Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Layu sebelum berkembang
Sore itu, langit cerah dengan semburat jingga yang memanjakan mata, seolah ikut merasakan kebahagiaan yang tengah bersemi di hati Davin.
Selesai jadwal prakteknya, dia berniat menyambangi Renata di ruangannya. Pemuda tampan itu menatap pantulan dirinya di cermin, merapikan penampilannya, menyisir rambutnya yang berantakan, dan memastikan wajahnya tetap menawan.
"Wah...! Tampan sekali, Dok." komentar Suster Dewi reflek, ketika Davin keluar dari ruangannya.
Davin tersenyum menanggapi komentar asistennya. Wanita berusia tiga puluh lima tahunan itu sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri, tempatnya berkeluh kesah dan meminta saran.
"Doakan berhasil ya, Sus," ucapnya, menyiratkan harapan yang besar.
"Pasti, Dok," jawab Dewi tulus. "Semoga Dokter Renata jodoh yang tepat untuk Anda. Semangat!"
"Oh, ya. Ini buket bunga pesanan Anda," lanjutnya seraya menyerahkan buket bunga mawar merah yang indah pada Davin.
"Terima kasih, Sus."
Davin menerima buket bunga itu dengan hati berdebar. Dia lantas melanjutkan langkahnya menuju ruangan Renata. Sepanjang koridor, pemuda itu terus mengembangkan senyumnya, membayangkan betapa bahagianya Renata menerima cintanya.
Davin Nararya, seorang dokter bedah profesional, tampan dan kaya tentunya, diam-diam menyukai Renata Ayudia, juniornya yang cantik dan ambisius. Malam ini dia berniat mengajak gadis itu makan malam bersama, sekaligus ingin menyatakan perasaannya yang sudah lama dia pendam.
Sesampai di depan pintu ruangan Renata, Davin menghentikan langkahnya. Tangannya yang hendak mengetuk pintu seketika berhenti di udara, berubah mengepal dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia mendengar suara percakapan dari dalam.
"Jadi, kamu nggak menyukai Dokter Davin?" tanya seorang wanita.
"Nggak!" jawab Renata tegas dan lugas.
"Lalu, kenapa kamu mendekatinya?" tanyanya lagi.
"Aku mendekati dia hanya sebagai alat untuk mencapai tujuanku. Kamu tahu sendiri kan, masuk rumah sakit ini tidak mudah dan butuh koneksi?"
Deg
Davin terkesiap. Ekspresi wajahnya langsung berubah dingin, senyumnya lenyap seketika. Bibirnya bergetar menahan kekecewaan yang tiba-tiba menghantam dirinya.
"Tapi sepertinya Dokter Davin menyukaimu. Apa kamu nggak menyadarinya?"
"Tentu saja aku menyadarinya. Memangnya siapa pria yang nggak jatuh pada pesonaku?" jawab Renata jumawa, suaranya terdengar begitu. sombong.
"Karena itulah aku memanfaatkannya. Aku harus punya backingan yang kuat untuk menunjang karirku selama bekerja di sini," lanjutnya tanpa menyadari bahwa orang yang mereka bicarakan sedang mendengarkan ucapannya.
"Kejam kamu, Ren. Memainkan hati pria baik seperti dia. Kalau kamu nggak suka, seharusnya jangan memberinya harapan," ucap temannya, mencoba menyadarkan Renata.
"Aku nggak kasih harapan, dia-nya sendiri yang kege-eran," jawab Renata enteng, seolah tidak merasa bersalah sama sekali. "Lagipula aku sudah memiliki kekasih, dan dia sangat mendukungku."
"Jadi ini alasannya, kenapa dia selalu bersikap manis padaku?" gumam Davin lirih, menertawai kebodohannya selama ini. Cinta yang bersemayam dalam hatinya harus pupus tak bersambut.
Dengan perasaan hancur, Davin lantas berbalik dan pergi meninggalkan tempat yang menorehkan lara. Sejenak dia berhenti menatap buket bunga di tangannya, lalu tanpa ragu membuangnya ke tempat sampah.
Rasa kecewa, sedih, dan marah, mengisi relung hatinya yang terdalam. Harapan yang indah kini lenyap dan hanya meninggalkan luka menganga. Rasa cintanya yang begitu besar layu sebelum berkembang. Ibarat kuncup bunga yang gugur sebelum mekar.
Terguncang oleh batinnya yang merana, Davin berkendara tak tentu arah hingga mobilnya berhenti di hamparan pasir putih di tepian pantai yang sunyi -- sesunyi hatinya saat ini. Perlahan dia turun dari mobil, lalu berjalan ke tepi pantai. Memandang laut lepas yang berkilauan oleh cahaya bulan yang bersinar separo. Menyembunyikan kedua tangannya di saku celana dan membiarkan kakinya sesekali tersapu ombak.
Davin merenungkan semuanya. Bagaimana sikap Renata padanya selama ini. Tawanya, manjanya, serta perhatiannya, semua terekam apik di memorinya. "Apa aku tak berhak bahagia? Kenapa mencintai harus sesakit ini?" gumamnya lirih.
Dihelanya napas yang terasa sesak, seakan memikul beban berat. Seiring angin laut yang bertiup kencang menerpa wajahnya. Namun, Davin tetap bergeming.
Tak ingin larut dalam kesedihan tak berujung, dia pun bertekad untuk menata kembali kepingan hatinya yang telah patah. Dia harus bangkit dan membuktikan bahwa dirinya cepat move on.
.
.
.
Sementara itu, di ruangan Renata, beberapa menit yang lalu temannya sudah pergi. Ia menengok jam di pergelangan tangannya untuk yang kesekian kali, seraya mengernyitkan dahinya, termangu...
"Tumben sudah jam segini Dokter Davin belum nongol? Apa mungkin dia masih ada pasien? Atau jadwal operasi mendadak?" pikirnya.
"Lebih baik aku datangi saja ruangannya kali, ya?"
Renata lantas mengemasi barang-barang pribadinya ke dalam tas, lalu bergegas keluar dari ruangannya menuju ruangan Davin. Sesampainya di depan ruangan Davin, Renata melihat Dewi sedang membereskan meja.
"Suster Dewi, Dokter Davin masih ada pasien?" tanyanya sambil tersenyum manis.
Dewi menatap Renata bingung, tak tahu harus menjawab apa. Ia menggigit bibirnya sambil memikirkan sesuatu.
"Dokter Renata kok, malah ke sini, terus Dokter Davin-nya ke mana...?" gumamnya dalam hati.
"Atau... Dokter Davin punya pengagum yang lain selain Dokter Renata? Masa, sih? Kok, aku nggak tahu?" Dewi menutup mulutnya dengan satu tangannya, lalu menggeleng kecil
Melihat Dewi tampak bengong entah apa yang dipikirkannya, Renata melambaikan tangannya di depan muka wanita itu. "Suster, dengar saya ngomong, kan?" tanyanya sedikit kesal merasa diabaikan.
Dewi terkejut. "Ah...oh...i-ya," jawabnya gugup. "Anu... Dokter Davin sudah pulang dari tadi, Dok."
Renata mengerutkan keningnya. "Sudah pulang? Memangnya ada urusan apa?" tanyanya penasaran.
"Saya tidak tahu, Dok. Lagipula, saya kan, bukan pengasuhnya yang harus tahu ke mana Dokter Davin pergi." Dewi menjawab sekenanya, berusaha menutupi kegugupannya.
Renata menatap Dewi dengan curiga. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh wanita itu. "Apa kamu tahu sesuatu, Sus?" tanyanya tajam.
Dewi menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Dok. Saya tidak tahu apa-apa. Lebih baik Dokter Renata tanyakan langsung pada Dokter Davin," jawabnya meyakinkan, meskipun pikirannya mulai sibuk menduga-duga.
Renata menghela napas panjang. Ia merasa kecewa karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. "Baiklah kalau begitu, terima kasih ya, Sus," ucapnya,
Wanita cantik itu, lantas berbalik dan berjalan menuju lift dengan langkah gontai. Ia merasa ada sesuatu yang telah terjadi, membuat rasa penasarannya semakin membara. Kenapa Davin tiba-tiba pulang tanpa pamit padanya? Bahkan sikap Dewi pun terkesan sangat aneh seperti ada sesuatu yang sengaja ditutup-tutupi?
Sesampainya di mobil, Renata tidak langsung menyalakan mesinnya, melainkan meraih ponselnya dari dalam tas. Ia mencari nama Davin di kontaknya lalu menekan tombol panggil.
Berdering.... Lama...
"Ayo, angkat dong, Vin!" ujarnya tak sabar, sambil menggigit bibir bawahnya. Biasanya, Davin selalu mengangkat teleponnya dengan cepat.
Hingga akhirnya panggilan terputus dan layar menampilkan tulisan "Panggilan Tak Terjawab". Renata mendengus kesal sembari mengacak rambutnya frustrasi. "Aahh... ke mana sih, itu orang!"
.
.
.
Assalamualaikum, pembaca yang budiman dan baik hati.
Jumpa lagi di karya baru Moms. Semoga kalian suka.
Jika hanya penasaran tolong jaga jempolnya untuk tidak tekan like. Cukup pergi dengan senyap... Please🙏