Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
Sore itu, tribun SMA Arcandale dipenuhi sorak-sorai. Kenzie berdiri di lantai dua gedung olahraga, tersembunyi di balik bayangan balkon yang menghadap langsung ke lapangan. Ia tidak ingin bergabung dengan kerumunan, namun ia harus melihat ini.
Di bawah sana, Julian bergerak di antara para pemain lain. Kenzie segera menyadari sesuatu yang tidak disadari oleh para penonton fana. Julian sedang melakukan akting fisik yang sangat luar biasa.
Julian sengaja mengatur napasnya agar tampak memburu, meskipun paru-paru Aethern-nya tidak benar-benar membutuhkan oksigen sebanyak itu. Ia membiarkan keringat tipis muncul di dahinya, hasil dari pengaturan suhu tubuh secara manual. Dan yang paling impresif, ia mengatur kecepatannya. Julian bergerak cukup cepat untuk menjadi pemain terbaik, namun cukup lambat agar tidak terlihat seperti kilat yang mustahil bagi mata manusia.
Kenzie memperhatikan dari ketinggian, matanya yang tajam tidak melewatkan detail sekecil apa pun. Julian adalah seorang aktor yang sempurna dalam panggung kefanaan ini. Namun, di tengah gerakannya yang diatur sedemikian rupa, Julian tiba-tiba mendongak.
Pandangan mereka terkunci. Di tengah riuh rendah teriakan penonton, Julian seolah berhenti sejenak dalam poros waktunya sendiri. Julian menangkap sosok Kenzie yang berdiri di kegelapan balkon, mengamatinya dengan tatapan yang terlalu mengerti. Julian tahu penyamarannya telah bocor di depan gadis itu, namun ia tidak punya waktu untuk bereaksi lebih jauh.
"Julian! Fokus!" teriak salah satu anggota tim.
Pada saat yang sama, Hallen melakukan manuver yang memukau. Dengan lompatan tinggi, ia memasukkan bola ke ring, mencetak angka penentu yang membuat seluruh tribun meledak dalam sorak-sorai. Slam dunk itu memicu histeria.
"Hallen! Hallen! Hallen!"
Kenzie merasa atmosfer gedung olahraga itu menjadi terlalu menyesakkan. Energi manusia yang meluap-luap itu membuatnya mual. Ia memutuskan untuk berbalik, ingin segera turun dan menghilang di balik kabut pinus yang mulai menebal di luar.
Namun, ia meremehkan antusiasme anak remaja.
Sesaat setelah Hallen mencetak angka, segerombolan siswi dari lantai dua berlari berhamburan menuju pagar balkon, berebut ingin melihat sang bintang lapangan lebih dekat. Di koridor yang sempit dan remang itu, Kenzie terjepit di tengah arus massa yang liar. Seseorang menyenggol bahunya dengan keras, membuat keseimbangan Kenzie goyah.
Karena ruang yang terlalu sempit, refleks empat ratus tahunnya terhambat. Tubuh Kenzie tersungkur ke arah pojok balkon yang gelap. Di sana, sebuah pot bunga keramik besar yang sudah pecah di salah satu sisinya berdiri terbengkalai.
Srak!
Ujung keramik yang tajam dan bergerigi itu menggores kening Kenzie saat ia terjatuh.
Di bawah sana, Hallen yang sedang merayakan kemenangannya mendadak berhenti tertawa. Entah karena insting atau kebetulan, matanya menangkap pemandangan di atas. Ia melihat Kenzie terjatuh. Begitu pula dengan Julian, namun bagi Julian, yang ia rasakan bukan hanya pemandangan, melainkan getaran Aether yang mendadak kacau di udara.
Hallen adalah yang pertama berlari menaiki tangga tribun dengan kecepatan atletisnya. "Kenzie!"
Saat Hallen sampai di atas, Kenzie sedang terduduk sambil memegang keningnya. Darah merah segar merembes di sela-sela jemarinya, menetes ke lantai semen yang dingin. Bau darah itu bagi manusia biasa seperti Hallen, itu hanya bau besi yang amis. Namun bagi Julian yang kini menyusul di belakang, aroma itu adalah sebuah simfoni yang berbahaya.
"Oh Tuhan, Kenzie! Keningmu..." Hallen panik. Tangannya gemetar saat mencoba menyentuh wajah Kenzie. "Itu luka robek yang cukup dalam. Kita harus ke UKS sekarang!"
Kenzie terpaku. Ia menatap tetesan darahnya sendiri di lantai. Baginya, darah bukan sekadar cairan kehidupan, itu adalah bukti kerentanannya di dunia ini. Dan ia sadar, Julian berdiri hanya beberapa meter di belakang Hallen, menatap luka itu dengan ekspresi yang sulit diartikan, campuran antara kekhawatiran dan pengakuan yang mengerikan.
"Tolong bawa dia ke UKS, Julian! Aku akan cari Suster Sarah di kantor guru, mungkin dia belum pulang!" teriak Hallen, suaranya melengking di antara kebisingan tribun. Kepanikannya tampak tulus, jenis kepanikan manusia yang belum pernah melihat keabadian tergores.
Kenzie ingin menolak. Ia ingin bangkit, lari ke kegelapan hutan pinus dan membiarkan sel-sel tubuhnya bekerja dalam sunyi. Namun, tangan Hallen yang gemetar mendorongnya lembut ke arah Julian, dan Julian dengan gerakan yang begitu tenang namun tak terbantahkan menangkap lengannya.
"Cepat, Julian! Tidak ada waktu untuk melamun!" Hallen berseru sebelum berbalik dan berlari menuruni tangga dengan langkah serampangan.
Kenzie terpaksa menurut. Ia berjalan di samping Julian menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi, menuju ruang UKS di lantai bawah. Tekanan tangan Julian di lengannya terasa dingin namun stabil. Tidak ada kata-kata yang terucap, hanya bunyi gesekan sepatu kets mereka di atas lantai porselen.
Sesampainya di UKS, Julian mendorong pintu kaca yang berderit. Ruangan itu berbau karbol dan seprai bersih. Julian menuntun Kenzie untuk duduk di tepi ranjang pemeriksaan yang dialasi kain putih.
Julian berbalik, mengunci pintu UKS dengan bunyi klik yang halus, lalu berjalan menuju lemari medis. Ia mengambil kapas dan sebotol cairan antiseptik tanpa perlu mencari-cari, seolah ia sudah menghafal tata letak ruangan itu selama berdekade-dekade.
Kenzie tetap diam, jemarinya masih menekan luka di keningnya. Darah merah merembes di antara celah jarinya, menetes jatuh ke lantai putih. Satu tetes. Dua tetes.
Julian mendekat. Ia menarik sebuah kursi putar dan duduk tepat di hadapan Kenzie. Jarak mereka begitu dekat hingga Kenzie bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari tubuh Julian, hawa Aethern yang murni.
"Singkirkan tanganmu." ucap Julian. Suaranya rendah, berat dan membawa otoritas yang tidak bisa dibantah oleh remaja mana pun.
Kenzie perlahan menurunkan tangannya. Luka robek itu memanjang di atas alis kirinya, menganga kecil, memuntahkan cairan kehidupan yang telah tersimpan selama empat ratus tahun.
Julian membasahi kapas dengan antiseptik. Bukannya langsung mengusap luka itu, ia berhenti sejenak, menatap lekat-lekat pada aliran darah Kenzie. Matanya yang biru tampak menggelap, bukan karena haus, melainkan karena pengenalan yang mendalam.
"Darahmu..." Julian berbisik, hampir tidak terdengar.
"Berikan. Aku bisa mengobatinya sendiri." Kenzie merebut kapas itu sebelum Julian sempat melanjutkan ucapannya.
Tangan Kenzie bergerak lebih cepat dari penglihatan manusia biasa, menyambar kapas basah itu dari jemari Julian dengan ketangkasan yang tajam. Kenzie tidak butuh bantuan dan yang lebih penting, ia tidak butuh dianalisis.
Julian tidak menarik tangannya kembali. Ia tetap dalam posisinya, mematung dengan jari yang masih menggantung di udara, matanya terpaku pada kening Kenzie. Keheningan di antara mereka menjadi begitu pekat, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah disedot keluar oleh kehadiran dua entitas yang menolak hukum alam.
"Kau tidak bisa mengobatinya sendiri jika kau ingin tetap terlihat normal saat suster itu datang." ucap Julian tenang. Suaranya tidak lagi terdengar seperti siswa SMA, melainkan suara seorang pria yang telah melihat kekaisaran runtuh dan bangkit kembali.
Kenzie berusaha keras menekan kegugupan yang merayap di balik dadanya. Ia memalingkan wajah, menghindari intensitas tatapan Julian yang seolah mampu menguliti lapisan identitas palsunya hingga ke tulang. Baginya, menjadi manusia adalah tentang menjaga jarak dan Julian baru saja melanggar batas itu.
"Apa maksudmu?" tanya Kenzie, suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar seperti remaja yang sedang tersinggung, bukan seorang abadi yang ketakutan. "Kau bicara seolah-olah aku adalah hantu yang sedang menyamar menjadi manusia."
Kenzie berdiri dari ranjang pemeriksaan, mengabaikan denyut di keningnya. Ia melangkah menuju wastafel di sudut ruangan. Suara gemericik air mengisi keheningan yang menyesakkan itu. Dengan gerakan efisien, ia membasuh sisa darah di jemarinya dan membersihkan area di sekitar luka keningnya. Air yang bercampur merah pucat mengalir ke lubang pembuangan, limbah kehidupan yang seharusnya tidak boleh dilihat oleh siapa pun.
"Luka ini tidak sedalam yang dipikirkan Hallen. Dia hanya terlalu dramatis." gumam Kenzie sambil menatap bayangannya di cermin wastafel.
Kenzie melihat jaringan kulitnya yang sudah mulai merapat secara halus di balik air yang mengalir. Ia panik dan segera mengambil kotak P3K di dekat wastafel. Luka itu sebenarnya butuh jahitan jika terjadi pada manusia biasa. Namun, tidak bagi Kenzie.
Kenzie membayangkan kalau suster yang dibawa Hallen memeriksanya dan memutuskan untuk menjahit luka itu, yang mana pasti Kenzie akan mendapatkan bius. Suster itu pasti akan menyadari kejanggalan yang fatal saat jarum jahit mencoba menembus kulitnya. Kenzie tahu bahwa sel-sel tubuhnya tidak hanya memperbaiki diri dengan cepat, tetapi juga memiliki kepadatan yang berbeda. Dalam kondisi siaga seperti ini, kulitnya akan menjadi sekeras dinding pertahanan, menolak benda asing apa pun yang mencoba masuk.
Dengan cekatan Kenzie menempelkan perban kasa dan plester medis di atas lukanya. Kenzie menutupinya dengan rapat, memastikan tidak ada dokter atau suster mana pun yang punya alasan untuk membuka dan menginspeksi kecepatannya dalam sembuh.
"Aku tidak butuh suster dan aku tidak punya waktu untuk menunggu Hallen." ucap Kenzie tegas. Ia merapikan seragamnya, berusaha mengembalikan citra gadis pendiam yang tadi sempat retak.
Kenzie berjalan cepat menuju pintu yang terkunci. Namun, tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, ia berhenti dan menoleh sedikit ke arah Julian yang masih duduk mematung di kursi putar itu.
"Jika kau memang merasa diriku sama sepertimu, maka kau seharusnya tahu aturan kita, Julian." bisik Kenzie dengan nada mengancam yang dingin. "Cara terbaik untuk bertahan hidup adalah dengan tidak pernah ada. Jangan mencampuri urusanku dan aku akan menganggap kau hanyalah siswa SMA biasa yang membosankan."
Kenzie memutar kunci pintu dengan bunyi klik yang tajam. Ia tidak menunggu balasan Julian. Kenzie mendorong pintu terbuka, berniat menghilang di antara koridor sekolah yang remang sebelum Hallen kembali membawa keributan. Ia harus sampai di apartemennya sebelum luka itu benar-benar tertutup rapat dan meninggalkan sisa energi yang bisa dilacak.
Julian hanya diam, menatap punggung Kenzie yang menjauh. Ia melirik lantai dan wastafel tempat Kenzie membasuh diri tadi. Di lantai, ada dua tetes darah, sedangkan di wastafel ada satu tetes darah kecil yang tertinggal di pinggiran keramik, darah itu tampak berkilau seperti batu rubi di bawah lampu neon UKS.
"Aturan itu sudah tidak berlaku sejak kau menginjakkan kaki di kota ini, Kenzie." gumam Julian pelan.
Julian bangkit, mengambil selembar tisu dan menghapus tetesan darah itu hingga bersih tanpa sisa. Ia tahu, jika bukan dirinya yang menemukan rahasia itu, maka sesuatu yang jauh lebih lapar dari dirinya akan segera datang menjemput.
...•••...