan malam, kau menjelaskan pasal penganiayaan hanya karena pelayannya salah membawa pesanan."

Galih tersenyum tipis. "Siap, laksanakan!"

---

Bersambung....

1
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Nonira Seine: Hallo....
Selamat membaca, ya.....🤗🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!