Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27
Sementara itu, di ruangannya, Aditya sedang duduk termenung sementara Nadine sedang merapikan beberapa berkas di sudut ruangan.
"Mona, apa kamu tidak dengar?" tanya Aditya tiba-tiba, memecah keheningan. "Di luar sana, Aurel sedang memproklamirkan dirinya sebagai calon istriku. Semua karyawan sekarang menatapmu dengan sinis karena mereka pikir kamu adalah pengganggu hubungan kami." ucap Aditya yang sudah tidak bersikap dingin lagi pada Nadine, karena ia merasakan kenyamanan tersendiri saat bersama dengan asistennya itu.
Nadine berhenti bergerak. Ia menarik napas dalam-dalam di balik maskernya. "Tuan Muda, jika setiap kicauan burung di luar sana harus saya dengarkan, maka pekerjaan saya tidak akan pernah selesai. Biarkan mereka percaya pada apa yang mereka lihat, selama Tuan Muda percaya pada apa yang Tuan rasakan." sahut Nadine dengan tenang, ia tidak terprovokasi oleh opini di luar sedikitpun.
Aditya bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Nadine hingga jarak mereka sangat dekat. "Tapi masalahnya... apa yang aku rasakan saat ini sangat kacau, Mona. Aku merasa seolah-olah aku sedang mengkhianati seseorang yang sangat aku cintai setiap kali aku menatap Aurel. Dan anehnya, perasaan itu tenang setiap kali aku melihatmu." ucapnya berterus terang.
denyut jantung Nadine tiba-tiba bergetar, dalam hatinya ia tersenyum , ternyata suaminya sudah merasakan kehadirannya meski ingatannya belum kembali.
"itu hanya perasaan tuan muda saja, atau mungkin Tuan belum siap untuk menikah" malas Nadine sopan.
Huft...
Aditya menghela nafasnya kasar.
"entahlah... rasanya aku tidak ingin menikah, orang tuaku sudah berbagai cara menjodohkanku dengan para gadis, namun tidak ada satupun yang aku suka, setiap malam Aku selalu bermimpi melihat seorang wanita dari belakang, tapi entah siapa itu... yang jelas... sepertinya, wanita itu sedang menungguku".
___
Di rumah kontrakan, Noah yang memantau pergerakan media sosial dan grup karyawan perusahaan melalui peretasan, merasa suhu tubuhnya memanas karena marah.
"Berani sekali dia membohongi semua orang pakai nama Kakek Ardan," gumam Noah.
Jari-jari kecilnya mulai menari lagi. Noah tidak menyerah. Jika Aurel menggunakan opini publik, maka Noah akan menggunakan fakta digital.
Noah meretas panggilan telepon kakeknya tadi pagi dengan Aurel.
Hanya dalam hitungan menit, Noah menemukan kenyataan pahit, Ardan memang sudah sepakat dengan keluarga Aurel soal investasi besar, dan pernikahan itu adalah syaratnya. Ardan memang berencana memaksa Aditya dalam waktu dekat.
"Ibu dalam bahaya," bisik Noah. "Kakek Ardan akan segera datang ke kantor untuk memecat Ibu secara tidak hormat di depan semua orang agar jalan Aurel mulus." gumamnya pelan,
Noah segera mengirim pesan suara ke earpiece Nadine, "Ibu! Kakek Ardan menuju kantor sekarang! Dia membawa surat pemecatan Ibu dan pengumuman pertunangan Ayah. Ibu harus bersiap, "
___
Suasana di lobi utama Gedung Pratama Group yang tadinya bising oleh kasak-kusuk karyawan seketika senyap mencekam. Pintu otomatis terbuka lebar, menampakkan sosok Ardan Pratama yang melangkah dengan tongkat berkepala perak, diikuti oleh Aurel yang tampak sombong di belakangnya.
"Di mana pelayan itu?!" suara Ardan menggelegar, memantul di dinding marmer yang tinggi.
Aditya keluar dari ruangannya dengan langkah tenang, sementara Nadine, yang masih mengenakan masker dan kacamata tebalnya berdiri selangkah di belakangnya, memegang map berisi laporan audit yang baru saja mereka diskusikan.
"Papa, ada apa ini? Ini kantor, bukan rumah," ucap Aditya dingin.
Ardan berhenti tepat di depan putranya, lalu menunjuk Nadine dengan tongkatnya. "Singkirkan sampah ini dari kantormu, Aditya! Aurel sudah menceritakan semuanya. Kamu membawa pelayan dapur masuk ke ruang direksi? Kamu membiarkan dia menyentuh berkas rahasia perusahaan? Apa kamu sudah gila?!"
Adelia ikut menimpali, suaranya melengking penuh penghinaan. "Adit, lihat dia! Wajahnya saja ditutupi karena menjijikkan. Dia pasti punya niat busuk. Papa sudah menyiapkan surat pemecatan tidak hormat untuknya. Satpam, seret dia keluar!"
Dua orang petugas keamanan mendekat, namun sebelum mereka sempat menyentuh lengan Nadine, Aditya melangkah maju, memasang badannya sebagai tameng hidup.
"Jangan ada yang berani menyentuhnya!" bentak Aditya. Suaranya rendah namun mengandung otoritas yang membuat para satpam mematung.
"Aditya! Kamu membangkang pada Papa hanya demi pelayan buruk rupa ini?!" Ardan murka, wajahnya memerah.
Aditya menatap ayahnya dengan tatapan yang tajam dan tak tergoyahkan. "Papa bilang dia sampah? Papa salah besar. Wanita yang Papa sebut buruk rupa ini adalah satu-satunya orang di ruangan ini yang menyadari ada lubang sebesar lima puluh miliar di laporan keuangan yang Papa banggakan itu!"
Seluruh dewan direksi yang menyaksikan kejadian itu terkesiap. Aurel pucat pasi.
Aditya mengambil map dari tangan Nadine dan melemparkannya ke atas meja lobi. "Dalam satu jam, dia menemukan kesalahan algoritma yang bahkan tim IT dan akuntan senior kita lewatkan. Dia tidak hanya cerdas, Papa. Dia punya ketelitian yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang hanya sibuk memoles wajahnya dengan kosmetik mahal."
Aditya menoleh ke arah Nadine sejenak, lalu kembali menatap ayahnya. "Dia tetap di sini. Bukan sebagai pelayan, tapi sebagai asisten pribadiku. Jika Papa memecatnya, maka Papa juga harus memecatku dari kursi CEO ini."
Nadine yang berdiri di belakang Aditya merasa dadanya sesak. Air mata menggenang di balik kacamata tebalnya. Ia tidak menyangka, di tengah amnesianya, Aditya tetap memiliki insting untuk melindunginya, bukan karena tahu dia adalah istrinya, tapi karena menghargai jiwanya. Entah apa yang akan dilakukan Aditya kalau ternyata yang di hina adalah istrinya.
"Tuan Muda..." bisik Nadine lirih, "Jangan korbankan posisi Anda demi saya."
Aditya tidak menoleh, namun ia meraih jemari Nadine di belakang punggungnya,sebuah genggaman tersembunyi yang sangat erat. "Diamlah, Mona. Aku tidak sedang membela pelayan. Aku sedang membela kebenaran."
Aurel yang merasa harga dirinya diinjak-injak, maju dan mencoba menarik masker Nadine. "Kebohongan apa lagi ini?! Dia pasti pakai guna-guna! Lihat wajahnya, Adit! Dia menjijikkan!"
Aditya menepis tangan Aurel dengan kasar. "Cukup, Aurel! Kecantikan bisa dibeli, tapi otak dan ketulusan tidak. Pergilah dari sini sebelum aku memanggil bagian keamanan untuk mengusirmu secara resmi."
Ardan Pratama gemetar karena amarah. Ia melihat sesuatu yang sangat ia takuti, Aditya mulai mengagumi sosok pelayan yang sangat jauh, bahkan wajahnya sangat menjijikan, ia tidak bisa membiarkan putranya jatuh pada perempuan rendahan.
"Kamu akan menyesal, Aditya," desis Ardan. "Kamu memilih seorang pelayan kusam daripada keluarga dan calon istrimu sendiri."
"Aku memilih orang yang membuatku bisa berpikir jernih, Pa," balas Aditya telak.
" ini belum selesai Aditya...., aku akan menyingkirkan pelayan mu itu dari hidupmu " ucapnya dengan senyum tertahan, senyum yang membuat semua orang takut. Kemudian berbalik badan, pergi dengan amarah yang luar biasa.
Setelah Ardan dan rombongannya pergi dengan penuh dendam, lobi kembali sepi. Aditya berbalik menghadap Nadine. Ia melihat bahu Nadine yang gemetar. Tanpa memedulikan tatapan karyawan yang tersisa, Aditya membawa Nadine ke lantai teratas, mereka masuk kembali ke ruangannya dan mengunci pintu.
Di dalam ruangan yang sunyi, Aditya menatap Nadine lama sekali. "Kenapa kamu menangis? Aku sudah membelamu."
Nadine menggeleng, ia menghapus air matanya di balik masker. "Saya hanya... saya tidak menyangka Tuan Muda akan sejauh itu. Padahal saya bukan siapa-siapa."
Aditya mendekat, ia mengangkat tangannya, seolah ingin menyentuh wajah Nadine namun ia ragu. "Kamu salah, Mona. Setiap kali aku melihatmu dihina, hatiku terasa seperti sedang disayat sembilu. Aku tidak tahu kenapa... tapi rasanya aku sudah pernah bersumpah untuk tidak membiarkan satu tetes air mata pun jatuh dari matamu."
Di telinga Nadine, suara Noah terdengar penuh isak bahagia. "Ibu... Ayah sudah mulai pulang. Meski dia belum ingat nama Ibu, tapi hatinya sudah ingat janjinya."