Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".
Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.
"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.
Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harta Rampasan dan Langkah Pergi
Langkah kaki Zian terasa ringan saat dia keluar dari bayangan Hutan Hitam. Langit di timur mulai terang. Matahari pagi menyambut kembalinya sang pemuda dari arena pembantaian. Pakaiannya memang kotor dan robek, tapi matanya bersinar lebih tajam dari pedang mana pun.
Sesampainya di halaman rumah Keluarga Zian yang masih berantakan, Zian melihat tiga sosok sedang duduk gelisah di teras.
"Aku pulang," sapa Zian pelan.
Zian Yan yang sedang bersandar di lengan ibunya langsung melompat bangun. "Kakak!"
Gadis kecil itu berlari kencang dan menabrak perut Zian. Zian tertawa pelan, menahan tubuh adiknya dengan satu tangan. Mei Yin dan Zian Hao segera menyusul dengan langkah tergesa-gesa. Mei Yin langsung meraba wajah dan lengan Zian, mencari luka.
"Kau tidak apa-apa, Nak? Darah ini..." Mei Yin bertanya dengan suara gemetar menahan tangis.
"Ini bukan darahku, Ibu. Aku sama sekali tidak terluka," jawab Zian sambil tersenyum lembut.
Zian Hao menatap putranya dari atas ke bawah. Sebagai petarung, dia bisa merasakan aura Zian kini jauh lebih tenang, tapi kedalaman tenaganya terasa seperti jurang tak berdasar. "Kau berhasil, Zian? Turnamennya..."
"Turnamennya membosankan, Ayah," potong Zian santai. Dia melangkah maju ke tengah halaman yang kosong. "Tapi aku membawa oleh-oleh yang lumayan bagus."
Zian mengeluarkan dua cincin dari saku celananya. Itu cincin penyimpanan milik Tian Ao dan Tetua Wu. Zian tidak punya energi kultivasi untuk membuka segelnya dengan cara biasa. Jadi, dia menekan cincin itu kuat-kuat dengan jempol dan telunjuknya, menyalurkan tekanan otot Tulang Asura untuk menghancurkan paksa segel mental pemilik lamanya.
Krak! Segel itu pecah.
Zian membalikkan cincin itu.
Gemerincing! Prang! Brak!
Ribuan keping uang emas jatuh berhamburan seperti air terjun kecil, menumpuk setinggi lutut orang dewasa di tengah halaman. Bukan cuma emas, puluhan botol batu giok berisi pil obat, belasan senjata baja murni, dan tumpukan kain sutra mahal ikut jatuh berserakan.
Zian Hao, Mei Yin, dan Zian Yan melongo tidak percaya. Mata mereka hampir melompat keluar melihat harta sebanyak itu.
"Z-Zian... dari mana kau dapat uang sebanyak ini?!" Zian Hao sampai tergagap. "Ini... ini lebih banyak dari kekayaan seluruh keluarga kita selama sepuluh tahun!"
"Ini harta rampasan, Ayah. Milik Tian Ao dan orang tua pelindungnya," jawab Zian santai sambil menendang tumpukan keping emas itu. "Gunakan ini untuk membangun ulang rumah kita. Sisanya simpan untuk biaya hidup sehari-hari."
"Tunggu dulu," wajah Zian Hao mendadak pucat. "Milik Tian Ao? Berarti kau..."
"Ya. Aku sudah memotong kepalanya," potong Zian datar tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Orang tua dari Sekte Api Emas itu juga sudah mati. Inti energinya kuremukkan dengan lututku."
Mei Yin menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Astaga, Nak... Kau membunuh pewaris sekte besar..."
"Mereka yang minta dibunuh, Ibu," Zian mengambil satu botol giok merah dari tumpukan harta. Dia membuka tutupnya dan mencium aroma obat yang sangat kuat. "Ini pil penyembuh luka tingkat Jenderal. Ayah, telan ini. Luka di dalam dada Ayah akan sembuh dalam hitungan menit."
Zian memberikan pil itu kepada ayahnya. Zian Hao menelannya tanpa ragu. Seketika, wajah pucat Zian Hao kembali memerah sehat. Napasnya yang tadinya berat langsung lancar. Luka dalam akibat pukulan Tetua Bintang Es beberapa hari lalu hilang tak berbekas.
"Luar biasa," gumam Zian Hao takjub. Dia mengepalkan tangannya, merasakan tenaganya kembali penuh. Tapi kemudian, raut wajahnya kembali cemas. "Zian, kalau Sekte Api Emas tahu Tuan Muda mereka mati, mereka pasti akan mengirim pasukan besar untuk meratakan kota ini."
"Bukan cuma Sekte Api Emas, Ayah," Zian menatap ayahnya lurus-lurus. "Ayah Lin Yue, Pemimpin Sekte Bintang Es, sempat menghubungiku lewat cincin ini sebelum aku merusaknya. Dia mengancam akan memburuku."
Suasana di halaman itu langsung hening. Ketakutan kembali merayap di wajah Mei Yin. Sekte Bintang Es jauh lebih mengerikan dari Sekte Api Emas. Mereka adalah penguasa mutlak ibu kota.
"Karena itu, aku tidak bisa tinggal di sini," lanjut Zian pelan. "Kalau aku tetap di Kota Daun, mereka akan menargetkan kalian. Aku harus memindahkan medan pertempurannya."
"Kau mau pergi? Ke mana, Kak?" tanya Zian Yan sambil menarik-narik lengan baju Zian. Matanya mulai berkaca-kaca lagi.
"Ke ibu kota," jawab Zian tegas.
"Ibu kota?!" Mei Yin langsung memeluk lengan Zian. "Jangan, Nak! Itu sama saja mengantar nyawa ke kandang macan! Di sana sarang para petarung kuat! Tetua sekte berkumpul di sana semua!"
Zian membalas pelukan ibunya dengan hangat. Dia menepuk punggung ibunya pelan. "Ibu lupa apa yang baru saja kulakukan di hutan? Macan-macan itu yang seharusnya takut padaku sekarang. Aku akan pergi ke sana, memotong kepala ayah Lin Yue, dan menghancurkan papan nama sekte mereka. Hanya dengan begitu, mereka tidak akan berani menyentuh keluarga kita lagi."
Zian Hao menatap putranya lekat-lekat. Dia melihat tekad yang sekeras baja di mata Zian. Tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan. Hanya ada keyakinan penuh pada kekuatan kedua belah tangannya.
Zian Hao akhirnya menghela napas panjang. Dia menepuk bahu istrinya pelan. "Biarkan dia pergi, Yin-er. Putra kita sudah bukan anak cacat yang butuh perlindungan lagi. Dia sudah menjadi naga."
Mei Yin menangis terisak, tapi dia perlahan melepaskan pelukannya. Dia tahu suaminya benar. Zian melakukan ini semua demi melindungi mereka.
"Berjanjilah kau akan pulang untuk makan masakan Ibu lagi, Zian," bisik Mei Yin.
"Aku janji, Ibu. Aku pasti pulang membawa cerita seru untuk Yan-er," Zian tersenyum lebar. Dia mengelus rambut adiknya sekali lagi. "Yan-er, jaga Ayah dan Ibu selama Kakak pergi bekerja, ya?"
Gadis kecil itu mengangguk kuat-kuat. "Pasti, Kak! Kakak harus tendang orang-orang jahat itu sampai terbang jauh!"
Zian tertawa. Dia tidak membawa barang bawaan apa-apa. Dia hanya mengganti bajunya yang berdarah dengan pakaian kain hitam bersih yang baru. Tanpa senjata, tanpa zirah, Zian melangkah keluar dari gerbang rumahnya yang rusak.
Dia tidak menoleh ke belakang lagi. Dia tahu, kalau dia menoleh, hatinya bisa goyah melihat air mata keluarganya.
Zian berjalan cepat meninggalkan Kota Daun. Begitu dia keluar dari gerbang kota, dia mulai berlari.
Dia tidak menggunakan trik meringankan tubuh atau sihir terbang seperti kultivator lain. Dia murni menggunakan dorongan otot kakinya.
Brak! Brak! Brak!
Setiap kali kakinya menginjak tanah, batu-batu di jalanan hancur berkeping-keping. Zian melesat maju seperti peluru meriam. Angin berdesing keras menabrak wajahnya. Pohon-pohon di pinggir jalan terlihat seperti garis buram yang lewat begitu saja. Kecepatannya jauh melampaui kuda perang tercepat mana pun.
Tulang Asuranya sangat menikmati gerakan ini. Semakin dia berlari, otot-ototnya terasa semakin panas dan padat.
Tiga hari tiga malam Zian terus berlari menembus hutan, mendaki gunung, dan melewati sungai-sungai besar tanpa istirahat sama sekali. Dia tidak merasa lelah. Tubuhnya seperti mesin tempur abadi yang tidak butuh tidur.
Di hari keempat, menjelang siang, Zian akhirnya menghentikan langkahnya.
Tanah di bawah sepatunya langsung berlubang dalam karena dia mengerem paksa. Debu mengepul tebal di sekelilingnya.
Zian mendongak. Di depannya, menjulang sebuah tembok batu putih yang tingginya mencapai puluhan meter. Tembok itu membentang jauh dari kiri ke kanan. Di tengah tembok raksasa itu, terdapat sebuah gerbang besi hitam yang sangat lebar dan kokoh.
Itu adalah Gerbang Selatan Ibu Kota. Tempat berkumpulnya para jenius, keluarga kaya, dan sekte-sekte raksasa.
Zian merapikan kerah bajunya yang sedikit berantakan karena angin. Dia mulai berjalan santai menuju antrean panjang orang-orang yang mau masuk ke dalam gerbang.
Namun, baru saja dia mendekat, Zian melihat sebuah pemandangan yang membuat langkahnya kembali terhenti. Matanya langsung menyipit tajam.
Di depan gerbang, antrean orang biasa dihentikan secara paksa. Sebuah kereta kuda mewah berukuran besar berhenti tepat di tengah jalan masuk. Kereta itu terbuat dari kayu berwarna biru yang memancarkan hawa dingin. Di kain penutup jendelanya, tergambar lambang singa es bersayap. Lambang Sekte Bintang Es.
Empat penjaga gerbang ibu kota, yang semuanya memancarkan energi tingkat Perwira, justru membungkuk hormat layaknya pelayan di samping kereta itu.
Sementara itu, di depan kereta, dua orang pengawal Sekte Bintang Es sedang memukuli seorang kakek tua penjual kayu bakar sampai kakek itu tersungkur ke tanah berdarah-darah.
"Tuan, tolong... kayu bakar itu satu-satunya dagangan saya hari ini untuk makan cucu saya..." kakek itu memohon sambil menangis memegangi kaki salah satu pengawal.
"Singkirkan gerobak sampahmu ini! Kau menghalangi jalan masuk rombongan Sekte Bintang Es!" bentak pengawal itu bengis. Dia mengangkat kakinya tinggi-tinggi, bersiap menginjak punggung kakek tua itu dengan tenaga penuh.
Penjaga gerbang ibu kota dan ratusan orang di antrean hanya diam menunduk ketakutan. Tidak ada yang berani melawan kesombongan sekte penguasa itu.
Zian menghela napas panjang. Dia mengeluarkan kedua tangannya dari saku celana. Niat membunuh yang baru saja dia redakan selama perjalanan, kini kembali mendidih panas di ujung jari-jarinya.
"Baru sampai di pintu depan, sudah ada sampah yang minta dibersihkan," gumam Zian datar.
Dia melangkah maju meninggalkan barisan antrean, berjalan lurus membelah kerumunan menuju kereta mewah Sekte Bintang Es itu dengan tatapan mata sedingin jurang maut.
cuma tinju asal ajaaa