NovelToon NovelToon
Iman Yang Tak Terbeli

Iman Yang Tak Terbeli

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30: Labirin Kesetiaan

Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar sunyi, namun di koridor rumah sakit yang remang, suara detak jam dinding terasa seperti dentuman godam di dada Dave.

Ia berdiri di depan wastafel plastik, membasuh wajahnya berkali-kali. Noda oli dan debu dari ruang mesin tadi memang telah hilang, namun rasa bersalah karena membiarkan Shafira terseret ke dalam badai keluarganya masih membekas kuat.

Dave menatap bayangannya di cermin rambut yang acak-acakan, kemeja yang tak lagi rapi, dan sepasang mata yang kini memiliki binar yang berbeda. Ia tidak lagi mengejar angka; ia sedang mengejar restu dari langit.

Dave kembali ke kamar Pak Rahman dan menemukan Shafira sedang melipat sajadah di sudut ruangan.

Cahaya lampu tidur yang kekuningan menyinari wajah Shafira, memberikan kesan damai yang sangat kontras dengan keributan media yang baru saja Dave hadapi di bawah.

Dave berhenti di ambang pintu, terpaku pada pemandangan itu. Baginya, Shafira bukan sekadar wanita; ia adalah sebuah rumah yang selama ini tidak pernah Dave miliki.

"Ayah sudah tertidur lelap," bisik Shafira tanpa menoleh, seolah ia bisa merasakan kehadiran Dave hanya dari getaran udara.

"Bapak sebaiknya pulang. Bapak butuh istirahat lebih dari siapa pun di sini."

Dave melangkah masuk, namun tetap menjaga jarak tiga ubin lantai di antara mereka.

"Aku tidak akan bisa tidur jika tahu ada orang yang mencoba merusak kedamaianmu lagi, Shafira. Media di bawah mungkin sudah tenang, tapi aku tahu Ibuku. Dia seperti ular; jika kepalanya terjepit, ekornya akan tetap mencoba menyuntikkan racun."

Shafira berbalik, menatap Dave dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa terima kasih yang mendalam, namun juga ada ketakutan yang nyata.

"Racun apa lagi yang bisa beliau berikan? Ayah sudah selamat, Farhan sudah di rumah. Kami tidak punya apa-apa lagi untuk diambil, Pak Dave."

Dave terdiam sejenak, lalu ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah ponsel cadangan yang diberikan Rio.

Di layarnya, terpampang sebuah draf berita dari situs portal hiburan yang dikendalikan oleh kaki tangan Bu Sarah.

Judulnya kejam: “Skandal CEO Mahesa Group: Memanfaatkan Kritisnya Sang Tukang Kebun demi Memikat Putrinya yang Berhijab.”

Foto yang terlampir adalah foto Dave saat menarik lengan baju Shafira di lorong tadi, namun diambil dari sudut yang membuatnya seolah-olah mereka sedang bersentuhan sangat dekat.

"Dia menyerang kehormatanmu, Shafira," suara Dave terdengar parau.

"Dia tahu bahwa bagi wanita sepertimu, nama baik jauh lebih berharga daripada nyawa. Dia ingin membuatmu merasa kotor sehingga kau menjauh dariku atas kemauanmu sendiri."

Tubuh Shafira bergetar. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, matanya mulai berkaca-kaca. Inilah yang paling ia takutkan ketika prinsip dan kesucian hidupnya dijadikan konsumsi publik yang penuh fitnah.

"Ini... ini fitnah yang sangat keji," bisiknya lirih.

Dave bergerak maju satu langkah, tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. Ia sangat ingin menggenggam tangan Shafira untuk menguatkannya, namun ia menahan diri dengan segenap sisa egonya.

Inilah perjuangan Dave yang paling elegan: mencintai dengan cara menghormati batasan, meski hatinya menjerit ingin melindungi secara fisik.

"Aku akan mengurus ini," ujar Dave dengan nada yang sangat protektif.

"Bukan dengan uang, bukan dengan pengacara yang mengancam. Tapi dengan caramu.

Aku akan menemui tokoh masyarakat di lingkungan rumahmu besok pagi. Aku akan menjelaskan semuanya secara terbuka. Aku akan memastikan tidak ada satu pun tetanggamu yang berani menatapmu dengan pandangan miring."

Shafira mendongak, terkejut. "Bapak mau ke kampung saya? Bapak itu CEO, orang-orang akan semakin curiga jika Bapak datang ke sana."

"Aku akan datang sebagai Dave. Sebagai pria yang sedang meminta izin untuk mengenalmu secara benar," Dave menatap Shafira dengan keyakinan yang tak tergoyahkan.

"Jika aku harus kehilangan statusku di Mahesa Group hanya untuk membersihkan namamu, maka biarlah itu terjadi. Aku sudah cukup lama hidup dengan mahkota emas yang palsu. Sekarang, aku ingin hidup dengan martabat yang nyata, bersamamu."

Malam itu menjadi saksi bisu di mana intrik kekuasaan mulai kalah oleh ketulusan. Dave tidak pulang ke apartemen mewahnya. Ia tidur di bangku tunggu rumah sakit, menolak fasilitas VVIP yang ditawarkan pihak rumah sakit.

Ia ingin merasakan sedikit saja beban yang selama ini dipikul oleh keluarga Shafira.

Perjuangan Dave mulai memasuki tahap di mana ia tidak lagi peduli pada pandangan dunia, asalkan ia tidak kehilangan pandangan teduh dari Shafira.

Keesokan paginya, sebelum matahari benar-benar naik, Dave sudah berada di kawasan pemukiman padat tempat Shafira tinggal.

Mengenakan kemeja koko putih yang ia beli mendadak di toko dekat rumah sakit dan sarung yang ia sampirkan di bahu dengan canggung,

Dave berjalan menyusuri gang sempit. Ia mengabaikan tatapan heran warga yang mengenali wajahnya dari televisi.

Dave menemui ketua RT dan beberapa sesepuh di masjid setempat. Di sana, di atas karpet tipis yang berbau debu, Dave duduk bersila.

Pria yang biasanya memimpin rapat direksi dengan suara menggelegar itu, kini bicara dengan nada rendah dan penuh hormat.

Ia menceritakan kebenaran tentang kecelakaan Pak Rahman, tentang sabotase oksigen, dan tentang betapa ia sangat mengagumi kesucian hati Shafira.

"Saya ke sini bukan untuk pamer harta," ujar Dave di depan para sesepuh.

"Saya ke sini untuk menitipkan nama baik Shafira kepada Bapak-Bapak sekalian.

Dia adalah wanita terbaik yang pernah saya temui, dan saya sedang berjuang untuk menjadi pria yang pantas baginya. Tolong, jangan biarkan fitnah di luar sana merusak apa yang telah ia bangun dengan doa selama ini."

Di kejauhan, Shafira yang diam-diam mengikuti Dave atas permintaan Rio, berdiri di balik tiang masjid.

Ia menyaksikan Dave Mahesa—pria yang dulu ia anggap sebagai personifikasi keangkuhan, kini sedang menundukkan kepala di depan orang-orang kecil demi membela kehormatannya.

Air mata Shafira jatuh, namun kali ini bukan karena duka. Ia menyadari bahwa perjuangan Dave bukanlah sekadar obsesi, melainkan sebuah transformasi cinta yang begitu suci dan elegan.

Namun, di tengah momen haru itu, ponsel Dave bergetar. Pesan dari Rio masuk:

"Pak, Bu Sarah baru saja menggunakan hak suara terakhirnya untuk menjual seluruh aset Mahesa Group ke perusahaan asing.

Dia lebih memilih menghancurkan perusahaan daripada melihat Bapak menang. Kita harus ke kantor sekarang."

Dave berdiri, menatap masjid itu sekali lagi, lalu melihat ke arah tiang di mana ia tahu Shafira sedang bersembunyi.

Dave tersenyum tipis ke arah bayangan Shafira, seolah mengatakan bahwa ia pergi untuk menyelesaikan perang terakhir ini demi mereka berdua.

Perjuangan untuk mendapatkan cinta Shafira kini memasuki tahap pengorbanan terbesar: merelakan takhta demi menjaga amanah.

1
Siti Naimah
gila si Dave..masak memanggil orang tua cuman sebut nama .moga aja segera bertobat tidak songong lagi
Novita Sari
saudara kembar bersatu....
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
semangat thor, tambah seru..
.
Meghawati: menegangkan
total 1 replies
Novita Sari
Alhamdulillah thor update banyak terimakasih thor n semangat 💪💪💪
Meghawati: selalu semangat
total 1 replies
Novita Sari
dave ada saudara, lanjut thor....
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
lanjut thor...
Meghawati: lanjuuut
total 1 replies
Novita Sari
astaghfirullah bu sarah udah mau mati gak sadar sadar..
Meghawati: hahaha belum dapat hidayah
total 1 replies
Novita Sari
jangan liat dari masa lalu safira 😭😭😭😭 Alhamdulillah update banyak terimakasih thor, semangat 💪💪💪💪
Meghawati: terimakasih supportnya
total 2 replies
Novita Sari
semangat dave safira
Meghawati: terimakasih
total 1 replies
Siti Naimah
keren Shafira 👍
Meghawati: matap
total 1 replies
Novita Sari
jangan jangan dave bukan anak kandung bu sarah
Meghawati: jahat banget
total 1 replies
Novita Sari
terus berjuang di jalan Allah Safira..
Meghawati: aamiin
total 1 replies
Novita Sari
tambah seru, ditunggu kebucinan dave sama safira thor
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
terus berkarya thor, cerita nya bagus..
Novita Sari
cerita bagus,..
Meghawati: makasih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!