Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Radiasi Roti Sobek
Perjalanan pulang menuju Jakarta seharusnya menjadi waktu yang tepat untuk Aruna mengistirahatkan saraf-saraf otaknya yang hampir putus. Namun, kenyataannya jauh dari kata tenang. Di dalam van hitam mewah yang melaju membelah aspal jalur pantura, Aruna terus-menerus melakukan gerakan cuci muka secara virtual menggunakan tangannya.
Masalahnya bukan karena AC mobil yang terlalu dingin, tapi karena layar monitor di kepalanya terus-menerus memutar ulang adegan High Definition (HD) di samping sumur tua tadi pagi. Bayangan tetesan air yang mengalir di atas roti sobek Javier seolah-olah sudah ter-injeksi permanen ke dalam sistem saraf pusatnya.
"Aruna," panggil Javier tiba-tiba.
Aruna meloncat dari kursi empuknya.
"AYAM SUMUR! Eh... iya, Jang? Kenapa?"
Javier menoleh, menatap Aruna dengan wajah polos yang sangat menyebalkan. Dia sudah kembali memakai kemeja sutra peraknya, tapi kali ini ia tidak mengancingkan dua kancing teratas.
"Sensor biometrik saya mendeteksi suhu wajah Anda meningkat 15% sejak kita melewati batas desa. Apakah ada kebocoran sistem pada ventilasi mobil, atau Anda sedang mengalami re-run memori tentang aktivitas hidrolik saya pagi tadi?"
"Nggak! Siapa juga yang mikirin aktivitas hidrolikmu!" seru Aruna cepat, wajahnya kini semerah saus sambal di pinggir jalan.
"Aku cuma... cuma kepikiran maket yang belum kelar!"
Javier terdiam sejenak, lalu ia mulai meraba perutnya sendiri di balik kemeja.
"Aruna, bicara soal pagi tadi... saya ingin melakukan audit evaluasi. Menurut pengamatan Anda yang memiliki mata seorang desainer grafis dengan selera estetika tinggi... apakah struktur otot perut saya sudah memenuhi spesifikasi Menantu Idaman dalam standar Bapak?"
Aruna tersedak air mineral yang sedang diminumnya.
"Uhuk! Javi! Standar menantu idaman Bapak itu yang pinter nyangkul, bukan yang punya perut kayak ubin kamar mandi!"
"Tapi Bapak tadi sempat terdiam selama 4,5 detik saat melihat saya," bantah Javier dengan nada serius.
"Sistem saya menganalisis bahwa itu adalah tanda kekaguman struktural. Saya bahkan berencana menambahkan massa otot 2 kilogram lagi agar saat saya membantu Bapak memanen kelapa, saya bisa melakukannya tanpa baju untuk meningkatkan efisiensi pendinginan tubuh."
"Jangan berani-berani!"
Aruna menjitak kepala Javier pelan.
"Bisa-bisa seisi desa kena serangan jantung serentak kalau kamu panjat pohon kelapa tanpa baju. Cukup sumur tadi pagi yang jadi korban radiasimu!"
Javier tersenyum miring, senyum nakal yang biasanya ia gunakan saat di atas panggung untuk memicu jeritan fans hingga membuat mereka pingsan berjamaah.
"Jadi, Anda mengakui bahwa radiasi saya pagi tadi cukup... berpengaruh?" godanya dengan suara yang sengaja diberatkan.
"Berpengaruh bikin aku sakit mata, iya!" elak Aruna, meski matanya justru tidak bisa lepas dari garis rahang Javier yang tajam.
Suasana di dalam van mendadak berubah. Sopir agensi di depan seolah-olah menjadi transparan saat Javier menggeser posisi duduknya mendekat ke arah Aruna. Ruang yang luas di dalam mobil itu tiba-tiba terasa sempit, hanya menyisakan jarak beberapa sentimeter di antara mereka. Aroma maskulin bercampur sisa sabun mandi sumur yang segar mulai menginvasi indra penciuman Aruna.
"Javi, balik ke kursimu," bisik Aruna, meski jantungnya mulai melakukan dance break mengikuti irama lagu comeback Luminous yang paling cepat.
"Nanti Pak Sopir liat di spion, bisa berabe."
"Tidak bisa. Baterai saya sedang mengalami penurunan drastis karena perjalanan jauh ini," gumam Javier.
Tiba-tiba, Javier meraih tangan kanan Aruna. Tanpa peringatan, ia menuntun telapak tangan gadis itu masuk ke balik kemeja sutranya yang masih setengah terbuka, menempelkannya tepat di atas deretan otot perutnya yang keras dan kokoh.
"J-javi! Apa-apaan sih!" Aruna tersentak, mencoba menarik tangannya, tapi Javier menahannya dengan genggaman yang lembut namun sangat kuat.
"Sst. Rasakan ini, Majikan," bisik Javier tepat di telinga Aruna, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
"Apakah tekstur roti sobek ini terasa seperti simulasi atau nyata? Sistem saya perlu validasi langsung dari tangan Anda agar proses pemulihan energi berjalan optimal."
Telapak tangan Aruna bisa merasakan panas dari kulit Javier dan detak jantung pria itu yang ternyata sama cepatnya dengan miliknya. Aruna menelan ludah, jarinya tanpa sadar sedikit menekan permukaan otot yang sempurna itu.
"Gimana?" tanya Javier dengan nada menantang yang intim.
"Apakah struktur ini sudah cukup layak untuk membuat Anda berhenti memikirkan perbedaan dunia antara kita?"
Aruna memalingkan wajah, menyembunyikan pipinya yang terasa seperti terbakar.
"L-layak. Tapi ini nggak higienis, Javi! Tangan aku abis pegang bungkus kacang tadi!"
Javier terkekeh rendah, suara tawanya terasa bergetar di telapak tangan Aruna yang masih menempel di perutnya. Ia menarik tangan Aruna sedikit lebih ke atas, tepat ke arah jantungnya.
"Kalau begitu, biarkan kacang itu menjadi saksi bahwa idola besar yang disembah jutaan orang ini, sekarang sedang berlutut secara sistematis hanya untuk satu orang mahasiswi DKV yang hobi marah-marah," ucap Javier lembut, kali ini benar-benar menatap Aruna dengan tatapan yang bisa meluluhkan maket gedung paling kokoh sekalipun.
"Aruna... di rumah tadi, saat saya melihat Anda menatap saya di sumur, sistem saya hampir crash," bisik Javier pelan.
"Saya bukan pamer, saya hanya ingin menunjukkan bahwa pria yang Anda anggap 'berbeda dunia' ini punya detak jantung yang sama liarnya saat berada di dekat Anda."
Aruna terdiam. Dia menoleh sedikit, melihat Javier yang memejamkan mata di bahunya.
"Javi, kamu tahu kan ini bakal sulit? Jakarta bukan kampungku. Di sana ada kamera, ada fans, ada kontrak..."
"Saya tahu," potong Javier.
Ia membuka matanya, menatap Aruna dengan intensitas yang sanggup melumerkan besi.
"Tapi bukankah Anda mahasiswa DKV? Tugas Anda adalah menyatukan elemen-elemen yang berbeda menjadi satu komposisi yang indah, kan?"
Javier perlahan menarik tangan Aruna dan memberikan kecupan lembut di punggung tangan gadis itu, matanya tetap terkunci pada mata Aruna.
"Biarkan saya jadi proyek desain paling rumit yang pernah Anda kerjakan. Saya tidak butuh jadi sempurna untuk dunia, saya cuma butuh lolos sensor di hati Anda."
Momen romantis itu mencapai puncaknya saat Javier perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Aruna. Aruna sudah memejamkan mata, bersiap untuk sebuah sinkronisasi yang lebih intim.
DRRT! DRRT!
HP Javier bergetar hebat di saku celananya.
"Javier! Kamu di mana?! Ini Manajer Han!"
Suara teriakan dari HP itu terdengar bahkan tanpa perlu di-loudspeaker.
"Kenapa ada laporan kalau ada alien perak mandi di sumur umum sambil pake kacamata renang?! Fotonya sudah masuk ke grup koordinat darurat!"
Javier langsung menjauh dari Aruna dengan gerakan kaget yang kaku.
"Manajer Han! Itu bukan alien! Itu adalah prosedur pembersihan unit secara tradisional!"
Aruna tertawa terbahak-bahak melihat wajah panik Javier.
"Tuh kan! Baru juga mau baper, beritanya udah sampai Jakarta!"
"Aruna, ini darurat!"
Javier sibuk memakai kacamata renang birunya lagi untuk menutupi wajahnya dari rasa malu.
"Sepertinya saya harus meningkatkan protokol keamanan wajah saya. Apakah menurut Anda jika saya memakai daster pink Anda, penyamaran saya akan lebih efektif?"
"Jang, mending kamu diem atau aku suruh sopir puter balik buat balikin kamu ke kolam lele Bambang!" ancam Aruna sambil tertawa.
Javier kembali menyandar, kali ini dengan tangan yang merangkul bahu Aruna posesif.
"Tidak akan... Izin Bapak sudah saya kantongi. Meskipun dengan syarat AC sentral buat kambing, saya akan tetap melakukan sinkronisasi ini sampai bab terakhir."
Di bawah langit sore menuju Jakarta, di dalam mobil yang melaju cepat, Aruna menyadari bahwa hidupnya memang sudah tidak akan normal lagi. Tapi melihat idola dunia di sampingnya yang sedang sibuk menghitung jumlah nyamuk yang ia bunuh di catatan HP-nya, Aruna tahu bahwa ia lebih suka error bersama Javier daripada hidup normal tanpa kloningan gila ini.