Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.
Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”
Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.
Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”
Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan Sang Nenek
Sore itu langit Yogyakarta mulai berubah jingga. Matahari perlahan turun, menyisakan cahaya hangat yang menyelimuti jalanan kota.
Namun di sebuah warung kopi kecil di pinggir jalan…
Suasana di meja Raka, Bayu, dan Nadia jauh dari hangat.
Lebih tepatnya…
tegang.
Bayu memegang kepalanya dengan kedua tangan.
"Aku tidak percaya ini terjadi."
Raka menyeruput kopi dengan santai.
"Kau sudah mengatakan kalimat itu sekitar dua puluh kali sejak siang tadi."
Bayu menatapnya putus asa.
"Karena nenekku tahu!"
Raka mengangguk.
"Iya."
"Dan dia belum membongkar kita!"
"Iya."
Bayu semakin panik.
"Itu lebih menakutkan!"
Raka mengangkat bahu.
"Itu juga benar."
Bayu hampir berteriak.
"KENAPA KAU TENANG SEKALI?!"
Raka menjawab datar,
"Karena kalau aku ikut panik… kita semua pingsan."
Nadia duduk di depan mereka dengan wajah yang lebih tenang dari keduanya.
Ia memutar sendok di gelas es teh.
"Nenekmu tidak akan langsung membongkar kita."
Bayu menatapnya.
"Kenapa?"
Nadia menjawab pelan,
"Karena dia ingin bermain."
Bayu berkedip.
"Bermain?"
Raka mengangguk kecil.
"Iya. Aku juga merasa begitu."
Bayu memegang kepalanya lagi.
"Nenekku bukan orang yang suka permainan!"
Raka menatapnya.
"Kau bilang dia mantan guru."
Bayu mengangguk.
"Iya."
Raka bersandar di kursinya.
"Itu lebih berbahaya."
Tiba-tiba ponsel Bayu berbunyi.
Ia melihat layar.
Wajahnya langsung pucat.
"Nenek."
Raka langsung berkata,
"Angkat."
Bayu menjawab dengan tangan gemetar.
"Halo Nek?"
Suara nenek terdengar dari speaker.
"Bayu."
"Iya Nek."
"Kamu sibuk malam ini?"
Bayu menelan ludah.
"Kenapa?"
Nenek menjawab santai,
"Aku ingin kalian datang ke rumah."
Bayu hampir menjatuhkan ponselnya.
"Rumah?"
"Iya."
Bayu menatap Raka dan Nadia.
Raka berbisik,
"Jawab saja."
Bayu kembali ke telepon.
"Untuk apa Nek?"
Nenek menjawab dengan suara tenang.
"Makan malam."
Bayu hampir menangis.
"Nek… kita baru makan siang tadi."
Nenek tertawa kecil.
"Ini bukan makan malam biasa."
Semua orang di meja itu langsung diam.
Bayu bertanya pelan,
"Lalu apa?"
Nenek menjawab,
"Aku ingin melihat sesuatu."
Raka menutup wajahnya dengan tangan.
"Selesai sudah."
Bayu bertanya lagi dengan suara kecil,
"Apa yang ingin Nenek lihat?"
Nenek menjawab singkat.
"Bagaimana kalian berdua di rumah."
Klik.
Telepon ditutup.
Bayu langsung menatap langit.
"Aku ingin pindah planet."
Raka berkata santai,
"Aku ikut."
Nadia terlihat berpikir beberapa detik.
Lalu berkata,
"Kita datang saja."
Bayu langsung menoleh.
"Kau serius?!"
Nadia mengangguk.
"Kalau kita menolak, nenekmu akan semakin curiga."
Raka menghela napas panjang.
"Dia sudah curiga."
Nadia tersenyum tipis.
"Benar."
Malam mulai turun saat mereka tiba di rumah keluarga Bayu.
Rumah itu besar.
Terlalu besar untuk situasi yang sedang mereka hadapi.
Bayu berdiri di depan gerbang sambil berkeringat.
"Aku tumbuh di rumah ini… tapi sekarang rasanya seperti rumah berhantu."
Raka menepuk bahunya.
"Tenang. Kalau kau pingsan, aku akan menyeretmu keluar."
Nadia menekan bel pintu.
Pintu terbuka.
Yang membuka adalah nenek Bayu sendiri.
Ia tersenyum kecil.
"Kalian datang."
Nadia mengangguk sopan.
"Iya Nek."
Nenek menatap mereka bertiga.
Lalu berkata,
"Masuk."
Di ruang tamu hanya ada nenek.
Tidak ada ayah atau ibu Bayu.
Bayu mengernyit.
"Yang lain mana?"
Nenek menjawab santai,
"Mereka keluar."
Raka menatap Nadia.
Ini jelas perangkap.
Mereka duduk di sofa.
Nenek duduk di kursi depan mereka.
Tongkatnya bersandar di samping.
Ia menatap Bayu dan Nadia beberapa detik.
Lalu berkata,
"Aku ingin jujur."
Bayu menelan ludah.
"Jujur apa, Nek?"
Nenek menjawab pelan,
"Aku tahu kalian berpura-pura."
Bayu langsung berdiri.
"Nek aku bisa jelaskan—"
Nenek mengangkat tangan.
Bayu langsung diam.
Nenek melanjutkan,
"Tapi aku tidak marah."
Bayu berkedip.
"...tidak?"
Nenek menggeleng.
"Tidak."
Raka akhirnya ikut berbicara.
"Lalu kenapa Nenek tidak membongkar kami?"
Nenek menatapnya.
"Kamu Raka, ya?"
Raka mengangguk.
"Iya."
Nenek tersenyum kecil.
"Kamu menarik."
Raka langsung merasa ini tidak bagus.
Nenek kemudian berkata sesuatu yang membuat mereka bertiga benar-benar tidak siap.
"Aku tidak peduli kalian berpura-pura."
Bayu bingung.
"Lalu?"
Nenek menunjuk Nadia.
"Gadis ini baik."
Lalu menunjuk Bayu.
"Kamu bodoh."
Raka langsung tertawa.
Bayu menatapnya kesal.
Nenek melanjutkan,
"Jadi aku akan memberi kalian kesempatan."
Nadia bertanya,
"Kesempatan?"
Nenek mengangguk.
"Iya."
Lalu ia berkata dengan sangat tenang.
"Kalian berpura-pura jadi pasangan selama satu minggu."
Bayu hampir jatuh dari sofa.
"Satu minggu?!"
Nenek mengangguk.
"Di depan keluarga."
Raka membuka mulut.
"Tunggu… kenapa?"
Nenek tersenyum kecil.
"Karena aku ingin melihat sesuatu."
Bayu hampir menangis.
"Apa lagi Nek?!"
Nenek menatap mereka berdua.
"Apakah perasaan palsu… bisa berubah menjadi nyata."
Ruangan itu langsung sunyi.
Raka menatap Nadia.
Nadia juga menatap Raka sebentar.
Lalu kembali ke nenek.
Bayu memegang kepalanya.
"Satu minggu…"
Nenek berdiri pelan.
"Mulai besok."
Lalu ia berjalan keluar ruangan.
Tiga orang di ruang tamu itu hanya saling menatap.
Bayu berkata dengan suara kecil,
"Aku mati."
Raka menghela napas panjang.
"Ini bukan lagi sandiwara kecil."
Nadia berdiri.
Wajahnya masih tenang.
Tapi matanya terlihat berpikir keras.
Bayu bertanya pelan,
"Kita harus bagaimana?"
Raka menatap Nadia.
Nadia akhirnya berkata,
"Kita lakukan saja."
Bayu hampir pingsan lagi.
Raka hanya tertawa kecil.
"Baiklah."
Lalu ia berkata pelan,
"Semoga saja… nenekmu tidak benar."
Bayu mengernyit.
"Tidak benar tentang apa?"
Raka menatap Nadia beberapa detik.
Lalu menjawab,
"Bahwa perasaan palsu… bisa berubah jadi nyata."