Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Pertengkaran Keluarga
Pagi harinya…
Seperti biasa, Lora dan Devon duduk di meja makan. Namun kali ini ada tambahan dua kursi kecil di antara mereka—dua anak kembar yang kini ikut meramaikan suasana.
Gea dan Gian duduk di samping Devon dengan wajah ceria.
Meja makan itu terasa hangat, bahkan hampir seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia.
Tawa kecil terdengar sesekali.
Devon tertawa keras saat Gian mencoba menirukan cara makannya, sementara Gea sibuk mengomentari setiap hal yang dilakukan Devon dengan penuh rasa ingin tahu.
Lora hanya bisa tersenyum melihatnya.
Untuk sesaat…
ia benar-benar merasa bahagia.
Seolah kehidupan yang selama ini ia impikan sedang terjadi tepat di depannya.
Namun kebahagiaan itu juga membawa ketakutan.
Sesekali Lora mencuri pandang ke arah anak-anaknya.
Ia sadar…
rumah ini bukan tempat yang aman.
Terlebih lagi jika suatu saat rahasia bahwa Gea dan Gian adalah anaknya terbongkar sebelum semua rencananya berjalan lancar.
Tapi pagi itu, Lora memilih melupakan semuanya.Setidaknya untuk beberapa menit.
Namun di sisi meja makan yang lain—suasananya justru sangat berbeda.
Udara terasa tegang.
Donni yang baru saja pulang pagi tadi duduk di kursinya dengan penampilan yang acak-acakan. Rambutnya sedikit berantakan, kemejanya kusut, dan wajahnya terlihat lelah.
Ia duduk tanpa mengatakan sepatah kata pun.Sementara Sinta menatapnya tajam sejak tadi.Ia masih menyimpan kekesalan karena teleponnya semalam tidak diangkat.
“Kamu dari mana, Mas? Kenapa kamu sama sekali tidak mengangkat teleponku?” tanya Sinta dengan nada dingin namun tajam.
Pertanyaan itu membuat beberapa orang di meja makan menoleh.
Vely dan Vino langsung saling melirik sebelum akhirnya ikut memperhatikan percakapan itu.
Donni mengerutkan keningnya, seolah tidak mengerti dengan pertanyaan itu.
“Kenapa kamu bertanya soal ini, Sayang? Apa ada yang mempengaruhimu?” tanya Donni.
Sekilas ia melirik ke arah Lora.
Tatapannya penuh kewaspadaan.
Ia masih mengingat dengan jelas bahwa kemarin Lora memergokinya bersama Delia.
“Kamu tahu, bukan? Aku bekerja siang dan malam di kantor.” lanjutnya.
“Dan soal teleponmu… aku tidak sengaja meninggalkan ponselku di mobil. Jadi aku tidak tahu kalau kamu menelponku malam tadi.” jelas Donni sambil meneguk jus buah yang baru saja diletakkan oleh pelayan di depannya.
Sinta mengerutkan kening.
Ia masih merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Terlebih lagi setelah kata-kata Lora semalam tentang kepala keuangan itu terus terngiang di kepalanya.
“Kamu tidak mencurigaiku, bukan?” tanya Donni tiba-tiba.
Nada suaranya terdengar seperti sedang menyelidiki sesuatu.
Ia takut.
Takut jika Lora benar-benar mengatakan sesuatu tentang dirinya dan Delia.
Donni lalu menggenggam tangan Sinta dengan lembut.
“Mana mungkin aku bermain gila di belakangmu. Apalagi di kantor juga ada Vino, bukan?” ucap Donni mencoba merayunya.
Kalimat itu membuat Sinta perlahan melemah.Keraguan di wajahnya mulai memudar.Ia menarik napas panjang.
“Maafkan aku, Sayang. Aku hanya sedikit terpengaruh.” ucap Sinta.Lalu ia melirik tajam ke arah Lora.
“Ini gara-gara perempuan rendahan itu.” lanjutnya sinis.
Lora yang sejak tadi memperhatikan mereka hanya tersenyum tipis.
“Aku?” ucapnya santai.
“Kenapa aku? Aku hanya mengatakan apa yang aku lihat saja. Lagi pula aku tidak menuduh apa pun.” jawab Lora ringan.
Lalu ia menoleh ke arah Donni.Matanya menyipit penuh arti.
“Jadi bagaimana, Kakak ipar?” tanya Lora.
“Apa kamu sudah berhasil menemukan cangcut kepala keuangan yang hilang?”Ucapan itu langsung membuat suasana meja makan membeku.
Donni seketika berdiri dari kursinya.Wajahnya terlihat sangat panik.“Apa yang kamu katakan, Lora? Tidak sepantasnya kamu membahas hal menjijikkan itu kepada istriku!” bentaknya.
“Lagipula kenapa aku harus membantunya mencari benda seperti itu?” lanjut Donni dengan suara meninggi.
Sinta ikut berdiri dari kursinya.Ia menatap Lora dengan penuh kemarahan.
“Tutup mulutmu, perempuan rendahan!” bentak Sinta.
“Apa pun yang kamu katakan, aku tidak akan mempercayainya. Kamu sudah berani-beraninya memfitnah suamiku!” ucapnya dengan nada penuh pembelaan.
“Baiklah, baik. Jika bukan seperti itu, seharusnya kamu tidak perlu marah. Wajah panikmu membuat aku jadi berpikir yang tidak-tidak.” ucap Lora terkekeh pelan.
Ia lalu kembali duduk dengan santai, melanjutkan sarapannya bersama Devon dan dua anak kembarnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun suasana meja makan itu sudah berubah tegang.
“Lora, apa kamu tidak puas dengan menyebar gosip murahan tentangku di kantor sampai kamu juga melakukannya kepada Kak Sinta? Apa sebegitu irinya kamu kepadaku sampai kamu merusak keharmonisan keluarga ini?” ucap Vely akhirnya angkat bicara.
Sinta langsung menoleh ke arah Vely.
“Apa yang sudah dia lakukan kepadamu, Vely?” tanya Sinta dengan alis berkerut.
Vely langsung menghela napas seolah menahan sakit hati.
“Kak, dia menyebarkan jika aku merebut Vino darinya dan aku hamil di luar nikah kepada seluruh karyawan kantor. Dia menjelek-jelekkan aku dan Vino di sana, Kak.” ucap Vely dengan suara penuh keluhan.
“Aku yakin dia melakukan itu agar bisa kembali dengan Vino, karena dia tidak puas dengan suami cacatnya itu.” lanjut Vely dengan tatapan sinis ke arah Lora.
Ucapan itu membuat udara di ruangan terasa semakin dingin.
“Kalau dipikir-pikir, dia juga mempengaruhiku dengan menjelek-jelekkan anak di kandungan Vely. Dia menuduh Vely jika anak dalam kandungannya bukan anakku.” ucap Vino ikut berbicara.
Vely langsung memanfaatkan kesempatan itu.
“Lihat, kan, Kak? Dia memang berencana menghancurkan keluarga kita.” ucap Vely.
“Dia memang perusak. Ke mana pun dia pergi, dia selalu menjadi parasit.” lanjutnya penuh kebencian.
“Itulah sebabnya papaku begitu membencinya. Bahkan papaku begitu meragukan jika dia adalah anak kandungnya, mengingat sifatnya yang begitu jauh berbeda dari kehormatan keluarga kami.” ucap Vely lagi.
Ucapan itu membuat Lora langsung menghentikan gerakan tangannya.Matanya perlahan terangkat.Tatapannya langsung mengarah kepada David.David yang memahami isyarat itu segera berjalan menghampiri.
Tanpa banyak bicara, ia menggandeng tangan Devon dan menggendong Gea serta Gian.Ia membawa mereka pergi dari ruang makan menuju kamar.Seolah tahu bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Begitu pintu tertutup—
Lora perlahan berdiri.
“Meragukan aku sebagai anak kandungnya…?” ulang Lora dengan suara rendah.
“Oh… jadi karena itu dia tidak pernah menjalankan tugasnya sebagai ayah.” lanjutnya dingin.
Ia berjalan perlahan menuju meja besar tempat mereka duduk.tepatnya di dekat Vely.
Setiap langkahnya dipenuhi amarah yang selama ini ia tahan.
.
.
.
💐💐💐Bersambung 💐💐💐
Wah wah wah mereka nggak tau aja apa yang di katakan Lora sesuai bukti dan fakta 😅
Lanjut Next Bab ya guys😊
Lope lope jangan lupa ya❤❤
Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat berarti untukku❤