NovelToon NovelToon
Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Rebirth For Love / Cintapertama / Idola sekolah / Cinta Murni
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.

Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.

Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: REVOLUSI HATI

Gedung olahraga SMA Cakrawala Terpadu telah bertransformasi. Lampu sorot warna-warni membelah langit malam Surabaya yang pekat, sementara dentuman bass dari *sound system* menggetarkan kaca-kaca jendela kelas. *Cakrawala Fest*—puncak acara pensi tahunan yang selalu dinanti—akhirnya tiba. Udara terasa lengket oleh kelembapan khas kota pahlawan, bercampur dengan aroma parfum mahal, jagung bakar, dan asap *dry ice*.

Namun, bagi Keyla Aluna, keriuhan itu terdengar seperti dengung statis di telinga. Ia duduk kaku di tepi ranjang kamar Dinda, menatap pantulan dirinya di cermin besar. Kedua tangannya gemetar dingin, kontras dengan keringat yang mulai membasahi tengkuk.

"Din... aku nggak bisa," cicit Keyla, suaranya nyaris tenggelam oleh suara *hair dryer* yang dipegang sahabatnya. "Ini ide gila. Bintang pasti kecewa kalau tahu Cassiopeia cuma... aku."

Dinda mematikan pengering rambut, lalu memutar kursi Keyla agar menghadapnya. Gadis tomboy itu berkacak pinggang, menatap tajam dengan mata yang sudah dipulas *eyeliner* tipis. "Heh, Keyla Aluna! Lambemu itu lho, dijaga dikit!" omelnya dengan logat Suroboyoan yang kental. "Kamu itu pinter, tulisanmu bagus, hatimu tulus. Kalau si Bintang Rigel itu kecewa cuma gara-gara fisik, berarti dia cowok *goblok* yang nggak pantes dapet surat-suratmu!"

"Tapi, Din—"

"Gak ada tapi-tapian!" Dinda menyambar sebuah *dress* dari gantungan baju. Itu bukan gaun mewah ala pesta *prom* di film Hollywood, tapi sebuah *midi dress* sederhana berbahan satin jatuh. Warnanya biru dongker pekat—*Midnight Blue*.

"Warna ini..." Keyla menyentuh kain halus itu.

"Sama kayak kertas suratmu, kan?" Dinda tersenyum miring, kali ini lebih lembut. "Kamu selalu sembunyi di balik kertas itu. Sekarang, jadilah kertas itu. Jadilah langit malam yang selama ini dia baca."

Keyla menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin meledakkan rongga dadanya. Undangan Bintang terbayang jelas di benaknya: *Temui aku saat Konjungsi. Di mana bintang dan bulan bertemu dalam satu garis lurus. Rooftop Gedung A. Jam 8 malam.*

Keyla menarik napas panjang, mencoba menyerap keberanian dari tatapan Dinda. "Oke. Aku bakal coba."

***

SMA Cakrawala Terpadu tumpah ruah. Siswa-siswi dari sekolah lain, alumni, hingga warga sekitar memadati area lapangan utama. Di panggung, band indie lokal sedang menyanyikan lagu balada yang membuat suasana semakin romantis.

Keyla melangkah masuk melewati gerbang sekolah dengan perasaan asing. Biasanya, ia akan menunduk, menyusutkan bahu, dan berjalan cepat agar tak terlihat. Tapi malam ini, *heels* setinggi lima senti memaksanya berjalan tegak. Gaun biru dongker itu memeluk tubuhnya dengan pas, memberikan siluet yang selama ini tersembunyi di balik seragam kedodoran. Rambutnya yang biasa dikuncir kuda kini digerai bergelombang, dengan jepit rambut berbentuk bintang kecil—hadiah dari Dinda—tersemat di sisi kiri.

"Gila, Key..." bisik Dinda yang berjalan di sampingnya, mengenakan *jumpsuit* denim. "Beberapa anak cowok kelas sebelah barusan ngeliatin kamu, dan mereka nggak ngenalin itu kamu. Misi *Invisible Girl* resmi tamat malam ini."

Keyla tersenyum gugup. Matanya menyapu kerumunan, mencari sosok jangkung yang familiar. Bukan, ia tidak mencari Bintang di kerumunan ini. Ia tahu di mana Bintang berada. Ia hanya takut... takut jika keberaniannya menguap sebelum ia sampai di *rooftop*.

Di sudut lain, dekat stan *bubble tea*, sepasang mata tajam mengawasi kedatangan mereka. Vanya Clarissa berdiri di sana, dikelilingi dayang-dayangnya dari tim *cheerleader*. Vanya tampak memukau, seperti biasa. Namun, ada yang berbeda malam ini. Ia tidak mengenakan warna merah muda atau emas yang mencolok.

Vanya mengenakan gaun malam berwarna biru tua. *Midnight Blue*.

"Liat tuh, Van," bisik salah satu temannya, menunjuk ke arah Keyla. "Itu si Keyla 'kan? Tumben dandan."

Vanya menyipitkan mata, gelas minumannya diremas pelan. "Jadi benar..." gumamnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang mengerikan. "Dia pakai kode warna yang sama."

"Rencana kita gimana, Van?" tanya temannya.

"Lanjut sesuai skenario," Vanya meletakkan gelasnya dengan hentakan pelan namun tegas. "Bintang nunggu Cassiopeia yang pakai baju biru dongker di *rooftop*. Dia nggak bilang Cassiopeia itu siapa, kan? Berarti siapa pun yang datang duluan dengan kriteria itu... dialah pemenangnya."

Vanya merapikan rambutnya, lalu memberi isyarat pada teman-temannya. "Kalian tahan Keyla. Bikin insiden kecil, tumpahin minuman, ajak ngobrol, apa aja. Jangan sampai dia naik ke Gedung A sebelum gue ketemu Bintang. Ngerti?"

"Siap, Bos."

Sementara itu, Keyla dan Dinda sudah mendekati koridor menuju tangga Gedung A. Suara musik terdengar sayup-sayup dari sini. Koridor itu sepi, diterangi lampu temaram yang menciptakan bayangan panjang.

"Din, aku naik sendiri ya," pinta Keyla tiba-tiba, berhenti di depan anak tangga pertama.

"Yakin?" Dinda menatapnya cemas.

"Kalau kamu ikut, aku malah makin grogi. Aku butuh ngumpulin nyali langkah demi langkah," ujar Keyla, mencoba terdengar meyakinkan meski kakinya terasa seperti jeli.

Dinda mengangguk, menepuk bahu Keyla keras-keras. "Ingat, Key. Konjungsi. Ini momenmu. Jangan lari lagi."

Keyla mengangguk mantap. Ia mulai menaiki tangga. Satu langkah. Dua langkah. Di lantai dua, koridor semakin sunyi. Aroma debu kapur dan lantai yang baru dipel menyambut indra penciumannya. Ini adalah dunia yang ia kenal—sekolah yang sunyi—namun tujuannya kali ini bukan untuk bersembunyi.

Tepat ketika Keyla hendak berbelok menuju tangga ke lantai tiga (akses ke rooftop), tiga orang gadis berseragam *cheerleader*—anak buah Vanya—muncul dari balik pilar, memblokir jalan.

"Eh, ada Keyla," sapa salah satu dari mereka dengan nada yang dibuat-buat ramah. "Mau ke mana buru-buru banget? Cantik banget malem ini, mau *cosplay* jadi orang penting?"

Keyla terhenti. Jantungnya mencelos. "Minggir, aku buru-buru."

"Santai dong," gadis kedua maju, sengaja menyenggol bahu Keyla hingga ia terhuyung sedikit. "Kita cuma mau ngucapin selamat. Tumben nggak jadi hantu perpus?"

Di *Rooftop* Gedung A, Bintang Rigel berdiri bersandar pada pagar pembatas, menatap langit Surabaya yang entah bagaimana malam ini terlihat sedikit lebih cerah, seolah polusi cahaya kota mengalah pada bintang-bintang asli. Angin malam mengacak-acak rambutnya yang sudah ditata rapi.

Ia mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung sesiku, dan celana *chino* gelap. Di saku kemejanya, terselip surat terakhir Cassiopeia yang berbunyi: *"Seperti spektroskopi, kau memecah cahayaku menjadi warna-warna yang tak pernah kulihat sebelumnya."*

Bintang melirik jam tangannya. Pukul 19.55. Lima menit lagi menuju Konjungsi.

"Cassiopeia... lo bakal dateng, kan?" bisiknya pada angin.

Suara pintu besi *rooftop* berdecit pelan di belakangnya. Bintang menahan napas. Jantungnya berpacu lebih cepat dari saat ia melakukan *free throw* penentu kemenangan.

Ia berbalik perlahan, penuh harap.

Di ambang pintu, berdiri sesosok gadis. Gaun biru dongker yang elegan melambai tertiup angin, menyatu dengan kegelapan malam namun bersinar di bawah sorot lampu taman yang redup. Siluetnya ramping, rambut panjangnya tergerai indah.

Bintang terpaku. Senyum lebar merekah di wajahnya, rasa lega membuncah di dadanya. "Cassiopeia?" panggilnya lembut.

Gadis itu melangkah maju, keluar dari bayang-bayang pintu menuju cahaya bulan. Ia tersenyum, senyum penuh kemenangan dan pesona yang membius.

"Hai, Bintang. Maaf aku telat," suara itu lembut, manis, namun bukan suara yang Bintang bayangkan saat membaca puisi-puisi tentang nebula dan lubang hitam.

Itu Vanya.

Bintang mengerjap, senyumnya sedikit memudar, digantikan oleh kebingungan yang nyata. "Vanya? Lo... ngapain di sini?"

"Menepati janji," Vanya berjalan mendekat, tatapannya terkunci pada manik mata Bintang. Ia menunjuk gaun birunya. "Biru dongker. Kertas biru. Kamu nunggu aku, kan?"

Sementara itu, di tangga lantai dua, Keyla berusaha menerobos blokade teman-teman Vanya. "Tolong minggir! Aku ditunggu seseorang!"

"Ditunggu siapa? Satpam?" ejek mereka, tertawa keras.

"Dinda!" teriak Keyla panik, berharap sahabatnya masih ada di bawah.

Keyla merasakan matanya memanas. Jam di dinding koridor menunjukkan pukul 20.00. *Konjungsi*. Momen pertemuan itu sedang terjadi sekarang, dan dia terjebak di sini, sementara seseorang lain mungkin sedang mencuri bintangnya.

1
Mymy Zizan
bagussssssssss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!