Leticha gadis 22 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang dijodohkan oleh ayahnya demi menyelamatkan perusahaan. Seharusnya saudaranya yang dijodohkan, tetapi karena menurut sang ayah Leticha membutuhkan seorang pemimpin dalam keluarga, membuat sang ayah memilih untuk menjodohkannya.
Leticha berusaha dengan semampunya untuk membatalkan perjodohan dengan pria berusia 36 tahun. Pria agamis dengan segala ilmu pengetahuan, tetapi usahanya tidak berhasil yang akhirnya membuatnya menikah dengan pria tersebut.
Tidak sampai di sana, Leticha masih terus mencari cara agar bisa berpisah dari tingkah lakunya agar tidak disukai, tetapi suaminya memiliki hati dan sifat yang benar-benar sabar.
Jangan lupa terus ikuti cerita saya.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 Siapa Wanita Itu
Letisha tidak memiliki kegiatan apapun selain bermain ponsel dengan rebahan di sofa.
"Huhhhh, kapan Wilona pulang dari Jepang, jika seperti ini aku tidak punya teman untuk bergosip," gumam Letisha terlihat begitu gelisah karena tidak punya teman untuk nongkrong.
"Kenapa membosankan sekali di rumah ini?"
Tidak menemukan ide akhirnya membuat Aluna mengetik pada ponselnya dengan panjang lebar.
Rakash sedang berada di ruang rapat terlihat fokus mendengarkan salah satu karyawan mempresentasikan proyek yang baru saja dia buat.
Ting.
Pesan masuk pada ponselnya dengan tulisan Letisha.
Rakash menghela nafas dan melihat pesan dari istrinya.
"Aku bosan di rumah," tulisnya.
"Lalu?"
"Aku ingin pergi keluar,"
"Saya tidak pernah melarang kamu untuk keluar,"
Rakash terlihat serius berbalas pesan dengan sang istri, sampai-sampai tidak memperhatikan orang yang terlihat fokus mempresentasikan pekerjaannya.
"Baiklah, ini pendapat saya dan mungkin teman-teman yang ada di sini bisa memberikan pendapat yang lain," pria tersebut selesai mempresentasikannya membuat para penghuni rapat melihat ke arah atasan mereka karena sejak tadi tidak mendapatkan tanggapan apapun.
Semuanya kebingungan dengan saling melihat satu sama lain, atasan mereka tampak tidak biasa, terlihat sibuk sendiri dengan jarinya yang sangat cepat mengetik dan biasanya atasan mereka itu sangat bijaksana dan menghargai orang lain saat mempresentasikan pekerjaannya.
"Pokoknya aku akan ke kantormu, aku tidak bisa dinikahi dan hanya dikurung di rumah saja!" tegas Letisha dalam pesannya dan bahkan memberikan titik yang sangat panjang.
Rakash berniat untuk membalas pesan tersebut, tetapi memiliki insting dengan banyak mata menatap padanya membuat Rakash mengalihkan perhatiannya dan benar dugaannya seluruh karyawan sedang memperhatikannya.
"Maaf!" Rakash kemudian meletakkan ponselnya.
"Lanjutkan!" ucap Rakash.
"Pak sudah selesai," ucap seorang wanita yang duduk di dekatnya.
"Begitu!" Rakash jadi malu sendiri dengan sikapnya.
Suara ponselnya kembali berbunyi dan bukan suara pesan dari istrinya melainkan suara adzan berkumandang.
"Baiklah, kita istirahat sebentar dan setelah sholat zhuhur kita bisa lanjutkan keputusan meeting hari ini," ucap Rakash merasa lega karena memiliki alasan untuk mengakhiri kecanggungan di ruang meeting tersebut.
Para karyawan menganggukkan kepala, memang sudah terbiasa segala sesuatu tidak bisa diputuskan ketika sudah adzan berkumandang dan akan tertunda sampai selesai melaksanakan ibadah Sholat. Namun yang menjadi tidak biasa adalah atasan mereka tidak fokus dan lebih sibuk dengan mengetik pesan.
"Astaga! jadi dia tidak membalas pesanku!" Aluna semakin gila yang duduk di sofa dengan posisi bersila kaki.
"Kenapa laki-laki ini tidak ada peka-pekanya sama sekali. Aaaaaa!" Letisha sampai memukul-mukul kepalanya ke sofa, karena kekesalannya.
Ting
Ponselnya kembali berbunyi membuatnya dengan cepat mengangkat.
"Bersiaplah, saya akan menjemput kamu,"
"Yes!" Letisha seperti mendapatkan hadiah dari kemenangannya, mood-nya benar-benar berubah 100%.
"Hahhhh, benar-benar hal yang tidak terduga sama sekali," ucapnya dengan penuh kebahagian.
Tetapi tiba-tiba saja ekspresinya berubah dengan dahinya berkerut.
"Astaga, kenapa aku seperti cari-cari perhatian padanya?" ucapnya menyadari jika dirinya memang berubah menjadi cegil yang ingin diperhatikan secara intens.
"Tidak! Aku sedang tidak cari perhatian dan memang benar dia sedang mengajakku untuk ke kantornya, aku hanya menyampaikan kepadanya bahwa aku bosan dan tidak bermaksud apapun," Letisha berusaha untuk menekankan kepada dirinya bahwa dia tidak mencari perhatian sedikitpun pada suaminya.
******
Letisha ternyata diajak sang suami ke salah satu perusahaannya yang bergerak di bidang desain perhiasan.
"Jwell!" ucap Letisha ketika melihat tulisan yang sangat tinggi tersebut sebagai nama dari anak perusahaan itu.
"Ayo masuk!" ajak Rakash.
Letisha menganggukkan kepala dengan mengikuti sang suami. Letisha di ajak memasuki perusahaan tersebut. Kepala Letisha berkeliling melihat rapinya para karyawan dengan tampak dipenuhi dengan kertas dan ukiran pensil di atas meja yang sepertinya mereka sudah mendesain sesuatu.
"Ini perusahaan yang kamu maksud?" tanya Letisha.
"Benar!" jawab Rakash.
"Apa kamu salah satu menjadi investor dalam bisnis Mama?" tanya Letisha.
Dia mengingat bagaimana ibunya memang memiliki bisnis dalam bidang perhiasan dan menurutnya ketika orang tuanya dekat dengan Rakash sudah pasti Rakash adalah salah satu donaturnya.
"Tidak! justru biasanya produksi dari perusahaan ini akan bersaing dengan produksi dari beliau. Akan ada lelang yang diadakan setiap perhiasan dari perusahaan-perusahaan yang terlihat," jawab Rakash.
Letisha mengangguk-anggukkan kepala dengan terus berjalan, perusahaan tersebut sudah banyak sekali menciptakan koleksi dan bahkan koleksi yang tersusun begitu sangat cantik dan rapi di dalam kaca, membuat Letisha tampak begitu sangat kagum.
"Aku ingin menciptakan satu karyaku untuk menjadi koleksi di Perusahaanmu," ucap Letisha dengan tiba-tiba saat berdiri di hadapan suaminya itu.
"Jadi kamu ingin memulainya?" tanya Rakash.
"Hmmm, aku memiliki kemampuan dan sangat yakin pasti bisa, dan aku juga ingin bersaing dengan ibuku," ucap Letisha dengan percaya diri.
"Lakukan," jawab Rakash ternyata memberikan dukungan kepada istrinya.
"Tetapi dengan satu syarat," ucapnya.
"Hah!" Rakash menyergah nafas mendengar perkataan dari istrinya itu.
"Kamu yang ingin menunjukkan bakat kamu dan kamu juga yang meminta syarat dari saya," sahut Rakash.
"Jika aku berhasil menciptakan satu karya, maka, kamu harus menjadi orang pertama yang membeli perhiasan dengan harga yang fantastis, itu akan menjadikanku lebih semangat lagi dan akan membuat karya-karya yang lebih banyak lagi," ucapnya.
"Baiklah," jawab Rakash ternyata tidak masalah sama sekali. Dia terlihat begitu santai menyetujui keinginan istrinya.
"Aku tidak suka laki-laki yang mengingkari janji!" tegas Letisha menatap penuh selidik suaminya itu karena permintaannya selalu saja dituruti dan merasa jika permintaannya kali ini kurang masuk akal.
"Saya juga bukan laki-laki yang suka mengingkari janji," jawab Rakash.
"Baiklah kita deal," sahut Letisha dengan mengulurkan tangannya ingin berjabat tangan dengan suaminya dan merasa Rakash terlalu lama meresponnya membuatnya mengambil tangan suaminya sendiri dan mereka saling bersalaman.
"Bagi Rakash tidak masalah dan terpenting istrinya itu memiliki kegiatan dan bisa mengembangkan bakatnya.
"Rakash!" di tengah keduanya saling berbicara tiba-tiba seorang wanita menegur Rakash.
Rakash dan Letisha sama-sama melihat wanita yang tersenyum tampak anggun menggunakan hijab itu.
"Kamu sudah dalam satu minggu ini tidak berkunjung ke kantor ini. Padahal sebentar lagi akan launching produk baru dan bahkan bersamaan dengan acara pergelaran pameran lelang,"ucap wanita itu.
"Banyak pertemuan dengan klien di luar pekerjaan dan kesibukan akhir-akhir ini memang sangat banyak," jawab Rakash
"Kalau untuk hal itu tidak perlu heran, kamu memang laki-laki pekerja keras dan sangat tangguh, tetapi jangan juga sampai melupakan satu tugas yang penting," ucap wanita tersebut.
"Siapa perempuan ini, kenapa dari tadi dia berbicara aku kamu seakan-akan begitu akrab dengan Rakash, lalu mulutnya tidak sakit berbicara sembari tersenyum seperti itu," batin Letisha begitu kesal melihat wanita yang cari-cari perhatian di depan suaminya.
"Hmmmm, ini siapa?" wanita itu akhirnya bertanya mengenai Letisha.
"Ini ...."
"Saya Letisha, istrinya!" dengan bangganya Letisha mengulurkan tangan yang memperkenalkan diri sendiri.
"Mampus, apa kau kaget mendengarnya," batin Letisha melihat ekspresi kaget dari wanita tersebut.
"Benar Maudy. Ini Letisha istri ku. Kami sudah menikah di saat kamu masih menguras proyek di Kanada," ucap Rakash semakin memperjelas semuanya.
"Oh, jadi ini istri kamu," Maudy tersenyum melihat ke arah Letisha dan sementara Letisha melihatnya dengan sinis sudah karena sudah terlanjur kesal.
Bersambung.....