Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran yang Tidak Bisa Ditutup
Ruangan itu berubah sunyi seperti tempat yang baru saja disambar petir.
Semua mata tertuju pada dokumen yang Adrian letakkan di meja.
Tidak ada yang langsung berbicara.
Bahkan suara AC di langit-langit terasa terlalu keras di tengah ketegangan yang tiba-tiba memenuhi ruang rapat direksi Hartono Group.
Pak Surya masih memegang dokumen itu.
Tangannya tidak gemetar, tetapi wajahnya berubah jauh lebih serius dari sebelumnya.
Ia membaca beberapa halaman pertama dengan sangat teliti.
Di seberangnya, Pak Darmawan mencoba terlihat tenang.
Namun keringat kecil mulai muncul di pelipisnya.
Adrian berdiri tanpa bergerak.
Tatapannya tidak meninggalkan meja.
Ia tahu apa yang ada di dokumen itu.
Dan ia tahu dampaknya.
Beberapa detik terasa seperti beberapa menit.
Akhirnya Pak Surya menutup dokumen itu perlahan.
Matanya kembali menatap Adrian.
“Ini tuduhan yang sangat serius.”
Suaranya tetap terkendali.
Namun semua orang di ruangan tahu bahwa situasinya sudah berubah.
Adrian menjawab dengan tenang.
“Bukan tuduhan.”
Ia menunjuk map itu.
“Bukti.”
Pak Darmawan langsung berdiri.
“Kau tidak bisa datang ke sini dan menuduh direksi perusahaan dengan dokumen yang tidak jelas!”
Adrian menatapnya tanpa emosi.
“Dokumen itu berasal dari audit independen.”
Ia menambahkan dengan nada yang lebih datar.
“Dan sebagian datanya berasal dari rekening yang terlalu sering menerima transfer dari pihak ketiga.”
Beberapa direktur mulai saling berbisik.
Ketegangan terasa semakin tebal.
Pak Surya membuka kembali dokumen itu.
Halaman berikutnya berisi grafik transaksi.
Nominal uang yang sangat besar.
Tanggal yang berulang.
Dan satu hal yang paling mencolok.
Nama beberapa perusahaan perantara.
Pak Surya mengangkat matanya perlahan.
“Perusahaan-perusahaan ini…”
Ia menatap Pak Darmawan.
“…memiliki hubungan dengan proyek kerja sama yang kita bahas kemarin.”
Pak Darmawan menegang.
“Banyak perusahaan memiliki hubungan bisnis!”
Adrian berkata pelan,
“Benar.”
Ia menambahkan,
“Tapi tidak banyak yang mengirim uang puluhan miliar ke rekening pribadi direktur.”
Ruangan itu seperti kehilangan udara.
Beberapa anggota direksi terlihat benar-benar terkejut sekarang.
Salah satu direktur wanita berkata pelan,
“Apakah ini… suap?”
Tidak ada yang menjawab.
Namun keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Rania masih berdiri di tempatnya.
Matanya tertuju pada dokumen di meja.
Ia mencoba memahami semuanya.
Selama ini ia hanya merasa proyek itu terlalu berisiko.
Namun ia tidak pernah menyangka ada sesuatu yang jauh lebih kotor di baliknya.
Arsen akhirnya berbicara.
“Jika ini benar…”
Ia menatap Pak Surya.
“…maka kita tidak sedang membahas kesalahan Rania.”
Ia berhenti sebentar.
“Kita sedang membahas kejahatan.”
Pak Surya tidak langsung menjawab.
Ia membaca beberapa halaman lagi.
Semakin lama wajahnya semakin keras.
Akhirnya ia menutup dokumen itu.
Lalu ia menatap satu orang.
Pak Darmawan.
“Apakah Anda ingin menjelaskan ini?”
Ruangan kembali sunyi.
Pak Darmawan tertawa kecil.
Namun tawanya terdengar kaku.
“Kalian benar-benar percaya dokumen seperti ini?”
Ia menatap Adrian.
“Orang luar datang ke sini membawa kertas-kertas, lalu kalian langsung menuduh saya?”
Adrian menjawab dengan tenang.
“Bukan saya yang menuduh.”
Ia menunjuk halaman terakhir dokumen.
“Bank yang melaporkannya.”
Pak Darmawan membuka dokumen itu lagi dengan cepat.
Ketika ia melihat halaman terakhir, wajahnya berubah sedikit.
Itu adalah laporan resmi dari lembaga audit finansial.
Dengan stempel dan tanda tangan yang tidak mungkin dipalsukan dengan mudah.
Untuk pertama kalinya, Pak Darmawan benar-benar terlihat panik.
Pak Surya berkata dengan suara rendah.
“Kita akan memverifikasi semua ini.”
Ia menatap seluruh ruangan.
“Sampai saat itu…”
Ia berhenti sebentar.
“…rapat ini ditunda.”
Beberapa direktur langsung berdiri.
Namun sebelum mereka bergerak lebih jauh—
Pak Darmawan tiba-tiba berkata dengan nada tajam,
“Tidak.”
Semua orang menoleh padanya.
Ia berdiri perlahan dari kursinya.
Wajahnya tidak lagi terlihat ramah seperti biasanya.
“Kalian pikir kalian bisa menghancurkan saya dengan beberapa dokumen?”
Ia menatap Adrian dengan mata yang penuh kemarahan.
“Kau tidak tahu apa yang sedang kau lakukan.”
Adrian tidak bergerak.
“Justru saya tahu.”
Pak Darmawan tertawa lagi.
Namun kali ini tawanya terdengar dingin.
“Kalian semua terlalu naif.”
Ia menunjuk meja direksi.
“Bisnis besar tidak berjalan dengan tangan bersih.”
Beberapa direktur terlihat tidak nyaman.
Namun tidak ada yang menyela.
Pak Darmawan melanjutkan,
“Jika proyek itu berjalan… perusahaan ini akan mendapatkan keuntungan ratusan miliar.”
Ia menatap Rania sekarang.
“Dan kau menghentikannya.”
Rania menjawab dengan tenang.
“Karena itu merugikan perusahaan.”
Pak Darmawan tersenyum tipis.
“Atau karena kau masih terlalu idealis.”
Ia berjalan beberapa langkah di dalam ruangan.
“Dunia bisnis tidak dibangun oleh orang-orang idealis.”
Adrian berkata pelan,
“Mungkin itu sebabnya banyak perusahaan runtuh.”
Pak Darmawan menatapnya tajam.
“Kau pikir kau pahlawan?”
Adrian tidak menjawab.
Beberapa detik berlalu.
Lalu Pak Darmawan berkata sesuatu yang membuat ruangan membeku.
“Baiklah.”
Ia menarik napas panjang.
“Kita buka saja semuanya.”
Ia menatap Pak Surya.
“Kalau saya jatuh…”
Ia berhenti sebentar.
“…saya tidak akan jatuh sendirian.”
Beberapa anggota direksi langsung terlihat tegang.
Pak Surya berkata dengan nada keras,
“Cukup!”
Namun Pak Darmawan sudah tidak peduli.
Ia tertawa pelan.
“Kalian semua tahu bagaimana sistem ini berjalan.”
Ia menunjuk beberapa orang di meja.
“Kalian juga pernah menerima keuntungan dari proyek-proyek seperti ini.”
Ruangan itu berubah menjadi kacau.
Beberapa direktur langsung membantah.
Beberapa lainnya terlihat pucat.
Pak Surya berdiri dengan wajah yang sangat marah.
“Ini sudah cukup!”
Ia menatap dua staf keamanan yang berdiri di luar pintu.
“Tolong minta Pak Darmawan meninggalkan ruangan.”
Dua orang keamanan masuk.
Namun Pak Darmawan tidak melawan.
Ia hanya tertawa pelan ketika berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi.
Tatapannya berhenti pada Rania.
“Kau pikir kau menang hari ini.”
Ia tersenyum dingin.
“Tapi dunia ini tidak berubah hanya karena satu orang jujur.”
Setelah itu ia keluar dari ruangan.
Pintu tertutup.
Dan ruangan itu terasa seperti baru saja melewati badai.
Beberapa direktur masih duduk diam.
Pak Surya akhirnya berkata pelan,
“Kita akan menyelidiki semuanya.”
Ia menatap Rania.
“Dan untuk sementara…”
Ia berhenti sebentar.
“…kau tetap memegang jabatanmu.”
Beberapa orang terlihat lega.
Rania hanya mengangguk kecil.
Namun matanya tidak melihat meja.
Ia melihat Adrian.
Pria itu berdiri di ujung ruangan.
Seolah tidak ingin menjadi pusat perhatian.
Setelah beberapa menit, rapat benar-benar dibubarkan.
Para direktur keluar satu per satu.
Suasana masih tegang.
Arsen berjalan mendekati Adrian.
“Langkah yang berani.”
Adrian menjawab singkat.
“Langkah yang perlu.”
Arsen mengangguk.
Lalu ia menepuk bahu Rania sebelum keluar.
Sekarang ruangan itu hanya menyisakan dua orang.
Rania dan Adrian.
Beberapa detik mereka tidak berbicara.
Akhirnya Rania berkata pelan,
“Kau tidak seharusnya melakukan itu.”
Adrian mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Rania menatapnya.
“Karena sekarang kau juga ikut terlibat.”
Adrian tersenyum tipis.
“Bukankah aku sudah terlibat sejak lama?”
Rania menghela napas.
Ia berjalan menuju jendela besar ruangan itu.
Kota terlihat terang di bawah sana.
Namun pikirannya terasa jauh lebih berat.
Adrian berjalan mendekat.
“Rania.”
Wanita itu menoleh.
“Aku tidak melakukannya hanya untuk perusahaan.”
Rania menatapnya.
“Aku tahu.”
Adrian sedikit terkejut.
“Kau tahu?”
Rania mengangguk pelan.
“Karena kau selalu seperti ini.”
Ia tersenyum tipis.
“Selalu datang terlambat… tapi akhirnya tetap datang.”
Kalimat itu membuat Adrian terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak tahu harus menjawab apa.
Rania mengambil tasnya dari kursi.
“Aku harus bekerja.”
Ia berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, ia berkata satu kalimat yang membuat Adrian berdiri kaku.
“Terima kasih.”
Adrian tidak sempat menjawab.
Rania sudah keluar dari ruangan.
Namun di dalam hatinya, Adrian tahu satu hal.
Hari ini mungkin menyelamatkan Rania dari kejatuhan.
Tapi perang yang sebenarnya…
Baru saja dimulai.
Bab 18
Retakan yang Tidak Terlihat
Gedung Hartono Group masih terasa tegang bahkan beberapa jam setelah rapat direksi berakhir.
Kabar tentang keributan di ruang rapat sudah menyebar ke hampir seluruh lantai.
Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi.
Namun semua orang merasakan sesuatu.
Seolah perusahaan besar itu baru saja mengalami retakan kecil yang tidak terlihat… tetapi bisa menghancurkan semuanya kapan saja.
Di lantai dua puluh satu, Rania kembali ke ruang kerjanya.
Pintu tertutup pelan di belakangnya.
Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia benar-benar sendirian.
Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap kota.
Tangannya menyilangkan di depan dada.
Beberapa detik ia hanya berdiri diam.
Pikirannya memutar kembali semua yang terjadi di ruang rapat.
Dokumen Adrian.
Wajah pucat Pak Darmawan.
Tatapan para direktur.
Dan satu hal yang tidak bisa ia abaikan.
Adrian datang untuk melindunginya.
Rania menghela napas pelan.
Ia tidak pernah meminta itu.
Namun pria itu tetap datang.
Seperti seseorang yang akhirnya menyadari kesalahan… tetapi terlambat beberapa tahun.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
“Masuk,” kata Rania.
Arsen masuk sambil membawa tablet di tangannya.
Wajahnya terlihat serius.
“Kita punya masalah.”
Rania menoleh.
“Masalah baru?”
Arsen tersenyum kecil.
“Masalah lama… tapi mulai meledak.”
Ia meletakkan tablet di meja.
“Media bisnis sudah mencium sesuatu.”
Rania mengangkat alis sedikit.
“Secepat itu?”
Arsen mengangguk.
“Beberapa wartawan mendapatkan informasi bahwa ada konflik di direksi.”
Ia menunjuk layar tablet.
“Jika berita ini keluar sebelum kita mengendalikan situasi…”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Rania sudah tahu.
Harga saham bisa jatuh.
Investor bisa panik.
Dan musuh bisnis bisa mulai bergerak.
Rania duduk di kursinya.
“Berapa lama sebelum berita itu benar-benar keluar?”
Arsen menjawab singkat.
“Mungkin beberapa jam.”
Rania berpikir sejenak.
Kemudian ia berkata,
“Kita keluarkan pernyataan resmi.”
Arsen mengerutkan kening.
“Pernyataan apa?”
Rania menatap layar tablet.
“Kita umumkan bahwa Hartono Group sedang melakukan audit internal besar.”
Arsen terdiam beberapa detik.
Kemudian ia tersenyum tipis.
“Kau ingin mengendalikan cerita sebelum media melakukannya.”
Rania mengangguk.
“Jika mereka tahu ada masalah… kita beri mereka masalah yang kita pilih sendiri.”
Arsen menghela napas kecil.
“Kau benar-benar tenang menghadapi semua ini.”
Rania tersenyum samar.
“Aku tidak tenang.”
Arsen mengangkat alis.
“Tidak?”
Rania menatap jendela lagi.
“Aku hanya tidak punya pilihan lain.”
Beberapa detik ruangan itu kembali sunyi.
Kemudian Arsen berkata pelan,
“Ada satu hal lagi.”
Rania menoleh.
“Apa?”
Arsen terlihat ragu.
“Pak Darmawan.”
Rania langsung mengerti.
“Apa yang dia lakukan?”
Arsen berkata dengan suara rendah,
“Dia menghilang.”
Ruangan menjadi hening.
Rania mengerutkan kening.
“Menghilang?”
Arsen mengangguk.
“Setelah keluar dari gedung tadi pagi… dia tidak kembali ke kantor.”
Ia menambahkan,
“Ponselnya juga tidak aktif.”
Rania menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Ia sudah menduga pria itu tidak akan tinggal diam.
Namun menghilang secepat ini…
Itu bukan pertanda baik.
Arsen berkata,
“Jika dia mencoba melawan… situasinya bisa menjadi jauh lebih buruk.”
Rania berpikir beberapa detik.
Kemudian ia berkata,
“Biarkan tim hukum yang menangani.”
Arsen mengangguk.
Namun sebelum ia keluar, ia berkata satu hal lagi.
“Oh ya.”
Rania menatapnya.
“Apa?”
Arsen tersenyum kecil.
“Adrian masih di gedung ini.”
Rania sedikit terkejut.
“Masih?”
Arsen mengangkat bahu.
“Sepertinya dia menunggu sesuatu.”
Rania tidak menjawab.
Namun pikirannya langsung memahami.
Dia menunggu dirinya.
Arsen keluar dari ruangan.
Pintu tertutup kembali.
Rania duduk diam beberapa menit.
Kemudian ia berdiri.
Langkahnya pelan ketika berjalan menuju pintu.
Ia tidak tahu kenapa ia melakukan ini.
Namun beberapa detik kemudian ia sudah berada di koridor.
Dan di ujung lorong itu—
Adrian benar-benar ada di sana.
Ia berdiri di dekat jendela panjang.
Seperti seseorang yang tidak tahu apakah harus pergi atau tetap tinggal.
Ketika melihat Rania berjalan mendekat, ia sedikit tersenyum.
“Aku mulai berpikir kau tidak akan keluar.”
Rania berhenti beberapa langkah darinya.
“Kau masih di sini.”
Adrian mengangguk.
“Sepertinya begitu.”
Rania menyilangkan tangan.
“Kau tidak punya perusahaan untuk diurus?”
Adrian tersenyum kecil.
“Punya.”
Ia menambahkan,
“Tapi hari ini aku lebih penasaran dengan sesuatu yang lain.”
Rania mengangkat alis.
“Apa?”
Adrian menatapnya.
“Kenapa kau tidak marah padaku.”
Pertanyaan itu membuat Rania terdiam beberapa detik.
Ia akhirnya berkata,
“Marah tentang apa?”
Adrian tertawa kecil.
“Banyak hal.”
Ia menatap lantai sebentar.
“Cara aku memperlakukanmu dulu.”
Rania tidak langsung menjawab.
Koridor itu sepi.
Lampu-lampu kantor memantulkan bayangan panjang di lantai.
Akhirnya Rania berkata dengan suara pelan,
“Aku sudah melewati fase marah.”
Adrian menatapnya.
“Benarkah?”
Rania mengangguk.
“Marah itu melelahkan.”
Ia menambahkan dengan tenang,
“Dan aku tidak ingin hidupku terus terikat pada masa lalu.”
Kalimat itu membuat Adrian terdiam.
Ia tahu kata-kata itu jujur.
Namun entah kenapa… kata-kata itu juga terasa seperti jarak yang tidak terlihat.
Adrian berkata pelan,
“Jadi sekarang kita hanya… orang asing?”
Rania menatapnya beberapa detik.
Kemudian ia berkata,
“Kita adalah dua orang yang pernah saling mengenal.”
Adrian tersenyum tipis.
“Itu terdengar lebih menyedihkan.”
Rania tidak membantah.
Beberapa detik mereka hanya berdiri diam.
Kemudian Adrian berkata,
“Aku punya pertanyaan.”
Rania menunggu.
“Jika tiga tahun lalu aku tidak mengusirmu…”
Ia berhenti sebentar.
“…apakah semuanya akan berbeda?”
Rania tidak menjawab langsung.
Ia melihat kota di luar jendela.
Lampu-lampu kendaraan bergerak seperti garis cahaya panjang.
Akhirnya ia berkata pelan,
“Mungkin.”
Adrian menunggu kelanjutannya.
“Tapi mungkin juga tidak.”
Ia menoleh padanya.
“Kita berdua sangat berbeda saat itu.”
Adrian mengangguk pelan.
Ia tahu itu benar.
Rania mengambil langkah kecil menjauh dari jendela.
“Aku harus kembali bekerja.”
Adrian tidak menahannya.
Namun sebelum Rania pergi, ia berkata satu kalimat lagi.
“Rania.”
Wanita itu berhenti.
“Aku tidak tahu apakah aku bisa memperbaiki semuanya.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi aku tidak akan berhenti mencoba.”
Rania tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap Adrian beberapa detik.
Kemudian ia tersenyum tipis.
“Cobalah mulai dengan satu hal.”
Adrian mengerutkan kening.
“Apa?”
Rania berkata pelan,
“Jangan membuat masalah baru untukku.”
Adrian tertawa kecil.
“Tidak ada janji.”
Rania menggeleng ringan.
Lalu ia berjalan kembali ke ruang kerjanya.
Namun bahkan setelah pintu tertutup,
Adrian masih berdiri di koridor itu.
Karena untuk pertama kalinya sejak lama…
Ia merasa bahwa mungkin masih ada kesempatan.
Meskipun kecil.
Meskipun rapuh.
Namun di tempat lain di kota itu,
Seseorang sedang menatap layar ponselnya dengan senyum dingin.
Pak Darmawan.
Ia membaca berita singkat tentang Hartono Group yang mulai muncul di portal bisnis.
Kemudian ia berkata pelan pada seseorang di seberang telepon.
“Sudah waktunya.”
Suara di telepon bertanya,
“Apakah kita mulai sekarang?”
Pak Darmawan tersenyum.
“Ya.”
Ia menatap layar ponselnya lagi.
“Kita hancurkan mereka.”