NovelToon NovelToon
CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.

Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.

Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."

Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Mencari Kemeja Terbaik

Bab 13: Mencari Kemeja Terbaik

Kepastian adalah barang mewah di Tanjungbalai, namun malam ini, setelah pesan singkat dari Nisa menetap di layar ponselnya, Rafi merasa seolah-olah dia baru saja membeli seluruh waktu di dunia. Langkah pertamanya menuju realitas hari Sabtu bukan lagi soal angka atau saldo, melainkan soal citra. Secara objektif, kencan bukan hanya soal ke mana kau pergi, tapi bagaimana kau terlihat saat sampai di sana.

Rafi berdiri di depan lemarinya—sebuah perabot kayu tripleks tua yang pintunya sudah agak miring dan mengeluarkan suara mencicit setiap kali dibuka. Di dalamnya, tidak ada deretan pakaian bermerek atau koleksi distro yang sedang tren.

Yang ada hanyalah tumpukan seragam sekolah, beberapa kaos oblong yang sudah tipis karena sering dicuci, dan satu sudut kecil untuk pakaian "pergi".

Ia mulai membongkar. Satu per satu pakaian itu diletakkan di atas kasur tipisnya.

Pilihan Pertama: Kaos Berkerah Warna Hitam.

Rafi menatap kaos itu. Secara logis, hitam adalah warna aman karena bisa menutupi bekas keringat yang pasti akan membanjiri tubuhnya saat menunggu angkot atau di dalam bus nanti.

Namun, kaos ini sudah terlalu sering dipakai. Bagian kerahnya sudah melunglai, kehilangan elastisitasnya, dan warnanya sudah berubah menjadi abu-abu tua yang kusam. Jika ia memakai ini, ia akan terlihat seperti baru saja pulang dari bekerja di gudang ikan.

Diskualifikasi.

Pilihan Kedua: Kemeja Putih Polos.

Kemeja ini biasanya ia pakai untuk acara formal di sekolah atau ke masjid. Bersih, memang. Namun, secara psikologis, memakai kemeja putih ke mal Irian akan membuatnya tampak seperti sales kartu perdana atau petugas koperasi yang sedang menagih utang. Terlalu kaku. Terlalu formal.

Diskualifikasi.

Jantung Rafi berdegup sedikit lebih kencang saat tangannya menyentuh kain yang berada di tumpukan paling bawah. Ini adalah "senjata pamungkas"-nya. Sebuah kemeja flanel bermotif kotak-kotak kombinasi biru tua dan garis merah tipis.

Ia mengangkat kemeja itu dan membentangkannya di bawah cahaya lampu neon kamar yang sedikit berkedip. Ini adalah kemeja terbaik yang ia miliki, dibeli dua tahun lalu saat lebaran di Pajak Baru. Ia jarang memakainya, sengaja menyimpannya untuk momen-momen yang dianggapnya krusial.

Rafi mendekatkan kerah kemeja itu ke matanya. Secara mikroskopis, ia bisa melihat serat-serat kain yang mulai berbulu halus. Yang paling menyakitkan adalah bagian kerah dan ujung lengan. Warnanya sudah memudar, beralih dari biru tua yang tajam menjadi biru pucat yang menunjukkan usia pakaian tersebut.

"Masih layak," bisiknya meyakinkan diri sendiri. "Kalau di dalam mal yang cahayanya agak remang, pudar ini nggak akan kelihatan."

Ia segera mencoba kemeja itu di depan cermin kecil yang tertempel di pintu lemari. Secara analitis, ukurannya masih pas, meski sedikit lebih ketat di bagian bahu karena badannya yang mulai berisi sejak ia sering mengangkat beban saat kerja sampingan. Ia mengancingkan kemeja itu satu per satu, mulai dari bawah hingga ke kerah.

Ia memperhatikan bayangannya. Kemeja flanel ini memberikan kesan "santai tapi rapi"—sebuah standar estetika yang ia anggap cocok untuk perjalanan bus dan makan di McD. Namun, pikirannya yang skeptis kembali bekerja.

Bagaimana jika Nisa memakai baju yang jauh lebih bagus? Nisa anak SMK Bisnis, biasanya mereka lebih peduli pada penampilan dan tren terbaru. Jika Nisa muncul dengan pakaian modis dari toko online, sementara ia hanya memakai flanel pudar ini, jurang kelas di antara mereka akan semakin nyata secara visual.

Rafi menghela napas. Ia melepaskan kemeja itu dan meletakkannya kembali di atas kasur. Ia harus melakukan sesuatu. Ia tidak bisa membeli kemeja baru—anggaran 315 ribu sudah dipatok mati untuk operasional hari Sabtu. Membeli kemeja baru berarti membatalkan tiket 5D atau mengurangi menu makan. Itu adalah kesalahan manajemen keuangan yang fatal.

"Optimasi," gumam Rafi. "Aku harus melakukan optimasi."

Ia teringat cara ibunya dulu membuat pakaian lama terlihat lebih segar. Ia keluar kamar dan menuju ke dapur, mencari sebuah benda kecil di dalam kotak jahitan ibunya. Sebuah setrika besi tua yang beratnya luar biasa.

Rafi kembali ke kamar dengan setrika itu. Ia menyalakan stop kontak dan menunggu suhunya naik. Sambil menunggu, ia mengambil selembar kain tipis dan sedikit air. Tekniknya sederhana namun membutuhkan ketelitian tinggi: menyetrika kemeja flanel dengan uap manual agar serat-seratnya kembali rebah dan memberikan kesan "licin" yang lebih tahan lama.

Ia menekan setrika itu kuat-kuat di bagian kerah yang memudar. Ia menyemprotkan sedikit air, lalu menekannya lagi hingga suara mendesis terdengar. Uap panas mengepul, membawa aroma kain yang terbakar sedikit. Rafi melakukannya dengan rigoritas seorang perfeksionis. Ia menyisir setiap sudut jahitan, memastikan tidak ada satu pun kerutan yang tersisa.

Sepuluh menit ia habiskan hanya untuk bagian lengan kiri. Sepuluh menit lagi untuk lengan kanan. Secara efisiensi energi, ini melelahkan, tapi secara psikologis, setiap kerutan yang hilang meningkatkan kepercayaan dirinya satu persen.

Setelah selesai, ia menggantung kemeja itu di paku di dinding kamar. Di bawah cahaya lampu, kemeja flanel itu kini tampak sedikit lebih "bernyawa". Garis-garis kotak-kotaknya terlihat lebih tegas. Pudar di kerah masih ada, tapi setidaknya kerah itu kini berdiri tegak, tidak lagi terkulai lesu.

Rafi kemudian beralih ke pilihan celana. Hanya ada satu pilihan logis: celana jins warna hitam. Ia memeriksanya dengan teliti. Tidak ada noda yang tertinggal, tapi bagian bawahnya sedikit koyak karena sering bergesekan dengan aspal.

"Nanti dimasukkan sedikit ke dalam sepatu," pikirnya.

Ia kemudian duduk di tepi kasur, menatap kemeja flanel yang tergantung dan sepatu yang sudah ia lem kemarin di atas lantai. Secara struktural, "kostum tempur"-nya sudah siap. Ia sudah menghitung biayanya, ia sudah menyiapkan mentalnya, dan kini ia sudah menyiapkan penampilannya.

Namun, di tengah kesunyian malam Tanjungbalai, rasa cemas itu belum sepenuhnya hilang. Ia meraba saku celana jinsnya, memastikan tidak ada lubang di sana. Ia tidak ingin saat ia merogoh uang untuk membayar bus, ada uang logam yang jatuh berdentang di lantai bus dan mempermalukannya di depan Nisa.

Ia memasukkan satu per satu lembaran uang dari celengan ayam ke dalam dompetnya dengan sangat rapi. Uang sepuluh ribuan di paling depan, lima puluh ribuan di tengah, dan uang seratus ribu (hasil begadang mengetik) di bagian yang paling tersembunyi.

"Penampilan adalah perlindungan pertama," bisik Rafi.

Ia tahu kemeja flanel ini tidak akan mengubahnya menjadi anak orang kaya dalam semalam. Namun, ia berharap kerapian ini bisa menunjukkan pada Nisa bahwa meski ia tidak punya motor, ia memiliki rasa hormat pada kencan mereka. Ia ingin Nisa merasa bahwa pria yang duduk di sebelahnya di bus nanti adalah seseorang yang telah mempersiapkan segalanya dengan penuh perhitungan.

Rafi mematikan lampu kamarnya. Dalam kegelapan, ia masih bisa melihat siluet kemeja flanel itu tergantung. Baginya, itu bukan sekadar pakaian. Itu adalah jubah perang yang akan ia gunakan untuk menantang realitas sosial di kota tetangga besok lusa.

Ia merebahkan tubuhnya, matanya menatap langit-langit yang berbayang. Secara logis, persiapan pakaian sudah 100 persen. Sekarang, tinggal menunggu waktu untuk benar-benar memakainya.

Langkah selanjutnya: Apakah Anda ingin saya melanjutkan ke Bab 14: Ritual Mandi Lama, di mana kita akan melihat detail persiapan fisik Rafi di pagi hari keberangkatan, termasuk usahanya memastikan dirinya tidak berbau matahari meski harus berjalan kaki ke rumah Nisa?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!