Andrean Wibisono dikenal sebagai jurnalis paling perfeksionis, disiplin, dan menegangkan —menurut para rekan kerjanya. Hidupnya diatur oleh data dan struktur berita yang rapi.
Masalah hidup Andrean muncul setiap kali dia harus berurusan dengan Alena Maharani yang santai, spontan, percaya insting, dan entah bagaimana selalu selamat meski hobi sekali mepet deadline. Bagi Andrean, Alena adalah clickbait berjalan yang selalu santai menghadapi apapun, sedangkan bagi Alena, Andrean adalah robot jurnalistik yang siap mengingatkan Alena tentang kode etik jurnalistik dalam situasi apapun.
Ketika sebuah proyek liputan spesial memaksa mereka menjadi partner, bencana pun dimulai. Bagaimana kelanjutan kisah dua jurnalis yang saling bertolak belakang ini? Simak dalam Hotnews: I Love You
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi: Relay Access
Ruang CEO, Phoenix Digital Group
"Hotnews mewawancarai Darrel lagi, Pak," lapor Aji pada Rangga.
"Ada yang mencurigakan?" tanya Rangga pada Aji. Aji menggeleng.
"Menurut mata-mata kita, mereka hanya melakukan wawancara biasa. Bahkan Alena datang terlambat," kata Aji datar. Rangga menaikkan kedua alisnya.
"Jurnalis datang terlambat?" tanya Rangga dengan nada sarkastik.
"Sudah ada jurnalis lain di tempat. Partner Alena. Mereka sering terlihat berdua," kata Aji dengan nada dingin dan datar.
"Partner? Saya rasa partner Alena kali ini juga cowok, benar? Ah! Aji! Jangan terbawa suasana seperti waktu itu lagi. Biarkan Alena bersama partner barunya. Dia tidak cukup tangguh untuk menjadi partner kamu seumur hidup," kata Rangga, seperti menabur garam di atas luka hati Aji yang belum mengering. Sedikit namun pasti, rahang Aji mengeras, menahan nyeri di dadanya.
"Jadi, apakah Alena tau kalo Darrel sebenarnya juga alumni PDX?" tanya Rangga pada Aji. Aji menggeleng.
"Belum dapat dipastikan. Darrel tidak terbuka tentang kehidupan pribadinya. Publik tak mengetahui hal itu. Kalau dari kita diam, saya rasa pihak Darrel juga akan tutup mulut," kata Aji. Rangga manggut-manggut.
"Baiklah kalau begitu. Pantau terus Darrel dan Alena. Jangan sampai Alena tau hubungan Darrel dengan PDX. Buat Darrel bungkam, tak peduli bagaimana caranya," perintah Rangga. Aji mengangguk datar lalu meninggalkan ruangan Rangga.
Aji masih berdiri di depan pintu ruang CEO PDX setelah menutupnya dari luar. Aji tak menyangka dia akan kembali berurusan dengan Alena. Bukan sebagai partner, melainkan sebagai lawan. Bagaimana Aji akan bersikap di depan Alena setelah semua yang pernah dia katakan pada Alena.
"Kejujuran itu naif, Alena. Kamu akan lihat bagaimana dunia ini bekerja. Bukan kejujuran yang menang, melainkan siapa yang punya kuasa," kata Aji saat Alena menyerahkan surat pengunduran dirinya. Aji benar-benar marah saat itu. Dia melampiaskan semua kemarahan yang tak beralasan itu pada Alena.
Aji menoleh ke arah jendela kaca di samping ruang CEO. Awan kelabu pekat tadi siang menumpahkan hujan di sore hari pada akhirnya. Aji menatap tiap tetes hujan yang turun.
'Lo inget, Len? Saat hujan begini, kita tertawa menikmati malam lembur dengan segelas kopi panas di ruangan kita,'
***
Ruang Rapat Kantor Redaksi Hotnews.com
"Jadi apa yang kalian dapat hari ini?" tanya Pak Indra pada Andrean dan Alena. Alena menyodorkan ponselnya.
"Darrel memberi saya aplikasi ini sebagai kamuflase email," kata Alena. Andrean menoleh ke arah Alena dengan cepat. Dia sama sekali tak tahu tentang itu.
"Tapi, bukannya lo harus sign up atau log in dulu ke situ pake email?" tanya Andrean bingung. Alena menggeleng.
"Aplikasi ini menggunakan username dan password. Cuma gue yang tau," kata Alena.
"Hah? Gue nggak paham," kata Andrean pasrah, tak mengerti bagaimana bisa Alena mendapat username dan password aplikasi tanpa sign up menggunakan email lebih dahulu.
"Lo tadi kan liat Darrel ngutak-atik ponsel gue setelah dia ngirim file via bluetooth kan? Nah disitu dia ngasih username plus passwordnya," jelas Alena pada Andrean.
"Darrel yakin di cafe tadi nggak ada mata-mata dari PDX? Dia enak banget ngasih username sama password ke lo gitu aja," komentar Andrean, khawatir.
"Abis itu gue ganti username sama passwordnya. Ada opsi ganti username sama password tanpa verifikasi email. Mungkin emang sengaja Darrel desain begitu," jelas Alena. Andrean menghela nafas lega.
"Lalu, dalam aplikasi ini ada apa?" tanya Pak Indra pada Alena.
"Banyaaaak, Pak. Ada banyak bukti kecurangan PDX di masa lalu," kata Alena.
"Tapi kita butuh bukti hubungan PDX dengan isu pemalsuan minyak goreng itu," kata Andrean. Alena mengangguk.
"Di aplikasi ini ada fitur potential scoop yang sebenarnya ini adalah jalan masuk ke server PDX," jelas Alena.
"Masuk ke server PDX? Hacking?" tanya Andrean. Alena menggeleng.
"Kita masih butuh bantuan Renald. Orang suruhan Darrel udah ngasih aplikasi yang sama ke Renald. Renald cuma butuh install aplikasi ini ke komputer Aji, beres," kata Alena.
"Tapi, kalo aplikasi ini di pasang ke komputer Aji, apa Aji nggak bakalan curiga ada aplikasi baru di komputernya?" tanya Andrean. Alena tersenyum.
"Aji nggak akan curiga kalo aplikasi ini tidak dipasang di shortcut desktop dan masuk ke dalam hidden folder," kata Alena.
"Renald cuma punya satu kesempatan buat megang komputer Aji tanpa dicurigai," lanjut Alena.
"Saat persiapan acara konferensi pers besok adalah satu-satunya kesempatan Renald masukin aplikasi ini tanpa dicurigai Aji," tutup Alena.
Andrean diam, berpikir. Rencana ini kemungkinan berhasilnya satu dibanding sembilan puluh sembilan. Bagaimana mungkin Renald bisa dengan cepat menginstall aplikasi dan menyembunyikannya dalam hidden folder?
"Tanpa Renald, apa kita nggak bisa dapet informasi apa-apa?" tanya Andrean pada Alena. Alena menggelengkan kepalanya.
"Kita butuh relay access. Darrel nggak mau melakukan direct hacking. Selain beresiko, kita bisa dituntut balik karena itu termasuk tindak kriminal," jelas Alena.
"Dan ini bukan tindak kriminal?" tanya Andrean.
"Misalkan pun iya, mereka tidak punya bukti, karena begitu kita dapet bukti dari mereka, semua datanya akan langsung terhapus otomatis setelah kita pindahkan," kata Alena.
"Saya rasa Darrel membuat aplikasi ini dengan sangat mempertimbangkan sistem keamanan PDX mengingat dia mantan programmer PDX," kata Pak Indra, terdengar menyetujui rencana Alena. Alena mengangguk mantap.
"Darrel sudah lama mengembangkan aplikasi ini. Hanya saja dia tidak tahu harus masuk melalui mana karena dia butuh akses dari dalam PDX, sedangkan orang-orang PDX pasti waspada dengan dirinya yang sekarang merupakan saingan PDX," kata Alena. Andrean menghela nafas panjang.
"Baiklah. Kita ikut rencana Alena," kata Andrean akhirnya, setuju. Pak Indra manggut-manggut.
"Andrean, kamu tetap tulis hasil wawancara dengan Darrel hari ini untuk menutupi kecurigaan PDX," perintah Pak Indra.
"Eh? Bukan Alena yang nulis, Pak?" tanya Andrean memastikan dia tidak harus menginterpretasikan jawaban-jawaban Darrel yang sulit diartikan.
"Kamu saja. Bukannya kamu yang datang lebih awal dan melakukan wawancara dengan Darrel lebih dulu?" kata Pak Indra sambil berjalan meninggalkan ruang rapat.
Andrean menatap Alena yang terlihat menahan tawa dengan tatapan dingin.
"Anggep aja belajar memahami pola pikir orang eksentrik macem Darrel Bramastya," kata Alena sambil tersenyum dan memasukkan ponsel ke dalam tasnya.
"Gue nggak bisa nulis pake cara lo," kata Andrean dingin. Alena berjalan mendekat ke arah Andrean. Dia berhenti tepat di hadapan Andrean.
"Yang lo butuhin cuma satu. I-ma-ji-na-si," kata Alena lalu berlalu meninggalkan ruang rapat.
'Sial! Keknya gue butuh kopi pahit abis ini,'
***
ceritanya menarik, selalu dinanti.
🥰❤