Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan di balik beludru 1
" sudah siap semua?" tanya Marco tiba-tiba,suaranya memutus keriuhan di ruangan itu.ia berjalan mendekati Laura,berdiri sangat dekat hingga Laura bisa mencium aroma kayu Cendana yang kuat.
Marco mengulurkan tangannya." ayo,waktu kita hampir habis.ingat aturan yang ku katakan di mobil tadi.jangan percaya pada siapapun di pub nanti,kecuali aku."
Laura menyambut uluran tangan Marco.sentuhan tangan yang dingin namun kokoh,memberikan sedikit rasa aman,meski di dalam hatinya ia tahu pesta ini jauh lebih serius dari sekedar ajang dansa remaja.
Konvoi mobil mewah itu membelah jalan kota yang mulai lengang,di pimpin oleh Starlet hitam milik Marco yang melaju dengan kecepatan konstan.di belakang mereka,mobil teman-temannya mengikuti bagaikan bayangan yang setia.
Di dalam kabin Starlet yang sunyi,suasana terasa sangat kontras.Laura duduk kaku,gaun satinnya berdesir halus setiap kali ia bergerak kecil.ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela.seorang gadis yang tak lagi ia kenali.
Marco tetap fokus pada kemudi,namun matanya tak bisa lepas dari sosok yang duduk di sampingnya.lewat sudut matanya,ia diam-diam melirik Laura berkali-kali.
Di balik kekagumannya,terselip gurat kecemasan.Marco tahu,membawa gadis sepolos Laura ke tempat itu adalah keputusan yang egois dan berbahaya.
Ia berdeham kecil,memecah keheningan." ingat Laura,pub Borneo bukan tempat bermain.tetaplah di dekatku."
Mobil-mobil itu akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan tua berasitektur industrial yang megah,namun tersembunyi di sudut pusat kota.sebuah papan neon besar bertuliskan " BORNEO " menyala dengan warna elektrik yang dingin.
Pub ini telah di-booking secara eksklusif.tidak ada pengunjung sembarangan malam ini.ini adalah kali pertama dengan skala seperti ini pesta topeng di adakan di kota mereka.
Di pintu masuk,beberapa pria dengan badan tegap dan setelan jas hitam memeriksa setiap undangan dengan teliti.
Tamu-tamu lain mulai berdatangan dengan mobil mereka.semua mengenakan topeng.ada yang berbentuk hewan berlapis emas,namun semuanya memancarkan aura kekuasaan yang mengintimidasi.
Saat Marco turun dan membukakan pintu untuk Laura,semua mata (yang tersembunyi di balik topeng) seolah tertuju pada mereka.Laura merasa kakinya lemas saat ia menginjak tempat itu.dan ia berdiri di situ sebagai bagian dari teka-teki besar Marco.
Marco mengulurkan tangannya agar Laura bisa merangkulnya." ayo masuk,pesta akan segera di mulai."
Begitu mereka melangkah melewati pintu besar pub Borneo,dentuman music techno dan aroma smoke machine langsung menyambut mereka.lampu sorot temaram menyapu ruangan,memperlihatkan orang-orang yang berdansa tanpa wajah dengan gerakan yang hampir mekanis.
Laura mencengkram tangan Marco dengan erat.ia merasa seperti domba yang baru saja masuk ke dalam sarang serigala berbulu domba.Ia tidak tahu bahwa di sudut lantai atas pub seseorang sedang mengawasi mereka dengan teropong pemantau.
Langkah Laura terasa limbung saat kakinya menginjak karpet tebal di lobi pub BORNEO.aroma ruangan itu bukan seperti aroma sekolah atau rumah majikannya; ini adalah perpaduan antara bau parfum mahal menyesakkan,bau cerutu,dan sesuatu yang tajam seperti bau besi.
Musik yang berdentum di sana tidak memiliki melodi yang ceria.itu adalah ketukan bass yang berat dan konstan, seolah-olah mengikuti detak jantung yang sedang ketakutan.
Laura mempererat pegangannya pada lengan Marco.matanya yang gelisah menyapu sekeliling,dan ia menyadari ada beberapa hal yang janggal.
Meski ada beberapa anak muda,sebagian besar tamu adalah orang-orang dewasa dengan pakaian yang jauh lebih formal dan mahal dari pada yang seharusnya ada di pesta sekolah.orang-orang tidak bercengkrama dan tertawa lepas.mereka berdiri dalam kelompok kecil,berbisik dengan nada rendah,dan sesekali menoleh ke arah panggung kosong di ujung ruangan.
Laura melihat sebuah lambang yang sama dengan apa yang di lihatnya di rumah tempat di mana ia mengganti kostum.bintang segi lima raksasa berkepala kambing di tengahnya
terukir di dinding pub,dan di setiap gelas minuman yang di bawa pelayan.
" Marco..." bisik Laura,suaranya gemetar di balik topeng peraknya.
" ini bukan pesta sekolah kan,? siapa mereka semua? Dan mengapa mereka menatap kita seperti itu?"
Marco tidak langsung menjawab.ia justru membawa Laura ke sudut yang agak gelap jauh dari kerumunan utama.ia berdiri di depan Laura,menutupi pandangan orang lain terhadap gadis itu.
Langkah Laura seolah tertanam di lantai marmer hitam pub Borneo.jika di luar tadi ia hanya merasa asing,kini di dalam ruangan utama rasa asing itu berubah menjadi kengerian yang murni.interior pub telah di rombak total,menciptakan atmosfer yang menyesakkan nafas.
Dinding ruangan di tutupi kain beludru hitam pekat yang menyerap cahaya.tidak ada lampu warna warni layaknya pesta remaja; hanya ada pendar redup dari lilin-lilin hitam yang berjajar di sepanjang dinding.
Di setiap sudut ruangan terdapat patung-patung abstrak berwarna perak kusam yang menyerupai sayap-sayap patah dan simbol-simbol kuno yang tidak di mengerti Laura.langit-langitnya di hiasi rantai besi yang menjuntai,memberi kesan seperti berada di penjara bawah tanah yang mewah.
Di pusat lantai dansa bukan panggung musik yang ada,melainkan sebuah meja panjang berbahan batu hitam yang di kelilingi kursi yang tinggi berbahan kulit.
" Marco,ini bukan pesta," bisik Laura.suaranya nyaris hilang di telan dentuman musik yang kini berubah menjadi irama chanting rendah yang ritmis.
" kenapa semuanya serba hitam? Kenapa ada simbol-simbol aneh ini?"
Laura teringat pada Oma yang mungkin sekarang sedang tidur lelap di lantai tiga rumah majikan.kontras antara kehangatan dan pelukan Oma dan dinginnya ruangan bertema kegelapan ini,membuat Laura ingin segera lari.ia merasa seperti sedang memasuki sebuah upacara rahasia,bukan sebuah perayaan.
Marco menyadari tubuh Laura yang bergetar hebat.ia menarik Laura lebih dekat ke sisinya,melingkarkan tangannya ke bahu gadis itu.bukan sebagai tanda kasih sayang,melainkan sebuah bentuk perlindungan yang mendesak.
" jangan menatap atribut itu terlalu lama Laura," bisik Marco tajam di telinganya.
" fokus saja padaku.jangan lepaskan pandanganmu dari arah pintu keluar."
Namun,kecurigaan Laura sudah mencapai puncaknya.ia melihat para pelayan yang berlalu-lalang tidak lagi menyuguhkan minuman ringan,melainkan gelas-gelas kristal berisi cairan merah kental yang terlihat seperti darah di bawah cahaya temaram.
" pesta macam apa ini Marco? Katakan padaku yang sebenarnya,atau akan berteriak sekarang juga!!" ancam Laura,keberaniannya muncul dari rasa takut yang amat sangat.
Marco terdiam,rahangnya mengeras.ia melirik ke arah balkon lantai dua di mana seorang pria bertopeng singa emas tadi sedang menatap ke arah mereka dengan tatapan yang lapar.