Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.
Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.
Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.
Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.
novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20. Tamu tak diundang
Happy Reading
Alderza menatap jam tangan, lalu memainkan ponselnya untuk beberapa saat. Setelah itu, dia kembali menatap jam. Menyebalkan. Kenapa Aily masih saja tidak keluar dari toilet?
Entah sudah berapa lama Alderza menunggu, bahkan di telepon beberapa kali pun masih tidak menjawab.
Kesabarannya kali ini sudah habis. Persetan dengan toilet perempuan.
Alderza langsung memasuki toilet perempuan, untungnya tidak ada siapa-siapa. Mungkin masih pagi, jadi restoran masih sepi.
"Aily?" Panggil Alderza.
"Iya?" Tiba-tiba seseorang menjawab dengan polosnya membuat Alderza mengembuskan napas pasrah.
"Kalo niat sembunyi, ngapain jawab!"
Aily keluar dari toilet dengan hati-hati. Dia menunduk malu. Menyebalkan. Kenapa di saat tidak ada Sinta dan Riska, cewek ini masih mematuhi peraturannya?
"Kenapa kamu tau aku lagi sembunyi?"
"Gue tau Aily. Gue tau semuanya."
Alderza langsung memegang tangan Aily, menuntun cewek itu agar segera memasuki mobilnya.
"Aw.. Alderza, sakit. Iya, maaf." Ucap Aily dan seketika itu juga, Alderza langsung melepaskan cengkramannya.
Memangnya apa yang sudah dia lakukan? Mungkinkah cengkramannya terlalu kencang?
Jangan. Jangan terulang lagi, Alderza tidak mau mengulangi sikapnya yang dulu kepada Aily.
Saat ini dia masih tidak percaya bahwa yang membuat Aily seperti ini adalah sahabatnya sendiri. Emosinya begitu meluap sampai dia mencengkram tangan Aily sekencang itu.
Alderza menatap Aily dalam-dalam, "Gue yang harusnya minta maaf." Ucap Alderza sembari menunduk.
"Kenapa? Kamu kan gak salahh apa-apa."
Alderza membuka pintu mobilnya untuk Aily. Tanpa menunggu aba-aba, Aily langsung masuk mobil.
Setelah Alderza duduk di kursi kemudi, dia menjalankan mobil menuju ke sebuah mall. Persetan dengan peraturan itu. Dia ingin melanggar semua peraturan yang ada di buku sialan itu.
Semuanya, dimulai dari sekarang.
"Jangan ke mall, please."
"Gue mau langgar semua peraturan di buku itu, kayaknya seru." Ucap Alderza.
Sontak, ucapan tersebut berhasil membuat Aily merinding. Melanggar semua? Aily hanya bisa terdiam seperti patung. Entah apa yang akan terjadi kepadanya besok.
Dia hanya ingin cari aman, tidak mau mencari masalah di sekolah. Tapi sepertinya, dia tidak bisa terhindar dari masalah.
"Aku pake lip balm aja udah dijadiin badut, apalagi ke mall."
"Gue yang jamin, lo gak bakal kenapa-kenapa, Aily."
"Tapi-" Aily tidak mau meneruskannya.
Aily kurang percaya ucapan cowok itu. Bagaimana bisa Alderza menjamin bahwa Aily akan baik-baik saja, padahal dia sama saja dengan mereka?
Dia bahkan malu mengakui sudah minta maaf kepada Aily di depan sahabatnya. Aily pun kembali menunduk dan dirundung kegelisahan.
"Tapi kenapa?" Tanya Alderza.
"Gak papa kok."
"Gue gak bakal maksa kalo elo gak mau."
Aily berdeham Sesekali, dia menatap Alderza yang matanya lurus ke depan sambil mengemudikan mohil dengan serius.
"Lo udah persiapan buat camping?" Tanya Alderza.
"Belum."
"Gue juga belum." Kata Alderza.
"Lo gak keberatan kalo tolongin gue buat nyari persiapan camping? Gue cuma punya waktu hari ini aja."
Alderza mengubah taktiknya dengan cara yang lebih halus. Dia sangat tahu bahwa Aily paling tidak bisa menolak ketika ada yang meminta tolong kepadanya.
Aily rasanya ingin kabur dari mobil ini sekarang juga, tetapi bagaimana bisa? Pertanyaan Alderza sangat menjebak dan itu membuat Aily semakin terpojok.
"Gak bakal ada yang liat lo termasuk Sinta dan Riska. Kecuali kalo lo bilang-bilang ke mereka. Mereka kan sekolah."
"Oke."
Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya sampai di mall. Aily sepertinya hanya bisa pasrah pada keadaan seperti ini.
"Ayo turun." Ucap Alderza. Dia bisa melihat ketegangan di wajah Aily, tetapi demi rencananya, dia hanya bisa pura-pura tidak melihat semua itu.
Aily terpaksa turun dari mobil. Mereka berjalan menuju tempat belanja yang ramai.
"Udah dong, jangan tegang gitu. Gak seru nih."
Aily mengangguk, tapi tetap saja hatinya merasa tidak enak. Dia masih belum bisa menikmati suasana ini.
"Itu jaketnya lucu loh." Ucap Alderza sambil menunjuk jaket berwarna baby purple dibalur dengan warna hitam.
"Aku masih ada kok jaket."
"Itu kan warna ungu, kesukaan lo. Gue beliin ya."
Jaket tersebut memang lucu, tetapi berdasarkan peraturan di bukunya, Aily tidak boleh menerima pemberian dari cowok manapun.
Habis, itulah yang ada dipikirannya. Hatinya terus berkecamuk saat ini. Beli sendiri? Karena Aily pikir Alderza hanya mengajaknya ke tempat rahasianya, jadi dia tidak ada persiapan uang sepeser pun.
Menyebalkan!
"Gak usah repot-rep-"
"Oke, dengan senang hati." Alderza langsung memasuki toko itu, sementara Aily menganga keheranan.
Sedikitpun dia tidak diberikan waktu untuk menjawab atau menolak permintaan Alderza.
Kali ini, rencana Alderza harus berhasil. Alderza langsung mengeluarkan buku peraturan tersebut. Dia menandainya dengan pulpen yang dia bawa dari mobilnya.
"Sekarang, kita udah langgar 2 peraturan di buku ini." Ucap Alderza senang
"Lo mau peraturan mana lagi yang dilanggar?"
Aily melotot mendengar perkataan Alderza. "Gak ada." Ucapnya.
Setelah sekian lama berkeliling di dalam mall, mereka duduk di food court sekedar untuk membeli minuman.
Aily berdecak kesal sambil memegang gelas ice tea miliknya. "Jadi, kita kapan pergi ke tempat rahasianya?" Tanya Aily frustrasi, karena pada kenyataannya Alderza hanya membawanya keliling mall saja.
"Nanti, agak sore."
Aily melihat jam yang ada di tangannya sdah menunjukkan jam 1 siang. Waktu berlalu begitu cepat. Rasanya, Aily sudah lama tidak menghabiskan waktu ke mall dengan seseorang.
"Ayo, sekarang aja."
Alderza menggelengkan kepalanya, tanda bahwa dia enggan meninggalkan mall ini. Entahlah, dia merasa duduk diam di depan cewek itu sudah cukup untuknya.
"Ya udah, aku pulang sendiri."
Aily berdiri dan langsung meninggalkan Alderza. Sementara Alderza habya terdiam, dan menghitung dalam hatinya. Dia yakin beberapa detik kemudian, Aily akan berbalik dan kembali duduk.
Satu...
Dua...
Tiga...
Aily masih tidak berbalik, dia malah berjalan lebih cepat dan menjauh dari penglihatan Alderza. Sial!
Sungguh, Aily sudah tidak ingin lagi berada mall. Dia tidak mau terjadi hal yang tidak-tidak padanya di sekolah.
Sudah cukup. Seperti ini saja rasanya sudah cukup sakit. Jangan ditambah lagi.
Dan...
Bugh!
Aily menabrak seseorang. Pikirannya pada buku peraturan begitu menyakitkan sampai dia tidak fokus pada apapun lagi.
"Maaf." Ucap Aily sambil menunduk, tak berani menatap sosok pria yang ada di hadapannya.
"Ngapain lo ke sini?" Suara Alderza begitu menggema. Terdengar jelas bahwa Alderza tidak suka dengan keberadaan orang itu.
"Jawab, ngapain lo ke sini?!"
Di mall yang ramai, penuh dengan suara musik, langkah kaki dan orang yang mengobrol, Aily dapat mendengar jelas suara Alderza yang begitu tinggi.
Lantas, Aily mendongak menatap sosok pria yang kini memegang kedua bahunya.
"Bintang?" Ucap Aily tegang.
Alderza rasanya tidak suka melihat ada orang yang terang-terangan memegang bahu Aily di depannya.
Tidak bisa menahan lagi, Alderza langsung menarik tangan Aily agar lepas dari cengkraman Bintang dan beralih ke sisinya.
"Jangan pegang-pegang. Dia punya gue!" Ucap Alderza pada Bintang dengan tatapan penuh kebencian.
Thank you yang udah baca, jangan lupa dikoreksi ya kalo ada typo, kesalahan kata, atau semacamnya. Love you all guys.