NovelToon NovelToon
The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Sistem
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

"Kecerdasanmu mati di jalanan bersama jaket kurirmu, Arka."
​Hinaan Sarah di hari kelulusannya menjadi luka terdalam bagi Arka, pria yang rela putus kuliah demi membiayai hidup gadis itu. Diinjak-injak oleh Rian Wijaya sang pewaris korporat, Arka mencapai titik nadir hingga sebuah suara dingin bergema: [Sistem Sovereign Architect Aktif].
​Sistem ini tidak memberinya uang instan, melainkan 'mata' untuk melihat celah busuk di balik kemegahan kota. Bermodal sepuluh ribu rupiah dan otak jenius yang dianggap sampah, Arka mulai merancang arsitektur balas dendamnya.
​Bukan dengan senjata, tapi dengan memutus urat nadi ekonomi sang konglomerat. Satu per satu gedung pencakar langit akan bertekuk lutut, dan Sarah akan menyadari bahwa pria yang ia buang adalah penguasa tunggal atas cetak biru dunianya.
​"Selamat datang di permainanku. Di sini, aku adalah arsiteknya, dan kau hanyalah debu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

## **Bab 11: Pertukaran Nyawa**

Ruangan VIP rumah sakit yang mewah itu mendadak terasa sempit dan menyesakkan bagi Arka. Pesan singkat dari Hendra Wijaya masih menyala di layar ponselnya, seperti mata iblis yang menatapnya dengan penuh kemenangan.

"Bajingan," desis Arka. Ia mencoba mencabut jarum infus di punggung tangannya dengan kasar. Darah merembes keluar, membasahi sprei putih, namun ia tidak peduli. Rasa sakit itu hanyalah gangguan kecil dibandingkan dengan badai yang berkecamuk di dadanya.

"Arka! Apa yang kau lakukan?!" Elina, yang baru saja kembali dari ruang IT, bergegas masuk dan menahan tangan Arka. Matanya tertuju pada tetesan darah di lantai. "Kau belum pulih!"

Arka tidak menjawab. Ia menyerahkan ponselnya kepada Elina dengan tangan gemetar. Saat Elina membaca pesan itu, wajahnya yang biasanya dingin berubah menjadi sepucat kertas.

"Hendra menculik salah satu anak panti?" Elina berbisik tak percaya. "Keamanan yang kupasang... bagaimana bisa?"

"Sistem," jawab Arka singkat. Suaranya terdengar seperti gesekan logam. "Hendra tidak menyerang fisiknya. Dia menggunakan celah dalam sistem keamanan digital yang kau pasang. Dia melumpuhkan kamera dan kunci elektronik panti selama tiga menit. Itu waktu yang cukup untuk mengambil satu nyawa."

**[Analisis Saraf: Adrenalin meningkat 200%.]**

**[Peringatan: Kondisi emosional tidak stabil dapat merusak sinkronisasi Sistem.]**

**[Saran: Tarik napas sedalam 4 detik. Fokus pada data.]**

"Siapa?" tanya Arka pada ruang kosong di kepalanya. "Siapa yang dia ambil?"

Sistem berdenyut, menghubungkan Arka dengan kamera panti yang kini sudah kembali aktif. Gambar-gambar hitam putih berkelebat di penglihatannya hingga ia melihat Ibu Fatimah yang terduduk di lantai teras sambil memeluk boneka beruang usang. Itu boneka milik Gilang. Gilang, bocah berusia enam tahun yang selalu mengikuti Arka ke mana pun ia pergi, anak yang bercita-cita ingin menjadi kurir sehebat dirinya.

Dunia seolah runtuh di bawah kaki Arka.

---

Satu jam kemudian, Arka berdiri di atas gedung tua terbengkalai di pinggiran dermaga Tanjungbalai. Angin laut yang membawa aroma garam dan karat menampar wajahnya. Di bawah, deburan ombak menghantam pilar-pilar beton dengan suara yang menggelegar.

Hendra Wijaya berdiri di sana, dikelilingi oleh empat pengawal bersenjata. Di sampingnya, Gilang terduduk di sebuah kursi kayu, mulutnya disumpal kain dan tangannya terikat kuat. Mata besar bocah itu penuh dengan air mata ketakutan, namun ia tidak bisa bersuara.

"Kau tepat waktu, Arka," Hendra tersenyum. Senyumnya bukan lagi senyum pebisnis, melainkan senyum seorang pemangsa yang telah menyudutkan mangsanya. "Aku selalu menghargai ketepatan waktu."

"Lepaskan dia, Hendra," suara Arka terdengar rendah, nyaris seperti geraman binatang buas. "Urusanmu denganku. Jangan bawa anak kecil ke dalam kegilaanmu."

Hendra tertawa kecil, tawa yang kering dan hampa. "Urusanku memang denganmu. Tapi kau bukan manusia biasa, kan? Kau punya sesuatu di kepalamu. Sebuah sistem, sebuah kecerdasan yang membuatmu bisa meruntuhkan perusahaanku dalam semalam."

Hendra melangkah maju, mendekati Gilang. Ia meletakkan tangannya di kepala bocah itu, sebuah gerakan yang tampak seperti kasih sayang namun sebenarnya adalah ancaman mati. "Aku ingin 'otak' itu, Arka. Serahkan seluruh akses sistemmu padaku, pindahkan semua protokolnya ke serverku, dan bocah ini akan pulang dengan selamat."

---

Arka mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Perih itu menyadarkannya pada realitas yang mengerikan. Jika ia menyerahkan Sistem, ia akan kembali menjadi debu. Hendra tidak akan membiarkannya hidup setelah mendapatkan apa yang diinginkannya. Tapi jika ia menolak...

**[Insting: Risiko kematian target (Gilang) adalah 98% jika pengguna melakukan serangan fisik.]**

**[Opsi: Transfer Protokol Sovereign Architect (Risiko: Hilangnya kesadaran mandiri pengguna).]**

"Kau meminta sesuatu yang tidak bisa kau pahami, Hendra," ucap Arka. "Sistem ini bukan sekadar kode. Ini menyatu dengan sarafku. Jika aku memindahkannya, aku akan mati otak."

"Kalau begitu mati sajalah!" bentak Hendra. "Aku sudah kehilangan Rian karena ulahmu! Anakku ada di penjara! Kau pikir aku peduli jika kau mati? Aku ingin kekuatanku kembali! Aku ingin Wijaya Group kembali ke puncak!"

Gilang meronta di kursinya, air matanya membasahi kain yang menyumpal mulutnya. Melihat itu, Arka merasakan sesuatu retak di dalam dirinya. Harga diri? Kekayaan? Legenda? Semuanya terasa sampah dibandingkan dengan nyawa bocah yang dulu pernah berbagi sepotong roti dengannya saat Arka tidak punya uang sepeser pun.

"Baik," Arka melangkah maju. "Aku akan melakukannya. Tapi biarkan dia pergi dulu."

"Kau pikir aku bodoh?" Hendra mengeluarkan sebuah tablet. "Hubungkan otakmu ke perangkat ini. Aku ingin melihat aliran data itu masuk ke serverku sekarang. Setelah progres mencapai 100%, pengawalku akan mengantar bocah ini ke gerbang panti."

---

Arka menutup matanya. Ia memanggil Sistem di dalam kesadarannya.

*"Sistem... lakukan transfer protokol. Semua akses. Berikan semuanya pada Hendra."*

**[Peringatan Kritis: Tindakan ini akan menghapus identitas digital Pengguna.]**

**[Opsi ini akan membuat Pengguna tidak berdaya dan kehilangan seluruh kemampuan analitis.]**

**[Apakah Anda yakin?]**

*"Lakukan,"* perintah Arka dalam hati. *"Nyawa seorang manusia bukan untuk diperdagangkan dengan mesin."*

Cahaya emas mulai berpendar samar di pelipis Arka. Hendra menatap layar tabletnya dengan mata yang haus akan kekuasaan. Bilah progres mulai bergerak. 10%... 25%... 50%...

Arka merasa kepalanya seolah disedot oleh lubang hitam. Pandangannya mulai memudar, kakinya terasa berat. Ia kehilangan kemampuannya untuk melihat data di sekelilingnya. Angin tidak lagi terasa seperti variabel kecepatan, melainkan hanya dingin yang menusuk.

Tiba-tiba, saat progres mencapai 80%, sebuah suara ledakan kecil terdengar dari arah dermaga di bawah.

Bukan polisi. Bukan pengawal Elina.

Melalui sisa-sisa penglihatan Sistemnya yang sedang sekarat, Arka melihat Sarah. Sarah berdiri di bawah sana, memegang sebuah suar darurat yang ia nyalakan. Di sampingnya, puluhan kurir bermotor—teman-teman seperjuangan Arka di jalanan—muncul dari balik peti kemas, memutar gas motor mereka hingga menciptakan kebisingan yang memekakkan telinga.

Hendra dan pengawalnya teralih sejenak oleh keributan di bawah.

---

Itulah celah yang Arka butuhkan. Arka membatalkan transfer data secara paksa. Penalti dari pembatalan itu membuat Arka memuntahkan darah, namun ia menggunakan momentum itu untuk menerjang pengawal terdekat.

Dengan sisa kekuatan analisisnya, Arka memprediksi gerakan pengawal itu. Ia menghantam ulu hati pria itu, menyambar pistolnya, dan menembak pilar beton di dekat Hendra sebagai peringatan.

"Lepaskan dia sekarang!" teriak Arka, suaranya parau oleh darah.

Hendra panik. Ia mencoba menarik Gilang, namun Sarah sudah muncul di tangga darurat bersama dua kurir senior yang membawa linggis. Kekacauan pecah. Para kurir jalanan yang selama ini dianggap sampah oleh Hendra, kini menyerbu gedung itu dengan kemarahan yang nyata. Mereka tidak punya senjata api, tapi mereka punya jumlah dan solidaritas.

Hendra terpojok. Ia menatap tabletnya yang kini hanya menampilkan pesan: **[TRANSFER GAGAL - AKSES DITOLAK]**.

"Kau..." Hendra menunjuk Arka dengan jari gemetar. "Kau menipuku!"

"Bukan aku yang menipumu, Hendra," Arka berjalan tertatih menuju Gilang, memotong ikatannya dengan pisau kecil. Ia memeluk bocah itu erat-erat. "Keserakahanmu sendiri yang menipumu. Kau pikir segalanya bisa dibeli dengan sistem, tapi kau lupa bahwa loyalitas jalanan tidak punya harga."

---

Pengawal Hendra melarikan diri saat melihat puluhan kurir mulai merangsek masuk. Hendra ditinggalkan sendirian di tepi gedung. Ia menatap Arka dengan penuh kebencian, namun di balik kebencian itu, ada ketakutan yang mendalam.

Sarah mendekati Arka, wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar. "Aku tidak bisa hanya diam di rumah sakit, Arka. Aku memanggil teman-teman lamamu... aku tahu kau butuh bantuan yang tidak bisa diberikan oleh Elina dan hukum."

Arka menatap Sarah, lalu menatap kerumunan kurir yang kini berdiri di belakangnya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Arka tidak melihat mereka sebagai data statistik. Ia melihat mereka sebagai manusia.

**[Status: Sistem Offline untuk Pemulihan.]**

**[Pesan Terakhir: Anda telah memilih jalur manusia. Selamat, Arsitek.]**

Arka berdiri, menggendong Gilang yang sudah tenang dalam pelukannya. Ia menatap Hendra Wijaya yang kini tampak begitu kecil dan malang.

"Pergilah, Hendra," ucap Arka dingin. "Bawa sisa-sisa hartamu dan pergilah dari kota ini. Aku bisa saja membunuhmu sekarang, tapi itu akan membuatku sama sepertimu. Aku ingin kau hidup... aku ingin kau melihat bagaimana aku membangun kembali kota ini di atas puing-puing yang kau tinggalkan. Dan setiap kali kau melihat gedung-gedung itu, ingatlah bahwa seorang kurir yang kau hina adalah orang yang menghancurkan duniamu."

Hendra terdiam, lalu perlahan ia berjalan pergi menembus kerumunan kurir yang memberinya jalan dengan tatapan penuh hinaan.

Arka berjalan menuju Sarah. Ia tidak tersenyum, namun ia tidak lagi menatapnya dengan kebencian yang sama. "Terima kasih, Sarah. Kau... kau menyelamatkan kami."

Sarah menunduk, air mata menetes di pipinya. "Aku hanya mencoba membayar sedikit dari hutang harga diriku, Arka."

Arka menatap laut lepas. Sistemnya mungkin sedang mati sementara, kepalanya mungkin sakit luar biasa, tapi hatinya terasa lebih ringan dari sebelumnya. Ia menyadari bahwa kekuasaan sesungguhnya bukan terletak pada Sistem di kepalanya, melainkan pada nyali untuk melakukan hal yang benar, apa pun risikonya.

Hari ini, Arka tidak hanya menyelamatkan Gilang. Ia menyelamatkan jiwanya sendiri dari menjadi monster bisnis berikutnya.

---

1
marsellhayon
ceritanya menarik,melawan sistem.
tapi alurnya terlalu lambat dan bertele tele.
tokoh utama memang mantan kurir,bagus banget ketika ia tak mengkikuti maunya sistem utk jd oportunis dan tak berperasaan.
tp kan oleh sistem dia udah dpt kemampuan analisis utk berani melawan dan berpikir cepat.
jadinya malah membosankan membaca cerita ini.
variable of ancient
banyak cingcong di kepalanya
variable of ancient
lama banget anjg
Manusia Biasa
Konsep Sistemnya menarik thor🫣
adib
banyak pengulangan... tolong dikoreksi lagi
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Cut Founna: siap💪
total 1 replies
Cut Founna
iya kaka, maaf ya🙏 belum lulus review
Wega Luna
ini cerita nya diganti kah Thor , perasaan kemarin GK gini deh
Cut Founna: iya kak, maaf ya🙏 Belum lulus review kemaren
total 1 replies
Naga Hitam
"ayo sayang....."
Loorney
Pasar langsung kacau nih kalau ada yang begini, 100% terlalu gede.
Dewiendahsetiowati
Sarah sama Adrian tadi kan naik mobil pergi dari sana to
Cut Founna: Halo Kak Dewi! Makasih banyak ya masukannya, sangat membantu Fonna memperbaiki cerita ini. 🙏 Fonna baru saja merevisi Bab 1 dan Bab 2 supaya alurnya lebih nyambung. Ternyata Sarah dan Adrian nggak langsung pergi, tapi mereka sombong mau pamer kamar suite dulu. Yuk, dibaca ulang revisinya, dijamin lebih greget! 🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Wega Luna
setuju, biar tahu rasanya di rendah kan ,untung 2 tobat , setidaknya sadar diri GK mengharapkan mantanya🤣🤣🤣🤣
Wega Luna
ehm dibuang sih,,,dia sejak awal bohong ,dia dapat transfer an terus ,
BaekTae Byun
Mending nanti aja thor cinta cinta an mah kan baru mulai move on kalau bisa nikmatin dulu waktu sendiri thor
Wega Luna
🙀 semangat
Jack Strom
Itu tergantung Sarah-nya Thor, kalau dia masih originil ya boleh sih baikan kembali sama Arka, tapi kalau sudah dol... ya jangan lah... 🤭😁😂🤣😛
Jack Strom
Seandainya Arka-nya jadi kaya pelan², tahap demi tahap, mungkin cerita ini lebih seru... 🙂😁😛
Jack Strom: Baik, tak tunggu ya Om... 🤭😁😁😛😛
total 2 replies
iky__
3 bab perhari thor
iky__
tes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!