NovelToon NovelToon
"Rahasia Laut Pasuruan"

"Rahasia Laut Pasuruan"

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Istana/Kuno / Penyelamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kristinawati Wati

Berlatarkan masa kejayaan Kerajaan Panjalu (Singhasari) di wilayah Pasuruan, sebuah prasasti kuno yang ditemukan oleh Gadis nelayan, Mira, mengungkap rahasia pelabuhan perdagangan rempah-rempah yang hilang selama berabad-abad. Bersama dengan Jaka, seorang budak kerajaan yang ahli membaca naskah kuno, keduanya harus mengurai misteri di balik prasasti tersebut sebelum kekayaan dan sejarah kerajaan jatuh ke tangan yang salah. Di tengah ombak laut dan rahasia yang terpendam, apakah mereka berhasil menyelamatkan warisan leluhur?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristinawati Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25: "Kutukan Makam Karam dan Bunga Bakung Laut"

Di kejauhan pantai Pasuruan, sinar matahari sore mulai menyebar warna jingga kemerahan yang merenungi permukaan laut yang kini lebih tenang setelah badai semalam. Namun ketenangan itu hanya samar, karena kapal perahu kayu milik Pak Darmo yang membawa Laras dan Jaka tengah menghadap ke sebuah pulau kecil yang jarang dikenal oleh penduduk lokal—Pulau Cemara Kecil, tempat dipercaya sebagai lokasi makam karam seorang penyihir laut yang hidup ratusan tahun yang lalu.

“Jangan pernah menyentuh batu-batu yang bertuliskan aksara kuno di sekitar makam itu, Nak Laras,” ujar Pak Darmo dengan suara pelan namun tegas, sambil mengatur arah dayungnya melawan arus yang mulai sedikit mengganggu. Tangan Jaka yang sedang membantu dayung terasa kaku saat melihat bayangan pulau yang semakin jelas, dedaunan cemara yang rimbun seolah menyembunyikan banyak rahasia di baliknya.

Setelah kapal menyentuh bibir pasir putih yang sepi, mereka turun dan berjalan menyusuri jalan kecil yang tertutup rerumputan tinggi. Udara di sekitar pulau terasa berbeda—lebih dingin dan penuh dengan aroma tanah basah serta bunga langka yang hanya tumbuh di daerah terpencil. Laras yang membawa tas berisi catatan neneknya dan sebuah kalung perak kuno tiba-tiba merasakan getaran lembut dari kalung itu, seolah ada yang memanggilnya dari dalam hutan.

“Pak Darmo, saya merasakan sesuatu,” ucap Laras sambil mengpegang erat kalung di lehernya. Jaka segera berdiri dekatnya, tangannya siap menangkapnya kalau ada sesuatu yang tidak beres.

“ Itu tandanya kita sudah dekat dengan makamnya,” jawab Pak Darmo sambil meneruskan langkahnya. Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah clearing terbuka di tengah hutan, di mana terdapat tumpukan batu besar yang disusun membentuk lingkaran. Di tengah lingkaran itu, sebuah pilar batu tinggi berdiri dengan aksara kuno yang terpampang jelas di permukaannya, meskipun sudah banyak ditumbuhi lumut hijau tua.

Saat Laras mendekat ke pilar batu, kalung di lehernya mulai bersinar dengan cahaya keperakan yang lembut. Aksara pada batu juga perlahan bersinar menyamai cahaya kalung itu, dan secara perlahan-lahan mulai terbaca oleh mata Laras—bahkan dia tidak pernah belajar aksara kuno tersebut sebelumnya. “Siapa yang datang dengan kalung leluhur? Kau yang akan melepaskan atau memperkuat kutukan yang telah mengikat kita selama berabad-abad…” bunyi suara yang seolah datang dari dalam tanah sendiri, membuat ketiga orang itu terpaku di tempat.

Pak Darmo mengambil seikat dupa dari kantongnya dan membakarnya, lalu menyemburkan air laut yang sudah dia siapkan ke arah pilar batu. “Kami datang bukan untuk mengganggu, tapi untuk mencari kebenaran tentang apa yang terjadi pada nenek moyang kita dan mengapa laut Pasuruan seringkali memberitakan bencana,” teriak Pak Darmo dengan suara yang penuh rasa hormat.

Sementara itu, Jaka melihat ada beberapa lorong tersembunyi di balik tumpukan batu lain. Dia perlahan mendekati salah satu lorong dan menemukan sebuah ruangan bawah tanah yang di dalamnya terdapat banyak perahu kecil dari kayu yang diukir dengan indah, serta dinding yang dihiasi lukisan cerita tentang perjalanan seorang wanita penyihir yang mencintai seorang nelayan dari Pasuruan. Namun cerita itu tidak tamat—bagian akhir lukisan tampak tergores kasar seolah ada yang berusaha menghapusnya.

Laras yang sedang mencoba membaca seluruh tulisan di pilar batu akhirnya menemukan bagian penting yang menjelaskan bahwa kutukan tersebut muncul karena cinta yang salah paham dan kesalahpahaman antara dua keluarga besar nelayan di masa lalu. Penyihir laut yang dimakamkan di sana sebenarnya adalah orang yang berusaha menyelamatkan kedua keluarga tersebut, namun justru dituduh sebagai penyebab kemarahan laut. Kalung yang Laras bawa adalah kunci untuk membuka bagian terakhir dari cerita itu, namun untuk melakukannya mereka harus mencari bunga bakung laut yang hanya tumbuh di dasar laut di dekat pulau ini—tempat yang juga dikenal sebagai tempat kumpulan arwana laut yang jarang terlihat.

“Kita harus pergi ke dasar laut besok pagi,” ucap Laras dengan tegas setelah membaca seluruh tulisan. “Bunga bakung laut itu adalah kunci untuk membuka makam yang sebenarnya dan menghapus kutukan yang selama ini membuat kehidupan nelayan Pasuruan sulit. Tapi kita harus berhati-hati, karena di sana juga terdapat penjaga yang tidak akan mudah membiarkan kita mengambilnya.”

Pak Darmo mengangguk perlahan, wajahnya menunjukkan bahwa dia sudah tahu akan hal ini namun tidak berani melakukannya sendirian. Jaka yang baru saja kembali dari ruangan bawah tanah membawa sebuah peta kuno yang dia temukan di sana—peta yang menunjukkan lokasi tepat tumbuhnya bunga bakung laut beserta rute aman untuk mencapai sana tanpa mengganggu kehidupan laut yang ada di sekitarnya.

Malam itu mereka bermalam di tepi pantai pulau, dengan menyala-obor yang dibuat dari kayu cemara sebagai sumber cahaya. Di kejauhan, mereka melihat segerombolan ikan yang berenang membentuk pola aneh di permukaan laut—seolah memberi isyarat bahwa perjalanan mereka ke dasar laut besok akan tidak mudah, namun penuh dengan harapan untuk membawa kedamaian bagi laut Pasuruan dan seluruh penduduknya. Saat Laras melihat ke langit yang penuh bintang, dia merasakan tangan neneknya yang seolah menyentuh bahunya, seolah mengatakan bahwa dia tidak sendirian dalam perjuangan ini…

1
falea sezi
ne cerita nyata kah Thor
Anna
Thor maaf sekali, tapi ini cerita kamu sebener ee mau novel apa cerpen kok tiap bab beda. bukan beda alur tapi beda isi cerita. padahal tema judul kamu bagus lho. 🙏🙏
Anna
kok agak bingung ya, kan di bab 2 mira sudah kabur sama jaka, kenapa di bab 3 baru ketemu? tapi di awal ada mereka ketemu, eh ketemu atau belum ketemu 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!