Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Optimasi Kematian
Aku mengulurkan kedua tangan, tak menyentuh, tapi membayangkan ‘benang’ yang menghubungkan potongan-potongan itu. Aku tak perlu berkata-kata. Niatku sudah jelas: Bangkit. Sempurna. Kembali.
Energi halus itu mengalir lagi, lebih mudah kali ini, seolah kekuatanku semakin mengenal permintaanku. Cahaya biru pucat yang samar memancar dari telapak tanganku, menyelimuti setiap potongan tubuh di lantai.
Lalu, keajaiban—atau mungkin kutukan—terjadi lagi.
Potongan-potongan itu bergerak. Tertarik satu sama lain seperti magnet. Daging, tulang, urat, kulit—semua menyambung dengan sempurna, tanpa bekas. Tapi prosesnya tak berhenti di situ. Tubuh yang menyatu itu mulai meregang, berubah. Tubuh anak kecil itu memanjang, kurusnya mengisi, proporsinya berubah. Rambut tumbuh lebih panjang, wajah yang kekanak-kanakan meruncing, membentuk struktur tulang pipi dan rahang yang lebih dewasa. Dalam hitungan detik, di hadapanku bukan lagi jasad Lina kecil yang terpotong, melainkan seorang wanita dewasa yang telanjang, dengan rambut cokelat yang kini halus dan panjang hingga pinggang, tubuh ramping namun berisi, wajah yang masih membawa sisa-sisa kemiripan dengan Lina, tapi sekarang adalah wajah seorang wanita cantik berusia awal dua puluhan.
Dia menarik napas pertama yang dalam, lalu membuka mata. Matanya masih cokelat, tapi kini lebih dalam, kosong seperti biasa pada revenant-revenantku.
Dia duduk, melihat sekeliling, lalu menatapku. “Tuanku.”
Suaranya… dewasa. Lembut, tapi datar. Bukan lagi suara cempreng gadis kecil.
Aku terdiam sejenak, memandangi transformasi yang sekali lagi mengacaukan hukum alam. Kenapa dia menjadi dewasa? Dengan Gwyneth, aku mengembalikannya ke usia muda karena itu yang kubayangkan—‘puncak kondisi fisiknya’. Dengan Lina… mungkin bawah sadar ku menganggap usia dewasanya sebagai bentuk ‘kesempurnaan’ juga. Atau mungkin kekuatanku punya logika sendiri yang tak kupahami.
“Siapa namamu?” tanyaku, suara masih datar.
“Lina, Tuanku,” jawabnya. “Namaku Lina.”
“Apa yang terakhir kau ingat? Sebelum… ini?”
Lina—versi dewasanya—mengerutkan kening, prosesor di kepalanya bekerja. “Aku… sedang tidur. Di kamar maid bawah. Lalu… aku terbangun karena ada suara. Tapi tak sempat melihat siapa. Lalu… sensasi aneh. Seperti… tubuhku terlepas. Pertama kaki, lalu tangan… lalu… kegelapan.” Dia pause. “Tidak ada rasa sakit. Hanya… keterkejutan. Lalu kosong.”
Tidak ada rasa sakit. Potongan yang rapi. Ini bukan pembunuhan spontan karena amarah. Ini eksekusi. Professional. Atau setidaknya, dilakukan oleh seseorang yang tahu apa yang dilakukan, dan mungkin… menikmatinya.
“Kau lihat siapa pun? Dengar suara apa pun?”
“Tidak, Tuanku. Semua terjadi terlalu cepat. Tapi… sebelum sensasi terlepas, aku sempat mencium aroma… bunga. Aroma bunga tertentu. Sangat kuat.”
Bunga. Bisa saja wewangian, atau sesuatu yang lain.
Pikiranku bekerja cepat. Para maid lainnya hilang. Lina dibunuh dan dipotong-potong di gudang. Mereka meninggalkan jasadnya begitu saja, seolah ingin kutemukan. Pesan? Peringatan? Atau jebakan?
Jika ini jebakan, berarti mereka ingin memancing reaksiku. Mungkin ingin kumedarkan atau menggunakan kekuatanku secara emosional sehingga mereka punya alasan untuk menyerang.
Tapi jika ini peringatan… peringatan untuk apa? Agar aku tak dekat-dekat dengan siapa pun? Agar aku tahu bahwa siapa pun yang dekat denganku akan bernasib sama?
Aku menatap Lina yang sekarang dewasa, berdiri tegak di hadapanku, tubuhnya sempurna namun tanpa jiwa. Sekali lagi, karena tindakanku, seseorang yang seharusnya sudah pergi dengan tenang—atau dengan trauma mengerikan—kini harus ‘hidup’ lagi dalam keadaan tak utuh.
“Dengar, Lina,” ucapku, suara berat. “Keadaan berbahaya. Seseorang membunuhmu. Dan mungkin memburu yang lain, atau bahkan memburuku. Mulai sekarang, kau ikut Eveline. Tugasmu: bertahan. Waspada. Dan jika ada yang mencoba menyakitiku atau kalian, kau boleh membela diri. Tapi jangan menyerang dulu kecuali diperintahkan.”
“Dipahami, Tuanku.”
“Dan… tentang tubuhmu yang sekarang…”
“Tubuh ini berfungsi optimal,” jawabnya, seolah membaca pertanyaanku. “Memori dan data dari wujud sebelumnya tetap utuh. Hanya parameter fisik yang diperbarui ke efisiensi maksimal.”
Aku mengangguk pelan. Kekuatanku memang aneh. Ia tak hanya membangkitkan, tapi ‘mengoptimalkan’. Entah ke usia muda, atau ke bentuk dewasa. Seperti mesin yang selalu memilih spesifikasi terbaik.
“Pakaian,” ucapku, melihat sekeliling. Gudang ini hanya berisi perkakas kebun. “Kita harus menemukan pakaian untukmu.”
Aku memandang sekali lagi ke genangan darah dan sisa-sisa mengerikan di lantai. Aku harus membersihkan ini. Tapi lebih penting, aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan untuk itu, aku mungkin harus melakukan sesuatu yang akan memperkuat citra ‘monster’ ku di mata mereka yang membenciku.
Tapi kali ini, aku tak peduli. Mereka sudah melangkah terlalu jauh. Mereka tak hanya membenci. Mereka membunuh. Dan mereka akan menyesalinya.
Setelah kejadian mengerikan itu, suasana di Menara Utara berubah total bagi ku. Setiap sudut yang sebelumnya hanya terasa sepi, kini dipenuhi oleh bayangan ancaman yang tak kasat mata. Pikiran negatif berputar tanpa henti: Siapa yang melakukan ini? Kenapa Lina? Apakah para maid lainnya juga sudah bernasib sama? Ataukah mereka justru terlibat?
Malam hari, saat kegelapan menyelimuti menara dan hanya diterangi cahaya lilin yang berkedip-kedip, aku memanggil Lina yang kini berdiri dengan postur anggun seorang wanita dewasa, meski matanya masih kosong seperti Eveline.
"Lina," panggilku, suara serak. "Aku punya pertanyaan. Kamu... punya keluarga? Orang tua? Saudara? Tinggal di mana sebelum bekerja di sini?"
Lina menatapku, prosesor di kepalanya memanggil memori. "Data keluarga: tidak ada. Status: yatim piatu. Tempat tinggal sebelumnya: Panti Asuhan 'Bunga Matahari' di distrik permukiman Timur Kota Aethelgard. Tidak ada saudara kandung yang tercatat."
Anak yatim piatu.
Tiga kata itu seperti pukulan di ulu hati. Dadaku sesak tiba-tiba. Jadi gadis kecil itu tak punya siapa-siapa. Tak ada orang tua yang akan mencarinya. Tak ada keluarga yang akan berduka. Dia mati—dipotong-potong seperti binatang—dan tak akan ada yang tahu. Tak akan ada yang peduli.
"O-oh..." gumamku, suara tercekat. Tanpa kusadari, air mata mulai menetes. Bukan hanya untuk Lina, tapi untuk segala ketidakadilan di dunia ini. Untuk anak kecil yang polos, yang bahkan setelah mati pun tak punya tempat untuk dikenang.
Aku menunduk, bahu sedikit terguncang oleh isakan yang kucoba tahan. Sedih? Ya. Tapi lebih dari itu: kemarahan yang tak berdaya. Kemarahan pada siapa pun yang melakukan ini. Pada dunia yang membiarkan hal seperti ini terjadi.
Lalu, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Lina melangkah mendekat. Tangannya yang ramping dan pucat meraih bahuku, lalu menarikku ke dalam pelukan. Gerakannya kaku, tapi pasti. Aku kaget, tubuhku menegang sejenak. Pelukan? Dari seorang revenant?
"Analisis emosi: sedih," ucap Lina, suaranya datar tapi dekat di telingaku. "Data referensi dari memori masa kecil: saat anak-anak di panti menangis, pengasuh akan memeluk. Pernyataan verbal yang terdata: 'Pelukan memberi ketenangan'. Aku tidak memahami makna 'ketenangan' secara emosional, tapi gerakan ini adalah respons yang sesuai dengan data."
Aku terdiam sebentar di pelukannya yang dingin tapi tidak sepenuhnya tak menyenangkan. Lalu, tiba-tiba, sebuah tawa pendek meledak dari mulutku. Tawa getir yang dicampur dengan air mata.
"Hah... haha..." erangku, menarik diri dari pelukannya. "Jadi kamu memelukku karena datamu mengatakan itu yang harus dilakukan?"
"Ya, Tuanku. Apakah efektif?"
Aku mengusap air mata di pipi, masih tersenyum getir. "Efektif? Aku tidak tahu. Tapi... terima kasih. Setidaknya kamu mencoba."
Lina mengangguk, seolah mencatat data baru: 'Pelukan mungkin tidak secara langsung menghentikan tangisan, tapi memicu tawa getir. Perlu penelitian lebih lanjut.'
Beberapa hari berlalu dalam ketegangan yang mencekam. Aku dan dua revenant-ku—Eveline dan Lina—selalu waspada. Aku bahkan mulai melatih mereka untuk patroli bergantian di sekitar menara, meski area terbatas. Namun, tak ada tanda-tanda penyusup baru.
Hingga suatu sore, suara derap kuda dan roda kereta memecah kesunyian.
Dari jendela kamar atas, kulihat sebuah kereta kuda sederhana berhenti di depan menara. Yang turun adalah para maid yang hilang itu—empat wanita cantik yang dulu begitu membenciku. Mereka terlihat sedikit lelah, pakaiannya lebih sederhana dari seragam maid istana, seolah baru dari perjalanan jauh.
Mereka melangkah masuk ke area menara, dan saat mataku bertemu dengan mereka dari atas, tatapan sinis dan jijik itu langsung kembali. Bahkan lebih tajam. Yang berambut hitam—Astrid, kudengar mereka memanggilnya—langsung mencibir.
"Masih hidup rupanya, Anomali," hardiknya, suara penuh kebencian. "Kami harap kau sudah mati kesepian di menara ini."
Yang pirang—Elara—menyambung dengan senyuman tipis yang dingin. "Atau lebih baik, gila karena ditinggal sendiri. Tapi rupanya tidak. Sayang sekali."
Aku hanya menggeleng, turun dari kamar. Aku tak membalas. Yang kuperhatikan adalah ekspresi mereka. Benci, jijik, angkuh—persis seperti dulu. Tapi... tak ada tanda-tanda bersalah. Tak ada ketakutan yang berlebihan. Seolah mereka benar-benar baru saja kembali dari tugas di luar, tidak tahu apa yang terjadi pada Lina.
Atau... mereka sangat pandai berakting.
Aku memperhatikan mereka satu per satu: Astrid si pemimpin yang tegas, Elara yang licik, Freya (rambut cokelat keriting) yang kasar, dan Giselle (yang paling pendiam dengan mata hijau). Mereka berjalan masuk ke ruang penerimaan, mulai meletakkan barang-barang bawaan.
"Kami dapat perintah untuk kembali melayanimu, monster," gerutu Astrid sambil melempar tasnya ke bangku. "Meski perutku mual hanya memikirkan harus berada di bawah atap yang sama dengan—"
Teriakan memotong kata-katanya.
"AAAAHHHH!!"
Itu suara Giselle, yang paling pendiam. Dia baru saja membuka pintu ke koridor kamar maid di lantai bawah—tempat di mana kamar Lina seharusnya berada. Tapi yang keluar dari sana bukan Lina kecil.
Melainkan Lina dewasa.
Dia berdiri di ambang pintu, mengenakan pakaian maid yang kudapatkan dari lemari penyimpanan—gaun hitam sederhana yang nyaris tidak muat untuk tubuh dewasanya yang lebih tinggi dan berisi, membuatnya terlihat anggun namun sedikit tidak sesuai. Wajahnya yang cantik dengan sisa-sisa kemiripan Lina kecil terlihat tenang, matanya kosong.
Para maid itu berhamburan keluar, wajah pucat ketakutan. Tanpa sadar, mereka malah berlindung di belakangku—orang yang mereka benci—seolah aku adalah ancaman yang lebih bisa diprediksi daripada penampakan di depan mereka.
"Ada... ada apa?!" teriak Elara, suaranya nyaring dan penuh panik. "Siapa... SIAPA ITU?!"
Astrid, meski wajahnya juga pucat, masih berusaha tegas. "Itu... itu hantu! Penunggu menara! Atau... atau ciptaanmu yang lain, monster!"
Aku berpaling pada mereka, ekspresiku sengaja dibuat datar. "Kamu kenal dia?"
"M-Mengenal? Tentu tidak!" sahut Freya, gemetar. "Tapi dia... dia mirip... tidak, tidak mungkin..."
Lina melangkah maju, langkahnya anggun. "Data pengenalan: Astrid, Elara, Freya, Giselle. Rekan kerja sebelumnya di Menara Utara. Terakhir interaksi: empat hari lalu, sebelum kepergian kalian."
Suara Lina yang dewasa dan datar itu seolah memicu koneksi di otak mereka.
"Suaranya..." bisik Giselle, matanya membelalak. "Itu... itu seperti... Tapi tidak mungkin! Lina masih kecil! Dan—"
Astrid memutar tubuhnya, menatapku dengan mata penuh horor dan tuduhan. "KAU! Apa yang kau lakukan padanya?! Kau... kau ubah dia?! Kau jadikan dia seperti budak seks dewasa seperti yang kau ancamkan?!"
Mendengar itu, sebuah rencana mulai terbentuk di kepalaku. Jika mereka tak tahu tentang pembunuhan itu—atau pura-pura tak tahu—maka aku bisa menggunakan ketakutan mereka. Menjadi monster yang mereka kira memang lebih mudah.
Aku tertawa. Bukan tawa getir seperti dengan Lina sebelumnya, melainkan tawa dingin, penuh keyakinan palsu, yang kususun untuk menakut-nakuti mereka.
"Hahaha... iya. Betul. Aku ubah dia. Aku ambil gadis kecil polos itu, dan kujadikan... ini." Aku menunjuk Lina yang berdiam sempurna. "Lalu? Ada masalah?"
Efeknya langsung. Wajah mereka yang sudah pucat jadi lebih pucat lagi. Elara seperti ingin pingsan. Freya mundur sampai ke dinding. Giselle menutup mulut dengan kedua tangan, mata berkaca-kaca—tapi apakah itu air mata ketakutan atau penyesalan?
Astrid, si pemimpin, bahkan kehilangan kata-kata untuk sesaat. Lalu, dengan suara parau, dia berkata, "Kau... kau benar-benar iblis. Kau lebih buruk dari yang kami kira."
"Terima kasih pujiannya," balasku sambil tersenyum sinis. "Sekarang, karena kalian sudah kembali, ada aturan baru. Pelayanan kalian kemarin—sebelum kalian hilang—sangat buruk. Penuh kebencian. Aku tak suka."
Aku melangkah mendekat, dan mereka serempak mundur, tapi sudah terpojok di dekat pintu.
"Mulai sekarang, kalau kalian melayaniku dengan setengah hati, dengan wajah jijik, atau dengan cibiran..." Aku berhenti, memastikan setiap kata tertanam. "...maka kalian akan kujadikan seperti dia. Tapi versinya bisa beda. Mungkin kujadikan lebih muda. Atau lebih tua. Atau... dengan sedikit modifikasi lain yang bisa kupikirkan."
Ancaman itu menggantung di udara. Aku bisa melihat perjuangan di mata mereka—kebencian yang ingin meledak, tapi ditahan oleh ketakutan yang lebih besar.
"K-Kau tak bisa!" Elara berteriak, tapi nadanya goyah. "Kami utusan Maharani! Kalau bukan karena perintah dan bayaran tinggi dari istana, kami sudah kabur dari sini!"
"Ah, jadi itu masalahnya," ucapku, pura-pura baru mengerti. "Uang. Gaji tinggi dari istana untuk melayani monster seperti aku. Tapi kalian benci setiap detiknya."
Aku berbalik, berjalan pelan sambil berpura-pura mempertimbangkan. "Bagaimana kalau... aku bicara pada Maharani? Katakan pelayananku tidak memuaskan? Mungkin kalian akan dipindahkan. Tapi... siapa yang akan membayar kalian setinggi ini lagi? Atau... lebih baik kalian belajar menerima keadaan. Melayani dengan 'senyuman'. Atau setidaknya, tanpa cibiran. Karena pilihannya sederhana: uang dan tetap utuh, atau... menjadi seperti Lina."
Astrid menggigit bibirnya hingga hampir berdarah. Matanya memancarkan kebencian yang mendidih, tapi di balik itu, ada penerimaan pahit bahwa mereka terjebak. "Kau memang layak disebut monster. Tak punya hati. Hanya memanipulasi dan mengancam."
"Persis," balasku dingin. "Jadi, apa pilihan kalian?"
Keheningan. Keempat maid itu saling pandang. Lalu, dengan sangat berat, Astrid mengangguk, hampir tak terlihat. "Kami... akan melayani. Tapi jangan harap kami menyukainya."
"Tak perlu suka. Cukup patuh." Aku menoleh ke Lina. "Lina, bantu mereka menata ulang kamar dan persiapan makan malam. Dan ingat, awasi."
"Dipahami, Tuanku."
Para maid itu beringsut pergi, dipandu oleh Lina yang kini menjadi 'rekan' sekaligus pengawas mereka. Tatapan mereka padaku saat pergi masih penuh kebencian, tapi kini bercampur dengan ketakutan yang nyata—dan mungkin, sedikit rasa bersalah yang mereka sendiri tak pahami sepenuhnya.
Sementara itu, Eveline yang selama ini diam mengamati dari sudut ruangan, melangkah mendekat. Suaranya, yang biasanya datar sempurna, kali ini terdengar... berbeda. Ada nada pertanyaan yang hampir manusiawi.
"Tuanku... mengapa melakukan itu? Mengancam mereka? Mereka sudah takut."
Aku menatap Eveline, terkejut mendengar nada seperti itu darinya. "Mereka mungkin terlibat dalam kematian Lina, Eveline. Atau setidaknya, tahu sesuatu. Dengan membuat mereka takut, dengan memberi mereka alasan untuk tetap di sini tapi dalam kondisi tertekan, mungkin suatu saat mereka akan ceroboh. Akan mengungkap sesuatu. Atau... pembunuhnya akan kembali, dan melihat mereka masih di sini, masih hidup, mungkin akan mencoba lagi. Dan kali ini, kita akan siap."
Eveline mengangguk perlahan. "Strategi... memancing. Memanfaatkan ketakutan sebagai umpan."
"Ya. Dan sementara itu," tambahku, suara rendah, "kita akan mencari tahu sendiri siapa di balik ini. Karena satu hal yang pasti: pembunuh Lina bukanlah orang sembarangan. Dan dia masih di luar sana."
Eveline diam sejenak, lalu berkata lagi, dengan nada yang masih anehnya lebih 'hidup' dari biasanya. "Lina... pelukannya. Itu menarik. Aku merekam data itu. Apakah... pelukan memang mengurangi parameter kesedihan?"
Aku memandangnya, bingung campur heran. "Eveline... kamu... bertanya?"
Dia mengerutkan keningnya yang halus, ekspresi datarnya seolah berusaha memahami pertanyaannya sendiri. "Aku... tidak tahu. Tapi data dari Lina menunjukkan tindakan baru. Aku mencoba... memproses. Apakah itu disebut... 'belajar'?"
Aku tersenyum kecil, kali ini senyum yang lebih tulus. "Ya, Eveline. Itu disebut belajar. Dan... terima kasih sudah bertanya."
Dia mengangguk, lalu kembali ke posisi diamnya, tapi aku bisa melihat sorot biru pucat di matanya berkedip lebih cepat dari biasa, seolah prosesor di kepalanya sedang bekerja sangat keras untuk memahami konsep 'belajar' dan 'bertanya'.