Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.
"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."
Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Ayu menatap nanar ke arah ranjang pesakitan tempat Yura terbaring. Di dalam ruangan serba putih yang berbau antiseptik itu, Yura tampak semakin tenggelam di balik tumpukan peralatan medis. Kabel-kabel dan selang oksigen seolah menjadi satu-satunya hal yang menahan jiwanya agar tidak terbang.
"Ayu..." bisik Yura, suaranya nyaris tak terdengar, lebih mirip embusan angin yang rapuh.
Dengan kaki terpincang dan kepala yang terbalut perban putih, Ayu mendekat. Rasa perih di lututnya tak sebanding dengan rasa sesak yang menghujam dadanya melihat kondisi wanita yang baru saja menyelamatkan nyawanya itu.
"Kenapa kamu lakukan ini, Ra? Kenapa kamu justru menyelamatkanku?" tangis Ayu pecah. Isak tangisnya memenuhi ruangan yang sunyi itu. "Seharusnya aku yang ada di posisi itu, bukan kamu!"
Yura menarik napas dengan sisa-sisa kekuatannya, dadanya naik turun dengan berat. "Setidaknya... aku merasa berguna untuk orang lain sebelum aku pergi, Yu. Jangan menyalahkan dirimu sendiri... aku ikhlas."
Ayu menggeleng hebat, air matanya jatuh membasahi sprei rumah sakit. Ia tahu, secara medis, waktu Yura sudah di ujung tanduk. Dan kenyataan bahwa Yura sekarat karena melindungi dirinya adalah beban yang terasa lebih berat dari gunung mana pun.
"Yu..." Yura meraih tangan Ayu, jemarinya terasa sedingin es. "Jika suatu saat kau bertemu dengannya... katakan bahwa aku tak pernah berhenti mencintainya sampai napas terakhirku. Katakan padanya... agar dia membuka hati untuk cinta yang lain.Jaga dia untukku ya."
"Tidak! Aku tidak mau!" seru Ayu menolak. "Kamu harus mengatakan itu sendiri padanya, Ra! Kamu harus kuat, kamu harus sembuh!"
Yura hanya tersenyum tipis,sebuah senyum kedamaian yang justru membuat hati Ayu mencelos. Yura seolah sudah melihat cahaya di ujung kegelapannya.
"Terima kasih, Yu. Kamu sudah memberiku tawa di saat dunia hanya memberiku luka. Setelah ini... penyakitku akan sembuh. Aku akan bebas dari rasa sakit ini. Kamu juga harus bahagia ya, Yu..."
Genggaman tangan Yura perlahan melonggar. Matanya yang sayu tertutup pelan, meninggalkan sebuah senyum terakhir yang membeku.
TIIIIIIIIIIIIIIT...
Bunyi nyaring dari monitor jantung itu membelah kesunyian, garis hijau yang semula bergerak naik turun kini berubah menjadi garis lurus yang statis.
"Yura? Yura, bangun! Ra!!"
Ayu berteriak histeris, ia mengguncang bahu Yura yang sudah tak bernyawa. Para perawat berlarian masuk ke dalam ruangan, namun Ayu tak peduli. Dunia seolah runtuh menimpanya. Di sana, di tengah kepanikan medis, Ayu menyadari satu hal: ia baru saja mewarisi cinta dan nyawa dari seorang wanita yang bahkan baru dikenalnya beberapa hari.
*
Esti bersimpuh, jemarinya yang gemetar mengelus tanah makam yang masih basah. Isak tangisnya pecah, suara yang menyayat hati di tengah sunyinya pemakaman. Di hadapannya, pusara Yura kini telah terbujur kaku di liang lahat. Perasaannya berkecamuk antara lega dan kehilangan yang teramat dalam; lega karena penderitaan fisik Yura akibat penyakit dan kekejaman dunia telah berakhir, namun hancur karena kini ia benar-benar sebatang kara.
Ayu berdiri beberapa langkah di belakang Esti, wajahnya pucat dengan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir.
"Tante... maafkan Ayu. Andai saja saat itu Ayu lebih waspada, andai saja bukan Yura yang..."
"Cukup!" potong Esti tajam tanpa menoleh. Suaranya serak dan bergetar. "Aku tidak mau mendengar apa pun sekarang. Aku hanya ingin menemani putriku di sini. Pergilah."
Ayu tersentak, kata-katanya tertahan di kerongkongan. Rasa bersalah itu terasa seperti duri yang semakin dalam menggerogoti jiwanya. Ia merasa seperti seorang pencuri nyawa yang seharusnya milik Yura.
Melihat adiknya yang mulai goyah, Ardan segera melangkah maju dan merangkul pundak Ayu dengan protektif. "Sudahlah, Yu. Biarkan Tante Esti sendiri dulu. Dia butuh waktu untuk bicara dengan Yura," bisik Ardan lembut.
Ayu mengangguk lemah, membiarkan Ardan membimbingnya menjauh dari area pemakaman. Namun, begitu sampai di gerbang makam, Ayu menghentikan langkahnya.
"Abang pulang saja duluan. Aku... aku mau menginap di sini."ucap Ayu tiba-tiba.
Ardan mengernyitkan dahi, raut keberatan jelas terpancar di wajahnya. "Tapi, Yu... kondisimu juga belum pulih benar. Luka di kepalamu masih harus dijaga."
"Tidak apa-apa, Bang," sela Ayu dengan tatapan kosong namun penuh tekad. "Aku tidak bisa membiarkan Tante Esti sendirian. Rumah itu akan terasa sangat sepi baginya. Aku harus menjaganya, Bang. Ini satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuk menebus nyawaku pada Yura."
Ardan menghela napas panjang, menyadari bahwa keras kepala adiknya kali ini bersumber dari luka batin yang sangat dalam. Ia hanya bisa mengangguk pasrah, berharap kehadiran Ayu setidaknya bisa menjadi sedikit pelipur lara bagi Esti, meski ia tahu ini tidaklah mudah
Ayu segera beranjak dari tempat duduknya begitu mendengar derit pintu terbuka. Ia melihat Tante Esti baru saja tiba dari pemakaman. Wajah wanita itu tampak layu, matanya sembab dengan tatapan yang kosong,sebuah gambaran nyata dari kehilangan yang meluluhlantakkan jiwa.
Tanpa banyak bicara, Ayu mendekat dan dengan lembut menuntun tangan Esti, mengajaknya masuk ke dalam rumah yang kini terasa begitu sepi.
"Aku sudah siapkan air hangat di kamar mandi. Tante bersih-bersih dulu ya, supaya lebih tenang. Setelah itu, kita makan," bisik Ayu halus.
Esti hanya diam, tak menjawab sepatah kata pun. Ia membiarkan dirinya dituntun seperti anak kecil, mengikuti langkah kaki Ayu tanpa perlawanan. Dunianya seolah telah berhenti berputar sejak tanah pertama menutupi jenazah Yura.
Setengah jam kemudian, Ayu duduk di belakang Esti. Dengan penuh kasih, ia menyisir rambut panjang wanita itu dan mengeringkannya dengan hair dryer. Di depan mereka, pada meja rias yang penuh dengan botol parfum lama, terdapat sebuah bingkai foto. Di sana, Yura tampak begitu cantik, segar, dan sehat, bersandar di bahu ibunya dengan senyum yang sangat cerah.
Tanpa sadar, Ayu meraih bingkai foto itu, mengusap debu imajiner di atas kaca.
"Andai saja dulu aku lebih tegas pada ayahnya... mungkin Yura tidak akan menderita seperti ini," ucap Esti lirih. Suaranya pecah.
Ayu menoleh sejenak, hatinya pedih, lalu kembali menatap bingkai foto itu dan mengusap wajah Yura di balik kaca dengan ibu jarinya.
"Kebangkrutan membuat ayahnya kalap dan gelap mata, hingga tega menjual Yura pada orang-orang jahat itu," lanjut Esti, air matanya kembali meluncur jatuh. "Padahal saat itu putriku masih sangat remaja... dia baru saja menginjak kelas dua SMA. Masa depannya dirampas begitu saja."
Ayu kehilangan kata-kata. Ia tak pernah membayangkan penderitaan seberat itu harus dialami oleh gadis sebaik Yura. Ia hanya bisa memeluk wanita paruh baya itu dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Esti, mencoba membagi kehangatan untuk mengurangi beban yang tak kasat mata.
Malam itu, saat mereka berdua berbaring di tempat tidur yang sama, Esti menatap langit-langit kamar dengan tatapan hampa.
"Yu... besok Tante akan pindah. Tante tidak mau tinggal di sini lagi," ucap Esti tiba-tiba dengan nada yang sangat datar. "Terlalu banyak kenangan yang menyakitkan di setiap sudut rumah ini."
Ayu tertegun. Ia mempererat pelukannya pada lengan Esti. "Tante mau pindah ke mana? Biar Ayu temani, ya?"
Esti tidak menjawab, ia hanya memejamkan mata, membiarkan kegelapan malam menyerap seluruh dukanya. Ayu pun terjaga, ia bersumpah dalam hati tidak akan membiarkan Esti sendirian, setidaknya sampai luka ini tidak lagi berdarah sehebat sekarang.
Bersambung...
Setelah ini kita akan bertransisi ke POV Arga ya.Pada penasaran kan darimana Arga tahu rahasia Ayu?
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???
smpe punya anak LG
....ank Arga ..
jd penasaran Thor...
entah apa yg jadi rahasia Ayu, sampai Ayu mengaku salah
up LG Thor 😍
mg org yg td manggil Arga g d apa apain SM org misterius it