NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Time Travel / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Teater Di Jembatan Merah

Malam itu, Jembatan Merah yang melintasi sungai deras di pinggiran Kendal tampak seperti panggung sandiwara yang mematikan. Sesuai instruksi Jatmika, puluhan boneka jerami yang mengenakan caping dan baju lurik lusuh telah diatur sedemikian rupa di balik semak-semak dan pepohonan di sisi jembatan.

Jatmika menggunakan mekanisme Roda Gigi Kayu dan Tali Rami yang dihubungkan dengan arus sungai di bawah jembatan. Arus sungai memutar kincir kecil tersembunyi, yang kemudian menarik tali-tali rami secara berkala. Setiap beberapa menit, tali itu akan menarik tangan boneka atau mengayunkan obor, memberikan ilusi gerakan manusia yang sedang bersiap melakukan penyergapan.

"Ingat, jangan ada yang menembak. Biarkan mesin yang bekerja," bisik Darman kepada dua orang pemuda yang bertugas menjaga mekanisme tersebut dari kejauhan. Mereka adalah satu-satunya manusia asli di sana, sisanya hanyalah jerami dan kecerdikan mekanis.

Sementara itu, di sisi lain hutan, Kapten Van De Berg merayap bersama pasukan elit Marsose. Mereka mengenakan seragam hijau gelap, bergerak tanpa suara dengan bayonet yang sudah terpasang pada senapan Breech-loading terbaru mereka.

Van De Berg melihat ke arah jembatan melalui teropongnya. "Lihat pergerakan obor itu... mereka amatir. Mereka pikir bisa menyergap kita dengan jumlah sebanyak itu tanpa perlindungan suara yang baik," gumamnya dengan senyum meremehkan. "Letnan De Klerk, kepung dari dua sisi. Jangan beri ampun. Aku ingin si 'Raden Sains' itu ditangkap hidup-hidup, sisanya habisi."

Pasukan Belanda mulai bergerak mengepung. Mereka melepaskan tembakan salvo pertama yang memekakkan telinga. Dorr! Dorr! Dorr!

Peluru-peluru timah menembus boneka-boneka jerami, membuat potongan-potongan padi kering beterbangan. Namun, tidak ada teriakan kesakitan. Tidak ada serangan balik. Hanya suara derit kayu dari mekanisme Jatmika yang terus bekerja dengan setia.

"Maju! Bayonet!" teriak De Klerk yang tidak sabar.

Mereka menyerbu ke semak-semak, hanya untuk menemukan bahwa mereka baru saja menghujani jerami dengan peluru mahal. Van De Berg melangkah maju, mengambil sebuah caping yang hancur tertembak. Wajahnya yang biasanya tenang mendadak merah padam saat melihat tali rami yang masih bergerak menarik lengan boneka jerami.

"Ini... ini mainan," desis Van De Berg. Matanya membelalak menyadari sesuatu yang mengerikan. "Ini bukan penyergapan. Ini adalah pengalihan!"

Tepat saat itu, di arah barat daya—tepat di lokasi Benteng Kendal—sebuah cahaya kemerahan muncul di cakrawala, diikuti oleh suara dentuman rendah yang membuat tanah di bawah kaki mereka bergetar.

Jatmika berdiri di balik bayang-bayang tembok luar Benteng Kendal. Di punggungnya terdapat tas berisi Shaped Charge (bahan peledak terarah) primitif yang ia buat dari campuran mesiu murni dan corong besi bekas. Ia telah mempelajari struktur benteng ini: titik terlemahnya bukan pada gerbang utama, melainkan pada ventilasi gudang mesiu bawah tanah yang terhubung ke saluran pembuangan air.

Jatmika menggunakan prinsip Efek Munroe. Dengan mengarahkan ledakan ke dalam ruang sempit melalui corong besi yang dilapisi tembaga tipis dari pasar gelap, kekuatan destruktifnya akan terkonsentrasi menjadi aliran "jet" panas yang mampu menjebol pintu baja gudang mesiu Belanda.

"Suro, pasang sumbunya di sini," bisik Jatmika sambil menunjuk ke celah ventilasi yang sempit.

"Apakah ini akan berhasil, Raden? Jaraknya sangat sempit," tanya Suro dengan tangan gemetar saat memegang pemantik batu api.

"Secara teori, jet logam cair dari alat ini akan menembus pintu gudang dalam satu milidetik dan memicu debu mesiu di dalam. Jika satu tong meledak, semuanya akan ikut meledak," jawab Jatmika tenang. Ia melirik jam sakunya. "Tiga... dua... satu... Nyalakan!"

Sumbu itu terbakar dengan cepat. Jatmika dan timnya segera berlari menuju parit perlindungan yang sudah mereka gali di balik gundukan tanah.

BOOOOOMMMM!

Ledakan awal dari alat Jatmika terdengar tajam. Detik berikutnya, bumi seolah terbelah. Gudang mesiu Benteng Kendal—jantung pertahanan Belanda di wilayah itu—meledak dengan kekuatan yang dahsyat.

Api menjulang tinggi hingga lima puluh meter ke langit, menerangi kegelapan malam seperti matahari buatan. Tembok-tembok benteng yang kokoh retak dan runtuh seperti biskuit yang diremas. Suara ledakan susulan dari amunisi meriam terdengar seperti rentetan kembang api raksasa yang tak kunjung usai.

Jatmika berdiri di tengah debu dan puing yang jatuh dari langit, menatap kehancuran itu dengan wajah tanpa ekspresi. Ia tahu, mulai malam ini, Belanda tidak akan lagi memandangnya sebagai pengganggu kecil. Ia baru saja menyatakan bahwa kedaulatan mereka atas tanah ini bisa hancur berkeping-keping oleh seorang bocah dengan segenggam ilmu fisika.

"Mundur sekarang!" perintah Jatmika. "Sebelum Van De Berg kembali dengan kemarahan iblis."

Di tengah kekacauan benteng yang terbakar dan teriakan para serdadu yang selamat, Jatmika memimpin pasukannya menghilang ke dalam gelapnya hutan, meninggalkan simbol kekuasaan kolonial yang kini hanya menjadi tumpukan puing berasap.

1
Nemi yaa
kereen😍
Sastra Gulo: Terimakasih ka :)
total 1 replies
anggita
terus berkarya tulis👌. moga novelnya lancar.
Sastra Gulo: Amin kak. support selalu ya🙏😍
total 1 replies
anggita
Jatmika.. 👍💣💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!